Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Sabotase?


__ADS_3

Di sebuah rumah kontrakan


Terlihat Karan tengah memasang raut wajah tersenyum sambil memotong selembar foto milik Inara dan juga Alvaro, Karan nampak memotong tepat di area leher Alvaro dan memasukkan potongan kepala pada gambar tersebut ke tempat sampah.


"Wus... Kau benar-benar telah tamat sekarang! Selanjutnya giliran istri mu yang cantik ini untuk menjemput ajalnya. Tapi sepertinya, bukankah terlalu sayang jika aku melenyapkannya tanpa mencicipinya terlebih dahulu? Aku yakin dia pasti akan senang karena memperoleh servis khusus dari ku sebelum kematiannya." ucap Karan dengan nada yang terdengar begitu sinis saat itu.


Karan yang sepertinya belum terlalu tahu kabar tentang Alvaro saat ini, nampak tersenyum dengan simpul sambil menyalakan radio lama miliknya.


"Selamat pagi para pendengar radio mania dimanapun kalian berada, saat ini kita akan mendengarkan alunan nada yang akan di pandu..."


Sssssss


Ssssss


Sssss


"Berita pagi terkini datang dari pemilik salah brand kecantikan di Ibukota. Setelah mengalami kecelakaan tunggal yang mengakibatkan mobil terperosok jatuh ke jurang. Kabarnya saat ini beliau tengah mendapati perawatan di salah Rumah sakit di Ibu kota. Berikut adalah laporannya...."


Karan yang semula memutar dan mencari saluran radio favoritnya, malah di kejutkan dengan pemberitaan yang sama sekali tidak ingin ia dengar.


Brak...


Suara tempat sampah yang di tendang cukup kuat saat itu, benar-benar terdengar nyaring menggema memenuhi ruangan tersebut. Beberapa sampah nampak berserakan memenuhi lantai saat itu, membuat Karan semakin di buat kesal karenanya.


"Bagaimana bisa dia lolos? Apa nyawanya ada sembilan? Dia orang apa kucing sih?" pekik Karan dengan nada yang terdengar frustasi.


Kebahagiaan yang semula memenuhi hatinya kini berganti menjadi kekesalan yang tak berujung. Nyatanya satu berita yang harusnya menjadi kabar baik, malah membuat Karan kesal dan juga tidak senang ketika mendengar berita tersebut di radio tua kesayangannya.


"Awas saja kalian berdua, aku pastikan selanjutnya kalian tidak akan bisa lolos dari tangan ku!" ucap Karan dengan nada penuh penekanan saat itu.


***

__ADS_1


Rumah sakit


Dari arah pintu masuk Ruang melati terdengar bunyi ketukan pintu beberapa kali. Mendengar hal tersebut membuat Alvaro yang sedari tadi menanti Inara kembali dari kantin, lantas memperbaiki posisinya dan mengatur brankar pasiennya dalam posisi duduk.


Tak tak tak


Derap langkah kaki terdengar jelas menggema di ruangan tersebut, membuat Alvaro yang mendapati pemilik langkah kaki tersebut adalah Chris, lantas langsung mengernyit dengan raut wajah yang penasaran.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Chris berbasa-basi tepat ketika langkah kakinya berhenti tepat di sebelah ranjang pasien Alvaro.


"Aku rasa kamu datang ke sini bukan untuk menjenguk ku, katakan ada apa?" tanya Alvaro kemudian.


Chris yang mendapati jika niatnya tercium oleh Alvaro saat itu, lantas tertawa dengan kecil. Sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal Chris kemudian terlihat mengambil kursi dan duduk di sebelah Alvaro.


"Baiklah, tak kusangka niat ku begitu terbaca oleh mu. Ngomong-ngomong soal kecelakaan, aku rasa kecelakaan yang menimpa dirimu bukan hanya sebuah kecelakaan biasa, aku yakin kau juga menyadarinya bukan?" ucap Chris kali ini dengan nada yang terdengar lebih serius.


"Jangan katakan ini kepada Inara, sebenarnya aku mencium ada yang tidak beres selama beberapa minggu ini." ucap Alvaro sambil menatap ke arah sekitar.


"Beberapa hal telah terjadi belakangan ini, hanya saja aku tidak pernah mengatakannya kepada Inara. Mulai dari sosok bertudung hitam yang selalu mengikuti, paket misterius, hingga rem ku yang tiba-tiba blong. Bukankah itu sudah bisa menjelaskan segalanya? Lagi pula aku sedang mengumpulkan beberapa bukti dan mencari tahu tentang motif si pelaku." ucap Alvaro dengan nada yang terdengar begitu santai.


"Jika kamu hanya mencari tahu, kapan semuanya akan terungkap? Apa setelah kau pergi?" ucap Chris dengan nada yang begitu semangat, namun detik berikutnya langsung mendapat pukulan kuat dari Alvaro saat itu.


Plak


"Aw sakit! Apa kau sudah gila? Atau jangan-jangan kau hanya berakting sakit saat ini ya?" pekik Chris sambil mengusap lengannya yang sedikit terasa ngilu saat itu.


"Yang sakit hanyalah kaki ku, sedangkan tangan ku... Tentu saja masih sehat dan kuat jika hanya untuk mendisiplinkan mulut mu itu." ucap Alvaro dengan nada yang datar, membuat Chris hanya memutar bola matanya dengan jengah.


"Benar-benar menyebalkan!" ucap Chris menggerutu dengan kesal.


"Aku tahu mungkin setelah ini aku akan semakin merepotkan mu, tapi untuk semuanya aku ucapkan terima kasih kepadamu sebelumnya. Bisakah kau menjaga Inara selama aku pergi keluar? Aku merasa tidak tenang jika meninggalkan Inara seorang diri di rumah, tapi aku juga tidak bisa membawanya bersama ku karena perutnya yang sudah mulai membesar saat ini. Perjalanan panjang dan aktivitas melelahkan sama sekali tidak cocok untuk ibu hamil." ucap Alvaro dengan nada yang lebih rendah kali ini.

__ADS_1


"Untuk masalah itu kamu tidak perlu khawatir, anggap saja ini sebagai balas budi kebaikan Inara selama ini kepada Alika. Jadi.. Bukankah sekarang kita berdua adalah partner?" ucap Chris sambil menyodorkan tangannya saat itu, seakan hendak beradu tos dengan Alvaro.


"Jangan bercanda, kau nampak menggelikan pergi jauh-jauh dari ku!" ucap Alvaro sambil bergidik ngeri.


Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Chris semakin ingin menggodanya lagi dan lagi, hingga membuat Alvaro kesal akan tingkah Chris saat ini yang terus saja menjahilinya tanpa henti.


"Ayolah Al.. Apa susahnya hanya tos saja? Bukankah ini sesuatu hal yang tidak sulit untuk di lakukan?" ucap Chris dengan nada yang terus membujuk.


"Menyingkir dari hadapan ku saat ini! Dasar menyebalkan!" ucap Alvaro dengan raut wajah yang kesal saat itu.


***


Sementara itu tanpa Alvaro dan juga Chris sadari, disaat pembicaraan keduanya berlangsung sedari tadi. Dibalik pintu ruang perawatan tersebut, Inara nampak memegang handel pintu ruangan tersebut dengan erat.


Entah mengapa pembicaraan keduanya yang membicarakan tentang sabotase dan juga beberapa hal lainnya, mendadak membuat Inara terdiam di tempatnya dengan seketika.


Perasaan takut mendadak menghampiri dirinya begitu saja tanpa bisa ia cegah. Apa yang telah dilakukan oleh seseorang tersebut, bahkan hampir merenggut nyawa anaknya dan juga Alvaro.


Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Inara semakin gelisah karenanya, Inara jelas tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi kepada anak yang ada di kandungannya dan juga Alvaro.


"Siapa sebenarnya Pria misterius tersebut?" ucap Inara dengan tangan yang sedikit gemetar saat itu.


Sampai kemudian sebuah bayangan yang tertangkap sudut matanya saat itu, membuat Inara langsung menoleh dengan seketika ke arah sumber bayangan tersebut.


Inara yang seakan penasaran akan sosok yang mendadak lari ketika ia menangkap bayangan itu, membuat Inara tanpa sadar melepas pegangan tangannya dengan seketika.


Brak


"Apa ada sesuatu Ra?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2