Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Menebus kesalahan secara layak


__ADS_3

Malam harinya


Di area ruang tamu terlihat Inara tengah sibuk menelpon Ratih dan mengobrolkan beberapa hal di sana, membuatnya hingga melupakan waktu dan tidak sadar jika sedari tadi ia tak melihat Alvaro di manapun juga.


"Apa suami mu sedang pergi? Tidakkah kamu terlalu lama mengobrol dengan ku? Nanti suami mu bisa marah jika kamu terlalu sering berbicara dengan ku." ucap Ratih yang terdengar mulai menggoda Inara saat itu, membuat raut wajah cemberut Inara terlihat jelas di sana.


"Ayolah Bu jangan menggoda ku, mas Alvaro tengah di kamar saat ini." ucap Inara mencari alasan dengan nada yang terdengar kesal.


"Ya sudah sana pergi hampiri suami mu, jangan buat dia kesepian." ucap Ratih kembali dengan tertawa kecil.


"Iya iya.. Ibu benar-benar menyebalkan." ucap Inara dengan nada yang terdengar manja.


"Jaga kesehatan mu dan juga bayi mu.. Jangan lupa kabari Ibu jika terjadi sesuatu." ucap Ratih kembali.


"Baik Bu, jangan terlalu khawatir aku bahkan bukan anak kecil lagi. Sampai jumpa Bu, love you..." jawab Inara sebelum pada akhirnya mematikan sambungan telponnya saat ini.


Inara yang baru saja menyelesaikan panggilan telponnya, lantas terlihat mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan Apartment Alvaro. Inara nampak mengernyit dengan tatapan yang bingung ketika ia tidak mendapati Alvaro tengah berada di manapun saat ini.


"Sepertinya aku tidak selama itu berbicara dengan ibu, mengapa Mas Alvaro tidak terlihat di manapun? Apa Mas Alvaro pergi ya?" ucap Inara pada diri sendiri.


Inara yang penasaran akan keberadaan Alvaro saat ini, lantas mulai bangkit dari tempat duduknya kemudian mengambil langkah kaki secara perlahan dan mencari keberadaan Alvaro di sekitar kamar.


Inara nampak memasuki area kamar dan mencari Alvaro di sana, namun sejauh mata memandang dan menatap ke arah setiap sudut kamar. Alvaro tetap tidak ada di manapun. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada pintu balkon yang nampak terbuka saat itu, membuat Inara lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang penasaran akan pintu balkon yang terbuka saat ini.

__ADS_1


**


Area balkon kamar


Sambil menatap ke arah langit malam itu, Alvaro nampak menghisap puntung rokoknya dengan perlahan dan menghembuskannya ke udara. Pikirannya saat ini benar-benar tidak tenang dan juga kacau, tepat setelah pertemuannya dengan Agam yang tanpa ia duga tadi siang.


Alvaro nampak menghela napasnya berulang kali kemudian kembali menghisap puntung rokoknya. Sampai kemudian sebuah suara yang terdengar di telinganya saat itu, lantas membuyarkan segala pemikiran Alvaro kala itu.


"Mas apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Inara yang terlihat tengah berdiri di ambang pintu.


Mendengar sebuah suara tersebut lantas, membuat Alvaro langsung mematikan puntung rokoknya begitu saja dan menatap ke arah Inara dengan senyum yang mengembang.


"Aku hanya ingin merokok saja, kamu jangan kemari ada begitu banyak asap rokok di sini." ucap Alvaro yang menahan langkah kaki Inara, dimana ia terlihat hendak melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana ia berada saat ini.


Diusapnya rambut Inara dengan lembut kemudian mengecup keningnya cukup lama, membuat Inara yang mendapat perlakuan tersebut lantas merasa menjadi wanita paling bahagia karena dicinta oleh seorang Alvaro.


"Kamu benar-benar nakal, tidak pernah sedikit saja mendengarkan ku! Lihatlah perut mu bahkan mulai membesar, apa kamu tidak bisa sedikit berhati-hati." ucap Alvaro sambil mencubit gemas hidung Inara saat itu.


"Aw sakit..." rintih Inara saat itu.


"Maaf.. Maaf aku tidak sengaja..." ucap Alvaro kemudian sambil mengusap lembut hidung Inara saat itu.


Inara yang jelas tahu jika Alvaro saat ini sedang tidak baik-baik saja, lantas menatap ke arah manik mata Pria yang saat ini tengah menetap ke arahnya dengan tatapan yang teduh. Manik mata itu benar-benar menghanyutkan siapapun orang, yang menatapnya semakin lebih dalam lagi.

__ADS_1


"Aku minta maaf ya mas, gara-gara aku Bapak-bapak tadi pergi. Aku sungguh tidak tahu jika kamu tengah berbicara hal serius bersama dengannya." ucap Inara dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Tidak perlu merasa bersalah, lagi pula situasinya saat itu tengah canggung. Aku bahkan berterima kasih kepadamu karena telah datang saat aku membutuhkan mu." ucap Alvaro berusaha untuk membuat Inara agar tidak terlalu kepikiran.


"Jangan berbohong karena kamu tidak pandai menyembunyikan sesuatu!" ucap Inara lagi yang lantas membuat Alvaro melepas pelukannya secara perlahan.


Alvaro nampak berbalik badan dan menatap ke arah langit malam kala itu. Membuat Inara lantas mengusap pundak Alvaro, seakan berusaha untuk memberikan ketenangan baginya.


"Entahlah Ra, asal kamu tahu? Dia adalah Ayah dari Kikan sekaligus Ayah mertua ku, aku bahkan belum terlalu siap untuk bertemu dengannya. Tapi suatu hal lain lantas malah mempertemukan ku dengannya. Bukankah takdir itu terlalu tiba-tiba datangnya?" ucap Alvaro dengan nada yang terdengar sendu, membuat Inara semakin merasa tidak enak ketika mendengar hal tersebut dari Alvaro barusan.


Mendengar hal tersebut, entah apa yang akan Inara katakan sebagai kata penenang untuk Alvaro saat ini. Namun yang jelas Inara sendiri bahkan juga takut atas setiap hal yang menyangkut dan berhubungan dengan Kikan, membuat Inara lantas langsung menarik napasnya dalam-dalam kemudian menatap punggung Alvaro dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Diusapnya lembut punggung Alvaro saat itu dan meninggalkan kecupan cukup lama di sana.


"Jangan berpikir berlebihan, aku tahu tidak ada kata yang pas untuk membuat mu merasa lebih baik saat ini. Tapi aku berharap kamu bisa melewati segalanya dengan baik dan mengambil keputusan terbaik di sana. Kita lewati sama-sama ya Mas? Inara akan selalu bersama dengan Mas..." ucap Inara dengan napa yang begitu lembut membuat hati Alvaro sedikit merasa tenang karenanya.


"Terima kasih banyak Ra..." ucap Alvaro kemudian.


***


Sementara itu di area depan Apartemen di mana Alvaro dan juga Inara tinggal saat ini, terlihat seorang pria yang mengenakan jaket berwarna serba hitam, nampak menatap ke arah gedung Apartemen tersebut. Seulas senyum terlihat terbit dengan jelas pada raut wajahnya, kala manik matanya menatap lurus ke arah gedung Apartemen tersebut.


"Aku menemukan kalian, siap atau tidak siap kalian harus menerima segalanya mulai saat ini. Akan aku pastikan jika mereka semua menebus kesalahan mereka dengan layak!" ucap Pria tersebut sambil tersenyum dengan simpul.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2