Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Ceraikan dia!


__ADS_3

Parkiran Rumah sakit


Kikan yang baru saja memarkirkan mobilnya, lantas langsung menatap ke arah samping dimana saat ini terdapat Tamara tengah duduk sambil menatap tajam ke arah depan.


"Jika Mama hanya akan menimbulkan keributan, sebaiknya Mama pulang dan tidak usah ikut Kikan saat ini." ucap Kikan kemudian dengan nada yang memperingatkan.


Mendengar perkataan dari putrinya tersebut tentu saja langsung membuat Tamara menoleh ke arah sumber suara. Tamara menatap putrinya dengan tatapan yang menelisik, entah apa yang ada di kepala putrinya saat ini hingga dengan santainya malah membiarkan suaminya menikahi seorang gadis lain selain dirinya. Tamara bahkan tak habis pikir akan jalan pikiran Kikan, hanya demi seorang anak Kikan menyuruh suaminya menikah lagi. Benar-benar sudah gila!


"Mama hanya ingin melihat gadis itu, lagi pula Mama tadi sudah keterlaluan padanya, jadi Mama rasa Mama harus pergi untuk minta maaf." ucap Tamara kemudian dengan nada yang datar membuat Kikan langsung mengernyit dengan seketika.


Entah mengapa Kikan sama sekali tidak percaya akan perkataan Tamara saat ini, Kikan jelas tahu bagaimana sifat Tamara. Namun Kikan tidak mempunyai daya kembali melarang Tamara untuk ikut bersama dengannya melihat keadaan Inara saat ini.


"Aku harap Mama sungguh-sungguh ketika mengatakan hal tersebut." ucap Kikan kemudian yang lantas membuat Tamara memutar bola matanya dengan jengah seakan malas kembali mendengar ancaman dari Kikan lagi dan lagi.


Setelah percakapan singkat tersebut pada akhirnya Kikan dan juga Tamara memutuskan untuk turun dari dalam mobil dan mulai melangkah memasuki area Rumah sakit menuju ke ruang UGD.


***


UGD


Setelah Inara sadar dan juga infusnya habis, pada akhirnya Inara diperbolehkan untuk pulang. Dengan gerakan yang perlahan Alvaro mulai membantu Inara untuk turun dari ranjang pasien.


"Hati-hati Ra, apa kamu bisa jalan? Jika tidak aku akan menggendong mu menuju ke mobil." ucap Alvaro sambil memegangi tangan Inara dengan erat.


"Ti..." ucap Inara namun terpotong dengan sebuah suara yang tiba-tiba menyambar perkataannya.


"Dia hanya sedang hamil bukan penyakitan, jangan terlalu berlebihan Al! Lagi pula kakinya masih ada bukan?" ucap sebuah suara yang berasal dari Tamara.

__ADS_1


"Mama..." ucap Kikan memperingati Tamara agar tidak kembali membuka mulutnya saat itu.


Melihat kedatangan Tamara dan juga Kikan di Rumah sakit untuk mengunjungi Inara, tentu saja langsung membuat Alvaro menghela napasnya dengan panjang. Alvaro jelas tahu bagaimana rasa sakit yang dialami oleh Tamara saat ini ketika mendapati suami dari putrinya malah menikah lagi dengan wanita lain untuk mendapatkan seorang putra. Namun perkataan Tamara barusan sangatlah berlebihan, membuat Alvaro hendak maju dan mengatakan sesuatu kepada Tamara.


Hanya saja sebuah tarikan tangan dari Inara, lantas langsung menghentikan langkah Alvaro dengan seketika. Ditatapnya Inara yang saat itu terlihat menggeleng secara perlahan, membuat Alvaro lantas menghela napasnya dengan panjang ketika mendapati hal tersebut.


"Bagaimana keadaan Inara mas?" tanya Kikan kemudian mencoba untuk menghilangkan keheningan di ruangan tersebut.


"Dia baik-baik saja, apakah kamu tidak bisa melihat hal tersebut?" jawab Tamara dengan nada yang ketus membuat semua orang lantas langsung menatap ke arahnya.


"Ma... Bukankah kata-kata Mama sudah sangat keterlaluan? Ini bahkan..." ucap Alvaro namun kembali di tahan oleh Inara saat itu.


"Ini Rumah sakit mas sebaiknya kita pulang ya? Kita bahas di rumah nanti." ucap Inara dengan nada yang lembut membuat Tamara langsung memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar perkataan dari Inara barusan.


"Inara ada benarnya Al, sebaiknya kita pulang dulu dan membahas segalanya di rumah." ucap Kikan kemudian yang langsung di balas Alvaro dengan anggukan kepala.


**


Kediaman Alvaro


Baik Alvaro, Inara, Kikan dan juga Tamara terlihat mulai membawa langkah kaki mereka masuk ke dalam kediaman Alvaro. Dengan gerakan yang perlahan, Alvaro terus menuntun Inara menuju ke arah kamarnya. Hanya saja sebuah suara yang berasal dari Tamara, lantas langsung membuat langkah kaki keduanya terhenti dengan seketika saat itu.


"Duduk, mau kau bawa kemana wanita itu!" ucap Tamara dengan nada yang ketus.


"Ma... Inara harus istirahat biarkan dia pergi ke kamarnya." ucap Alvaro masih dengan nada yang rendah karena ia menghormati orang tua Kikan.


"Persetan dengan istirahat! Lagi pula aku hanya menyuruhnya untuk duduk bukan lari maraton, jangan terlalu berlebihan!" ucap Tamara dengan nada yang kesal.

__ADS_1


Kesabaran Tamara kali ini benar-benar telah habis, membuat Tamara tidak lagi bisa menunggu dan diam tanpa melakukan apapun.


"Sudahlah mas... Jangan bertengkar kita turuti saja." ucap Inara dengan nada yang lirih, membuat Alvaro hanya bisa menuruti segala perkataannya.


**


Keempatnya kemudian terlihat duduk di sofa ruang tamu dengan keheningan. Tidak ada yang berani membuka mulutnya, membuat suasana kian menjadi hening dan mencekam. Tatapan tajam Tamara yang mengarah ke arah Inara benar-benar membuat situasinya semakin terasa dingin.


"Saya tahu sebagai kepala rumah tangga di sini, saya sudah lalai dan tidak meminta pendapat Mama terlebih dahulu untuk hal ini. Hanya saja situasi saya saat itu tidak memungkinkan untuk saya berunding terlebih dahulu. Lagi pula Kikan sudah mengijinkan saya dan meminta saya untuk menikah lagi, jadi saya memutuskan untuk melaksanakannya." ucap Alvaro mulai menjelaskan situasinya saat ini.


Sedangkan Tamara yang mendengar penjelasan Alvaro barusan hanya berdecak dengan kesal dan menatap ke arah Alvaro dengan tatapan yang tidak suka.


"Kau itu terlalu bodoh Al hingga tak menyadari jika wanita kampungan ini telah menjebak mu, berpikirlah lebih logis Al.. Seorang gadis desa sepertinya tentu saja begitu menggilai Pria dari kota!" ucap Tamara dengan nada yang santai sambil menatap ke arah Inara dengan tatapan yang mengejek.


"Hentikan Ma, Inara bukanlah orang yang seperti itu." ucap Alvaro yang tidak terima akan perkataan Tamara yang menjelekkan Inara, sedangkan Inara hanya bisa menundukkan kepalanya begitu mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Tamara.


"Lihatlah Ki... Wanita itu bahkan sudah mempengaruhi suami mu, Mama yakin sebentar lagi dia pasti akan mengambil suami mu!" ucap Tamara sambil menatap meremehkan ke arah Kikan.


"Ma hentikan.. Sudah cukup, semua ini terjadi atas kemauan Kikan jadi Kikan mohon hargai keputusan Kikan!" ucap Kikan pada akhirnya bersuara.


"Sebaiknya kamu antar Mama kamu pulang Ki, aku rasa pembahasan kali ini cukup sampai di sini. Lagi pula Inara masih harus istirahat." ucap Alvaro kemudian yang langsung membuat Tamara menatap tak percaya ke arah Alvaro saat ini.


"Ayo Ma, aku antar Mama pulang." ajak Kikan kemudian.


"Ceraikan dia sekarang juga atau Mama akan membuat mu menyesal!" ucap Tamara yang tentu saja membuat semua orang terkejut di sana.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2