
"Apa-apaan ini? Apa yang Mama lakukan?" pekik Alvaro yang tentu saja langsung membuat Tamara dan juga Inara menoleh ke arah sumber suara.
"Mas..." panggil Inara dengan nada yang begitu lirih disaat melihat kedatangan Alvaro saat ini.
Inara yang melihat Alvaro datang tentu saja langsung tersenyum dengan simpul, Inara bahkan saat ini sudah benar-benar lelah dan tidak bisa lagi untuk mengerjakan segala perintah dari Tamara. Hanya karena rasa bersalahnya yang begitu besar kepada Kikan, lantas membuatnya tidak bisa menolak segala hal yang diperintahkan oleh Tamara.
Inara yang melihat Alvaro melangkahkan kakinya semakin mendekat dengan kilatan amarah, tentu saja langsung merasa lega karena pada akhirnya ada seseorang yang bisa menyelamatkannya saat ini. Sampai kemudian ketika jarak antara Alvaro dengan dirinya sudah semakin dekat, mendadak pandangannya mengabur dan pada akhirnya Inara terhuyung dan pingsan begitu saja di lantai sebelum Alvaro sampai di dekatnya.
Bruk...
Alvaro yang melihat Inara pingsan tentu saja langsung terkejut bukan main, dengan gerakan yang bergegas Alvaro kemudian langsung mendekat ke arah di mana Inara berada dan dengan spontan menggoyang-goyangkan tubuh Inara yang saat ini terlihat begitu basah dengan keringat. Ditatapnya dengan tajam Tamara saat itu, membuat Tamara yang melihat hal tersebut tentu saja langsung memutar bola matanya dengan jengah.
"Apa yang Mama lakukan kepadanya ha?" pekik Alvaro yang tentu saja membuat Tamara terkejut akan hal tersebut.
"Mama hanya membuatnya melakukan tugasnya, lagi pula mana bisa dia hanya diam dan memakan gaji buta? Harusnya kamu memecat karyawan sepertinya Al agar tidak melonjak!" ucap Tamara kemudian tanpa rasa bersalah sama sekali mengatakan hal tersebut.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Alvaro semakin marah ketika mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Tamara saat itu.
"Siapa yang mengatakan kepada Mama jika dia adalah seorang karyawan? Dia bahkan sedang hamil, tapi Mama malah menyuruhnya bekerja begitu kerasnya!" ucap Alvaro dengan nada yang kesal namun berhasil membuat Tamara terkejut karenanya.
Tepat setelah mengatakan hal tersebut Alvaro langsung menggendong tubuh Inara ala bridal style dan melangkahkan kakinya keluar hendak membawa Inara ke Rumah sakit.
"Bertahanlah sebentar Ra.. Ku mohon..." ucap Alvaro sambil menggendong tubuh Inara berlalu pergi dari sana.
__ADS_1
Sedangkan Tamara yang mendengar perkataan dari Alvaro barusan tentu saja terkejut bukan main. Tamara benar-benar bingung akan sikap menantunya yang begitu perhatian dengan asistennya yang sedang hamil saat ini. Tamara menatap punggung Alvaro yang berlalu pergi membawa Inara bersamanya dengan tatapan yang bertanya-tanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apakah Alvaro selingkuh di belakang Kikan? Bagaimana bisa?" ucap Tamara dengan raut wajah kebingungan.
***
Sementara itu Kikan yang baru saja datang dari arisan, lantas terkejut begitu mendapati Alvaro yang saat ini tengah menggendong Inara yang sedang pingsan.
"Apa yang terjadi kepada Inara?" tanya Kikan dengan raut wajah yang bingung.
Mendapat pertanyaan tersebut lantas membuat Alvaro menoleh sejenak ke arah Kikan saat ini.
"Harusnya kamu tanyakan itu kepada Mama, aku yakin dia pasti akan menjelaskannya secara detail kepadamu!" ucap Alvaro dengan nada yang dingin sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari hadapan Kikan.
Mobil milik Alvaro melaju begitu saja meninggalkan kediamannya menuju ke arah Rumah sakit dengan kecepatan yang tinggi menyisakan beragam tanda tanya dalam diri Kikan saat itu. Entah apa yang telah dilakukan oleh Tamara kepada Inara, yang jelas Kikan begitu terkejut ketika mendapati nada dingin Alvaro kepadanya.
Ini bahkan pertama kalinya Alvaro mengacuhkan dirinya demi orang lain, ya pertama kalinya dalam kehidupan rumah tangganya. Entah mengapa Kikan merasa jarak diantara ia dan juga Alvaro kini terasa begitu jauh dan dingin semenjak adanya Inara.
Seulas senyum nampak terlihat terukir di wajahnya secara perlahan namun dengan manik mata yang berkaca-kaca, membuat hati dan juga pikirannya terlihat tidak begitu sinkron saat ini.
"Sabarlah Ki... Mungkin Alvaro melakukan hal itu kepadamu karena Inara sedang hamil. Bukankah wajar jika seorang Ayah khawatir pada bayi yang ada di kandungan Ibunya? Tenanglah dan tetap berpikir positif, jangan sampai energi negatif merasuki tubuh mu dan menghancurkan segalanya." ucap kikan kemudian berusaha untuk mencoba tetap tenang di tengah kegundahan hatinya yang menyadari perubahan sikap Alvaro secara perlahan.
Disaat Kikan tengah mencoba untuk meneguhkan hati dan pola pikirnya saat ini, sebuah tarikan tangan yang begitu keras lantas membuat Kikan terkejut dengan seketika.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya ini Ki? Mengapa Alvaro nampak begitu khawatir kepada gadis itu? Apakah Alvaro menyelingkuhi dirimu? Katakan kepada Mama yang sejujurnya!" ucap Tamara yang langsung mencecar putrinya dengan berbagai pertanyaan saat ini.
Kikan yang ditarik begitu saja lantas menghela napasnya dengan kasar. Kikan sudah menduganya jika Tamara pasti akan menanyakan tentang hal ini secepatnya. Lagi pula percuma juga jika Kikan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu yang sudah pasti akan di ketahui juga oleh Tamara cepat atau lambatnya.
"Hentikan Ma... Sebenarnya apa yang sedang coba Mama lakukan saat ini? Lagi pula mengapa Mama datang tak mengabari ku dulu? Jika tau Mama akan datang Kikan pasti tidak akan pergi Ma..." ucap Kikan dengan raut wajah kesal, entah mengapa setelah mendengar pertanyaan tersebut menjadi jengkel pada Ibunya.
Tamara mengernyit dengan tatapan yang bingung begitu melihat amarah putrinya itu.
"Kau ini kenapa? Bukannya menjelaskan yang terjadi malah marah-marah seperti ini!" ucap Tamara dengan raut wajah yang bingung menatap ke arah Kikan saat ini.
"Sudahlah Ma, sebaiknya Mama pulang saja, lagi pula Kikan mau ke Rumah sakit dan melihat keadaan Inara." ucap Kikan kemudian sambil berlalu pergi dari sana meninggalkan Tamara yang saat ini menatapnya dengan raut wajah yang kebingungan.
Tamara yang melihat Kikan pergi begitu saja dari hadapannya, tentu saja langsung berusaha mengikuti langkah kaki Kikan yang hendak menuju ke arah mobil miliknya yang terparkir tidak jauh dari sana. Dengan langkah kaki yang bergegas Tamara mencoba mengejar langkah kaki Kikan dan langsung menarik kembali tangan Kikan cukup keras, membuat Kikan langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika karena tarikan tersebut.
"Apa mau Mama sebenarnya sih?" ucap Kikan kemudian yang mulai kesal akan tingkah Tamara saat ini.
"Katakan kepada Mama siapa gadis itu dan apa hubungannya dengan Alvaro!" ucap Tamara kemudian dengan nada penuh penekanan menatap dengan tatapan yang intens ke arah Kikan saat ini.
"Dia adalah istri kedua Alvaro, apa Mama sudah puas sekarang?" ucap Kikan yang tentu saja langsung mengejutkan Tamara saat itu juga.
"Apa?"
Bersambung
__ADS_1