Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Keputusan sulit


__ADS_3

Di sebuah mobil yang dikendarai oleh Alvaro, terlihat Alvaro tengah fokus menatap lurus ke arah depan. Pikirannya saat ini benar-benar tengah bercabang, entah keputusan yang ia buat apakah benar-benar yang terbaik atau malah semakin membuat berantakan segalanya. Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Alvaro, membuat Inara lantas menoleh dengan seketika begitu mendengar helaan napas Alvaro.


"Apa... Awas Al ada lampu merah!" pekik Inara ketika tak sengaja melihat Alvaro yang hendak menerobos lampu merah saat itu.


Mendengar sebuah teriakan yang berasal dari Inara barusan, lantas langsung membuat Alvaro mengerem secara mendadak. Alvaro benar-benar tidak tahu dan juga tidak fokus jika di depannya terdapat lampu merah saat itu, membuatnya langsung menarik napasnya dalam-dalam ketika mendapati dirinya hampir saja menerobos lampu merah.


Jika saja Inara tidak berteriak barusan, entah apa yang akan terjadi kepadanya dan juga Inara. Mungkin mereka berdua akan berakhir di atas sana dengan membawa permasalahan pelik yang menimpa mereka saat ini.


"Apa kamu baik-baik saja Ra, aku benar-benar minta maaf. Tadi aku..." ucap Alvaro sambil menatap dengan penuh khawatir ke arah Inara saat itu.


Alvaro benar-benar takut jika terjadi sesuatu kepada Inara maupun bayinya, sehingga membuatnya begitu panik sambil terus menatap ke arah Inara dari atas hingga ujung kaki Inara.


"Al tenang lah aku baik-baik saja, tak perlu khawatir... Jika kamu tidak fokus sebaiknya kita berhenti sebentar, jangan memaksakan diri seperti ini." ucap Inara sambil berusaha menenangkan Alvaro yang terlihat begitu kacau saat ini, membuat Alvaro yang mendengar hal tersebut lantas langsung bisa bernapas dengan lega.


"Aku baik-baik saja, sebentar lagi kita akan sampai jadi sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan kita." ucap Alvaro sambil kembali fokus menatap lurus ke arah depan.


"Apa kamu yakin?" tanya Inara sekali lagi sambil mengusap pundak Alvaro dengan lembut.


"Iya, tak perlu khawatir." ucap Alvaro lagi sambil mulai melajukan mobilnya kembali ketika ia melihat lampu hijau barusan.

__ADS_1


***


Unit Apartment Alvaro


Dari arah pintu masuk terlihat Alvaro dan juga Inara mulai melangkahkan kakinya memasuki area unit Apartemen tersebut. Alvaro nampak mulai menyalakan beberapa lampu di ruangan tersebut, yang lantas membuat Inara lagi-lagi terpukau akan keindahan furniture dan juga setiap hal yang berada di unit Apartment Alvaro. Sepertinya Alvaro begitu pemilih dalam urusan perabot dan juga cat dinding, membuat setiap tempat milik Alvaro terasa begitu indah bagi Inara.


"Untuk sementara waktu kita tinggal di sini dulu, sampai aku menemukan sebuah rumah yang cocok untuk kita bertiga. Masalah baju dan juga yang lainnya, nanti aku akan meminta Dimas menyediakannya yang baru. Apakah kamu ada barang atau sesuatu yang tertinggal di rumah? Biar nanti Dimas membawakannya untuk mu." ucap Alvaro sambil mengambil beberapa penutup yang menutupi sofa dan perabot lainnya.


"Tidak ada barang yang penting di sana, hanya beberapa baju yang aku bawa dari desa. Tapi jika tidak merepotkan, bisa minta tolong Dimas untuk membawakannya kemari?" ucap Inara kemudian dengan tersenyum garing.


"Tentu saja, aku akan mengatakannya kepada Dimas nanti." ucap Alvaro kemudian sambil mulai bergerak ke arah meja makan dan juga dapur untuk mengecek beberapa barang di sana.


Inara yang melihat Alvaro mulai bergerak dan juga berbenah, lantas ikut membersihkan beberapa hal di sana. Membuat Alvaro yang melihat Inara melakukan hal itu kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Inara berada saat ini.


"Apakah tempat ini milikmu Mas?" tanya Inara kemudian dengan raut wajah yang penasaran, membuat Alvaro langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengar pertanyaan tersebut.


"Iya, aku tinggal di sini tepat sebelum pernikahanku dan juga Kikan berlangsung. Saat itu kira-kira sekitar 11 tahun yang lalu, setelah aku menikah dengan Kikan aku memutuskan untuk pindah ke rumah yang lebih besar dan membangun Rumah tanggaku di sana." ucap Alvaro kemudian yang lantas membuat Inara manggut-manggut karenanya.


Keheningan terjadi setelah ucapan terakhir Alvaro barusan yang membahas tentang pernikahannya dan juga Kikan. Sebuah perasaan hampa dan juga penyesalan berkumpul menjadi satu di dalam hatinya, membuat perasaan yang tak biasa kembali memenuhi hatinya saat itu.

__ADS_1


"Jika kamu berat kamu bisa melepaskan ku mas, untuk masalah anak ini kamu tidak perlu khawatir karena aku..." ucap Inara hendak berusaha untuk meringankan beban berat Alvaro saat ini.


Hanya saja sayangnya perkataan Inara lantas terpotong dengan seketika, begitu mendadak jari telunjuk Alvaro malah berhenti tepat di mulutnya saat itu dan langsung menghentikan perkataannya.


"Jangan katakan apapun Ra, jangan membuat ku menyesal karena memilih mu. Sejauh ini aku berharap apa yang aku pilih adalah jalan yang terbaik. Jadi aku harap agar kamu tidak membuat hati ku ragu dan membuyarkan segalanya." ucap Alvaro dengan nada yang penuh kesenduan, membuat Inara tidak lagi bisa berkata apa-apa lagi karena takut akan melukai hati Alvaro saat ini.


"Maafkan aku mas... Maafkan aku..." ucap Inara kemudian yang lantas membuat Alvaro langsung memeluknya dengan erat.


Keputusannya saat ini benar-benar sudah bulat, untuk sementara waktu Alvaro tidak akan pulang ke Rumah, berharap dengan begitu Kikan akan menyadari kesalahannya dan tidak lagi bersikap egois dan memikirkan dirinya sendiri.


**


Malam harinya


Di kediaman Alvaro tepatnya di kamar utama, terlihat Kikan tengah menatap kosong ke arah depan sambil memainkan tombol lampu tidur di kamarnya. Kikan menyalakan dan mematikan lampu tidur di kamarnya sebanyak beberapa kali.


Tatapannya kemudian tertuju kepada jam dinding yang saat ini terlihat dengan jelas menunjukkan pukul 1 dini hari, namun hingga kini Alvaro tidak kunjung juga pulang ke Rumah tepat setelah kepergiannya dengan Inara tadi.


Kikan yang mulai kesal akan Alvaro yang tidak kunjung pulang, lantas dengan spontan menarik kabel lampu tidur tersebut dan membantingnya begitu saja. Kikan mengambil posisi berkacak pinggang sambil berdecak kesal karena menyadari jika Alvaro semakin menjauh dari dirinya.

__ADS_1


"Sepertinya kau memang ingin menabuh genderang perang dengan ku Ra! Kita lihat saja siapa yang akan menjadi pemenangnya nanti...." pekik Kikan dengan nada yang kesal karena merasa jika Inara sengaja menahan Alvaro agar tidak pulang ke Rumah saat ini dan bertemu dengannya.


Bersambung


__ADS_2