
Mendengar perkataan Inara yang malah menyuruhnya untuk berhenti, lantas membuat Alika langsung menatap Inara dengan raut wajah yang kebingungan.
Inara yang mendapati jika Alika tengah menatapnya dengan raut wajah yang kebingungan, lantas langsung mendekat ke arah Alika saat itu. Inara mengambil posisi berjongkok agar menyamai tinggi badan Alika saat itu, kemudian mengusap rambut Alika dengan perlahan.
"Apa yang membuat mu begitu marah? Bukankah jika kamu ingin sembuh maka kamu harus minum obatnya?" ucap Inara dengan nada yang lembut.
Mendengar perkataan Inara barusan Alika tidak menjawabnya, namun hanya menggeleng dengan perlahan sambil menundukkan kepalanya.
"Apakah kamu tahu pohon itu?" ucap Inara kemudian sambil menunjuk pohon besar di depan halaman Rumah sakit.
"Aku tahu, aku bahkan melihatnya setiap hari di sini." ucap Alika dengan lirih.
"Asal kamu tahu, sebelum pohon itu tumbuh tinggi dan juga besar. Pohon tersebut adalah pohon kecil sama seperti mu, untuk tumbuh menjadi besar dan tinggi sebuah pohon memerlukan air dan juga pupuk, bukan? Jadi sama seperti sebuah pohon, seorang manusia bisa tumbuh menjadi besar dan juga sehat dengan mengkonsumsi makanan dan juga obat-obatan ketika mereka sedang sakit. Coba bayangkan, jika sebuah tanaman tidak memperoleh air dan juga pupuk, apa yang akan terjadi kepada mereka?" ucap Inara mulai menjeda perkataannya seakan menunggu hingga Alika melanjutkan perkataan Inara barusan.
"Mereka akan layu dan mati." ucap Alika dengan nada yang lirih sambil menatap dengan ragu ke arah Inara saat itu.
"Benar sekali, jadi sekarang apa kesimpulannya seandainya kamu tidak meminum obat mu?" ucap Inara kemudian.
"Aku akan layu sama seperti sebuah tanaman tadi." ucap Alika lagi.
"Gadis pintar, apakah kamu ingin menjadi layu?" tanya Inara kemudian yang lantas membuat Alika langsung menggeleng dengan cepat.
"Jika begitu ayo minum obat mu sekarang." ucap Inara sekali lagi yang lantas langsung di balas anggukan kepala oleh Alika.
"Aku ingin meminumnya agar bisa tumbuh besar dan juga sehat, aku akan meminumnya..." ucap Alika kemudian yang lantas membuat Inara tersenyum ketika mendengar hal tersebut.
__ADS_1
Mendengar teriakan Alika yang mengatakan ingin meminum obat tersebut, lantas langsung membuat seorang perawat laki-laki mendekat ke arah Alika an menggendong tubuhnya dengan perlahan. Perawat tersebut membawa tubuh Alika menuju ke arah kamarnya untuk mulai meminumkan obat bagi Alika.
"Terima kasih atas bantuannya Nyonya..." ucap perawat yang satunya lagi.
"Tak perlu berterima kasih kepada ku, ngomong-ngomong sakit apa gadis kecil itu hingga menolak untuk meminum obatnya." ucap Inara dengan raut wajah yang penasaran.
"Dia menderita penyakit jantung bawaan dan baru saja menjalankan operasi beberapa waktu yang lalu, jika tidak ada yang di perlukan lagi saya permisi." ucap Suster tersebut yang lantas langsung di balas anggukan kepala oleh Inara.
Setelah tidak ada lagi yang dibicarakan kepada Inara, suster tersebut lantas mulai melangkahkan kakinya berlalu pergi meninggalkan Inara di sana. Membuat Inara yang melihat kepergian suster tersebut hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kasihan sekali gadis kecil itu." ucap Inara sambil menatap lurus ke arah depan.
Di saat Inara tengah sibuk menatap ke arah kepergian Gadis kecil itu dan kedua perawat yang menemaninya sedari tadi. Sebuah tepukan di pundak Inara saat itu, lantas langsung mengejutkannya dan membuatnya menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.
"Kamu dari mana saja Ra? Aku benar-benar mencari dengan kebingungan sedari tadi. Apakah kamu tidak mendengarkan ku untuk menunggu di ruangan tunggu sebentar saja?" ucap Alvaro begitu mendapati Inara yang langsung berbalik badan dan menatap ke arahnya.
"Ada apa? Apakah ada sesuatu?" ucap Alvaro dengan raut wajah yang penasaran.
"Tidak ada mas, jika memang mas sudah selesai sebaiknya kita pulang yuk... Aku benar-benar lelah." ucap Inara kemudian sambil mengusap area tengkuknya yang terasa berat.
Alvaro yang mendengar perkataan Aruna barusan, lantas hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Dirangkulnya pundak Inara saat itu dengan erat kemudian Alvaro mulai menuntun Inara untuk berlalu pergi dari sana.
"Baiklah kalau begitu, oh ya.. Apakah kamu benar-benar tidak ingin mengatakan ada apa sebenarnya?" ucap Alvaro sambil terus melangkahkan kakinya beriringan dengan Inara.
"Tidak ada yang penting, hanya saja aku bertemu dengan gadis kecil pengidap penyakit jantung bawaan. Kasihan sekali dia mas masih kecil harus menanggung beban seberat ini." ucap Inara sambil terus melangkahkan kakinya beriringan dengan Alvaro.
__ADS_1
"Benarkah? Harusnya kamu mengajak ku untuk bertemu dengannya. Aku bahkan juga ingin melihat dirinya." ucap Alvaro kemudian yang lantas membuat Inara tersenyum dengan simpul ketika mendengarkannya.
Di saat keduanya tengah sibuk melangkahkan kakinya meninggalkan area Rumah sakit, dari arah sebuah ruang perawatan. Terlihat seorang Pria dengan pakaian setelan jas lengkap tengah melangkahkan kakinya keluar dari area ruang perawatan tersebut. Ditatapnya area sekitaran seakan tengah mencari keberadaan seseorang, namun ketika ia tidak menemukan siapapun di sana kecuali beberapa perawat yang berlalu lalang di sana. Lantas membuatnya menghela napasnya dengan panjang karena tidak bisa menemukan keberadaan seseorang tersebut.
"Pak Chris, Alika menanyakan anda barusan." ucap seorang suster yang pantas membuat Pria tersebut lantas langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Iya, saya akan ke sana sebentar lagi." ucap Chris kemudian sambil mulai membawa langkah kakinya kembali menuju ke arah ruangan dimana Alika di rawat selama beberapa waktu ini.
***
Ruang Melati
Chris yang baru saja melangkahkan kakinya memasuki area ruang perawatan di mana Alika berada saat ini, lantas langsung membawa langkah kakinya semakin mendekat ke arah ranjang pasien. Di mana Alika tengah menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan saat ini.
Chris yang tahu dengan jelas apa yang saat ini berada di dalam pikiran Putri kecilnya tersebut, lantas hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam sambil terus mempercepat langkah kakinya. Chris terlihat menghentikan langkah kakinya tepat ketika ia berada di sebelah ranjang pasien milik Alika saat itu.
"Apakah Papa menemukannya? Apakah Papa bertemu Tante cantik? Jangan hanya diam saja Pa... Ayo jawab pertanyaan ku.. Papa..." ucap Alika dengan tatapan yang penuh harap menatap ke arah manik mata Alika saat itu.
"Papa minta maaf ya nak, Papa belum bisa menemukan orang tersebut. lain kali Papa akan mencarinya... Papa janji." ucap Chris kemudian dengan nada yang lembut mencoba untuk membuat Alika mengerti akan perkataannya barusan.
"Hua... Papa tidak sayang Alika... Papa tidak sayang..." ucap Alika sambil dengan nada yang berteriak.
"Bukan begitu nak..." ucap Chris hendak menjelaskan segalanya.
"Hua..."
__ADS_1
Bersambung