Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 20 Kantor baru


__ADS_3

Gedung bertingkat di depan, adalah tempat tujuanku dengan Mba Alya sekarang. Seharusnya aku datang ke sini sehari setelah pulang dari dusun Kali mati kemarin, tapi sejak kejadian penemuan mayat warga satu dusun itu, aku justru makin menutup diri. Aku malas jika harus berada di lingkungan dengan banyak orang. Bahkan dengan keluargaku sendiri. Tapi untungnya mereka mengerti, dan membiarkanku sendiri dulu. Tentu setelah aku memberikan penjelasan atas sikapku ini dan meyakinkan mereka kalau aku baik - baik saja. Aku hanya butuh waktu sendiri.


"Tha, kenapa? Jangan tegang begitu dong," bujuk Mba Alya yang berdiri di sampingku. Kami menunggu lift yang akan membawa kami naik ke lantai lima, di mana ruang kerja teman Mba Alya berada.


Aku mengela nafas berat, berusaha menarik kedua sudut bibir ini walau hasilnya menjadi sebuah senyum kecut yang dipaksakan. Mba Alya terus memberikan semangat, mengelus punggungku lembut dengan senyum tipis di wajahnya. Sangat kontras denganku, kan. Sepanjang jalan dia terus memberikan semangat dan nasehat - nasehat yang cukup bijak dan mampu membuat kepercayaan diriku naik, walau hanya 10 % saja.


Pintu lift terbuka, beberapa orang keluar, kini berganti dengan kami yang hendak naik ke lantai atas. Ada empat orang yang ada di lift ini. Aku yang masih gugup hanya mampu menunduk dan berusaha berkali - kali menarik nafas dalam. Katanya cara ini akan berhasil meredakan rasa gugup. Katanya sih.


Pintu lift terbuka di lantai tiga, dua orang pria masuk dengan membawa beberapa kertas yang belum dijilid rapi. Ia berkali - kali memeriksa halaman demi halaman sambil menggumam. "Sudah semua belum ini, ya?" tanyanya. Pria di sampingnya lantas menyahut, "Sudah. Kalau pun kurang ya kita balik lagi print-nya!"


"Kalau balik lagi print, capek banget sih. Udah berapa kali bolak - balik ke atas bawah. Moga saja sudah nggak salah lagi. Lagian Bu Cleo ini labil, perasaan kemarin sudah pilih story punya Deka, kenapa ganti lagi punya si Evie?!"


"Diem saja. Namanya juga bos, kita yang harus nurut."


Pria tadi menarik nafasnya kasar, mengacak - acak rambutnya yang lurus dengan model potongan bowl cut, mirip artis - artis Korea. Terlihat sekali dia sangat kesal, walau temannya juga terus menasehati dengan tenang dan santai.


Pintu lift terbuka di lantai lima. Kedua pria itu keluar lebih dulu, pria dengan potongan rambut bowl cut masih terus menggerutu, sementara temannya selalu setia di samping, merangkul ke bahunya dan keduanya terus terlibat perdebatan dengan opini masing - masing.


Bu Cleo.


"Kak, teman kakak namanya siapa?" tanyaku saat kami keluar lift, dan melangkah di koridor lantai lima dengan dihiasi lantai beton yang mengkilap dengan corak mirip batu kali yang didominasi warna hitam dan abu - abu.


"Namanya Kak Mecca. Dia itu teman saat kuliah dulu. Tenang aja, orangnya baik, ramah, sopan, nggak galak kok," jelas Mba Alya dengan berbisik. "Tapi dia belum balas pesan Mba. Mungkin masih sibuk, ya." Gadis berkerudung cokelat di sampingku tampak sibuk memperhatikan gawai di tangannya. Aku yang sekilas melirik, dapat dengan mudah melihat siapa saja yang ada di urutan teratas pesan pribadinya. Kak Arden paling teratas, ditambah sebuah tanda paku di sudut kanannya. Artinya Mba Alya sengaja menyematkan pesan Kak Arden menjadi urutan teratas di gawainya. Di bawahnya ada nama Mecca, dan pesan itu belum juga menunjukkan tanda - tanda sudah di baca.


"Terus kita tunggu di mana, Mba?"


Mba Alya menyapu pandang ke sekitar. "Eum ke sana aja, yuk," tunjuknya ke meja besar dengan seorang wanita yang sedang menerima panggilan telepon kabel di dekatnya. Sepertinya itu meja resepsionis. Karena bentuk meja serta warna mejanya sama seperti yang aku lihat di lantai bawah.


"Maaf, Mba, mau ketemu Mecca. Ada?" tanya Mba Alya. Aku menunggu agak jauh dari meja tersebut, berdiri sambil memperhatikan seisi koridor lantai lima ini. Ada beberapa ruangan yang tertutup di sini. Total keseluruhan ruangan di sini ada lima ruangan di bagian kiri dan lima ruangan di bagian kanan.


"Oh begitu, Oke. Terima kasih."


Mba Alya mengajakku duduk di kursi tunggu yang berderet di dekat meja resepsionis tadi. "Lagi meeting, kita tunggu di sini. Nanti dia keluar kok."


Aku hanya mampu mengangguk, dan sibuk dengan pikiranku sendiri. Membayangkan jika seandainya aku diterima bekerja di sini, apa saja yang harus aku lakukan. Aku juga harus membiasakan diri dengan semua bagian tempat ini. Bahkan aku membayangkan setiap hari melewati koridor lantai ini dengan tumpukan kertas seperti pria tadi. Mungkin aku akan seperti dia, terus mengomel atau bahkan mencibir kinerja pegawai lain atau bos kami nanti. Huh, pikirannya sudah terlalu jauh membayangkannya.

__ADS_1


Sebuah pintu yang berada di tengah koridor lantai lima dibuka. Seorang wanita dengan tubuh berisi keluar ditemani seorang wanita berjilbab. Wanita berjilbab itu berseru saat melihat Mba Alya.


"Ya ampun, kamu nelpon nggak? Handphone aku matikan, ada meeting tadi." Kedua wanita itu saling bersalaman dan menempelkan kedua pipi mereka bergantian.


"Iya, nggak apa -apa kok. Aku paham, Bu Editor kan sibuk."


"Bisa aja kamu. Eh ini? Yang namanya Aretha?" tanyanya menunjukku. Merasa ini sebuah lampu hijau untuk berkenalan, aku segera mengulurkan tangan disambut hangat olehnya.


"Mec? Siapa?" tanya wanita di dekatnya tersebut.


"Oh iya, Bu, ini calon karyawan baru yang kemarin saya bilang ke Bu Cleo. Namanya Aretha. Dia juga suka nulis juga, tulisannya bagus loh, Bu."


Wanita yang sudah aku tau adalah Bos di tempat ini, terus menatapku tajam. Bahkan dia tak segan - segan menelusuri bagian tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Namun, bagian yang paling lama dia perhatikan lekat - lekat adalah kedua manik mataku.


"Ikut ke ruangan saya." Bu Cleo berjalan lebih dulu ke sebuah ruangan yang berada di ujung. Kak Mecca mengajakku dan akhirnya aku berpamitan dengan Mba Alya.


"Semangat, Tha!" bisik Mba Alya. Aku hanya tersenyum dengan berusaha menutupi kegugupan yang kini berada di puncaknya. "Mec, titip adekku, ya."


"Tenang aja, Al. Aman." Kak Mecca segera merangkul ku dan mengikuti langkah wanita yang paling disegani di ruangan ini. Bu Cleo.


Dia duduk dengan santai di kursi kebangsaannya. Sementara kami berdua duduk di kursi yang berada di depan meja besar miliknya. Ada nama Bu Cleopatra di papan nama samping meja. Sementara laptop beserta tumpukan kertas dengan map yang beraneka ragam warnanya ada di sekitarnya.


"Jadi kamu suka nulis cerita juga? Cerita apa?"


Kak Mecca melirik padaku sambil tersenyum, berusaha menyemangati. "Iya, Bu. Seringnya kisah horor, thriller semacam itu."


"Oke. Coba kamu baca sinopsis ini. Apa pendapat kamu." Bu Cleo memberikan beberapa lembar kertas. Aku segera menerima dan membacanya. "Itu salah satu sinopsis dari seorang penulis yang mau menerbitkan tulisannya di perusahaan kita. Coba kamu cek, apa kurang dan lebihnya. Apa sinopsis itu menarik, atau sebaliknya."


Aku terus fokus membaca deretan tulisan ini. Setiap paragraf dan tiap kalimat aku baca dengan teliti. Terkadang aku mengerutkan kening. Saat mendapati tulisan yang sulit ku mengerti. Ku ulang lagi kalimat itu hingga dua atau tiga kali.


"Maaf, Bu, kalau menurut saya. Sinopsis yang dituliskan sudah cukup bagus menggambarkan premisnya, tapi sayangnya tidak terlalu menggambarkan bagaimana alur cerita yang runtut. Masih ada hal penting yang ditutup-tutupi, padahal seharusnya sinopsis lengkap untuk penerbit itu menjelaskan alur secara keseluruhan tanpa ada yang disembunyikan. Saya juga merasa alur terlalu cepat karena pemotongan adegan juga terlalu cepat, jadi feel karakter, chemistry dan juga deskripsi tempat masih kurang meresap ke pembaca. Saya rasa cukup, Bu. Maaf kalau ada kekurangan."


Bu Heni diam, menatapku lalu tersenyum. "Oke, kamu cocok bekerja di sini!" Dia lantas beranjak dan mengulurkan tangannya padaku, sebagai ucapan selamat. Kak Mecca juga melakukan hal yang sama. Akhirnya aku benar - benar diterima bekerja di sini. Pekerjaan yang awalnya merupakan hobi. Walau aku bertugas menjadi editor membantu Kak Mecca, aku tetap bisa menulis bahkan ada kemungkinan aku bisa menerbitkan karyaku seperti penulis besar lain. Tetapi itu bukan hal utama tujuanku berada di sini.


Keluar dari ruangan Bu Cleo, Kak Mecca mengajakku ke ruangan yang akan kami tempati nanti.

__ADS_1


"Nah, ini, Tha. Tempat kita kerja nanti. Kita satu team ada 5 orang. Semua tugasnya sama, nge-cek semua naskah yang masuk sebelum masuk ke bagian lay out."


Ruangan yang tidak begitu besar ini terdapat 5 kursi dengan partisi sekat tiap kursi sebatas dada. Satu kursi besar terdapat nama Mecca di tengahnya, yang sudah jelas itu meja Kak Mecca, selaku editor utama. Tiga kursi yang terisi berada di meja sisanya.


"Gaes, attention please!" seru Kak Mecca, bertepuk tangan menarik perhatian mereka. Tiga orang yang sedang sibuk dengan layar laptop di depan lantas mendongak.


"Warga baru, Kak?" tanya salah seorang pria yang tadi berada di lift. Aku lantas mencari teman satunya lagi, karena kupikir mereka bekerja bersama - sama, dan ternyata dia ada di meja lain. Rupanya ada 6 meja di sini. Pria itu justru diam, tak menanggapi, hanya sibuk menatap layar laptop di depannya.


"Iya, warga baru di sini. Namanya Aretha. Sini kenalan kalian," perintah Kak Mecca sambil menyuruh mereka mendekat.


"Eh, kita tadi ketemu di lift, kan? Aku Aron." Oh, jadi namanya Aron, dan ternyata dia menyadari keberadaanku tadi.


"Aku Giska. Selamat datang, Aretha."


"Hai Giska. Makasih ya."


"Aku Mike, salam kenal."


Aron, memiliki tinggi sama sepertiku, dengan potongan rambut yang cukup kekinian, wajahnya lumayan. Dia juga terlihat menyenangkan.


Giska, gadis berkaca mata itu sedikit berisi, kulitnya putih sepertinya dia keturunan tionghoa.


Sementara Mike, dia seperti atlet basket, postur tubuhnya tinggi dan atletis. Dia terlihat sedikit cuek dan dingin. Tapi memiliki karisma tersendiri.


"Kalau yang itu?" tanyaku menunjuk pria, teman Aron tadi. Orang yang aku maksud langsung menoleh padaku, lantas beranjak.


"Eh, kalian udah ambil jatah kerjaan? Jangan santai - santai ya kalian. Banyak kerjaan nih," kata Kak Mecca lalu mengambil beberapa tumpukan map di mejanya.


Aron dan Giska berlomba - lomba memilih map dengan melihat isinya. "Aku ini aja. Dikit nih!" kata Giska yang menemukan targetnya.


"Yah, ke duluan lagi!" rajuk Aron.


"Aku Rick. Semoga betah kerja di sini." Pria itu memperkenalkan diri sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.


"Hai, Rick. Aretha," sahutku dengan menarik senyum tipis. Mike menoleh lalu memberikan map padaku. "Jatah pekerjaan menanti, wahai saudaraku." Sementara dia segera kembali ke mejanya. Begitu pun dengan kami semua.

__ADS_1


__ADS_2