Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Aku menemukannya


__ADS_3

Suasana di dalam mobil saat itu terasa sangat aneh, hembusan napas Alvaro bahkan terus-terusan terdengar menggema di sana. Membuat Inara yang menyadari akan hal tersebut ikut merasakan kegusaran di hatinya.


"Sepertinya memang aku lah puncak dari permasalahan ini, jika aku tidak ada bukankah hubungan mas Alvaro dan juga mbak Kikan akan baik-baik saja? Bu.. Aku telah bersalah, anak mu ini telah menimbulkan kekacauan yang besar dalam rumah tangga seseorang. Apakah Ibu akan memaafkan ku jika aku mengatakan yang sejujurnya?" ucap Inara dalam hati sambil terus menunduk menatap ke arah perutnya yang sudah semakin terlihat itu.


Disaat Inara tengah sibuk melamunkan sesuatu, Alvaro yang tidak mendengar suara Inara sedari tadi. Lantas terlihat melirik sekilas ke arah Inara untuk mencari tahu apa yang tengah di lakukan oleh gadis itu.


"Ra.. Apakah kamu lapar? Mau mampir sebentar?" ucap Alvaro dengan nada yang lembut.


Namun sayangnya sama sekali tidak ada jawaban apapun dari Inara saat itu, yang tentu saja membuat Alvaro langsung mengernyit karenanya. Dipanggangnya tangan Inara dengan lembut saat itu, yang lantas membuat Inara terkejut dan langsung membuyarkan lamunannya dengan seketika.


"Iya mas..." jawab Inara dengan raut wajah yang tersentak.


"Apakah kamu lapar? Lagi pula apa yang sedang kamu pikirkan hingga melamun seperti itu? Kurangi hal itu karena tidak baik melamun terus-terusan Ra..." ucap Alvaro sambil tetap fokus menatap ke arah jalanan.


"Tidak perlu mas, bukankah kamu harus segera pergi ke kantor? Jadi sebaiknya kita pulang saja sekarang." ucap Inara kemudian yang lantas membuat Alvaro langsung menoleh sekilas ke arah Inara saat itu.


Mendengar jawaban dari Inara barusan lantas membuat Alvaro tersenyum dengan simpul. Alvaro jelas tahu jika Inara belum makan siang hari ini. Sehingga tanpa menanyakannya lebih lanjut lagi, Alvaro yang kebetulan melewati resto favoritnya. Tanpa menunggu persetujuan dari Inara, Alvaro membanting setirnya ke arah kiri dan memasuki area parkiran Resto. Membuat Inara yang mendapati hal tersebut, lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung begitu mendapati Alvaro yang tiba-tiba masuk ke plataran sebuah Resto.


"Mas bukankah aku mengatakan..." ucap Inara dengan raut wajah yang penasaran namun langsung di potong oleh Alvaro saat itu.

__ADS_1


"Urusan perusahaan mari kita tinggalkan sejenak, Lagi pula aku bosnya bukan? Yang terpenting sekarang kebutuhan kamu dan juga baby kita terpenuhi... Dia pasti lapar saat ini...." ucap Alvaro tepat setelah memarkirkan mobilnya sambil mengusap perut Inara secara perlahan saat itu.


Hembusan napas kasar terdengar jelas dari mulut Inara ketika mendapati perlakuan Alvaro yang begitu memanjakannya.


"Bagaimana mbak Kikan tidak marah kepadaku? Jika suaminya sebaik dan sepengertian ini. Sekali lagi maafkan aku mbak..." ucap Inara dalam hati sambil menatap ke arah raut wajah Alvaro yang saat ini terlihat fokus menatap ke arah perutnya.


"Ada apa Ra? Apa ada sesuatu?" tanya Alvaro kemudian.


"Tidak ada mas, bukankah kita kesini untuk makan? Jadi ayo segera turun karena aku sudah lapar." ucap Inara sambil mulai membuka pintu mobilnya dengan cepat.


"Hati-hati Ra tidak perlu terburu-buru, kamu bisa jatuh nanti." ucap Alvaro sambil melangkahkan kakinya dengan bergegas keluar ketika mendapati Inara yang berlarian turun dari dalam mobil.


Inara yang mendengar perkataan Alvaro barusan lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika. Ia bahkan lupa jika selain pengertian, Alvaro juga seprotektif itu dalam menjaga dirinya. Hal itu lah yang membuat segala hal harus dengan seijinnya, meski terlalu banyak larangan yang di katakan oleh Alvaro. Entah mengapa Inara malah menyukainya, bagi Inara hal tersebut sebagai bentuk rasa sayang yang diberikan Alvaro kepada dirinya.


***


Sementara itu di area dalam Resto, pesanan keduanya terlihat sudah memenuhi area meja di mana keduanya duduk saat itu. Raut wajah Inara yang melihat begitu banyaknya makanan tersaji di atas meja tentu saja langsung berbinar. Membuat Alvaro yang mendapati hal tersebut lantas hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Inara saat ini.


"Apa kamu yakin bisa menghabiskan semuanya seorang diri?" ucap Alvaro yang menatap dengan penasaran ke arah Inara saat itu.

__ADS_1


Entah berapa menu makanan yang Inara pesan saat ini hingga membuat meja mereka begitu penuh dengan makanan, memuat Alvaro sedikit tersentak akan nafsu makan Inara yang meningkat drastis.


"Tidak perlu khawatir karena aku akan berusaha untuk menghabiskannya mas.." ucap Inara dengan tersenyum simpul saat itu sambil mulai memakan makanannya.


"Baiklah, kalau begitu makan pelan-pelan tidak perlu terlalu terburu-buru." ucap Alvaro pada akhirnya.


Mendengar perkataan Alvaro barusan lantas membuat Inara mengangguk dengan cepat sambil kembali meneruskan makannya saat itu. Seulas senyum terlihat terbit dari wajah Alvaro saat itu, melihat Inara makan dengan lahap tanpa malu-malu membuat Alvaro sedikit melupakan permasalahan peluk dalam hidupnya.


Alvaro bahkan saat ini sangat-sangat bersyukur ketika masih di berikan sosok seperti Inara yang selalu menjadi penguat dan juga pelipur laranya, walau tanpa Inara sadari sekalipun akan hal tersebut. Entah apa yang akan terjadi jika sampai Inara tidak hadir dan masuk ke dalam hidupnya, mungkin semua akan berakhir lebih buruk? Atau mungkin Alvaro yang masih terjebak dalam penjara cinta yang di buat oleh Kikan untuknya.


"Semoga saja semuanya segera membaik, aku harap tepat ketika si kecil lahir semua masalah sudah jauh lebih baik dan berjalan dengan normal." ucap Alvaro dalam hati sambil menatap ke arah Inara yang tengah sibuk memakan satu persatu hidangan di piring tersebut.


***


Sementara itu, disaat Alvaro dan juga Inara tengah menikmati hidangan yang tersaji di Resto tersebut. Tak jauh dari meja mereka berada, seorang pegawai Resto tersebut nampak menatap ke arah keduanya dengan tatapan yang intens.


Pria itu sudah berdiri di sana sejak setengah jam yang lalu, tidak ada yang Pria itu lakukan selain hanya diam dan berdiri di sana sambil menatap ke arah meja Alvaro dan juga Inara dengan intens saat itu.


Sambil tersenyum dengan tipis, Pria itu nampak mulai merogoh saku celananya dan mengambil dua lembar foto dengan ukuran sekitaran 3 x 4. Ya terlihat dengan jelas jika foto itu adalah foto Inara dan juga Alvaro, entah dari mana Pria itu bisa mendapatkannya. Namun yang jelas Pria itu nampak tersenyum seakan tengah berhasil mendapatkan mangsanya setelah sekian lama mencari keberadaannya kesana kemari.

__ADS_1


"Aku menemukannya..." ucapnya dengan raut wajah yang sumringah sambil menatap ke arah di mana meja Alvaro dan juga Inara berada saat itu.


Bersambung


__ADS_2