Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Apa yang aku lakukan?


__ADS_3

Kediaman lama Alvaro


Mobil yang dikendarai oleh Alvaro saat itu terlihat berhenti tepat di pelataran kediaman lamanya, sambil menarik napasnya dalam-dalam Alvaro nampak melepas sabuk pengamannya dan turun dari dalam mobil.


Di langkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas, entah apa yang sedang ada di pikirannya saat ini. Namun dalam kepalanya hanya tercetus satu nama yaitu Kikan, ketika mendapati semua masalah menimpa Inara tadi pagi.


"Jika ini benar-benar adalah ulahnya, aku tidak akan pernah memaafkannya?" ucap Alvaro pada diri sendiri sambil terus membawa langkah kakinya masuk ke dalam kediaman lamanya.


**


Area taman samping


Alvaro yang mencari keberadaan Kikan di manapun namun tidak ketemu, lantas langsung bergerak menuju ke area taman samping ketika mendengar jika Kikan tengah berada di sana, sambil bersantai dan meminum teh kesukaannya.


Seulas senyum nampak terbit dari wajah tampan Alvaro saat itu, ketika mendapati jika Kikan benar-benar tengah bersantai sambil menatap ke arah Taman kecil di sebelah kolam renang.


"Bagus sekali, apa setelah berhasil melakukan sesuatu.. Kamu akan bersantai seperti ini?" ucap Alvaro dengan nada yang terdengar begitu dingin, sambil terus membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Kikan berada saat ini.

__ADS_1


Kikan yang mendengar sebuah suara tak asing menyapa telinganya saat itu, lantas langsung menoleh ke arah sumber suara. Ada sedikit perasaan terkejut sekaligus tatapan mengernyit ketika ia mendapati Alvaro dengan raut wajah yang begitu tegang mendekat ke arahnya saat ini.


"Alvaro? Tumben kamu ke sini? Apa kamu sudah berubah pikiran sekarang?" ucap Kikan dengan senyuman yang mengembang.


Alvaro nampak tersenyum dengan kecil ketika malah mendapati perkataan melantur dari Kikan saat ini, membuat Kikan yang melihat senyuman tipis tersebut lantas kebingungan karenanya.


"Jangan melantur, kamu kira setelah semua hal yang kamu lakukan kepadaku aku akan diam saja. Cukup sudah Ki! Jika kamu ingin menyerang ku lakukan saja secara terang-terangan, jangan melalui Inara seperti ini! Kamu kira semua ini lucu begitu menurut mu? Sama sekali tidak!" ucap Alvaro dengan nada yang sedikit meninggi.


Mendapati perkataan maupun sikap Alvaro yang seakan seperti tengah marah kepadanya, membuat Kikan benar-benar tidak mengerti akan arah dari pembicaraan Alvaro saat ini.


"Ada apa sebenarnya ini Al? Aku.. Aku sama sekali tidak mengerti ucapan mu." ucap Kikan dengan raut wajah yang kebingungan.


Kikan terdiam ketika ia mulai menangkap perkataan dari Alvaro saat ini, hanya saja bagaimana pun Kikan berusaha untuk berpikir atau mencermati hal tersebut anehnya Kikan merasa tak melakukannya sama sekali.


"Apa ini perbuatan Mama ya? Tapi jika memang ini perbuatan Mama, mengapa Mama tidak mengatakan apapun kepadaku?" ucap Kikan dalam hati mencoba untuk menerka-nerka.


"Hentikan semua ini dan mari berpisah dengan baik-baik karena aku sama sekali tidak ingin beradu atau bahkan bermusuhan dengan mu." ucap Alvaro namun kali ini dengan nada lebih rendah, seakan tidak tega karena telah memarahi Kikan seperti tadi.

__ADS_1


Mendengar perkataan tersebut Kikan lantas mendongak menatap ke arah manik mata Alvaro dengan tatapan yang intens. Entah apa yang terjadi sehingga nada bicara Alvaro mendadak berubah seperti ini tanpa sebab. Namun Kikan yakin hal itu tentu saja bukanlah karena Alvaro ingin kembali bersama dengannya.


"Apa kamu sudah selesai? Aku bahkan tidak menyangka jika Alvaro yang sedari dulu selalu bersikap lembut dan tidak pernah membentak ku sama sekali, hari ini dia datang dan meneriaki ku habis-habisan karena sesuatu hal yang aku sama sekali tidak tahu itu. Kamu tahu bagaimana rasanya? Sakit Al.. Sakit sekali di sini, apa kamu sama sekali tidak ada rasa belas kasihan kepada ku?" ucap Kikan dengan nada penuh penekanan namun sangat rendah, membuat mulut Alvaro langsung terdiam dengan seketika begitu mendengar hal tersebut.


"Andai kamu tahu aku bahkan juga tidak menginginkan semua hal ini terjadi kepada kita berdua. Semuanya terjadi begitu saja mengalir seperti air tanpa ingin dan aku bisa cegah sedikitpun. Jika kamu lelah aku pun juga sama, jadi sebaiknya kita cukup menyakiti diri kita masing-masing dan jalani hidup yang lebih baik lagi." ucap Alvaro pada akhirnya sebelum memutuskan untuk berlalu pergi dari sana.


Bagi Alvaro kali ini ia merasa sudah benar-benar cukup menegur Kikan, lagi pula antara ia dan juga Kikan pernah menjalani masa-masa yang begitu membahagiakan bersama-sama. Alvaro tidak ingin melupakan semua kenangan itu dan merubahnya dengan hal buruk yang belakang terjadi kepada keduanya. Membuat Alvaro memutuskan untuk melangkahkan kakinya pergi dari sana saat ini.


"Apa kamu pernah bertanya alasan aku melakukan segalanya kepada ku Al? Semua itu karena aku mencintai mu. Aku tidak menginginkan kehadiran seorang anak karena takut kasih sayang mu akan terbagi nantinya, aku ingin kita hanya menjalani hidup kita berdua bersama Al.. Apakah itu salah?" ucap Kikan yang tentu saja langsung menghentikan langkah kaki Alvaro dengan seketika.


Mendengar perkataan Kikan yang sama sekali tidak ia duga akan keluar saat itu, lantas membuat Alvaro perlahan-lahan mulai berbalik badan dan menatap ke arah Kikan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Entah apa yang ada di pikiran Kikan saat ini, namun yang jelas hal itu sama sekali tidak bisa merubah segala hal yang telah terjadi di antara keduanya.


"Jika kamu mengatakan hal itu kepada Alvaro yang dulu mungkin kehidupan Rumah tangga kita akan baik-baik saja hingga saat ini. Namun jika kamu mengatakannya kepada Alvaro yang sekarang, satu hal yang akan kamu dengar darinya "gila!"." ucap Alvaro dengan nada yang terdengar begitu dingin.


"Asal kamu tahu, anak adalah sebuah anugerah dan akan menjadi sumber kebahagiaan bagi sebuah Rumah tangga. Jika kamu tidak menginginkannya ya sudah, tapi kebohongan yang kamu lakukan itu sama sekali tidak bisa di maafkan!" ucap Alvaro sebelum pada akhirnya berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Kikan tanpa mendengar terlebih dahulu jawaban dari Kikan akan perkataannya.


Kikan menatap kepergian Alvaro dengan tatapan yang sendu. Entah mengapa perkataan Alvaro barusan langsung menancap tepat ke uluh hatinya. Tidak ada yang pernah menginginkan hal ini terjadi kepada keduanya. Namun ego yang saat ini ia miliki, benar-benar mendorongnya untuk semakin lebih jauh lagi dari Alvaro.

__ADS_1


"Apa yang telah aku lakukan?" ucap Kikan sambil menatap punggung Alvaro hingga tak lagi terlihat pada pandangannya.


Bersambung


__ADS_2