
Ratih yang tak ingin meladeni Tamara saat itu, buru-buru pergi dari area Supermarket setelah semua belanjaannya terpenuhi. Hanya saja ketika tadinya ia merasa jika sudah terbebas dari kejaran Tamara, nyatanya sebuah tarikan tangannya waktu itu langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Mau kemana kau pelakor!" ucap sebuah suara yang lantas membuat Ratih menarik napasnya dengan panjang.
"Sudah ku bilang jika aku sama sekali tidak ada urusannya dengan anda. Soal kejadian di masa lalu saya benar-benar minta maaf karena tidak mencari tahu terlebih dahulu tentang mas Agam. Bukankah mas Agam tidak pernah meninggalkan mbak selama ini? Jadi saya rasa pembicaraan kita bukankah hanya buang-buang waktu saja?" ucap Ratih dengan nada penekanan.
Ratih bahkan sudah hidup jauh lebih baik belakangan ini dan berhasil mendidik Inara dengan baik pula. Rasanya jika harus kembali menghadapi masa lalu yang tak pernah ia inginkan, bukankah hal itu sama saja membuka luka lamanya yang telah mengering?
Tamara yang mendengar perkataan dari Ratih barusan tentu saja merasa tersinggung. Meski segalanya telah kembali berjalan normal, namun bagi Tamara apa yang terjadi di masa lalu telah menjadi momok tersendiri bagi dirinya.
"Tutup mulut mu perempuan h1n4! Aku benar-benar tidak rahu kalau kau sesombong ini! Apa bagimu semua yang telah terjadi hanyalah sebuah kesalahan? Tentu saja tidak! Bagi ku itu adalah sebuah hal yang besar, apalagi ketika melihat mu datang ke kita ini dengan angkuhnya." ucap Tamara sambil sedikit mendorong bahu Ratih saat itu.
"Saya tahu jika apa yang terjadi waktu itu telah melukai hati mbak, maka dari itu saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengulang hal yang sama lagi untuk kali ini. Jadi saya mohon biarkan saya pergi sekarang..." ucap Ratih berusaha untuk tetap tenang dan tidak terpancing perkataan dari Tamara saat ini.
"Kau dasar wanita tidak tahu diri!" ucap Tamara sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi saat itu.
Namun sebelum tangan Tamara sampai tepat di wajah Ratih, sebuah tangan yang entah datang dari mana menghadangnya dan mencengkeramnya dengan kuat.
"Hentikan semua ini Ma!" ucap sebuah suara yang ternyata adalah Agam.
"Papa... Bagaimana Papa bisa ada di sini?" ucap Tamara yang seakan terkejut dengan kehadiran Agam di tempat ini secara tiba-tiba.
"Tidak penting bagaimana aku bisa ada di sini, yang jelas sebaiknya kita pulang sekarang juga!" ucap Agam dengan nada suara yang begitu dingin, membuat Ratih langsung tertegun dengan seketika.
Ini bahkan kali pertama Ratih mendapati sikap Agam yang seperti ini, biasanya dulu jika bersama dengannya Agam selalu saja bertutur kata dan berperilaku lemah lembut penuh kesabaran. Begitu mengayomi dan juga menyejukkan hati, entah apa yang terjadi kepada Agam hingga membuatnya berubah seperti ini.
__ADS_1
"Lepaskan aku Pa! Aku belum selesai dengan wanita itu! Lepaskan aku Pa!" teriak Tamara berulang kali seperti kesetanan saat itu.
Hanya saja Agam yang mendengar teriakan tersebut, nyatanya sama sekali tidak menghiraukannya dan tetap menuntun Tamara agar mengikuti langkah kakinya masuk ke dalam mobil.
Ratih yang menyaksikan semua itu hanya bisa terdiam menatap kepergian Agam dan juga Tamara dari sana. Ratih bahkan tidak lagi bisa berkata-kata, tujuannya untuk melihat Inara di kota malah berakhir seperti ini. Jika saja Ratih tahu akan jadi seperti ini, mungkin ia akan memilih untuk tidak datang ke kota.
***
Ckit...
Bruk.. Boom...
Suara ledakan terdengar begitu jelas menggema di sepanjang ruas jalan tol kala itu. Beruntung kondisi jalan tol tak banyak pengendara yang lewat, sehingga tidak menyebabkan kecelakaan beruntun saat ledakan itu terjadi.
Baik Chris maupun Alvaro yang melihat mobil yang sedari tadi keduanya ikuti meledak begitu saja, tentu terkejut dan membuat Chris langsung menginjak pedal remnya dengan kuat.
Satu persatu kenangan indah yang pernah ia lewati bersama dengan Inara, mulai berputar dengan cepat bagaikan kaset rusak yang kini berputar di kepalanya. Tak ada yang pernah tahu jika akhirnya akan jadi seperti ini.
Alvaro nampak mulai membuka pintu mobil dengan spontan dan mulai melangkahkan kakinya dengan tertatih mendekat ke arah mobil yang dalam keadaan terbakar itu.
"Al sebaiknya..." ucap Chris namun terpotong ketika ia sudah tak lagi melihat Alvaro berada di dalam mobilnya.
"Sial! Alvaro tunggu... Al!" pekik Chris sambil mulai ikut turun dan menyusul kepergian Alvaro sebelumnya.
Dengan manik mata yang berkaca-kaca dan langkah kaki tertatih akibat luka yang belum terlalu pulih, membuat Alvaro begitu nampak terpukul saat ini.
__ADS_1
Dalam hati kecilnya ia bahkan terus menyalahkan dirinya karena tak bisa menjaga Inara dengan benar saat itu.
"Apa kamu nanti akan pulang cepat Mas?" tanya Inara dengan nada yang manja.
"Ada apa? Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Alvaro yang terlihat tengah memakai jas kerjanya yang dibantu oleh Inara saat itu.
"Aku ingin pergi ke Dufan sebelum melahirkan, bisakah kamu melakukannya untuk ku?" ucap Inara dengan nada yang terdengar ragu saat itu.
"Jangan aneh-aneh, lagi pula dengan kondisi mu seperti ini kamu tidak akan bisa menikmati wahana di sana. Sebaiknya cari opsi lain ya..." ucap Alvaro sambil mengusap lembut perut Inara saat itu.
"Ayolah Mas.. Boleh ya? Ini permintaan anak kita... Boleh ya? Ayah... Ayahnya anak-anak..." ucap Inara mencoba untuk menggoda Alvaro sambil memeluknya dengan erat saat itu, membuat Alvaro lantas tersenyum dengan simpul begitu mengetahui hal tersebut.
Alvaro terjatuh dalam posisi bersimpuh, kenyataan ini benar-benar teramat menakutkan untuknya. Kehilangan satu orang bahkan terasa begitu berat baginya, bagaimana mungkin Alvaro bisa memikul beban berat dengan kehilangan keduanya sekaligus.
Air mata Alvaro terlihat menetes begitu saja membasahi pipinya, membuat Chris yang sedari tadi mengejar kepergian Alvaro terlihat menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Maafkan aku Ra... Aku menyesal telah meninggalkan mu sendirian... Maafkan aku Ra...." ucap Alvaro secara berulang kali membuat Chris tertegun di tempatnya saat itu.
Disaat situasi benar-benar kelam saat itu, sebuah deringan ponsel milik Alvaro saat itu terdengar menggema berulang kali. Hanya saja tidak Alvaro hiraukan sama sekali, membuat Chris yang juga mendengar panggilan ponsel milik Alvaro lantas mulai mendekat ke arahnya.
"Angkatlah dulu ponsel mu Al... Siapa tahu penting, aku akan mencoba untuk menghubungi polisi dan juga orang suruhan ku agar menyelidiki hal ini." ucap Chris sambil menepuk pundak Alvaro dengan pelan.
Mendengar hal tersebut lantas membuat Alvaro dengan malas mulai menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya, tanpa melihat nama si penelpon saat itu.
"Halo... Apa?"
__ADS_1
Bersambung