
"Aku hanya ingin makan bakso saat ini!" ucap Inara kemudian dengan raut wajah yang memelas, membuat Alvaro lantas terkejut dengan seketika.
"Apa?" ucap Alvaro dengan raut wajah yang mengernyit dengan tatapan yang bingung.
***
Di salah satu kedai bakso di pinggir kota, terlihat Inara dan juga Alvaro tengah duduk dan menikmati bakso sesuai dengan permintaan Inara. Suasana hening tercipta di sana dan hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu berbarengan dengan hiruk pikuk para pengunjung bakso.
Inara meminum es di gelasnya kemudian meletakkannya di atas meja.
"Em mas..." ucap Inara kemudian memanggil Alvaro.
"Iya Ra, apa kamu ingin sesuatu?" tanya Alvaro kemudian menghentikan makannya.
Inara terdiam sejenak seakan memikirkan segala hal di kepalanya saat ini. Sedangkan Alvaro yang melihat Inara terdiam hanya mengernyit dengan raut wajah yang penasaran.
"Apakah tidak sebaiknya kita bercerai saja mas? Tunggu kamu jangan salah paham dulu, bukannya aku mau melarikan diri. Masalah anak ini kamu tidak perlu khawatir karena aku akan tetap memberikannya kepada kamu dan juga mbak Kikan." ucap Inara kemudian pada akhirnya.
Setelah mendengar tanpa sengaja percakapan antara Alvaro dan juga Kikan, satu hal yang Inara tangkap yaitu jika segala hal dan juga pertengkaran yang terjadi kepada Alvaro dan juga Kikan terjadi karena dirinya. Inara benar-benar tidak tahu harus berbuat apalagi untuk keduanya agar bisa mengembalikan segala sesuatunya kepada tempatnya. Membuat Inara hanya terpikir satu hal ya itu sebuah perceraian.
Alvaro yang mendengar perkataan Inara barusan tentu saja langsung mengernyit, Alvaro benar-benar sudah mengira jika Inara mendengar segala percakapan ia dan juga Kikan. Hanya saja Alvaro benar-benar tidak menyangka jika sebuah pertanyaan ini akan keluar dari mulut Inara.
"Apa yang kamu katakan? Tidak akan ada sebuah perceraian karena kamu adalah istriku begitu juga dengan Kikan." ucap Alvaro kemudian membuat Inara langsung terdiam sambil menunduk detik itu juga.
__ADS_1
Iya Inara tahu itu jika Alvaro tidak akan menceraikannya karena ia tengah hamil saat ini. Jika sekarang Inara tidak hamil ia yakin jika Alvaro pasti akan langsung menceraikannya detik ini juga. Alvaro memang baik, tapi kebaikannya bukanlah cinta karena Inara tahu cinta Alvaro hanya milik Kikan seorang, tanpa sadar jika sebenarnya Alvaro mulai membuka hati pada dirinya.
"Jangan seperti itu mas, lagi pula tidak akan ada seorang wanita yang ingin di madu, aku benar-benar paham rasanya. Kemarahan bu Tamara benar-benar membuat ku tersadar dari segalanya, aku bukannya ingin mempermainkan pernikahan lagi pula pernikahan kita terjadi karena sebuah kecelakaan. Jadi kamu tidak perlu bertanggung jawab atas segalanya tentang ku." ucap Inara dengan nada yang lembut.
"Kubilang berhenti! Aku tidak ingin mendengar apapun keluar dari mulutmu saat ini. Jangan pikirkan apapun lagi Ra, pikirkanlah anak yang ada di dalam kandunganmu... Apa kau mengerti?" ucap Alvaro kemudian dengan nada sama sekali tidak ingin dibantah membuat Inara langsung terdiam dengan seketika.
Inara tidak tahu lagi harus mengatakannya bagaimana kepada Alvaro, namun Alvaro sama sekali tidak ingin mengabulkan permohonannya membuat Inara semakin merasa tidak berdaya walau ia tahu perpecahan keluarga kecil Alvaro karenanya.
"Apa kamu sudah selesai makannya? Jika sudah mari kita pulang atau kamu ingin makan sesuatu lagi yang lain?" ucap Alvaro kemudian.
"Tidak ada mas..." jawab Inara.
"Jika begitu mari kita pulang." ajak Alvaro kemudian sambil mulai bangkit dari posisinya diikuti dengan Inara yang juga ikut bangkit mengikuti Alvaro.
***
Kikan yang begitu kesal dan juga geram, lantas melangkahkan kakinya dengan langkah kaki terburu-buru menuju ke arah meja rias miliknya. Dengan sekali sapuan Kikan menyapu semua yang ada di atas meja riasnya dengan kesal, sehingga menimbulkan suara yang begitu gaduh diikuti dengan beberapa barang yang berjatuhan ke arah bawah.
Pyar...
"Arggg benar-benar menyebalkan! Aku benci situasi ini.. Mengapa aku begitu tidak beruntung hingga aku tidak bisa mengandung? Aku juga tidak mau menjadi mandul! Aaaaa" pekik Kikan dengan nada yang meninggi sambil mengambil posisi bersimpuh ke lantai.
Kikan benar-benar rapuh, pikirannya saat ini benar-benar sangat kacau. Entah apa yang membuatnya begitu emosi dan juga marah, mungkinkah karena kehilangan Alvaro? Atau mungkin karena ia dan juga Alvaro yang kian menjauh? Kikan sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi kepadanya dan juga Alvaro.
__ADS_1
Niat hati ingin membuat Alvaro bahagia dengan memintanya untuk menikah lagi dan melanjutkan keturunan keluarganya, lantas menjadi berakhir sia-sia dan menimbulkan semua perpecahan yang saat ini terjadi kepada rumah tangganya. Kikan benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa di saat seperti ini selain menangis tersedu meratapi segala nasib buruk yang menimpa dirinya.
"Aku juga tidak menginginkannya... Tidakkah kau tahu itu Al? Aku benar-benar membenci situasi ini hiks hiks..." ucap Kikan dengan menangis tersedu.
Disaat Kikan tengah menangisi segala nasib buruk yang menimpa dirinya. Dari arah ambang pintu terlihat Tamara melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kikan ketika mendengar suara ribut-ribut dari kamar putrinya. Tamara yang melihat Kikan tengah rapuh saat ini tentu saja langsung berlarian mendekat ke arah Kikan dan langsung memeluknya dengan erat. Hati ibu mana yang tidak hancur ketika melihat tangisan putrinya yang begitu tersedu hanya karena rumah tangganya yang di ujung tanduk?
"Tenanglah nak, apa yang membuat mu begitu tersedu hingga seperti ini? Jangan menangis nak.. Jangan menangis..." ucap Tamara berusaha menenangkan putrinya sambil mengusap rambut Kikan dengan perlahan.
"Aku wanita yang tidak berguna Ma hiks... Mengapa aku mengalami nasib buruk seperti ini? Hiks hiks..." ucap Kikan sambil sesenggukan.
"Jangan Menangis Ki... Jangan menangis..." ucap Tamara sambil mengecup perlahan puncak kepala Kikan saat itu.
**
Area meja makan
Setelah Kikan cukup tenang, Tamara kemudian mengajak Kikan untuk turun ke bawah dan membawakannya segelas air. Diletakkannya gelas air tersebut tepat di hadapan Kikan, membuat Kikan tanpa protes sama sekali langsung meminumnya secara perlahan sambil menatap kosong ke arah depan, membuat helaan napas kasar lantas terdengar berhembus dari mulut Tamara saat itu.
Di saat suasana hening terjadi di area meja makan saat itu, dari arah pintu utama terlihat Alvaro dan juga Inara tengah melangkahkan kakinya masuk ke dalam secara beriringan. Membuat Kikan dan juga Tamara yang mendengar suara derap langkah kaki mendekat ke arah mereka tentu saja langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Bagus sekali ya? Di saat istrimu tengah bersedih dan juga menangis kau malah berduaan keluar dengan istri keduamu. Wah bener-bener sesuatu sekali kau Al..." ucap Tamara dengan nada yang ketus sehingga membuat langkah kaki Alvaro dan juga Inara langsung terhenti dengan seketika.
Bersambung.
__ADS_1