Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Drama suami istri


__ADS_3

"Bagus sekali ya? Di saat istrimu tengah bersedih dan juga menangis kau malah berduaan keluar dengan istri keduamu. Wah bener-bener sesuatu sekali kau Al..." ucap Tamara dengan nada yang ketus sehingga membuat langkah kaki Alvaro dan juga Inara langsung terhenti dengan seketika.


Suara Tamara benar-benar terdengar dengan nyaring saat itu, membuat Inara langsung terdiam di tempatnya dengan seketika. Ia bahkan baru saja mengatakan kepada Alvaro agar menceraikannya supaya semua orang menjadi tenang dan segala sesuatunya kembali ke tempatnya masing-masing. Namun Alvaro malah menolaknya dan mengatakan jika ia tidak perlu memikirkan segala sesuatunya yang tidak penting, hanya saja ketika langkah kaki mereka baru saja sampai di rumah tersebut apa yang terjadi saat ini benar-benar membuat Inara kembali kepikiran.


"Ma Alvaro mohon kita baru saja selesai bertengkar, jangan memulainya lagi. Biarkan Inara beristirahat." ucap Alvaro kemudian dengan nada yang memohon, namun membuat Tamara langsung memutar bola matanya dengan jengah.


Sedangkan Kikan yang melihat pertengkaran hendak kembali dimulai lantas memijat pelipisnya dengan perlahan yang saat ini terasa begitu berdenyut.


"Jika kamu tidak ingin kita kembali beradu mulut bersikaplah adil pada kedua istri mu! Jangan pilih kasih seperti ini." ucap Tamara lagi dengan mada yang menyindir, membuat helaan napas terdengar berhembus kasar di mulut Alvaro saat itu.


"Aku baru saja pergi dari kedai bakso untuk menuruti Inara yang sedang ngidam, ketika aku ingin membelikan untuk Kikan juga, aku tahu jika Kikan tidak menyukai olahan daging tersebut yang di beli di pinggir jalan karena ia takut jika nanti makanan itu tidak higienis. Untuk itu aku tidak membawakannya atau bahkan mengajaknya terlebih dahulu. Aku sudah mencoba untuk bersikap adil Ma.. Lalu adil yang bagaimana lagi? Jika hal ini saja menurut Mama sudah menjadi tidak adil." ucap Alvaro dengan nada yang kesal mencoba mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hatinya.


"Jika kamu punya pikiran maka kamu pasti akan..." ucap Tamara kemudian namun terhenti ketika tangan memiliki Kikan lantas menggenggam dengan erat lengan tangannya saat itu, membuat Tamara langsung diam dengan seketika.


"Sudah lah Ma... Lagi pula aku juga tidak menyukai bakso di pinggir jalan, jadi stop untuk ribut-ribut dan biarkan Inara istirahat saat ini." ucap Kikan kemudian dengan nada yang lirih membuat Tamara lantas langsung melotot dengan seketika.


"Pergi bawa Inara ke kamar Al, jangan hiraukan perkataan Mama." ucap Kikan kemudian dengan nada yang datar, membuat Alvaro lantas langsung menarik tangan Inara agar kembali melangkahkan kakinya.


Setelah kepergian Inara dan juga Alvaro dari sana, Kikan lantas mengusap raut wajahnya dengan kasar. Entah mengapa Kikan benar-benar sedang lelah saat ini sehingga tidak ingin mendengar atau bahkan melihat kembali pertengkaran di hadapannya.


Sedangkan Tamara yang mendengar putrinya hanya mempersilahkan kedua orang itu untuk masuk ke dalam dan melewati mereka berdua. Tentu saja langsung menatap kesal ke arah Kikan saat itu. Ditariknya lengan Kikan begitu saja dan cukup kuat, membuat Kikan lantas langsung mendongak menatap ke arah Tamara dengan seketika.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah gila? Apa yang kamu lakukan ha?" ucap Tamara dengan kesal.


"Hentikan Ma... Kikan benar-benar sudah lelah, jangan kembali melayangkan pertengkaran saat ini!" ucap Kikan sambil bangkit dari posisinya.


Setelah mengatakan hal tersebut barulah Kikan mulai membawa langkah kakinya meninggalkan area meja makan dengan perlahan meninggalkan Tamara yang masih menatap tak percaya ke arahnya saat itu.


Tamara menatap kepergian Kikan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan sambil mengambil posisi bersendekap dada.


"Putri ku itu benar-benar naif hingga di tipu oleh suaminya pun dia hanya terdiam seperti orang yang bodoh."ucap Tamara sambil menatap punggung putrinya yang kini tidak lagi terlihat pada pandangannya.


**


Alvaro terlihat mendudukkan Inara dengan perlahan di atas ranjangnya, membuat seulas senyum terlihat terbit dari wajah cantik Inara saat itu.


"Apa kamu ingin sesuatu yang lain?" ucap Alvaro dengan raut wajah yang penuh kecemasan, membuat Inara yang melihat hal tersebut lantas tersenyum dengan kecil.


Mendapat perlakuan khusus seperti ini dari Alvaro benar-benar membuatnya terbang melayang, Inara bahkan benar-benar merasakan kasih sayang seorang suami yang sesungguhnya walau ia harus mengorbankan hati yang lainnya untuk mendapatkan hal ini.


"Mengapa kamu tersenyum?" tanya Alvaro dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Inara.


"Tidak ada, bukankah perlakuanmu saat ini terlalu berlebihan mas? Aku ini hamil bukannya sakit, mengapa kamu sampai segitunya?" ucap Inara kemudian sambil kembali tersenyum dengan simpul.

__ADS_1


Sedangkan Alvaro yang mendengar perkataan dari Inara barusan, tentu saja langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Setelah dipikir-pikir perkataan Inara ada benarnya juga, lagi pula ini hanya sekedar dari perhatian kecilnya untuk Inara karena Alvaro terlalu bahagia atas kabar kehamilan Inara.


"Benarkah? Aku bahkan tidak menyadarinya?" ucap Alvaro dengan tersenyum garing begitu pula dengan Inara.


Bersama dengan Inara benar-benar membuat Alvaro lupa dengan masalahnya, Inara selalu bisa membuat hatinya menjadi lebih baik meski Inara tidak melakukan apapun untuk dirinya. Cukup Inara berada di sampingnya saja itu sudah membuat hati Alvaro begitu tenang. Sungguh berbanding terbalik dengan Kikan yang selalu saja membuatnya emosi dan berakhir dengan pertengkaran yang tiada habisnya. Entah ini karena Inara yang begitu membuatnya nyaman akan kesederhanaannya? Atau mungkin karena Alvaro yang mulai bosan akan hubungannya yang terlalu lama bersama dengan Kikan? Bukankah kedua hal tersebut perbandingannya sangat tipis?


Entah perasaan mana yang Alvaro rasakan saat ini, yang jelas Alvaro hanya merasa nyaman saja jika berada dekat di sisi Inara.


**


Malam harinya


Setelah makanannya siap satu persatu dari mereka nampak mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan. Dari arah tangga terlihat Kikan dan juga Tamara menuruni satu persatuan anak tangga menuju ke area meja makan, sedangkan Alvaro terlihat muncul dari ruang kerjanya dan Inara dari kamarnya yang saat ini sudah berpindah berada di bawah tepat setelah kabar kehamilannya kemarin.


Dengan malas Tamara terus membawa langkah kakinya mendekat ke arah meja makan dan mengambil duduk di sana. Entah mengapa melihat kehadiran Inara benar-benar membuatnya kehilangan selera makannya saat ini, namun Tamara harus tetap berada di sini untuk mengawasi segala hal yang terjadi di area meja makan. Sebuah benalu seperti Inara harus benar-benar diawasi atau jika perlu di pangkas, agar tidak terus-terusan mengisap sari inangnya.


Kikan dan juga Tamara terlihat mulai membuka piring di depan mereka masing-masing dan mulai mengambil satu persatu lauk makanan di sana. Sedangkan Inara yang sudah terbiasa untuk mengambilkan makanan bagi Alvaro, tentu saja langsung mengambil piring Alvaro dan bersiap untuk mengambil nasi beserta lauk pauknya. Hanya saja belum sempat Inara mengambil nasi, sebuah suara yang menukik tajam lantas langsung menghentikan gerakan tangannya.


"Berhenti! Apa kalian ingin menunjukkan adegan suami istri di depan ku?" ucap Tamara yang lantas membuat semua orang menatap ke arahnya dengan tatapan yang bertanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2