Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Ada apa Ra?


__ADS_3

Keesokan harinya


Di salah satu ruangan CEO, terlihat Agam tengah menatap kosong ke arah depan. Semenjak pertemuannya dengan Inara dan juga Alvaro saat itu pikirannya benar-benar terasa bercabang.


Agam tidak tahu apakah ia pantas menghardik Alvaro ketika ia sendiri juga pernah berada dalam posisi tersebut. Agam menghela napasnya dengan kasar ketika semua pemikiran itu, membuat kepalanya seakan hendak pecah karena terus memikirkannya tanpa henti.


Sampai kemudian sebuah suara ketukan pintu yang berasal dari luar ruangannya, lantas langsung membuyarkan semua pemikirannya saat itu.


Tak tak tak


Langkah kaki yang semakin mendekat terdengar jelas di telinganya, seiring dengan terbukanya pintu ruangan tersebut. Seorang Pria yang selama ini menjadi asisten sekaligus kaki tangannya, nampak melangkahkan kakinya lebih dekat lagi ke arahnya saat ini.


"Apa kamu sudah menemukan apa yang aku minta?" ucap Agam yang seakan tahu maksud dari kedatangan Dandi di ruangannya kala itu.


Mendapat pertanyaan tersebut, Dandi yang seakan tahu apa yang baru saja diminta oleh Agam. Lantas terlihat memberikan sebuah map yang berisi informasi seseorang.


Tanpa membuang waktu lagi, Agam yang begitu penasaran akan wajah gadis yang ia temui sebelumnya. Membuat Agam langsung mengambil map tersebut dan membukanya. Ditatapnya satu persatu lembar kertas yang berisi biodata lengkap sekaligus beberapa hal yang mungkin saja berguna untuk mengatasi rasa penasarannya.


Sebuah fakta yang tidak pernah Agam duga akan terjadi dan menimpa dirinya, lantas membuat Agam terdiam di tempatnya. Sebuah foto seseorang yang sangat ia kenali, terlihat tengah tersenyum di sebelah gadis yang tak sengaja bertemu dengannya ketika bersama Alvaro.


"Takdir apa lagi ini? Mengapa semuanya berbalik ke arah ku?" ucap Agam tanpa sadar, yang tentu saja membuat Dandi langsung mengernyit ketika mendengar perkataan dari Agam barusan.


"Apa ada sesuatu Tuan?" ucap Dandi dengan raut wajah yang penasaran.

__ADS_1


Membuat Dandi yang mendengar pertanyaan tersebut, lantas sedikit menggeser foto yang baru saja ia lihat ke arah Dandi saat itu.


"Ah... Dia adalah Ratih, ibu kandung dari Inara. Tidak ada yang pernah tahu siapa Ayah dari Inara karena aksesnya seakan di tutup dan di rahasiakan oleh beberapa kalangan. Saya rasa Inara adalah hasil dari hubungan gelap dengan seseorang yang berpengaruh di negara ini Tuan, mengingat saya yang begitu kesulitan ketika mencari tahu Ayah Inara sekaligus suami dari Ratih." ucap Dandi yang tanpa dosa sama sekali mengatakan hal tersebut dengan entengnya.


Agam yang mendapat jawaban tersebut tentu saja langsung menatap tajam ke arah Dandi. Entah mengapa mendengar hal tersebut benar-benar membuatnya marah.


Agam menutup akses tentang dirinya bukanlah tanpa alasan. Sikap Tamara yang terkesan sembrono dan juga seenaknya, membuat Agam harus menghilangkan segala jejak tentang dirinya maupun Ratih di dalam hidupnya. Ia tidka ingin jika sampai Tamara menemukan Ratih dan melakukan yang tidak-tidak kepadanya.


Dandi yang mendapat tatapan tajam dari Agam tiba-tiba, tentu saja langsung menelan salivanya dengan kasar. Entah apa yang tengah ada dipikiran Agam saat ini, hingga membuatnya menatap tajam ke arah Dandi.


"Em maaf Tuan, apakah ada yang salah? Mengapa anda menatap saya seperti itu?" ucap Dandi dengan raut wajah yang bertanya-tanya.


"Tidak ada, sebaiknya kamu pergi saja karena aku sedang kesal saat ini." ucap Agam dengan raut wajah yang memerah seakan menahan amarahnya.


"Apa kau tidak penasaran siapa suami Ratih sekaligus Ayah dari Inara?" ucap Agam dengan tiba-tiba yang lantas membuat Dandi perlahan-lahan mulai berbalik badan dengan perasaan yang tidak enak.


Suasananya mendadak terasa begitu dingin saat itu, membuat Dandi merasa seperti akan ada sesuatu yang menyerang dirinya.


"Sepertinya saya tidak terlalu penasaran lagi Tuan, saya rasa itu bukanlah ranah saya." ucap Dandi seakan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Aku tahu itu, tapi anehnya aku tetap ingin memberitahu mu saat ini. Bukankah kamu mengatakan jika Inara adalah hasil dari hubungan gelap? Aku rasa itu tidak sepenuhnya salah namun juga tidak sepenuhnya benar karena Ayah dari gadis yang baru saja kau katakan itu adalah aku." ucap Agam sambil bangkit dari tempat duduknya saat itu.


"Tuan bisa saja, saya bahkan... Apa?" pekik Dandi yang baru menyadari akan perkataan dari Agam barusan.

__ADS_1


***


Inara yang pagi itu hendak jalan-jalan pagi sambil membeli bubur ayam, lantas bersiap untuk membuka pintu unit Apartment saat itu. Inara yang tidak ingin membangunkan Alvaro saat itu memilih untuk tidak membangunkannya dan memutuskan untuk pergi sendiri.


Dengan raut wajah yang sumringah Inara mulai membuka pintu unit Apartment dan melangkahkan kakinya keluar. Hanya saja ketika Inara baru saja keluar dari sana, sebuah box dengan ukuran sedang lantas terlihat dan membuat rasa penasaran dalam diri Inara bangkit saat itu.


Inara mencoba menatap ke arah sekitar seakan mencari pemilik dari box tersebut, namun anehnya tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya. Mendapati hal tersebut membuat Inara lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung.


"Inara? Berarti ini untuk ku? Sepertinya aku tidak pernah memesan paket atau sejenisnya, mengapa ada box atas nama ku?" ucap Inara dengan raut wajah yang bingung.


Tak ingin hanya menerka-nerka segala sesuatunya, Inara memutuskan untuk membuka paket tersebut dengan posisi satu tangannya membuka pintu unit Apartemennya sebagian hendak kembali masuk ke dalam.


Sesuatu yang tidak di inginkan Inara lantas tersaji jelas di dalam kotak tersebut, yang lantas membuat Inara melempar kotak itu dengan spontan dan jatuh dalam posisi terduduk.


"Aaaaaaa" teriak Inara dengan spontan.


Sebuah teriakan yang tentu saja mengejutkan dua penghuni unit Apartment bagian atas. Tidak hanya Alvaro yang tengah tertidur saja terkejut ketika mendengar teriakan tersebut, bahkan Chris yang hendak berangkat pergi keluar saat itu juga terkejut akan teriakan tersebut.


Alvaro dan juga Chris saling berlarian dari arah kediamannya masing-masing menuju ke arah sumber suara. Sebuah raut wajah khawatir terlihat jelas di wajah Alvaro dan juga Chris yang terlihat tergopoh-gopoh menuju ke arah sumber suara.


Alvaro melihat dengan jelas Inara sudah dalam posisi terduduk di ambang pintu, membuatnya semakin merasa khawatir ketika melihat hal tersebut. Dengan langkah kaki yang besar Alvaro terlihat menghampiri Inara dan langsung mengecek kondisinya.


"Ada apa Ra?" ucap Alvaro dan juga Chris yang bersamaan saat itu, membuat Alvaro dan Chris lantas saling pandangan antara satu sama lain dalam sepersekian detik saat itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2