
"Kakak pohon" ucap Alika begitu melihat seseorang yang tak asing di pandangannya.
Mendengar seorang anak kecil memanggilnya dengan sebutan kakak pohon dengan begitu keras, lantas langsung menghentikan langkah kaki Inara dengan seketika. Inara menatap ke arah belakangnya dengan tatapan yang mengernyit sekaligus bertanya-tanya, siapa yang sedang dipanggil oleh anak kecil tersebut?
Sampai kemudian ketika wajah tak asing nampak berlarian mendekat ke arahnya, membuat Inara lantas langsung semakin terkejut karenanya.
"Kakak pohon di sini juga?" ucap Alika dengan raut wajah yang girang.
"Kamu... Kamu yang di Rumah sakit kan? Kamu sudah boleh pulang?" ucap Inara begitu menyadari jika sosok gadis kecil di hadapannya adalah Alika, seseorang yang ia temui di Rumah sakit sebelumnya.
"Tentu saja Kakak pohon, aku sudah melakukan semua yang kamu suruh dan akhirnya aku benar-benar bisa pulang. Terima kasih banyak..." ucap Laika dengan nada yang berbisik di akhir kalimatnya.
Mendengar perkataan dari Alika barusan, tentu saja langsung membuat seulas senyum terlihat terbit dari wajar Inara saat itu. Disentuhnya dengan gemas hidung mungil milik Gadis kecil tersebut, membuat Gadis kecil itu lantas langsung cemberut karena ulah Inara barusan.
Di saat keduanya tengah sibuk bergurau, lain halnya dengan Chris yang sedari tadi hanya menatap ke arah keduanya dengan terdiam. Lantas terlihat mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah keduanya.
Saat ini adalah pertama kalinya Putrinya dekat dengan seseorang yang baru saja ia kenali, sebelumnya Alika sama sekali tidak ingin disentuh ataupun bersama dengan wanita maupun pria lainnya. Membuat Chris yang melihat kedekatan di antara keduanya baru saja terjalin, tentu saja terkejut bukan main namun tidak bisa mengatakan apapun kecuali hanya memantau keduanya.
Inara yang sadar jika Chris sedari tadi hanya menatapnya dengan tatapan yang aneh, lantas langsung bangkit dari tempatnya kemudian menatap ke arah Chris dengan tatapan yang penasaran.
Inara tersenyum dengan simpul begitu mendapati langkah kaki Chris yang berhenti tepat di hadapannya.
"Maafkan saya, sepertinya saya terlalu gemas dengannya. Hingga tidak menyadari kehadiran anda sedari tadi." ucap Inara kemudian mencoba untuk menghilangkan kecanggungan.
Inara benar-benar tidak menyadari akan kehadiran Chris saat itu, hingga membuatnya sedikit merasa canggung karenanya.
"Tidak perlu khawatir aku malah senang, sudah lama aku tidak melihat senyuman di wajah Alika. Biarkan saja dia seperti itu." ucap Chris sambil tersenyum dengan simpul membuat Inara sedikit merasa canggung karenanya.
__ADS_1
"Kakak, apakah Kakak tinggal di sini?" ucap Alika mulai menyerocos.
"Iya, Kakak tinggal di unit itu.." jawab Inara sambil menunjuk ke arah unit Apartment Alvaro.
"Sungguh? Asyik aku jadi punya teman... Boleh aku main ke unit Kakak? Boleh kan Kak? Boleh ya? Boleh ya?" ucapnya dengan nada yang mendesak membuat Inara sedikit bingung ketika mendengar permintaan tersebut.
"Alika tidak sopan berbicara seperti itu, ayo.." ucap Chris hendak melarang putrinya namun terhenti ketika mendengar jawaban dari Inara barusan.
"Tidak apa, lagi pula aku juga sedang senggang.. Kalau anda mau, anda bisa bergabung dengan kami.." ucap Inara kemudian sambil tersenyum dengan simpul.
Chris yang mendengar hal tersebut lantas menghela napasnya dengan panjang. Ditatapnya punggung Alika dan juga Inara yang kian melangkahkan kakinya menjauh dari hadapannya menuju ke arah dimana unit Apartment Inara.
"Gadis itu polos atau apa? Bagaimana bisa ia malah mengajak pria asing beserta dengan ekornya mampir ke Apartemennya dengan segampang itu?" ucap Chris dalam hati namun sambil terus melangkahkan kakinya mengikuti kepergian keduanya yang melangkah lebih dulu di hadapannya.
***
Dari arah dapur terlihat Inara tengah melangkahkan kakinya dengan membawa nampan berisi dua minuman, puding dan juga beberapa makanan kecil lainnya. Sedangkan Chris nampak mengedarkan pandangannya ke area sekitaran seakan mencoba untuk mengamati setiap area unit Apartment tersebut.
"Apa kamu baru saja pindah ke mari?" tanya Chris kemudian tepat setelah Inara meletakkan nampan tersebut di atas meja ruang tamunya.
"Iya baru sekitar 2 atau 3 hari jika tidak salah, anda sendiri.. Apakah tinggal di Apartment ini?" tanya Inara kemudian.
"Saya dan Putri saya tinggal tepat di unit Apartment mu, entah itu sebuah kebetulan atau memang sebuah takdir. Tapi yang jelas saya sedikit lega karena bisa menemukan Kakak pohon yang di cari oleh Putri saya sejak kemarin." ucap Chris dengan nada yang begitu tenang, hingga membuat pembicaraan di antara keduanya kian berlanjut cukup lama.
"Benarkah? Tapi Kakak pohon? Siapa Kakak pohon itu? Apakah aku?" ucap Inara dengan raut wajah yang bertanya-tanya menatap ke arah Alika dan juga Chris secara bergantian.
"Tentu Kakak, aku sama sekali tidak mengetahui nama Kakak selain perkataan Kakak tentang pohon tersebut. Jadi aku putuskan untuk memanggil Kakak pohon hehehe..." ucap Alika dengan senyuman yang mengembang membuat Inara lantas mendengus dengan kesal ketika mendengarnya barusan.
__ADS_1
"Kamu benar-benar nakal ya..." ucap Ibra sambil mencubit gemas hidung Alika, membuat tawa kecil lantas terdengar menggema di ruangan tersebut.
.
.
.
Waktu terus berlanjut hingga tanpa terasa ketiganya bermain sudah hampir seharian penuh. Canda tawa terdengar dengan jelas menggema di area ruang tengah. Entah apa yang sedang mereka bahas hingga membuat ketiganya terhanyut semakin dalam lagi. Alika yang senang mendapat teman baru lantas terlihat berlari-larian sedari tadi tanpa henti, membuat Chris hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Putrinya tersebut.
Chris yang mulai merasa haus terlihat mengambil jus yang terdapat di atas meja dan bersiap untuk meminumnya. Hanya saja tingkah Alika yang terlalu kelewatan sepertinya tanpa sengaja menyenggol siku Chris, hingga membuat minuman tersebut tumpah dan membasahi bajunya saat itu.
"Alika! Bisakah kamu untuk tenang dan tidak terus berlarian?" ucap Chris kemudian dengan nada yang kesal.
Mendengar teriakan tersebut tentu saja membuat Alika langsung terdiam di tempatnya dengan raut wajah yang menunduk, membuat helaan napas lantas terdengar berhembus kasar dari mulut Chris saat itu.
"Sudahlah, jangan terlalu kasar Alika mungkin tidak sengaja melakukan hal ini." ucap Inara kemudian mencoba untuk menengahi keduanya, namun Chris yang mendengar Inara membela Alika hanya terdiam tanpa menanggapinya.
"Alika bisa minta tolong ambilkan handuk yang ada di dalam kamar mandi Kakak?" ucap Inara kemudian ketika melihat kemeja Crish yang basah karena minuman tersebut.
"Baik Kak..." ucap Alika sambil mulai mengambil langkah meninggalkan area ruang tamu.
Setelah kepergian Alika dari sana, Inara kemudian mencoba berusaha untuk membersihkan minuman yang melekat di kemeja Chris dengan menggunakan tisu. Membuat Chris yang menyadari jarak di antara keduanya sangat dekat lantas langsung terdiam membatu di tempatnya.
Bruk...
"Apa-apaan ini?" pekik sebuah suara yang lantas mengejutkan keduanya.
__ADS_1
Bersambung