
Siang harinya
Suasana rumah yang begitu sepi, lantas mulai membuat Kikan nampak merasa bosan sekarang. Ditatapnya Inara yang saat ini tengah sibuk di dapur memasak cemilan untuk memenuhi kulkas rumah ini, membuat Kikan lantas menghela napasnya dengan panjang.
Entah apa yang merasuki Inara hingga membuatnya begitu suka memasak dan mencoba hal baru. Padahal Kikan boro-boro mencoba menu baru memasak mie instan saja ia belum tentu bisa dan berhasil.
"Sepertinya di memang lebih cocok untuk menjadi Ibu rumah tangga ketimbang aku. Aku bahkan tidak memiliki keahlian apapun jika dibandingkan dengannya." ucap Kikan dengan nada yang kesal.
Kikan benar-benar kesal karena mendapati dirinya yang tidak bisa melakukan apapun seperti yang dilakukan oleh Inara. Sampai kemudian seulas senyum kemudian nampak terlihat mengembang ketika ia baru menyadari satu-satunya keahlian yang ia miliki saat ini.
"Bukankah aku ahli dalam menghabiskan uang? Ayolah suami ku yang tampan itu begitu mudah mencetak uang, bukankah seorang istri tugasnya adalah menikmati hasil kerja suaminya?" ucap Kikan kemudian dengan raut wajah yang berbinar.
Kikan yang yakin akan perkataannya barusan kemudian terlihat mulai bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah Inara yang saat ini tengah sibuk memasak sesuatu di dapur. Ditariknya lengan Inara dengan tiba-tiba, membuat Inara yang hendak mengupas buah pear lantas menjadi terkejut dengan seketika.
"Apa yang terjadi mbak?" tanya Inara dengan raut wajah yang kebingungan akan sikap Kikan saat ini.
"Hentikan semua ini dan lekas ganti bajumu, aku akan mengajak mu bersenang-senang kali ini." ucap Kikan kemudian dengan raut wajah yang sumringah.
"Bersenang-senang kemana mbak?" tanya Inara dengan raut wajah yang penasaran tepat setelah mendengar ajakan dari Kikan barusan.
"Sudah ikut saja dengan ku, aku yakin kamu belum pernah merasakan hal ini sebelumnya." ucap Kikan lagi sambil menarik tangan Inara untuk mengikutinya.
"Tapi mbak aku..." ucap Inara yang bingung hendak menolak ajakan Kikan, namun sayangnya tidak berhasil karena Kikan yang terus menarik tangannya agar segera naik ke atas dan berganti pakaian.
__ADS_1
**
Di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Ibukota, terlihat Inara dan juga Kikan tengah berkeliling tanpa kepastian mencari sesuatu yang sama sekali Inara tidak tahu apa itu. Diliriknya sekilas ke arah Kikan yang tengah sibuk menatapi ke arah counter-counter baju dan juga perlengkapan lainnya dengan senyuman yang mengembang, membuat Inara yang melihat hal tersebut tentu saja mengernyit dengan tatapan yang bingung ketika melihat secara langsung ekspresi aneh yang di tunjukkan oleh Kikan saat ini.
"Kita mau ngapain ke mall mbak? Apa mbak Kikan butuh sesuatu?" tanya Inara kemudian yang lantas membuat Kikan langsung menoleh ke arahnya.
"Ayolah Ra.. Jangan terlalu norak, kita ke mall bukan ketika kita butuh sesuatu saja, kita bisa kapan saja datang dan tentu saja untuk menghabiskan uang suami kita!" ucap Kikan dengan nada yang begitu bahagia ketika mengatakan hal tersebut.
"Apa mbak? Menghabiskan uang? Bukankah itu sayang sekali? Mas Alvaro pasti sudah susah payah mencari uang tapi kita malah menghabiskannya, bagaimana jika nanti mas Alvaro bangkrut mbak?" ucap Inara dengan nada yang polos, namun berhasil membuat Kikan melongo dengan seketika sambil menepuk jidatnya dengan spontan.
"Apa kau bercanda? Uang Alvaro tidak akan pernah habis walau kita membeli sebuah benda seharga miliaran rupiah sekalipun, uang akan terus mengalir ke kantong kita Ra.. Tak perlu bingung mari aku tunjukkan caranya kepadamu!" ucap Kikan mulai menjelaskan segalanya.
Kikan yang sudah mulai lelah terus melakukan sesi tanya jawab bersama dengan Inara, lantas menarik tangan Inara dan membawanya masuk ke dalam counter baju dengan brand ternama yang Inara tahu jika baju di counter ini harganya mahal-mahal.
"Mbak kita keluar saja yuk cari baju di tempat lain di sini harganya selangit." ucap Inara sambil menarik tangan Kikan yang terlihat sibuk memilih pakaian.
"Dengarkan aku Ra, yang perlu kamu lakukan cukup menutup mata dan pilih baju sesuka hati mu lalu bayar. Ikuti semua langkah ku barusan maka kamu akan menemukan ketenangan nantinya, mengerti?" ucap Kikan lagi yang lantas membuat Inara termenung ketika mendengarnya.
***
Beauty Company
Alvaro yang baru menyelesaikan meeting nya di siang hari, lantas sampai melupakan sarapannya. Padahal Inara sudah repot-repot menyiapkannya bekal, namun Alvaro tak sempat memakannya karena langsung disibukkan dengan beberapa aktivitas.
__ADS_1
Alvaro yang baru teringat akan bekal yang dibawakan oleh Inara, lantas mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor bersiap untuk memakannya. Hanya saja sebuah suara yang berasal dari Abi lantas menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Apa yang ingin bapak makan untuk makan siang?" tanya Abi kemudian.
"Tidak perlu membelikan apapun Inara sudah membawakannya untuk ku, ayo ikut makan bersama ku..." ajak Alvaro kemudian yang sedikit membuat Abi terkejut namun berusaha untuk tidak terlalu terlihat.
Bukan karena apa? Hanya saja ini adalah pertama kalinya Alvaro membawa bekal ke kantor. Meski sudah lama berumah tangga namun Kikan sama sekali tidak pernah membawakan Alvaro bekal makanan karena memang Kikan tidak bisa memasak. Sehingga membuat Alvaro selalu memilih untuk makan siang di luar atau memesan makanan. Dan kini ketika Inara hadir di tengah-tengah mereka, semua nampak mulai berubah termasuk sikap Alvaro yang lebih terlihat menghargai orang-orang yang lebih rendah darinya meski itu hanyalah sekedar mengajak makan saja.
Bukannya Alvaro tak ingin melakukan hal tersebut, hanya saja Kikan yang tak terlalu suka makan bersama dengan orang asing ataupun pekerja rumah. Lantas membuat Alvaro menjadi terbawa suasana dan lebih menjaga privasi ketika melakukan sesuatu.
"Tidak perlu Pak, bapak saja." tolak Abi dengan nada yang sopan.
"Tak perlu sungkan, ayo masuk dan cicipi masakan Inara." ucap Alvaro lagi sambil menarik tangan Abi agar masuk ke dalam ruangannya.
***
Mall
Setelah melakukan semua cara yang diberikan oleh Kikan tadi, suasana hati Inara terlihat sedikit membaik. Memang terasa begitu menyenangkan ketika berbelanja sesuatu tanpa melihat harga, hanya saja Inara tetap merasa tidak enak kepada Alvaro karena tidak bisa berhemat dan malah menghambur-hamburkan uang.
"Apa mbak yakin ini benar-benar tidak apa, mbak?" tanya Inara dengan nada yang ragu.
"Sudah ku bilang untuk tidak perlu khawatir, lagi pula...." ucap Kikan namun terpotong ketika mendengar sebuah suara tak asing di pendengarannya.
__ADS_1
"Kikan!"
Bersambung