
Dapur
Sesuai dengan request dari Inara yang meminta untuk di buatkan nasi goreng. Saat ini terlihat Alvaro tengah berada di dapur sedangkan Inara menantinya di area mini bar.
Alvaro terdiam sejenak sambil menatap ke arah lemari pendingin untuk melihat bahan apa yang akan ia gunakan sebagai pelengkap nasi goreng buatannya. Alvaro menghela napasnya dengan panjang ketika mendapati berbagai macam bahan tersedia di sana.
Alvaro bangkit dari tempatnya kemudian menatap ke arah Inara yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan yang ingin.
"Em Ra.. Sebaiknya kita beli saja di luar ya? Sepertinya akan lebih enak rasanya." ucap Alvaro kemudian dengan raut wajah yang sedikit aneh.
Mendengar hal itu Inara langsung memasang raut wajah yang cemberut sambil menatap ke arah dimana Alvaro berada saat ini, terdengar helaan napas berhembus dengan kasar dari mulut Alvaro ketika melihat raut wajah cemberut milik Inara.
"Aku tidak ingin masakan yang di beli mas, aku benar-benar menginginkan masakan mu, ku mohon mas mau ya?" ucap Inara dengan nada yang memohon menatap ke arah Alvaro saat ini.
"Tapi aku benar-benar tidak bisa memasaknya, sungguh..." ucap Alvaro kemudian yang langsung membuat raut wajah kecewa dari Inara.
Keduanya kemudian lantas terdiam sejenak sambil memikirkan cara yang tepat agar Inara bisa tetap makan dan tentu saja Alvaro bisa untuk memasaknya. Disaat keduanya tengah sibuk untuk berpikir sebuah solusi yang mungkin bisa mereka berdua gunakan. Inara nampak mulai tersenyum dengan sumringah begitu mengetahui cara agar keinginannya dapat terwujud saat ini.
"Bagaimana jika begini saja, mas yang masak aku yang mengkomando.. Bukankah hal itu sama saja? Yang mas Alvaro lakukan cukup mendengarkan arahan ku saja, bagaimana?" ucap Inara kemudian dengan raut wajah yang sumringah.
"Aku rasa ide itu tidaklah buruk, kalau begitu apakah kita bisa memulainya sekarang?" tanya Alvaro kemudian dengan penuh semangat.
Setelah memutuskan hal tersebut, pada akhirnya keduanya memulai acara memasak mereka. Di mana Alvaro terlihat mulai bergerak sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Inara secara perlahan. Inara yang melihat raut wajah bingung Alvaro terdengar beberapa kali tertawa karena Alvaro sedikit tidak terlalu mengerti dengan bumbu-bumbu dapur. Maklum lah namanya juga seorang Pria, apalagi Alvaro yang terlahir dengan sendok emas, mana mengerti dia masalah bumbu-bumbu dapur?
__ADS_1
"Ayolah Ra.. Jangan tertawa lagi, apa yang harus aku masukkan dalam nasi goreng ini sekarang?" ucap Alvaro kemudian yang mulai kesal karena Inara sedari tadi malah tertawa tanpa henti.
Mendengar suara Alvaro yang sudah mulai kesal saat ini, membuat Inara langsung menghentikan tawanya dengan seketika. Inara mengusap sudut matanya yang terasa basah karena terlalu banyak tertawa saat ini kemudian memasang raut wajah yang serius untuk kembali mengarahkan Alvaro.
"Baiklah... Baiklah aku minta maaf, sekarang kita mulai lagi ya... Masukkan ladanya dengan perlahan dan jangan terlalu banyak." ucap Inara kemudian mulai mengarahkan kembali Alvaro agar melanjutkan masakannya.
"Segini?" tanya Alvaro kemudian sambil mulai menuangkan sedikit lada hitam.
Sedangkan Inara yang melihat Alvaro langsung berhasil mengambil lada hitam tanpa bertanya kepadanya, tentu saja langsung terkesima dan memasang manik mata yang bersinar, membuat Alvaro langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengar hal tersebut.
"Wah, rupanya kamu sekarang sudah mulai mahir, bahkan bisa membedakan lada hitam dengan begitu mudah." puji Inara dengan raut wajah yang sumringah.
Mendengar hal tersebut membuat Alvaro langsung menatap ke arah Inara dengan tatapan yang mengernyit, seakan tak mengerti akan maksud dari pujian tersebut. Alvaro yang mulai bisa mencerna pujian yang baru saja di lontarkan oleh Inara barusan kemudian langsung mengambil tempat lada hitam dan menunjukkannya ke arah Inara, memuat Inara langsung melotot seketika begitu mendengar hal tersebut.
"Apa kau kira aku buta? Di sini bahkan tertulis dengan jelas, tapi kamu malah memuji ku hingga seperti itu, kau benar-benar ya..." ucap Alvaro kemudian dengan raut wajah yang kesal.
**
Meja makan
Tak Berapa lama, nasi goreng buatan Alvaro pada akhirnya jadi juga. Membuat Alvaro lantas langsung menyajikannya dan mempercantiknya di atas sebuah piring kemudian membawanya ke arah meja makan di mana Inara telah menunggunya saat ini.
"Nasi goreng buatan chef Alvaro sudah jadi, selamat menikmati..." ucapannya dengan bangga membuat Inara langsung mendongak dengan seketika.
__ADS_1
"Chef Alvaro? Bukankah seharusnya nama pembuat dalam nasi goreng ini di ralat? Lagi pulang bukankah kamu memasak bersama dengan seorang rekan?" ucap Inara kemudian sambil memutar bola matanya dengan jengah.
"Ah sepertinya kamu benar, baiklah aku akan meralatnya. Pada akhirnya nasi goreng buatan chef Alvaro dengan rekannya yaitu Inara telah selesai, selamat menikmati..." ucap Alvaro kemudian yang lantas mengundang gelak tawa di antara keduanya.
Suasana malam itu terasa begitu menyenangkan, keduanya seakan terhanyut ke dalam beberapa hal kecil yang membuat mereka tertawa. Baik Alvaro maupun Inara seperti seakan melupakan masalah mereka yang baru saja mereka hadapi dan membuat hati mereka bimbang. Kini yang ada hanyalah tawa yang terdengar menggema di ruangan tersebut yang diciptakan oleh Inara dan juga Alvaro.
"Bukankah kamu sudah lapar, jika begitu mulai lah untuk makan sekarang." ucap Alvaro kemudian yang lantas di balas Inara dengan anggukan kepala.
Tanpa membuang waktu lagi Inara kemudian mulai menyendok nasi goreng tersebut dan memakannya secara perlahan. Sambil tersenyum dengan sumringah Inara nampak begitu menyukai nasi goreng tersebut.
"Cobalah mas, rasa nasi goreng ini enak." ucap Inara sambil memberikan sendok miliknya kepada Alvaro agar Alvaro mau mencobanya.
"Tidak perlu kamu saja yang memakannya aku sudah kenyang." tolak Alvaro sambil meminum segelas air putih di meja tersebut.
"Ah kamu pasti tidak suka jika satu sendok di gunakan berdua ya? Aku minta maaf mas, aku akan mengambilkan yang baru untuk mu." ucap Inara kemudian sambil bangkit dari tempat duduknya hendak mengambil sendok yang batu untuk Alvaro saat itu.
Alvaro yang melihat Inara bangkit dari posisinya, tentu saja langsung berusaha untuk menahannya agar tidak pergi dari sana. Sedangkan Inara yang mendapati hal tersebut tentu saja langsung menatapnya dengan tatapan yang bingung akan sikap Alvaro saat ini.
"Tidak perlu Ra, aku akan memakannya." ucap Alvaro membuat Inara langsung mengernyit dengan seketika.
"Dengan apa kamu memakannya?" tanya Inara kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Tentu saja dengan sendok milik mu..." ucap Alvaro kemudian yang lantas membuat Inara terkejut ketika mendengarnya.
__ADS_1
"Tapi mas..."
Bersambung