
Area depan Apartment
Dengan langkah kaki yang perlahan, Lina terlihat mulai membawa langkah kakinya ke sisi gedung Apartment tersebut. Bayangan seseorang terlihat jelas berada tak jauh dari posisinya, membuat Lina yang mendapati hal tersebut lantas sedikit mempercepat langkah kakinya saat itu.
Lina nampak mengedarkan pandangannya sejenak, kemudian berhenti tak jauh dari posisi Pria tersebut berada saat ibi.
"Ada apa?" ucap Lina kemudian yang lantas membuat Pria itu mulai berbalik badan secara perlahan.
"Dari mana saja kau?" ucap Karan yang terlihat tengah memasang raut wajah yang kesal saat ini.
"Bisakah kau untuk sabar? Aku juga membutuhkan proses untuk bisa keluar dari sana tanpa ketahuan!" balas Lina sambil memutar bola matanya dengan jengah.
"Sudahlah, berdebat dengan mu sama sekali tidak ada faedahnya. Aku datang untuk memberikan mu ini, berikan ini pada setiap minuman istrinya setiap waktu." ucap Karan sambil menyerahkan sebungkus serbuk kepada Lina saat itu.
"Apa ini? Kau jangan membuat kekacauan yang berlebihan ya.. Aku seorang perawat, jika ketahuan aku melakukan sesuatu dengan obat-obatan tertentu, lisensi pekerjaan ku bisa di cabut. Apa kau tahu itu?" ucap Lina yang tak langsung menerima benda tersebut.
"Ini hanyalah sebuah minuman yang mengurangi kerja otak saja, lagi pula kau tidak membunuhnya bukan? Jika kau tidak ingin di pecat maka lakukan dengan bersih dan jangan sampai ketahuan!" ucap Karan dengan begitu santainya, membuat manik mata Lina langsung membulat dengan seketika.
"Apa kau sudah gila? Aku tidak mau melakukannya!" ucap Lina dengan nada yang kesal dan langsung mengambil posisi memunggungi Karan saat itu.
Karan berdecak dengan kesal ketika mendapati penolakan dari Lina saat ini, hanya saja sikap itu langsung berubah dengan seketika dan berganti senyuman yang terlihat meneduhkan.
"Apa kamu tidak ingin masalah ini cepat selesai? Bukankah kamu ingin segera membina bahtera Rumah tangga kita bersama. Serbuk ini tak membuatnya mati, hanya mengurangi daya ingat serta kerja otaknya saja. Jadi kamu tidak perlu khawatir jika lisensi pekerjaan mu akan di cabut nantinya." ucap Karan sambil memeluk tubuh Lina dari belakang dan bersandar di pundaknya saat itu.
Lina menghela napasnya panjang ketika dirinya menyadari bahwa ia lagi dan lagi kembali luluh, disaat mendengar tutur kata Karan yang begitu lembut menusuk relung hatinya.
"Hanya kai ini, aku harap ketika tujuan mu telah terpenuhi kamu akan menepati janji mu." ucap Lina pada akhirnya.
"Tentu saja sayang, terima kasih banyak." ucap Karan sambil mengecup dengan lembut pundak Lina, membuat Lina lantas mengusap dengan perlahan puncak kepala Karan yang bersandar di pundaknya kini.
***
Sementara itu tanpa keduanya sadari, Inara yang memang sudah curiga akan kepergian Lina di tengah malam ini membuatnya memutuskan untuk mengikuti Lina saat itu.
__ADS_1
Setelah mencuri dengar perkataan keduanya saat itu, Inara memutuskan untuk naik ke atas dengan perlahan. Pikirannya saat ini benar-benar kalut, Inara bingung apa yang membuat Karan dan juga Lina berambisi ingin membunuhnya. Bukankah Inara tidak mengenal keduanya?
Inara mengusap perutnya dengan perlahan dan menghela napasnya dengan panjang.
"Kamu jangan khawatir ya nak, Ibu akan lebih berhati-hati selanjutnya. Setidaknya kita perlu mencari tahu alasan mereka nak? Ibu tidak bisa membiarkan mereka menyakiti keluarga kita begitu saja." ucap Inara pada diri sendiri sambil terus melangkahkan kakinya saat itu.
Bruk...
Inara yang terlalu fokus akan pikirannya saat itu, tanpa sadar malah menabrak seseorang dan hampir saja terjatuh, jika saja orang itu tidak sigap dan memeganginya.
"Apa kamu baik-baik saja Ra?" ucap sebuah suara yang ternyata adalah Chris.
Inara yang mendengar sebuah suara tak asing di pendengarannya saat itu, lantas langsung mendongak menatap ke arah sumber suara.
"Terima kasih dan maaf karena aku tidak terlalu memperhatikan jalan tadi." ucap Inara sambil sedikit menggeser posisinya saat itu.
"Dari mana kamu tengah malam begini? Apa Alvaro tahu?" tanya Chris kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Apa mau aku temani mengatakannya kepada Alvaro? Aku yakin dia akan lebih percaya jika kamu pulang bersama dengan seseorang." tawar Chris kemudian namun langsung di balas Inara dengan gelengan kepalanya saat itu.
"Tidak perlu, aku duluan ya..." ucap Inara sebelum pada akhirnya kembali membawa langkah kakinya berlalu pergi dari sana meninggalkan Chris seorang diri.
"Ada apa lagi sebenarnya? Mengapa raut wajah Inara terlihat begitu sendu?" ucap Chris tepat setelah kepergian Inara barusan.
***
Keesokan harinya
Alvaro terlihat mulai mengerjapkan kelopak matanya secara perlahan. Diliriknya Inara yang saat itu masih tidur si sebelahnya, dengan posisi memunggungi dirinya.
Dengan gerakan yang perlahan Alvaro mulai menggeser tubuhnya, meski terasa sedikit perih namun ia mencoba untuk tidak menggubrisnya.
"Tumben kamu belum bangun Ra.. Apa kamu tidak enak badan?" ucap Alvaro sambil mengusap pelan puncak kepala Inara saat itu.
__ADS_1
Inara yang merasakan belaian lembut di puncak kepalanya, terlihat berbalik badan dan langsung memeluk tubuh Alvaro dengan erat.
"Biarkan aku tidur sebentar lagi Mas, kepala ku terasa sedikit pening." ucap Inara sambil masih memejamkan kelopak matanya saat itu.
"Apa kamu yakin? Aku akan memanggil suster Lina untuk memeriksa mu, jika masih sakit kita pergi ke Rumah sakit ya..." ucap Alvaro sambil meraba area kening Inara mencoba untuk memeriksa suhu tubuh Inara.
"Tidak perlu mas.. Sepertinya aku hanya butuh istirahat sebentar saja." ucap Inara sambil terus membawa wajahnya masuk ke dalam dada bidang milik Alvaro saat itu.
.
.
.
Alvaro yang khawatir akan keadaan Inara memutuskan untuk memanggil suster Lina agar memeriksa Inara saat itu. Inara nampak mendengus dengan kesal ketika harus mengiyakan keputusan Alvaro, walaupun ia terus menolaknya sedari tadi.
Kali ini Lina nampak terlihat serius melakukan pemeriksaan luar kepada Inara, membuat Inara sesekali terlihat melirik ke arah Lina saat itu.
"Bukankah dia nampak seperti orang baik? Mengapa dia tega dan begitu bodoh melakukan perintahnya?" ucap Inara dalam hati sambil terus memperhatikan Lina saat itu.
"Bagaimana keadaannya?" ucap sebuah suara yang berasal dari Alvaro.
"Saya rasa bu Inara hanya sedang kecapekan saja, jangan terlalu banyak pikiran ya Bu..." ucap Lina sambil mulai bangkit dari tempatnya menuju ke arah nakas seperti mengambil segelas minuman dari sana.
Mendengar hal tersebut Alvaro nampak berjalan dengan perlahan menggunakan sekrup menuju ke arah Inara saat itu.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Ra?" ucap Alvaro dengan nada yang terdengar begitu lembut.
"Silahkan diminum dulu Bu..." ucap Lina kemudian yang lantas membuat Inara mendongak menatap ke arah sumber suara dengan seketika.
Pyar ....
Bersambung
__ADS_1