
"Ceraikan dia sekarang juga atau Mama akan membuat mu menyesal!" ucap Tamara.
Mendengar perkataan dari Tamara barusan tentu saja langsung membuat semua orang terkejut di sana, tidak hanya Inara bahkan Alvaro dan juga Kikan. Entah apa yang saat ini tengah terjadi kepada Tamara. Tapi hal tersebut membuat Alvaro menjadi kesal dan juga geram akan tingkah Tamara yang mendadak memintanya untuk menceraikan Inara.
"Apa Mama sudah gila? Inara bahkan sedang hamil saat ini, bagaimana bisa Mama memintaku untuk menceraikannya?" ucap Alvaro dengan raut wajah yang menahan emosinya.
"Yang gila itu dirimu! Apa kau tidak melihat jika putri ku begitu menderita akan kehadirannya? Kau itu laki-laki macam apa yang tidak menyadari perasaan istri mu selama ini?" teriak Tamara dengan nada yang kesal karena Alvaro tidak bisa merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh Kikan.
Meski Kikan tidak mengatakannya secara langsung kepada Tamara, namun Tamara jelas tahu jika perasaan Kikan saat ini tidaklah baik-baik saja. Aura putrinya benar-benar terlihat begitu muram dari biasanya, membuat Tamara semakin geram akan tingkah laku Alvaro yang sama sekali tidak bisa mengerti akan keadaan istrinya. Lagi pula istri mana yang mau di madu oleh suaminya meski hal itu karena anak sekalipun?
Alvaro yang mendengar perkataan menohok dari Tamara barusan, lantas menatap ke arah Kikan yang saat ini tengah menatap Tamara dengan manik mata yang kosong. Alvaro memang sedikit merasakan perbedaan yang di tunjukkan oleh Kikan setelah kehadiran Inara, namun Alvaro pikir hal itu karena Kikan ingin segera memiliki Putra dan membuat Alvaro juga Inara lebih dekat. Lagi pula bukankah hal ini atas permintaannya sendiri? Lalu jika sudah begini, siapa yang salah sekarang?
"Katakan Ki... Apakah kamu menyesal menyuruh ku menikahi Inara?" ucap Alvaro kemudian yang langsung membuat semua orang menoleh ke arah Kikan termasuk Inara yang sedari tadi nampak menundukkan kepalanya.
Kikan yang mendapat pertanyaan dengan tiba-tiba tentu saja terkejut bukan main. Entah apa yang harus ia katakan kepada Alvaro saat ini, namun pertanyaan Alvaro benar-benar mencubit hatinya. Kikan menggenggam dress yang ia kenakan dengan erat sambil berusaha untuk menenangkan pikirannya dan mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan dari Alvaro saat ini. Melihat hal tersebut tentu saja membuat Tamara yang berada di sampingnya, lantas berdecak dengan kesal. Entah mengapa putrinya ini begitu bodoh dan memendam sendiri perasaannya, padahal jelas-jelas saat ini adalah kesempatan yang bagus agar Kikan mengatakan sesuatu tentang perasaannya.
"Aku..."
__ADS_1
"Katakan yang keras Ki! Mama menyekolahkan mu untuk menjadi perempuan yang cerdas, bukan untuk menjadi perempuan yang di madu hanya karena anak." ucap Tamara dengan nada yang tegas, membuat Kikan langsung menatap ke arah Ibunya.
"Aku tidak tahu apa yang ku rasakan Al, tapi jujur aku cemburu akan kedekatan mu dengan Inara. Entah mengapa aku merasa jarak kita semakin jauh semenjak ada Inara di rumah ini." ucap Kikan pada akhirnya membuat Alvaro dan juga Inara langsung terkejut dengan seketika begitu mendengar jawaban dari Kikan barusan.
"Ada apa ini Ki... Bukankah kamu sendiri yang menyuruh ku melakukan hal ini? Mengapa kamu malah mengatakan hal tersebut ketika semuanya sudah berjalan sesuai dengan kehendak mu!" ucap Alvaro tidak mengerti akan perkataan Kikan barusan.
Alvaro tidak tahu apa yang membuat Kikan berubah pikiran, padahal jelas-jelas ia sudah bersikap untuk adil akan keduanya. Sebisa mungkin Alvaro berusaha membagi kasih sayang dan segalanya dengan adil baik untuk Inara maupun juga Kikan.
Inara yang mendengar jawaban dari Kikan barusan langsung meremas dress yang ia kenakan dengan erat. Inara tentu sudah tahu jika antara istri kedua dan juga pertama pasti akan mengali cek cok tentang hal ini. Namun apalah dayanya, Inara bahkan tidak pernah meminta untuk hadir dan berada di tengah-tengah mereka. Takdir yang begitu jahat membuatnya harus berakhir menjadi perusak hubungan rumah tangga Alvaro dan juga Inara.
"Aku benar-benar minta maaf mas, tapi aku hanya berusaha mengatakan apa yang aku rasakan." ucap Kikan kemudian.
Mendengar hal tersebut kembali dari mulut Tamara lantas membuat Alvaro langsung terdiam dengan seketika. Kepala Alvaro saat ini benar-benar seperti akan meledak, entah bagaimana semuanya bisa menjadi serumit ini namun yang jelas Alvaro tidak bisa jika harus menuruti keinginan Tamara karena posisi Inara yang saat ini tengah hamil muda. Lagi pula jika Inara tidak hamil sekalipun Alvaro tetap tidak rela untuk menceraikannya. Baginya Inara sudah mulai mengisi separuh dari hatinya yang sebelumnya seutuhnya adalah milik Kikan seorang.
"Aku tidak..." ucap Alvaro hendak mengatakan sesuatu, namun tangan Inara yang menghentikan gerakannya lantas langsung membuat Alvaro terdiam seketika.
"Maaf saya menyela pembicaraan kalian, saya tahu kehadiran saya di sini itu salah. Hanya saja Ibu tak perlu takut akan hal itu karena mas Alvaro sendiri yang mengatakan akan menceraikan saya ketika bayi saya sudah lahir nantinya. Jadi tunggulah sebentar lagi Bu..." ucap Inara kemudian yang tentu saja langsung mengejutkan Alvaro dan juga Kikan.
__ADS_1
Alvaro bahkan tidak pernah merasa mengatakan hal tersebut kepada Inara. Sampai kemudian ingatannya terhenti di saat malam dimana Alvaro dan Kikan bertengkar, saat itu Alvaro yang belum mengenal Inara seutuhnya lantas tanpa sengaja mengatakan hal tersebut.
"Sial.." ucap Alvaro ketika mengingat hal itu.
"Apa jaminannya jika itu akan terjadi? Bagaimana jika tiba-tiba semuanya berbalik dan Alvaro tidak menceraikan mu?" ucap Tamara dengan nada yang ketus, ia bahkan tidak bisa benar-benar percaya kepadanya.
Mendengar hal tersebut membuat Inara lantas tersenyum dengan kecut ke arah Tamara.
"Tidak perlu khawatir Bu, jika sampai mas Alvaro tidak menceraikan saya maka saya yang akan pergi dari sisinya." ucap Inara dengan nada yang yakin membuat semua orang kembali menatap ke arahnya.
"Ra..." panggil Alvaro hendak mengatakan sesuatu namun Inara malah menggeleng dengan pelan, membuat Alvaro langsung terdiam seketika.
"Bukankah hal ini adalah tujuan mas Alvaro menikahi ku? Lalu mengapa mas ragu?" ucap Inara dengan nada yang terdengar penuh kegetiran.
Sedangkan Kikan yang melihat segalanya semakin tidak mengerti akan hal ini. Inara memanglah di tuntut untuk bercerai dengan Alvaro. Tapi ketika Kikan melihat situasi ini, entah mengapa malah terlihat Kikan lah yang bersalah atas segala hal yang terjadi saat ini.
"Hentikan drama kalian berdua! Pembahasan kita belum selesai saat ini. Ada satu syarat yang aku minta dan harus kalian penuhi!" ucap Tamara kemudian.
__ADS_1
"Apa syaratnya?" tanya Alvaro kemudian dengan raut wajah penasaran.
Bersambung