Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Ego kah aku?


__ADS_3

Keesokan harinya


Di area meja makan terlihat Kikan tengah makan seorang diri dengan raut wajah yang di tekuk. Matanya saat ini benar-benar terlihat seperti zombie, dimana terlihat lingkaran hitam tepat di area kantung matanya.


Semalaman penuh Kikan tidak bisa tidur dan terus berharap akan kepulangan Alvaro kembali ke Rumah ini. Namun sayangnya hingga matahari terbit sekalipun Alvaro tak kunjung kembali juga, membuat Kikan lantas uring-uringan karena takut jika Alvaro akan pergi untuk selamanya.


Tak tak tak


Suara derap langkah kaki yang berasal dari taman samping terdengar menggema di area meja makan. Namun sama sekali tidak membuat Kikan terganggu ataupun penasaran akan sumber suara derap langkah kaki tersebut berasal.


"Tumben kamu sendiri? Dimana suami mu dan juga si udik itu?" ucap Tamara yang sedikit merasa aneh ketika hanya mendapati Kikan sarapan seorang diri di meja makan.


"Jangan membuat ku semakin kesal hanya karena mendengar si udik itu Mama sebut berulang kali." ucap Kikan dengan nada yang datar.


"Apa yang salah? Bukankah kemarin kau sudah memenangkan permainan?" ucap Tamara dengan raut wajah yang penasaran sambil menarik kursi dan mengambil duduk di area meja makan.


"Tentu saja, aku bahkan memenangkan Rumah ini dan si udik tersebut memenangkan hati Alvaro. Bukankah aku terlihat begitu menyedihkan sekarang?" ucap Kikan sambil tersenyum sinis menatap lurus ke arah depan.


Tamara yang mendengar perkataan dari Kikan barusan sebenarnya sudah menduga tentang hal ini. Hanya saja Tamara sedikit terkejut ketika mendapati segalanya berjalan lebih cepat dari perkiraannya.


"Sudahlah Ki... Bukankah bagus jika kamu mendapatkan asetnya? Lagi pula dia hanya mendapatkan predikat suami saja bukan? Jika kamu menginginkan suami maka carilah yang baru, yang terpenting saat ini adalah kamu berhasil mengamankan hartanya..." ucap Tamara dengan nada yang terdengar begitu santai.


"Ma... Apakah Mama pikir suami itu sebuah barang? Bagi ku sumi ku hanyalah Alvaro seorang dan tidak akan bisa di gantikan oleh orang lain lagi. Apakah Mama mengerti?" ucap Kikan dengan nada yang kesal.


"Halah apa yang kamu harapkan dengan cinta? Nyatanya cinta seorang Alvaro mudah terbagi begitu saja ketika ia mendapatkan sandaran baru. Jadi jangan ajari Mama akan cinta karena cinta itu adalah sebuah kebohongan." ucap Tamara dengan nada yang terdengar ketus, membuat Kikan yang mendengar perkataan Tamara barusan, lantas langsung memutar bola matanya dengan jengah saat itu.

__ADS_1


"Bedakan antara Papa dan juga Alvaro, lagipula Papa berselingkuh di belakang Mama namun Alvaro tak pernah sekalipun berselingkuh dari ku." ucap Kikan dengan nada yang terdengar malas ketika ia harus kembali mendengar Tamara yang membandingkan Papanya dengan Alvaro.


"Tidak selingkuh kepala mu! Jika dia laki-laki yang baik, lalu apa yang dilakukan Alvaro kepada Inara? Apa kamu masih bisa menyangkalnya?" ucap Tamara tak ingin kalah.


"Itu terjadi karena kesalahan ku dan akan aku pastikan jika aku akan merebut kembali suami ku yang ku berikan dengan percuma kepada Inara saat itu." ucap Kikan lagi yang lantas membuat Tamara mendengus dengan kesal begitu mendengarnya.


Disaat perdebatan di antara keduanya memanas pagi itu, sebuah deringan ponsel milik Tamara lantas langsung menghentikan perdebatan keduanya yang terjadi di meja makan.


"Lihatlah.. Kau bahkan baru membicarakannya dan dia langsung menelpon ku!" ucap Tamara sambil menunjukkan layar ponsel miliknya dimana tertera jelas nama Papanya di sana.


"Jika begitu, cepat pergi dan angkatlah! Jangan mengganggu ku lagi..." ucap Kikan kemudian, yang lantas membuat Tamara mendengus dengan kesal sambil mulai melangkahkan kakinya meninggalkan area meja makan.


***


Inara yang baru saja bangun dari tidurnya lantas langsung memegang area tengkuknya sebentar. Pagi ini ia merasa seluruh badannya seperti sakit semua. Entah karena ruangan baru atau memang karena ia yang kelelahan.


Kemarin benar-benar hari yang melelahkan untuknya, terlalu banyak hal yang terjadi pada Inara kemarin membuat Inara yang memang memiliki kepribadian yang pemikir. Lantas terlalu memforsir dirinya untuk hal-hal tidak penting, yang seharusnya tidar perlu Inara pikirkan mengingat kondisinya yang tengah hamil muda.


Dipijatnya pelipis Inara dengan perlahan yang saat ini terasa sedikit berdenyut. Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari pintu masuk, lantas langsung membuat Inara menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


"Apa kamu baik-baik saja Ra?" ucap Alvaro yang terlihat mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan dan juga paper bag di tangannya.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing. Kamu tidak perlu khawatir mas..." ucap Inara sambil mencoba untuk tersenyum agar Alvaro tidak terlalu mengkhawatirkannya.


Mendengar perkataan Inara barusan lantas membuat Alvaro mengernyit. Diletakkannya nampan yang ia bawa ke atas nakas kemudian Alvaro mengambil duduk di sebelah Inara dan langsung mengecek suhu tubuh Inara.

__ADS_1


"Suhu tubuh mu sedikit hangat, apakah masih pusing? Jika ia sebaiknya kita ke Rumah sakit sekalian cek kandungan mu." ucap Alvaro sambil bergerak mengambil remote AC dan menaikkan suhunya agar Inara tidak kedinginan.


"Jangan mas, lagi pula kamu masih harus bekerja. Aku yakin di buat istirahat pasti akan mendingan, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi dan fokuslah bekerja." ucap Inara yang langsung menolak opsi dari Alvaro barusan.


"Bagaimana bisa aku meninggalkan mu dalam kondisi seperti ini, jangan bandel dan lakukan semua permintaan ku, oke?" ucap Alvaro sambil mengusap rambut Inara dengan pelan.


Mendengar perkataan Alvaro barusan pada akhirnya membuat Inara tak lagi bisa menolak keputusan Alvaro saat ini. Mendapati Inara yang terdiam kemudian membuat Alvaro tersenyum simpul sambil memberikan paper bag di tangannya kepada Inara.


"Apa ini mas?" tanya Inara dengan raut wajah yang bingung.


"Ponsel, maaf aku baru mengingatnya. Harusnya sudah dari lama aku membelikannya untuk mu." ucap Alvaro sambil mengambil makanan di atas nampan dan bersiap untuk menyuapi Inara.


"Kamu tidak perlu repot-repot membelikan ku ponsel, lagi pula aku tidak terlalu membutuhkannya saat ini." ucap Inara sambil meletakkan paper bag tersebut ke sebelah.


"Tentu saja butuh karena mulai hari ini aku akan sering menanyakan kabar mu dan anak kita. Jika kamu tidak memilikinya, bagaimana aku bisa mengetahui kabar mu?" ucap Alvaro sambil mulai menyuapi Inara.


"Tapi kan mas..." ucap Inara namun terpotong ketika mendengar perkataan dari Alvaro barusan.


"Sudahlah, ayo buka mulut mu!" ucap Alvaro kemudian.


Setiap hal kecil yang dilakukan oleh Alvaro benar-benar selalu berkesan di hati Inara. Mendapati setiap perhatian yang di berikan oleh Alvaro saat ini, membuat Inara selalu menginginkannya lagi dan lagi. Hingga membuatnya lupa jika masih ada Kikan yang tentu saja akan tersakiti jika ia terus meminta lagi dan lagi perhatian Alvaro.


"Ego kah aku Tuhan, jika menginginkan lebih lagi dan lagi perhatiannya?" ucap Inara dalam hati sambil menatap ke arah Alvaro dengan tatapan yang intens.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2