Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Tenangkan dirimu


__ADS_3

Di sebuah Rumah sakit yang masih terletak di Ibukota, terlihat Alvaro dan juga Chris melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah ruang Unit Gawat Darurat.


Setelah mendapat panggilan telpon dari Kikan sebelumnya, Alvaro bergegas pergi ke Rumah sakit. Entah ini sebuah keajaiban atau bahkan sebuah takdir yang di berikan oleh Sang Pencipta untuknya, Inara ternyata berhasil selamat dari ledakan mobil saat itu.


Ditatapnya Kikan yang tengah berdiri sambil menatap ke arah pintu ruangan tindakan saat itu.


"Apa yang terjadi Ki? Bagaimana Inara bisa bersama dengan mu?" ucap Alvaro dengan raut wajah penasaran, membuat Kikan langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


"Sebenarnya..."


.


.


.


Beberapa saat sebelumnya


Kikan yang memang sedari awal mengikuti laju mobil yang membawa Inara saat itu, Kikan nampak terlihat fokus sambil terus menginjak pedal remnya mengikuti laju mobil tersebut.


Hanya saja selang beberapa meter dari posisi sebelumnya. Anehnya mobil yang membawa Inara nampak melaju dengan lirih saat itu. Detik berikutnya Inara terlihat loncat dari dalam mobil dan sempat menggelinding beberapa meter, sebelum pada akhirnya tubuhnya terhenti karena terbentur batang kayu besar di tepi jalan saat itu.


Mendapati hal tersebut Kikan buru-buru menepikan mobilnya, kemudian turun dari sana dan mengambil langkah kaki seribu mendekat ke arah dimana Inara berada saat ini.


"Ra apa kamu baik-baik saja?" tanya Kikan dengan raut wajah yang terlihat panik saat itu.


"Tolong bayi ku mbak... Ku mohon..." ucap Inara dengan nada yang lirih sambil menunjuk ke arah perutnya.

__ADS_1


Kikan yang mengikuti arah tunjuk Inara tentu saja terkejut, ketika mendapati darah segar sudah merembes membasahi dress panjang yang Inara kenakan saat itu.


"Darah Ra.. Darah..." ucap Kikan dengan terbata karena saking terkejutnya.


"To...long mbak...."


.


.


.


Mendengar cerita Kikan barusan membuat Alvaro langsung mengusap raut wajahnya dengan kasar. Entah apa yang terjadi sebenarnya di dalam mobil tersebut, Alvaro sendiri juga tidak mengetahui akan hal tersebut.


Sampai kemudian sebuah suara pintu terbuka dari ruang tindakan, di susul dengan suara deringan ponsel milik Chris saat itu. Membuat keduanya mulai mengambil arah sendiri-sendiri, dimana Chris melipir untuk mengangkat telponnya sedangkan Alvaro mendekat ke arah Dokter yang nampak berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Lakukan apapun dan jangan katakan hal buruk kepada ku! Apa kau mengerti? Jika sampai terjadi sesuatu pada Inara maka kau akan ku tuntut!" ucap Alvaro dengan nada penuh penekanan sambil mencengkram dengan erat kerah baju Dokter tersebut.


Melihat hal tersebut Bella yang terlihat datang begitu mengetahui jika Inara berada di Rumah sakit saat ini, lantas langsung mempercepat langkah kakinya ketika mendapati Alvaro begitu emosi.


"Al tenangkan dirimu, ini Rumah sakit.. Aku tahu kau terpukul tapi setidaknya cobalah untuk bersikap dengan tenang." ucap Bella sambil berusaha menarik tubuh Alvaro untuk mundur bersama dengan Kikan saat itu.


"Dokter Bella kebetulan anda di sini, sebaiknya kita segera bergerak cepat agar keduanya bisa diselamatkan. Mohon bantuannya untuk mengarahkan keluarga pasien agar memberikan ijin untuk melakukan tindakan operasi saat ini." ucap Dokter tersebut sambil membereskan pakaiannya yang berantakan karena ulah Alvaro, sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana.


Setelah kepergian Dokter tersebut dari area ruang tunggu, Bella nampak mendorong tubuh Alvaro hingga ke dinding saat itu. Membuat hembusan napas kasar terdengar menggema di telinganya saat itu.


"Tenang lah Al, biarkan Dokter itu bekerja! Jika kau seperti ini bagaimana kau bisa menghadapi hal tak terduga selanjutnya!" ucap Bella dengan nada yang terdengar begitu kesal.

__ADS_1


"Kau tidak tahu apapun! Inara dan anak ku sedang tidak baik-baik saja di dalam, bagaimana aku bisa tetap tenang ha?" ucap Alvaro sambil mengusap raut wajahnya dengan kasar.


Mendapati emosi Alvaro yang meledak-ledak saat itu, membuat Kikan mulai mengambil langkah kaki mundur. Kikan jelas melihat bagaimana perasaan khawatir dalam diri Alvaro, meluap menjadi emosi yang menggebu-gebu.


Jantung Kikan benar-benar berdegup dengan kencang melihat pemandangan dihadapannya saat ini. Bukan karena perasaan cinta ataupun berbunga, melainkan perasaan yang tak menentu ketika melihat cinta Alvaro yang begitu besar kepada Inara saat itu.


"Pernahkah Alvaro se khawatir itu kepada ku? Mengapa aku baru mengetahui sisi Alvaro yang seperti ini?" ucap Kikan dalam hati sambil masih menatap ke arah Alvaro dan juga Bella saat itu.


"Sebaiknya kita segera ke depan dan mengurus administrasinya, aku harap tenangkan dirimu mau bagaimanapun keadaannya. Jika kau tetap seperti ini maka penanganan terhadap Inara akan melambat, apa kau menginginkan hal itu terjadi Al?" ucap Bella sambil menatap tajam ke arah Alvaro saat itu.


Alvaro berdecak dengan kesal begitu mendengar perkataan Bella ada benarnya juga. Tanpa menjawab apapun perkataan Bella barusan, Alvaro terlihat melangkahkan kakinya pergi begitu saja menuju ke arah meja resepsionis dan mengurus segalanya.


***


Sementara itu di sebuah rumah kontrakan yang masih terletak di Ibu kota, sebuah berita terdengar berasal dari televisi yang terletak di ruang tengah. Membuat seulas senyum terlihat terbuat dari wajah Karan saat itu. Karan benar-benar puas dengan apa yang terjadi di pemberitaan, termasuk dengan kematian Lina yang berada di dalam mobil ketika mobil tersebut meledak.


Suara tawa terdengar menggema di ruangan tersebut, yang membuat suara tawanya beriringan dengan suara yang berasal dari televisi tersebut.


"Dasar wanita bodoh, aku menyuruhnya untuk menghabisi wanita itu dan juga Alvaro, ia malah menghabisi nyawanya sendiri. Benar-benar wanita bodoh, sia-sia aku mendekatinya selama ini jika tahu bahwa ia tidak bisa dimanfaatkan sama sekali..." ucap Karan sambil tertawa sinis menatap ke arah berita televisi tersebut.


"Tak apa, mungkin sudah waktunya aku mencari target selanjutnya yang lebih bisa aku manfaatkan. Setidaknya istri dari Alvaro sedang dalam kondisi kritis saat ini, tinggal sentuhan manis dari ku... Akan aku pastikan jika dia langsung terbang ke atas sana." ucap Karan dengan tawa yang menggema di ruangan tersebut.


Disaat Karan tengah merencanakan segalanya, sebuah suara pintu yang di dobrak dari arah depan saat itu lantas membuat Karan langsung bangkit dari tempat duduknya saat itu. Manik mata Karan membulat dengan seketika, disaat ia melihat beberapa irang mulai berlarian dan masuk ke dalam rumahnya tanpa ijin.


"Bawa dia sekarang!" ucap salah seorang Pria berpakaian setelan jas hitam.


"Siapa kalian?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2