
Di area dapur Resto terlihat seorang Pria tengah tersenyum simpul sambil menatap lurus ke arah dinding bercat putih di sana. Bertemu dengan Alvaro dan juga Inara benar-benar membuat hatinya berbunga. Setelah sekian lama ia mencari keberadaan keduanya, pada akhirnya tanpa di duga ia malah bertemu di tempat kerjanya. Benar-benar sebuah kebetulan yang sangat menguntungkannya.
"Kakak sudah menemukannya Arin, kamu tidak perlu khawatir.. Akan Kakak pastikan membuat mu tenang di atas sana." ucap Pria tersebut dengan tersenyum simpul.
Disaat Pria itu tengah melamun memikirkan sesuatu, sebuah tepukan di pundak lantas membuyarkan lamunannya dengan seketika. Pria itu berdecak dengan kesal ketika mendapati seseorang mengejutkannya barusan.
"Sampai kapan kau akan terus melamun? Apa sampai piring kotor menumpuk dan tidak ada piring lagi untuk para pelanggan?" ucap salah seorang rekan kerjanya saat itu.
"Maaf senior saya akan melakukannya sekarang!" ucapnya dengan raut wajah yang tertahan.
"Jangan terlalu banyak melamun Karan! Jika kau lalai dalam pekerjaan mu, aku akan melaporkan mu pada atasan!" ucap seseorang yang dipanggil senior oleh Karan.
Setelah mengatakan hal tersebut tanpa menunggu jawaban dari Karan, senior tersebut mulai bergerak pergi dari sana meninggalkan Karan di area tempat cuci piring. Diliriknya sekilas senior tersebut baru setelah memastikan jika ia sudah pergi dari sana, helaan napas kasar terdengar berhembus jelas dari mulut Karan saat itu.
"Sial!" pekiknya sambil melempar spon untuk cuci piring.
***
Kediaman Agam
Dari arah tangga terlihat Tamara tengah melangkahkan kakinya dengan perlahan menuruni satu persatu anak tangga. Sebuah suara yang berasal dari area meja makan saat itu, lantas langsung menghentikan pangkah kaki Tamara dengan seketika.
"Mau kemana kamu?" ucap sebuah suara yang berasal dari Agam.
__ADS_1
"Ke Rumah Kikan, sudah lama aku tidak menengoknya.. Aku rasa untuk datang ke Rumah anak sendiri aku tidak perlu ijin darimu bukan?" ucap Tamara sambil menatap ke arah Agam yang terlihat tengah sibuk membaca koran pagi ini.
Mendengar perkataan istrinya lantas membuat Agam meletakkan koran tersebut dan bangkit dari tempat duduknya.
"Bukankah kamu baru ke sana minggu lalu? Jangan terlalu ikut campur dengan urusan Rumah tangga anak mu. Berikan mereka privasi dan kepercayaan, jangan terus-terusan ikut masuk ke dalamnya." ucap Agam dengan nada yang terdengar datar, namun malah membuat Tamara mengernyit ketika mendengarnya.
Tamara tersenyum dengan tipis ketika setiap perkataan yang terdengar aneh masuk ke dalam telinganya saat itu. Sambil mulai membawa langkah kakinya semakin dekat ke arah Agam, Tamara lantas mengambil posisi bersendekap dada dan menatap tajam ke arah Agam saat itu.
"Apa yang kamu maksud privasi adalah menjaga kerahasiaan wanita lain di belakang istrimu?" ucap Tanara dengan nada yang menyindir, membuat helaan napas terdengar berhembus dari mulut Agam saat itu.
"Berhenti mengatakan hal itu, lagi pula aku sudah berpisah dengannya. Bukankah itu hanyalah sebuah kecelakaan saja? Aku hanya..." ucap Agam namun terpotong oleh perkataan Tamara saat itu.
"Hanya tak sengaja bertemu kembang desa dan menjalin kasih ketika sedang bertugas ketika mencari bahan penelitian untuk perusahaan mu. Aku sudah muak mendengar alasan itu, lagi pula dia bahkan sampai mengandung anak darimu. Apa kau kira aku sebodoh itu? Jangan terus menipu ku dengan selalu bersembunyi dengan kata-kata sebuah kecelakaan karena aku sudah muak akan hal itu!" ucap Tamara meluapkan segala kekesalan di dalam hatinya.
"Ma..." panggil Agam dengan nada yang memanjang.
Agam terdiam di tempatnya sambil menatap kepergian Tamara dengan raut wajah yang masih terkejut saat itu. Pikirannya saat ini benar-benar terngiang-ngiang perkataan dari Tamara sebelumnya. Entah ini hanyalah sebuah kebetulan atau memang benar, namun yang jelas Agam sama sekali tidak menginginkan hal ini juga terjadi pada kehidupan Putrinya.
"Bagaimana bisa? Aku.. Aku sungguh tidak berniat, apa yang aku lakukan akan berbalik dan menimpa Putri ku. Bagaimana bisa takdir begitu kejam dan mempermainkan ku seperti ini?" ucap Agam pada diri sendiri dengan raut wajah yang menyesal, namun nyatanya penyesalannya sama sekali tidak lagi berarti saat ini.
***
Kediaman Alvaro yang saat ini sudah berpindah tangan untuk Kikan.
__ADS_1
Di area ruang tengah terlihat Kikan tengah duduk termenung sambil menatap lurus ke arah depan. Pikirannya saat ini benar-benar kacau hingga ia tidak tahu lagi harus berbuat apa selanjutnya.
Tak tak tak
Sebuah suara langkah kaki terdengar jelas di telinganya saat itu, namun sama sekali tidak membuat Kikan beranjak dari tempat duduknya. Kikan yang seakan acuh sama sekali tidak ingin tahu akan sumber suara langkah kaki tersebut. Membuat Tamara yang mendapati tingkah putrinya tersebut lantas langsung mengernyit dengan seketika.
"Apa yang kamu lakukan di sana Ki?" tanya Tamara yang terlihat berhenti tepat di sebelah sofa.
"Untuk apa Mama datang kemari? Lagi pula bukankah semua orang suka sekali meninggalkan ku? Mengapa Mama tidak pergi juga?" ucap Kikan dengan nada yang terdengar datar namun masih sambil menatap lurus ke arah depan.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Tamara semakin kebingungan. Entah apa yang sedang dikatakan oleh Kikan saat ini, namun yang jelas sebuah pikiran negatif mendadak melintas dan memenuhi area kepalanya saat itu.
"Apa maksud dari perkataan mu barusan? Jangan membuat Mama semakin penasaran Ki? Bangun! Jangan seperti ini... Mama tidak suka melihat mu seperti ini!" ucap Tamara sambil menarik tangan Kikan agar bangkit dari posisinya saat ini.
Tamara menarik tangan Kikan dengan kuat, namun Kikan yang sama sekali tidak ingin beranjak dari sana lantas tidak mengindahkan tarikan tersebut. Mendapati tingkah putrinya yang seperti itu lantas membuat Tamara berdecak dengan kesal. Hingga pada akhirnya memilih untuk menyerah menarik Kikan untuk bangun dari tempatnya saat ini.
"Kikan jangan malas! Bagaimana Alvaro tidak pergi jika kau saja jadi istri kerjaan mu hanya duduk-duduk di sana!" ucap Tamara dengan nada yang kesal sambil mengambil posisi bersendekap dada.
Mendengar perkataan tersebut tentu saja membuat Kikan kesal. Bagaimana tidak? Disaat ia tengah bersedih atas gugatan cerai dari Alvaro, yang dilakukan oleh Tamara malah mengomel tidak jelas seperti ini.
"Mama itu tidak tahu apa-apa? Ya Mama benar-benar gara-gara aku hanya duduk-duduk saja, Alvaro pergi dan di bawa oleh wanita lain. Apa Mama puas?" bentak Kikan kemudian yang langsung membuat Tamara terkejut karenanya.
"Apa maksud dari perkataan mu barusan?" tanya Tamara yang tidak mengerti arah pembicaraan putrinya.
__ADS_1
"Alvaro menggugat cerai aku, apa Mama puas sekarang?"
Bersambung