Hanya Sebuah Ilusi

Hanya Sebuah Ilusi
Bukankah Tuhan itu adil?


__ADS_3

Pagi itu Inara yang tidak melihat kehadiran Alvaro di area unit Apartemennya saat itu, lantas terlihat mengernyit. Untuk mengusir rasa jenuh pada dirinya karena selalu berdiam diri di rumah seorang diri. Lantas langsung membuatnya memutuskan untuk berjalan-jalan di taman, lagi pula saat ini perutnya sudah terlihat membuncit seiring berjalannya waktu. Sehingga membuatnya harus semakin banyak bergerak atau jika tidak ia akan semakin malas dan hanya tiduran di ranjang saja.


Sambil menyusuri area taman unit Apartment tersebut, Inara nampak menghirup udara segar pagi itu. Seulas senyum terlihat terlukis di wajahnya saat itu ketika ia melihat cuaca hari itu yang begitu cerah.


"Ah udara pagi hari memang benar-benar terasa sangat sejuk." ucap Aruna pada diri sendiri sambil terus membawa langkah kakinya menyusuri area taman.


Di saat langkah kaki Inara tengah menyusuri area taman tersebut, pandangan matanya terhenti pada sosok gadis kecil yang tengah duduk termenung di area bangku taman saat itu.


"Bukankah itu Alika? Apa yang ia lakukan di sana seorang diri seperti itu?" ucap Inara dengan raut wajah yang begitu penasaran.


Inara yang begitu penasaran akan sikap dari Alika yang berdiam diri di sana tanpa pengawasan dari Chris, lantas langsung memutuskan untuk melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Alika berada dan mengambil posisi duduk tepat di sebelahnya.


"Apa yang kamu lakukan seorang diri di sini? Apakah kamu tidak takut ada orang jahat?" ucap Inara dengan raut wajah yang penasaran.


Mendengar suara yang tiba-tiba saja terdengar di telinganya saat itu, lantas membuat gadis kecil tersebut menoleh dengan seketika ke arah sebelahnya. Ditatapnya Inara saat itu dengan tatapan yang Intens, membuat Inara mendapati yang mendapati hal tersebut, tentu saja langsung mengernyit dengan raut wajah yang penasaran.


"Ada apa? Apakah kamu tengah memikirkan sesuatu?" tanya Inara kemudian sambil mengusap lembut rambut Alika saat itu.


"Kakak pohon... Aku merindukan Mama." ucap Alika dengan raut wajah yang sendu, membuat Inara yang mendengar hal tersebut tentu saja langsung merasa bersalah karenanya.


"Memangnya apa yang terjadi dengan Mama Alika?" ucap Inara dengan nada yang lirih seakan ragu menanyakan hal ini kepada anak sekecil Alika.

__ADS_1


"Mama... Mama sudah pergi naik ke atas sana, apa aku tidak bisa menyusulnya Kakak? Mengapa di sana tinggi sekali? Aku harus naik apa untuk pergi ke sana dan menemui Mama?" ucap Alika sambil menunjuk ke arah langit yang tentu saja sedikit membuat Inara tersentak karenanya.


Mendengar jawaban tersebut tentu saja langsung membuat Inara terdiam dengan seketika, Inara bahkan tidak menyangka jika Mama Alika sudah meninggal. Entah apa yang harus ia jelaskan saat ini, namun yang jelas Alika nampak menunggu jawabannya.


"Em... Butuh kendaraan khusus untuk bisa sampai ke atas sana. Mama Alika adalah orang yang hebat makanya dia di panggil terlebih dahulu untuk datang dan menempati tempat yang indah di atas sana." ucap Aruna kemudian berusaha sebisa mungkin untuk membuat anak kecil itu mengerti akan kiasannya.


"Benarkah? Lalu mengapa Mama tidak mengajak ku juga? Aku ingin ikut dengannya." ucap Alika dengan raut wajah yang cemberut, membuat Inara kembali merasa serba salah dalam hal ini.


"Itu karena... Karena..." ucap Inara yang sedikit bingung untuk mengatakannya.


"Itu karena Alika mempunyai tugas penting untuk menjaga Papa di sini, jika Alika ikut pergi bersama dengan Mama.. Lalu siapa yang akan menemani Papa?" ucap sebuah suara bariton yang lantas membuat Alika dan juga Inara langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


Chris yang mendapati langkah kaki Putrinya, lantas mengambil posisi berjongkok dan bersiap untuk menangkap tubuh Alika saat itu. Chris kemudian membawa Alika ke dalam pelukannya kemudian mencium pipi Alika beberapa kali.


"Kamu kemana saja sejak tadi? Papa benar-benar khawatir mencari mu, lain kali jangan lakukan ini lagi, oke?" ucap Chris sambil mencubit gemas hidung Alika saat itu.


"Maaf Papa.." jawab Alika sambil memeluk tubuh Chris dengan eratnya di atas gendongannya saat itu.


Di saat keduanya tengah asyik berkomunikasi, lain halnya dengan Inara yang sedari tadi hanya menatap keakraban keduanya. Entah mengapa melihat Chris yang begitu sayang kepada Alika, lantas membuatnya begitu tersentuh. Jarang sekali ada seorang Pria yang begitu menyayangi Putrinya setelah kematian Istrinya, namun nyatanya Chris benar-benar berbeda.


Diusapnya perut buncitnya saat itu beberapa kali sambil tersenyum menatap ke arah keduanya.

__ADS_1


"Apa jika anak ku lahir nantinya, dia juga akan mendapat kasih sayang yang sama dari Ayahnya seperti Alika?" ucap Inara dalam hati.


Entah mengapa pikiran tersebut mendadak terlintas begitu saja di kepalanya saat ini. Namun yang jelas keharmonisan yang terjadi di antara Chris dan juga Alika, benar-benar membuatnya begitu iri. Seseorang yang tumbuh tanpa kasih sayang dari seorang Ayah tentu saja sangat iri melihat kedekatan keduanya. Helaan napas bahkan terdengar berhembus dengan jelas dari mulut Inara saat itu, yang lantas membuat Chris langsung menatap ke arah Inara dengan raut wajah yang penasaran.


"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang mengganggu mu?" tanya Chris kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


Mendengar perkataan Chris barusan tentu saja langsung membuyarkan lamunan Inara dengan seketika. Inara tersenyum sambil menggeleng dengan perlahan seakan mengatakan jika tidak ada sesuatu yang perlu di khawatirkan. Membuat Chris yang melihat hal tersebut tentu saja mengernyit dengan tatapan yang bingung.


"Tidak ada, aku hanya sedikit iri melihat kebersamaan kalian berdua. Ya... Tumbuh tanpa sosok seorang Ayah benar-benar membuat ku merasa iri melihat anak-anak seusia Alika mendapatkannya. Bukankah aku agak gila? Sepertinya begitu." ucap Inara sambil tertawa kecil seakan sedang menghibur dirinya sendiri saat itu.


"Jangan berkecil hati, tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Tuhan itu adil kepada umatnya, meski kamu tidak mendapatkan kasih sayang seorang Ayah. Tapi aku yakin kamu pasti mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari Ibumu. Begitu pula dengan Putri kecil ku Alika, bukankah kamu juga menyadari hal tersebut?" ucap Chris sambil tersenyum simpul ke arah Inara saat itu.


Mendengar perkataan dari Chris barusan lantas membuat Inara langsung tersadar dengan seketika. Inara bahakan baru menyadari akan hal tersebut, perkataan Chris ada benarnya juga. Meski ia tidak mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya, tapi Ibunya memberikannya lebih dan lebih berlimpah dari yang lainnya. Bukankah hal itu sudah menjadi sebuah anugrah untuknya? Harusnya Inara lebih bersyukur akan hal tersebut, bukan?


"Aku..."


Bruk...


"Mas..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2