Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Terlalu emosi


__ADS_3

"Sial!" pekik Alvaro dengan nada yang kesal begitu melihat Inara turun dari dalam mobilnya.


Mendapati Inara berlalu pergi begitu saja menuju ke arah jalanan, membuat Alvaro lantas mengusap raut wajahnya dengan kasar. Sepertinya akhir-akhir ini pikirannya yang kacau menjadikan Alvaro sedikit lebih sensitif dan juga mudah marah dalam hal sekecil apapun, hingga tanpa sadar menjadi lepas kontrol seperti ini.


"Apa yang sebenarnya sedang aku lakukan?" ucap Alvaro ketika menyadari jika ia sudah keterlaluan kepada Inara tadi.


Alvaro menarik napasnya dalam-dalam beberapa kali kemudian setelah dirasa cukup tenang Alvaro mulai membuka pintu mobilnya, berusaha untuk mengejar kepergian Inara sebelum pergi semakin jauh lagi.


**


"Berhenti!" pekik Alvaro ketika mendapati Inara yang hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah taksi tak jauh dari posisinya berada saat ini.


Inara yang juga mendengar suara itu awalnya ia hendak mengabaikannya begitu saja, namun tarikan tangan dari Alvaro saat itu membuat Inara sama sekali tak berdaya dan pada akhirnya mengurungkan niatnya untuk naik ke dalam taksi tersebut. Alvaro yang berhasil menggenggam tangan Inara kemudian langsung menutup pintu taksi tersebut dengan keras, membuat taksi itu pada akhirnya berlalu pergi begitu saja dari hadapan keduanya. Membuat Inara menjadi kesal akan sikap Alvaro saat ini yang terkesan seenaknya.


"Lepaskan tangan ku!" ucap Inara sambil menghempaskan tangannya begitu saja dari cengkraman tangan Alvaro saat itu tepat setelah taksi tersebut melaju meninggalkan keduanya.


Alvaro menghela napasnya dengan panjang begitu mendapati sikap Inara yang seperti itu, dilepasnya secara perlahan cengkraman tangannya dari tangan Inara dan menatapnya dengan tatapan yang intens.

__ADS_1


"Baiklah aku minta maaf, aku benar-benar terbawa emosi tadi. Aku sungguh tidak bermaksud untuk membentak mu Ra, sungguh... Pikiran ku akhir-akhir ini sedang kacau sehingga membuat emosi ku naik turun walau dengan masalah sekecil apapun." ucap Alvaro kemudian memilih untuk mengalah dan meminta maaf atas kesalahannya kepada Inara.


Setidaknya harus ada yang mengakhiri pertengkaran ini atau tidaka akan ada ujung yang bisa keduanya capai jika sama-sama bersikap keras kepala. Lagi pula kondisi Inara yang sedang hamil muda sekarang, membuat Alvaro tidak akan bisa marah berlama-lama dengan Inara.


"Lalu apa lagi sekarang?" ucap Inara kemudian ketika mendengar permintaan maaf dari Alvaro barusan.


"Kita pulang ya.. Aku tahu aku salah untuk itu aku langsung berlari kemari dan mengejar mu agar jangan pergi. Kita pulang sama-sama, bukankah kamu lelah? Lagi pula kamu tidak boleh terlalu capek-capek." ucap Alvaro kemudian namun kali ini dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya seakan telah kembali menjadi mode Alvaro yang dulu.


Inara yang mendengar tutur kata lembut dari Alvaro barusan lantas hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Inara benar-benar tidak bisa menolak Alvaro jika ia dalam mode lembut seperti ini. Entah mengapa rasanya Inara seperti merasakan sebuah ketenangan ketika mendapati Alvaro dalam kondisi kepala yang dingin seperti ini, walau hanya dengan lirikan matanya sekali pun Inara tetap merasakan sebuah kedamaian di dalam hatinya.


"Baiklah ayo kita pulang sekarang, aku benar-benar lelah..." ucap Inara pada akhirnya yang lantas membuat Alvaro tersenyum dengan simpul ketika mendengar hal tersebut.


**


Kediaman Alvaro


Kikan yang baru saja datang dan memarkirkan mobilnya di halaman, lantas dengan spontan melangkahkan kakinya masuk ke area dalam mansion hendak langsung protes kepada Alvaro karena telah memperlakukannya seperti itu di acara arisannya tadi. Kikan benar-benar tidak habis pikir jika Alvaro malah bersikap seperti itu dan membela Inara dihadapan teman-temannya, seakan rasanya seperti Alvaro melempar sebuah kotoran secara langsung ke wajahnya tepat ketika Alvaro membela Inara di hadapannya. Setidaknya bisakah Pria itu berakting sebentar saja dan tak membuatnya malu di hadapan teman-temannya?

__ADS_1


Dengan perasaan yang menggebu-gebu Kikan nampak mulai mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, dimana ia malah mendapati Tamara tengah asyik menikmati puding buatan Inara di area meja makan dengan sangat santainya. Mendapati hal tersebut lantas membuat Kikan langsung berdecak dengan kesal sambil mengambil langkah kaki yang besar mendekat ke arah dimana Tamara berada saat ini.


"Apa Mama akan terus menghabiskan semua makanan buatan pelakor itu? Ayolah Ma.. Aku sudah sangat kesal saat ini, melihat Mama begitu menikmati makanan buatannya benar-benar membuat ku menjadi semakin kesal karenanya." ucap Kikan secara langsung tanpa basa basi sama sekali, membuat Tamara yang tadinya tengah asyik menikmati puding tersebut tentu saja terkejut ketika mendapati suara Kikan barusan.


"Ada apa dengan mu Ki? Mengapa kamu datang dengan marah-marah seperti ini? Bukankah katamu tadi kamu hendak pergi arisan? Lagi pula rencana mu dengan membawa Inara ke sana agar sadar dengan tempatnya tidaklah terlalu buruk, lalu untuk apa kau kesal seperti ini.?" ucap Tamara kemudian dengan raut wajah yang penasaran ketika melihat raut wajah cemberut putrinya.


"Dia benar-benar mengesalkan, gara-gara dia aku jadi di permalukan di depan teman-teman ku Ma. Mama tahu? Ketika aku berhasil mengerjai Inara dan menjadikannya sebagai seorang pembantu juga keset di sana. Tak lama setelah itu bak seorang pangeran di negeri dongeng, entah bagaimana caranya Alvaro malah langsung datang dan menyelamatkan Inara. Sementara aku? Aku harus menahan perasaan malu karena sebentar lagi aku yakin berita tentang Alvaro yang membela pembantu, pasti akan langsung muncul di antara teman-teman ku. Bisa Mama bayangkan semalu apa aku nantinya?" ucap Kikan dengan emosi yang meledak-ledak.


Entah dengan cara apalagi Kikan mengekspresikan perasaan yang ada di dalam dirinya saat ini, yang jelas Kikan benar-benar kesal dan juga marah atas tingkah Alvaro yang begitu membela Inara di Resto tadi.


"Tenanglah Ki, kamu harus..." ucap Tamara namun terhenti ketika keduanya mendengar sebuah suara dari arah pintu utama.


Tak tak tak


Suara derap langkah kaki seseorang yang terdengar semakin mendekat ke arah di mana keduanya berada saat ini, lantas langsung menghentikan pembicaraan keduanya. Membuat Tamara dan juga Kikan lantas langsung menoleh dengan seketika ke arah sumber suara begitu mendengar derap langkah kaki tersebut.


"Lihatlah ke arah pintu, bukankah mereka berdua sungguh sangat romantis?" ucap Tamara dengan tatapan yang lurus ke arah pintu utama.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2