Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Nafkah lahir


__ADS_3

Alvaro yang melihat Inara tengah duduk seorang diri di ruang menonton, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Inara berada. Sambil menghela napasnya dengan panjang Alvaro lantas menatap ke arah Inara dengan tatapan yang kasihan. Alvaro yakin tadi siang pasti Ibu mertuanya sudah mengerjai Inara habis-habisan, membuat Alvaro semakin merasa kasihan akan Inara yang terlihat tengah merenggangkan lengannya yang sudah bisa dipastikan pegal-pegal saat ini.


Sebelum menuju ke ruang menonton, Alvaro terlihat menghentikan langkah kakinya tepat di arah almari yang tak jauh dari sana kemudian mengambil sesuatu dari laci dan langsung kembali melangkahkan kakinya mendekat menuju ke arah dimana Inara berada saat ini.


"Mari biar aku bantu meringankan rasa pegalnya." ucap Alvaro yang lantas membuat Inara terkejut seketika begitu mendengar perkataan Alvaro yang tiba-tiba itu.


"Ah mas mengejutkan ku saja." ucap Inara yang langsung berbalik badan begitu mendengar perkataan dari Alvaro barusan.


Alvaro yang melihat Inara terkejut hanya tersenyum dengan simpul kemudian mulai mengambil duduk di sebelah Inara bersiap untuk memijat tangan Inara yang pegal, namun sayangnya langsung di tepis oleh Inara dengan sopan.


"Tak perlu mas lagi pula rasa sakitnya hanya sebentar, aku yakin di buat tidur pasti akan langsung sembuh nantinya." ucap Inara kemudian sambil langsung bangkit dari tempat duduknya.


Entah mengapa duduk berdekatan dengan Alvaro seperti ini membuat hatinya sedikit berdesir, apalagi jika ia mengingat kembali kejadian pada malam itu yang lantas semakin menambah kekikukan di hati Inara.


Alvaro yang seakan tahu jika Inara akan menghindarinya kemudian mulai memegang tangan Inara yang langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika. Inara menatap ke arah Alvaro dengan tatapan yang menelisik seakan bertanya-tanya akan sikap Inara saat ini.


"Duduklah, aku ingin bicara dengan mu." ucap Alvaro kemudian dengan nada yang lembut.


Inara yang mendengar perkataan dari Alvaro barusan tidak punya pilihan lain selain mengikuti perkataanya, membuat Inara kemudian lantas mengambil posisi duduk kembali di sebelahnya namun dengan menjaga sedikit jarak dari Alvaro. Melihat hal tersebut hanya membuat Alvaro tersenyum dengan simpul.


"Aku minta maaf karena terlalu sibuk selama ini sampai melupakan dirimu dan tidak menanyakan apapun perihal dirimu. Ada beberapa masalah dalam rumah tangga ku dan aku rasa kamu sudah mulai mengetahui duduk masalahnya." ucap Alvaro kemudian sambil mengoles minyak zaitun ke pergelangan tangan Inara dan mulai memijatnya.


Meski awalnya Inara menolak namun tangan Alvaro yang cekatan pada akhirnya membuat Inara tak lagi bisa menolak.

__ADS_1


"Apa yang mas katakan? Mas sudah mencoba yang terbaik selama aku di sini, aku bahkan di bebaskan untuk memasak dan melakukan hal lain tanpa kamu larang sedikit pun. Aku benar-benar bahagia akan hal itu." ucap Inara dengan nada yang terkejut seakan menyangkal perkataan dari Alvaro barusan.


Alvaro yang mendengar perkataan dari Inara barusan lantas tersenyum dengan simpul.


"Aku tahu kamu akan mengatakan hal tersebut, namun setelah mengetahui dirimu pergi berbelanja tadi bersama dengan Kikan. Aku baru menyadari bahwa aku belum memberimu nafkah lahir, selama ini aku berpikir telah mencukupi segalanya dan melupakan jika kamu juga membutuhkannya. Jadi aku memutuskan untuk memberi mu sesuatu yang sama seperti yang aku berikan kepada Kikan." ucap Alvaro sambil mengehentikan aktivitasnya dan mengambil sesuatu di sakunya yang sudah ia persiapkan sebelumnya.


Inara yang mendengar perkataan dari Alvaro barusan hanya menatapnya dengan tatapan yang menelisik. Sampai kemudian ketika ia melihat sebuah kartu yang sama dengan yang digunakan oleh Kikan sewaktu belanja, membuat Inara langsung mengernyit dengan seketika.


"Aku tahu ini tidaklah terbatas seperti punya Kikan, tapi aku sedang berusaha mengurusnya untuk mu. Selama jangka waktu itu kamu bisa menggunakan ini untuk keperluan mu." ucap Alvaro sambil memberikannya kepada Inara.


Inara yang menerima sebuah kartu dari Alvaro tentu saja langsung menolak dan mengembalikannya kepada Alvaro, membuat Alvaro langsung mengernyit dengan seketika begitu mendapat penolakan tersebut.


"Tidak perlu mas, lagi pula untuk apa mas memberi ku kartu seperti itu, aku sama sekali tidak bisa menggunakannya." ucap Inara dengan cepat.


"Tidak perlu mas, begini saja.. Jika mas ingin memberikan nafkah lahir kepada ku berikan saja aku uang tunai, mungkin itu bisa lebih bermanfaat untuk ku karena aku sama sekali tidak bisa menggunakan kartu itu." ucap Inara kemudian memberikan solusi kepada Alvaro.


Alvaro terdiam begitu mendengar perkataan dari Inara barusan kemudian kembali menghela napasnya dengan panjang.


"Berapa yang kamu minta setiap bulannya? Biar nanti aku akan katakan kepada Abi agar mengambilkannya untuk mu besok." ucap Alvaro kemudian kembali bertanya, membuat Inara langsung tersenyum dengan seketika.


"Berapa pun yang kamu berikan akan aku terima mas, lagi pula semuanya telah kamu sediakan di rumah ini. Lalu untuk apa lagi aku meminta uang?" ucap Inara dengan nada yang polos.


"Baiklah kalau begitu." ucap Alvaro dengan tersenyum simpul.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut, lantas membuat Alvaro kembali meneruskan pekerjaannya sebelumnya yaitu memijat tangan Inara, membuat Inara langsung meremas rok yang ia gunakan karena merasa canggung akan situasi ini.


"Oh jantung, bisakah kau untuk tidak terus melompat seperti ini. Jika kau terus seperti ini ketika aku berada di dekat Alvaro, mungkin aku sebentar lagi akan terkena serangan jantung." ucap Inara dalam hati dengan raut wajah yang memerah.


Sedangkan Alvaro yang tidak menyadari itu malah terus fokus pada pekerjaannya yang ingin meredakan rasa pegal Inara saat ini.


***


Keesokan harinya


Seperti janji Alvaro semalam, setelah Abi datang pagi hari sekali untuk mengantarkan uang kepada Alvaro. Lantas membuat Alvaro yang sudah berpakaian jas lengkap nampak melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Inara saat itu.


Diketuknya secara perlahan pintu kamar Inara namun sama sekali tidak ada jawaban meski beberapa kali di ketuk, membuat Alvaro lantas mulai melangkahkan kakinya begitu saja masuk ke dalam sambil mengedarkan pandangannya ke area sekitar.


"Apa kamu sedang berada di dalam kamar mandi Ra?" tanya Alvaro ketika mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi.


"Ia mas aku sedang mandi, jika perlu sesuatu aku akan keluar sebentar lagi." ucap Inara dari arah kamar mandi.


"Tak perlu terburu-buru Ra, aku kemari hanya untuk memberikan apa yang aku janjikan semalam aku akan meletakkannya di atas nakas, aku pergi dulu Ra..." ucap Alvaro kemudian berlalu pergi dari sana tanpa mendengarkan jawaban apapun dari Inara.


Tak lama setelah kepergian Alvaro dari sana Inara nampak melangkahkan kakinya keluar dari arah kamar mandi sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Pandangan mata Inara terhenti pada sebuah amplop tebal yang terletak di atas nakas, membuat Inara langsung melangkahkan kakinya ke sana dan melihat apa isi dari amplop tersebut.


"Apa-apaan ini?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2