
Kamar Kikan
Kikan yang tak bisa tidur lantas terlihat melirik ke arah jam dinding yang saat ini terlihat pukul 2 dini hari. Entah mengapa Kikan merasa begitu kesepian walau ia sendiri yang menyuruh Alvaro agar pergi ke kamar Inara, namun nyatanya hati dan juga pikirannya sama sekali tidak lah sinkron yang membuatnya begitu merasa kesepian dan juga kehilangan.
Tangisan tak lagi bisa Kikan tahan saat itu juga, membuat tetesan demi tetesan air matanya membasahi sprei nya yang berwarna putih miliknya. Kikan bangkit dari tempat tidurnya kemudian mengambil posisi yang meringkuk.
"Aku benar-benar tidak tahu jika menyuruh suami ku pergi ke kamar istri keduanya, akan membuat aku begitu merasa kesepian seperti ini." ucap Kikan sambil menghela napasnya dengan panjang.
Kikan yang merasa begitu kesepian pada akhirnya memutuskan untuk turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya keluar kamar. Entah kemana ia akan membawa langkah kakinya pergi di tengah malam seperti ini, namun Kikan sama sekali tidak betah jika harus berada di kamar seorang diri seperti saat ini.
**
Dengan langkah kaki yang perlahan Kikan mulai membawa langkah kakinya menyusuri area mansion. Sampai ketika langkah kakinya sampai di kamar Inara, Kikan nampak menghentikan langkah kakinya sejenak.
"Apakah mereka berdua sudah tidur saat ini?" ucap Kikan pada diri sendiri dengan nada yang begitu lirih.
Entah mendapat angin dari mana, Kikan yang begitu penasaran lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu kamar Inara dan menempelkan telinganya di pintu tersebut. Tidak ada suara apapun yang Kikan dengar selain hanya suara penuh kesunyian di sana, membuat Kikan lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung ketika tak mendapati aktifitas apapun di dalam sana.
"Tidak mungkin jika mereka sudah tidur bukan? Dulu ketika aku masih pengantin baru aku bahkan melakukan olahraga hingga pagi, mengapa mereka hening sekali?" ucap Kikan dengan penasaran karena tak mendengar suara apapun dari dalam.
Kikan yang merasa ada yang tidak beres tentu saja langsung menghela napasnya dengan panjang, Kikan jelas tahu apa yang sedang terjadi di sini, membuat Kikan lantas langsung memutuskan melangkahkan kakinya menuruni anak tangga menuju ke arah ruangan kerja Alvaro.
**
__ADS_1
Ruangan kerja Alvaro
Di depan pintu ruangan tersebut Kikan nampak menghentikan langkah kakinya sejenak. Ada sedikit perasaan tertinggal di dalam hatinya jika memang ternyata Alvaro tengah berada di ruangan kerjanya. Hanya saja bukankah rencananya akan gagal, jika ketika ia membuka pintu ruangan ini Alvaro tengah berada di dalam?
Kikan menarik napasnya dalam-dalam kemudian mulai memutar handel pintu ruangan tersebut. Dan benar saja, tepat ketika pintu ruangan kerja Alvaro di buka Kikan melihat Pria itu tengah tertidur di sofa ruangan kerjanya. Helaan napas lantas terdengar berhembus kasar dari mulutnya, membuat Kikan lantas mulai membawa langkah kakinya masuk ke dalam ruangan kerja Alvaro dan langsung mengambil selimut untuk suaminya itu.
"Mengapa kamu keras sekali sih Al? Aku bahkan hanya meminta mu untuk mendua dan memenuhi kewajiban mu, tapi kamu malah terus menolak dan memberontak. Jika terus begini bagaimana kamu bisa mendapatkan keturunan?" ucap Kikan sambil menyelimuti tubuh Alvaro.
***
Keesokan harinya
Di area dapur terlihat Lastri dan juga Inara nampak berkutat menyiapkan sarapan pagi untuk yang lainnya. Lastri yang melihat Inara begitu cekatan dalam hal masak-memasak lantas merasa kagum akan sosok Inara, meski Lastri sedikit bingung akan posisi Inara di rumah ini. Namun Lastri sama sekali tidak ingin ikut campur dalam masalah rumah tangga Alvaro dan juga istrinya.
"Kapan biasanya mas Alvaro dan mbak Kikan sarapan Bi?" tanya Inara kemudian.
"Biasanya sebentar lagi mereka akan turun dan sarapan." ucap Lastri dengan ramah.
"Lalu Bibi gimana?" tanya Inara yang lantas membuat Lastri kebingungan.
"Saya biasanya makan di belakang, Nona tak perlu memikirkan saya." ucap Lastri dengan tersenyum.
"Panggil saya Inara Bi, Nara juga boleh." ucap Inara dengan tersenyum.
__ADS_1
"Mana bisa seperti itu, status kita berbeda dan saya pekerja di rumah ini. Jadi panggilan Nona mungkin lebih pantas untuk mu." ucap Lastri.
"Tak perlu sungkan Bi santai saja, tidak ada status yang berbeda di dunia ini. Meski pekerjaan kita asisten rumah tangga sekalipun kita tetaplah sama di hadapan Sang Pencipta, jadi Bibi jangan merendah lagi ya. Ayo Bi makan bersama dengan ku, aku sedang mencari teman saat ini..." ucap Inara sambil menarik tangan Lastri menuju ke arah dapur.
"Tapi.. Nanti pak Alvaro dan juga bu Kikan.." ucap Lastri dengan raut wajah yang penuh kebingungan.
Inara yang mendengar tolakan dari Lastri sama sekali tak menghiraukannya dan terap membawa Lastri menuju ke arah dapur untuk sarapan pagi. Entah mengapa Inara merasa tidak nyaman jika harus makan dalam satu meja bersama Alvaro dan Kikan, tentu saja rasanya akan sangat canggung apalagi mengingat yang ia lakukan semalam bersama dengan Alvaro. Inara yakin jika suasananya akan semakin kaku dan juga tidak enak, itulah mengapa Inara memilih untuk sarapan pagi bersama dengan Lastri dari pada Alvaro dan juga Kikan.
***
Sementara itu dari arah lantai atas terlihat Kikan tengah melangkahkan kakinya menuju ke area dapur di susul dengan Alvaro di belakangnya. Keduanya nampak mengambil duduk di area meja makan dan bersiap untuk sarapan pagi saat itu. Sebuah pemandangan baru nampak terlihat di meja makan di mana di meja makan Alvaro terlihat ada secangkir kopi dan juga air putih bersebelahan, sedangkan di meja Kikan terlihat segelas jus alpukat dan juga air putih yang juga bersanding bersebelahan di sana. Membuat keduanya lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung karena tak biasanya Lastri menyiapkan semua ini jika mereka berdua tidak menyuruhnya.
"Tumben sekali banyak menu untuk sarapan pagi? Apalagi jus alpukat ini, em... ini sesuai dengan kesukaan ku." ucap Kikan yang terkejut akan rasa jus alpukat tersebut.
"Mungkin bi Lastri sedang bersemangat pagi ini." jawab Alvaro dengan nada yang datar sambil mulai membuka piringnya dan bersiap mengambil makanan.
"Benarkah, tapi rasanya mengapa sedikit berbeda? Bukan tidak enak ini malah enak banget, apa bi Lastri baru selesai mengikuti kelas masak?" ucap Kikan yang terkejut akan rasa masakan tersebut alih-alih melayani Alvaro dan mengambilkannya makan.
"Entahlah"
Alvaro sendiri sebenarnya juga merasa bingung akan rasa masakan pagi ini, namun ia sama sekali tidak mempermasalahkannya selagi masakan tersebut masih bisa di makan. Sampai kemudian ketika keduanya sedang asyik menikmati sarapan mereka berdua, Kikan yang teringat akan Inara tentu saja langsung terkejut seketika.
"Dimana Inara sayang?" ucap Kikan dengan raut wajah yang bingung.
__ADS_1
Bersambung