
Unit Apartment Chris
Setelah memastikan Inara pergi istirahat, Alvaro saat ini terlihat tengah berada di unit Apartemen milik Chris. Raut wajah keduanya terlihat sangat serius menatap ke arah layar komputer milik Chris saat itu. Sebuah rekaman yang berasal dari kamera pengawas, lantas membuat keduanya nampak memasang raut wajah yang serius.
Chris menghentikan pemutaran rekaman kamera pengawas tersebut, membuat Alvaro lantas menatap ke arah Chris dengan raut wajah yang bertanya-tanya.
"Apa kau menemukan sesuatu?" ucap Chris dengan nada yang terdengar begitu ambigu membuat Alvaro, lantas langsung mengernyit begitu mendapat pertanyaan tersebut.
"Apa sebenarnya yang ingin kau sampaikan, jika tentang orang yang berlalu lalang.. Aku sana sekali tidak mencurigai seseorang, aku rasa semuanya wajar dan orang yang mengantar paket tersebut ya seorang kurir." ucap Alvaro sambil menunjuk ke arah layar komputer milik Chris.
Mendengar perkataan dari Alvaro barusan, lantas membuat Chris langsung tersenyum dengan tipis. Entah bagaimana Pria di hadapannya ini bisa begitu bodoh, hingga tidak menyadari sesuatu hal penting dalam rekaman kamera pengawas tersebut.
"Ck ayolah Tuan Alvaro yang terhormat.. Apa kau benar-benar tidak melihat Pria bertudung hitam di sudut tikungan unit Apartment kita berdua? Bukankah dia nampak begitu mencurigakan?" ucap Chris dengan nada yang terdengar begitu gemas akan sikap Alvaro yang tak kunjung menyadarinya juga.
Alvaro yang mendengar perkataan dari Chris barusan, lantas mendengus dengan kesal. Ditatapnya layar komputer milik Chris dengan tatapan yang teliti, sambil mencari keberadaan Pria bertudung hitam yang baru saja dibicarakan oleh Chris saat ini.
Sampai kemudian pandangannya terhenti pada sosok yang baru saja dibicarakan oleh Chris, seorang Pria misterius terlihat tengah menatap ke arah unit Apartment Alvaro saat itu. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Alvaro sedikit mengernyit dengan raut wajah yang kebingungan.
"Dia..." ucap Alvaro sambil menatap ke arah Chris saat itu.
"Sttt kecilkan suara mu Alika sedang tidur saat ini!" ucap Chris sambil meletakkan jari telunjuknya di atas bibir.
"Baiklah kalau begitu katakan yang jelas jangan bermain teka-teki seperti ini." ucap Alvaro dengan nada yang sedikit lebih lirih kali ini.
"Nah itu masalahnya, aku saat ini juga sedang menyelidiki Pria ini." ucap Chris yang lantas membuat Alvaro melongo begitu mendengarnya.
"Jadi kau belum tahu siapa dia? Lalu untuk apa kau memanggil ku ke sini ha?" ucap Alvaro dengan nada yang kesal.
"Tentu saja untuk memberitahu mu ini lah." ucap Chris dengan raut wajah yang datar.
__ADS_1
"Terima kasih atas informasinya kalau hanya ini Abi bahkan lebih ahli dari pada dirimu, benar-benar membuang waktu ku saja." ucap Alvaro sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan Chris.
Hanya saja sebuah suara yang berasal dari Chris saat itu, lantas menghentikan langkah kaki Alvaro dengan seketika.
"Apa kau mengenal Karan? Aku mendapat informasi jika Pria tersebut adalah Karan." ucap Chris dengan nada yang terdengar begitu datar.
Alvaro memutar tubuhnya secara perlahan dan menatap lurus ke arah Chris saat itu.
"Jangan terlalu khawatir, selanjutnya biar aku yang mengurusi hal ini. Terima kasih banyak karena kau sudah perduli dengan kami." ucap Alvaro sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari ruangan tersebut.
Bruk..
***
Lorong Apartment
Dari arah unit Apartment Chris terlihat Alvaro baru saja keluar dari sana. Alvaro mendial nomer seseorang pada ponselnya kemudian mendekatkan ponsel tersebut ke arah telinga sebelah kiri miliknya.
"Cari tahu rentang seseorang bernama Karan, sepertinya aku tidak asing dengan Pria ini." ucap Alvaro dengan nada yang serius.
"Apa anda memiliki fotonya Pak?" tanya Abi kemudian.
"Aku akan memberikan mu sebentar lagi, aku harap kamu bisa memberitahu ku dalam waktu singkat." ucap Alvaro.
"Baik Tuan" ucap Abi sebelum pada akhirnya sambungan telpon tersebut ditutup begitu saja oleh Alvaro.
Setelah sambungan telponnya terputus Alvaro terlihat membawa langkah kakinya menuju ke unit Apartemennya. Alvaro nampak menghentikan langkah kakinya sejenak di ambil pintu, menarik napas kemudian mencoba untuk memasang senyuman yang lebar.
Setidaknya ia harus tetap memasang raut wajah yang cerah, agar tidak menambah beban pikiran Inara dan terjadi sesuatu kepada Inara dan juga bayinya.
__ADS_1
"Ayolah Alvaro, hanya berakting dengan sedikit tersenyum masak kau tidak bisa melakukannya?" ucap Alvaro pada diri sendiri sebelum pada akhirnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam unit Apartemennya.
**
Kediaman lama Alvaro
Terlihat Kikan tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang besar menuju ke arah dapur. Ia sungguh sangat penasaran akan sesuatu hal tentang Alvaro, begitu melihat Tamara baru saja datang dari Supermarket. Membuat Kikan memutuskan untuk menanyakannya secara langsung kepada Tamara.
"Apa semua ini adalah perbuatan Mama?" ucap Kikan secara langsung, membuat dua orang asisten rumah tangga yang sedari tadi membantu Tamara lantas mulai bangkit dan meninggalkan keduanya.
Tamara yang mendengar pertanyaan dari Kikan barusan tentu saja mengernyit sambil menatap ke arah Kikan dengan raut wajah yang penasaran. Entah apa yang saat ini sedang dibicarakan oleh Kikan, Tamara sendiri bahkan tidak terlalu mengetahuinya.
"Tentang apa ini Ki? Mama sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan mu." ucap Tamara sambil menatap aneh ke arah Kikan saat itu.
"Sudahlah Ma, Mama tahu? Gara-gara Mama yang mengirim paket misterius untuk Inara, Kikan yang kena Ma.. Alvaro datang dan memaki Kikan habis-habisan, sebenarnya apa yang coba Mama lakukan? Tingkah Mama itu bukan malah memperbaiki segalanya yang ada malah merusak segalanya." ucap Kikan sambil mendengus dengan kesal.
"Paket? Paket apa Ki? Kamu jangan bercanda, Mama sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan paket yang kamu bicarakan tersebut." ucap Tamara dengan raut wajah yang kebingungan begitu pula dengan Kikan saat itu.
"Jika bukan Mama lalu siapa lagi? Bukankah hanya kita yang paling membenci perempuan itu?" ucap Kikan dengan raut wajah yang penasaran, membuat Tamara yang mendengar hal tersebut lantas langsung mengernyit dengan raut wajah yang bingung.
"Mana Mama tau masalah itu Ki...." ucap Tamara dengan nada yang kesal membuat Kikan lantas mendengus dengan kesal ketika mendengarnya.
***
Di sebuah ruangan dengan penerangan cahaya yang sedikit remang. Asap dari sebuah kertas yang sedang di bakar, terlihat membumbung dengan tinggi memenuhi ruangan tersebut.
Terlihat dengan jelas foto Inara yang saat ini tinggal sebagian berada di tangan Karan saat itu, membuat seulas senyuman terlihat terbit dari wajah Karan saat ini.
"Sebentar lagi.. Sebentar lagi akan aku pastikan jika dua orang ini akan menerima balasan yang setimpal dari kematian Arin!" ucap Karan dengan tatapan yang tajam, sebelum pada akhirnya membuang foto tersebut yang hanya tinggal sebagian saja.
__ADS_1
Bersambung