
Pov Arden.
Siang ini aku sengaja menunggu Alya di depan kelas nya. Karena berniat mengajaknya pulang bersama.
Memang ada yang ingin ku tau dari nya. Tentu saja mengenai sosok yang aku dan Aretha lihat mirip sekali dengan nya.
Kelas Alya bubar juga. Tak lama dia keluar dan sedikit terkejut melihatku sudah ada di depan kelasnya.
"Lho, Den. Ada apa?" tanyanya.
"Eum... Pulang bareng, yuk?"
Dia terlihat diam sebentar. Lalu tak lama mengangguk.
Kami berjalan ke tempat di mana motorku parkir. Suasana parkiran memang akan riuh di jam pulang dan berangkat sekolah. Kulambaikan tanganku ke sebuah mobil di mana ada Radit dan Aretha di dalamnya.
Mereka memang pulang bersama, karena aku harus mengantarkan Alya pulang. Lagi pula sepertinya Radit dan Aretha sedang ada masalah.
Setelah kuberikan helm Alya, dia lalu naik ke boncengan belakang. Kuantarkan dia ke rumahnya. Yang kebetulan tidak begitu jauh dari sekolah. Hanya sekitar 15 menit, kami sampai juga di rumah Alya.
"Duduk dulu, Den. Mau minum apa?" tanya Alya saat kami ada di teras rumahnya.
"Apa aja, Al," sahutku sambil melihat sekitar rumahnya.
"Ya udah bentar ya, Den." Dia lalu masuk ke dalam.
Dan tak lama kembali lagi dengan dua gelas es jeruk.
"Minum dulu," kata Alya.
Kuambil gelas itu dan meneguknya karena memang aku haus. Dan es jeruk ini memang segar masuk ke dalam tenggorokanku. Namun saat tegukan terakhir aku memperlambat air jeruk yang hendak masuk ke tenggorokan.
Sosok itu muncul lagi, dan kini berdiri di samping Alya. Dia terus menatap Alya dengan tatapan memelas.
"Kamu punya saudara kembar?" tanyaku spontan sambil meletakkan gelas di meja yang berada di antara kami.
Alya kaget dengan pertanyaanku barusan.
"Kok kamu tau, Den?" tanyanya.
"Dia meninggal kenapa, Al?" Tanpa basa-basi aku langsung melontarkan pertanyaan beruntun. Dan hal itu membuat Alya menjadi diam. Dia menunduk, nafasnya terlihat begitu berat. Ah, sepertinya aku salah bertanya. Tapi aku tidak suka dibuat penasaran dan mengulur waktu terlalu lama untuk mendapatkan jawaban.
"Dia meninggal 3 tahun lalu, karena nolongin aku." Alya kembali berusaha menarik nafasnya yang terlihat masih berat. "Waktu itu, kami lagi main ke pantai sama temen-temen sekolah. Terus karena keasikan main air, aku nggak sadar kalau aku udah ada jauh dari pantai. Tiba-tiba datang ombak yang cukup besar. Aku terseret makin jauh. Dan saat itu aku nggak bisa berenang, aku tenggelam karena kakiku terlilit sesuatu. Dan saat itulah, Asha muncul dan nolongin aku. Tapi justru malah dia yang terseret ombak lagi. Aku selamat tapi Asha ... Hilang. Tubuhnya baru ditemukan besoknya. Setelah kami meminta bantuan." Alya menangis. Yah, aku sadar kalau aku telah menabur garam di lukanya. Luka lama yang aku yakin ingin dia lupakan. Aku menyentuh bahunya berusaha untuk menenangkan wanita di sampingku ini.
"Kamu jangan sedih gini, Al. Ini semua sudah takdir. Aku yakin Asha nggak suka kamu gini. Dia pengen kamu bahagia. Dia sedih lihat kamu terus merasa bersalah terus seperti ini. Dia nggak pernah menyalahkan kamu," terangku.
Asha menatap Alya memelas dan tersenyum getir padaku.
"Dia di sini ya, Den? Dia di mana? Aku pengen ketemu," rengek Alya sambil menggoyangkan tanganku.
"Dia selalu ada di samping kamu. Dia sayang sama kamu, dan sedih ngeliat kamu gini terus. Dia pengen kamu menjalani hidup kamu kaya dulu. Jangan terus menyendiri. Jangan terus menyalahkan diri kamu terus. Biar Asha bisa pergi dengan tenang, "saranku.
Alya terdiam beberapa saat.
"Dia nggak bisa pergi karena aku, Den?" tanyanya. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Alya kembali terdiam, pikiran pasti berkecamuk. Tapi aku tidak tau apa yang ada di dalam isi kepalanya. "Aku bakal berubah. Aku janji, aku akan terus bahagia demi Asha," ucapnya.
Aku menatap Asha, dia tersenyum dan mengangguk padaku. "Jangan lupa, terus doakan dia. Karena hanya itu yang dia butuhkan sekarang."
Alya mengangguk semangat, dan saat itu juga, Asha perlahan memudar. Lalu menghilang.
Aku ada di rumah Alya hingga sore hari. Namun kami hanya ada di teras saja. Kedua orang tua Alya sedang tidak di rumah. Dan aku pun berniat menunggu hingga Papah dan Mamah Alya pulang.
Kasian juga jika Alya sendirian di rumahnya. Takutnya pikiran dia kembali kosong dan kembali sedih karena mengingat Asha.
Pov Arden end
\=\=\=\=\=\=\=\=
Pov Aretha.
Siang ini aku dan Radit pulang bersama. Kami berencana akan ke bukit Trenggulasih.
Aku tidak tega juga mendiamkan Radit terus terusan.
"Nanti habis ganti baju, langsung ke rumahku ya, Tha. Aku juga ganti baju dulu. Habis itu baru ke bukit," kata Radit saat kami dalam perjalanan pulang.
"Iya," jawabku singkat.
__ADS_1
"Eh, bener Tha? Soal Alya? Siapa sih yang ngikutin? Jahat nggak?" tanya Radit sambil sesekali melirik padaku.
Aku menarik nafas panjang.
"Kayaknya sih nggak jahat. Mungkin kembaran Mba Alya. Soalnya mirip banget."
"Alya kembar juga? Wah, bisa kebetulan gitu, ya. Kalau Arden beneran jodoh nya Alya, bisa bisa mereka punya anak kembar juga, ya," sahut Radit sambil senyum.
Sampailah kami di rumahku. Di teras sudah ada Ayah yang sedang membaca buku.
"Assalamualikum," ucapku saat turun dari mobil Radit.
"Wa alaikum salam. Lho kok sama Radit. Abangmu mana, Dek?" tanya Ayah saat aku salim.
Radit pun ikut salim ke Ayah.
"Kak Arden lagi nganterin pacarnya yah," jawabku asal.
"Oh, saling diantar pacar jadinya," ledek Ayah. Aku hanya melirik Ayah sebal.
"Radit gimana kabarnya? Sehat, kan?"
Tanya Ayah. Radit pun duduk bersama ayah di teras.
"Puji tuhan, Om. Sehat. Om gimana?"
"Alhamdulillah sehat juga. Ini mau pada ke mana?" tanya ayah menyelidik. Karena tumben tumbenan Radit masih anteng aja di sini. Biasanya habis nganter aku, dia langsung pamit pulang.
"Oh iya, Om. Mau ngajak Aretha main. ke bukit. Boleh nggak om?" tanya Radit agak malu malu.
"Bukit? Boleh aja. Asal nanti pulangnya jangan kemaleman, ya. Besok kalian kan sekolah," nasehat Ayah.
"Iya om, nggak sampai malem banget kok."
Setelah mendapat lampu hijau, aku meninggalkan mereka ngobrol di teras. Sementara aku masuk ke dalam, Bunda sedang memasak di dapur.
"Bunda!" panggilku sambil memeluk Bunda dari belakang.
"Eh, adek. Abangmu mana?" tanya bunda sambil melihat ke belakang.
"Lagi pacaran," jawabku cuek.
"Serius? kakak kamu lagi suka sama cewek?"
"Serius, Bun. Namanya mbak Alya, anak kelas 2. Cuma tadi, ada sosok yg mirip banget mbak Alya. Dia ngikutin terus, Bun. Maka nya kak Arden ke rumahnya sekarang. Mau ngecek." aku mencomot nugget yang baru saja bunda goreng.
Bunda mengangguk paham, lalu meneruskan memasak lagi.
"Terus kamu balik sama siapa? radit?"
"Iya lah, Bun. Eh, Bunda... Aku sama Radit mau main ya, ke bukit. Dia sih udah ijin ayah tuh tadi."
"Iya, tapi pada makan dulu. Jangan langsung pergi. Nih bunda udah masak banyak. Panggil sana Radit sama Ayah.."
"Siap, Boss!" aku lalu kembali ke teras memanggil Ayah dan Radit.
Kami lalu makan siang bersama. Walau awalnya Radit menolak, agak sungkan, namun setelah dipaksa ayah, akhirnya mau juga.
Kami juga ngobrol banyak saat makan. Aku cukup nyaman dan suka situasi ini. Walau ini bukan pertama kalinya kami makan bersama. Setelah makanku habis, aku pamit ke kamar.
"Ya udah, aku ganti baju dulu." aku beranjak lalu pergi ke kamarku.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Setelah salim sama Ayah Bunda, kami lalu langsung pergi.
"Tha, Kita langsung aja ke bukit ya.nggak usah ke rumahku dulu," kata Radit setelah mendapat pesan di ponselnya.
"Lho kenapa? Kamu nggak ganti baju dulu?"
"Nggak usah. Aku ada baju di belakang tuh," ujarnya sambil menoleh ke belakang. Dengan tampang kesal
"Ada apa sih, Dit?" tanyaku penasaran.
"Ada Ester di rumah. Aku males ketemu dia,"ucapnya.
Aku lalu terdiam. Ingatan tentang perlakuan dan perkataan Ester kemarin membuat mood ku berubah. Radit yang menyadari nya terus menerus melirik ke arahku.
__ADS_1
"Kamu knp, Tha?"
"Nggak apa-apa," jawabku dingin.
"Ester ngomong apa aja sama kamu?" tanyanya datar.
Ini anak tau dari mana?
"Biasa aja kok. Soal hubungan kalian."
"Kalian? Hubungan siapa maksudnya?"
"Ya kamu sama Ester-lah."
"Emang apa yang dia bilang?" tanya Radit serius.
"Udah ah. Nanti aja. Fokus nyetir dulu aja," tolakku.
Tiba-tiba Radit meminggirkan mobilnya secara mendadak. Dia lantas menatapku dalam
"Aku mau tau sekarang! Dia bilang apa aja sama kamu!"
Aku menarik nafas dalam, menatap Radit sekilas lalu kembali menatap ke kaca depan mobil.
"Ester bilang, kalian udah dijodohin, ya? Kalau iya, mending kamu jauhin aku, Dit," sahutku pelan tanpa menatapnya
"Tha! Lihat aku! "Kata Radit dengan muka yang serius
"Apa sih, Dit." aku menolaknya dan tetap melihat keluar jendela mobilnya.
Radit menyentuh dagu ku dan membuatku menatap matanya.
"Aku sayang sama kamu Areta. Cuma kamu. Aku sama Ester nggak ada rasa apa apa. Itu cuma mau nya dia aja.m. Dari dulu aku cuma anggap dia adik. Nggak lebih," jelasnya. Kami saling menatap dengan pikiran masing-masing.
"Iya sudah. Yuk, kita ke bukit. Makin sore nih. Nanti nggak liat sunset," rengekku. Aku seakan malas membahas masalah ini.
Radit menarik nafas panjang lalu mengangguk. Dia kembali menjalankan mobilnya dan hanya 15 menit kami sampai di bukit.
Radit mengantri tiket, setelah sebelumnya dia berganti baju yg sudah dia bawa di belakang mobilnya. Biasanya itu dipakai jika dia selesai latihan basket.
Kami masuk ke bukit itu. Pemandangannya indah sekali. Ada beberapa spot foto yang membuatku tertarik dan kuminta Radit mengabadikan fotoku sebagai kenang kenangan. Beberapa kali kami juga foto berdua, dengan meminta bantuan orang yang juga sedang ada di sana.
Walau sudah sore, namun masih ada beberapa orang yang masih betah di sini.
Udaranya sejuk sekali, dan agak dingin. Hingga bajuku saja tidak bisa membuatku hangat. Padahal aku memakai baju lengan panjang. Mungkin lain kali aku harus memakai jaket.
Seolah mengetahui apa yang kurasakan, Radit memakaikan jaketnya padaku.
"Dingin. Nanti kamu masuk angin," ucapnya.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Kami lalu mencari tempat untuk duduk sambil menikmati senja.
Langit berwarna jingga sekarang dan matahari perlahan turun.
"Tha...," panggil Radit dengan masih menatap pemandangan di hadapan kami.
"Hm."
"Kita ini bukan istiqlal dan katedral yang ditakdirkan berdiri berhadapan dengan perbedaan, namun tetap harmonis. Jika mereka punya nyawa, siapa tau kalau mereka juga jatuh cinta, sama kayak kita," ucap Radit lalu menoleh ke arahku.
Ya Allah, hatiku nyeri mendengarnya. Sebuah kalimat yang menunjukkan keadaan kami sekarang.
"Tolong tanyakan Tuhanmu, apakah aku yang bukan umatnya, boleh mencintai hambanya," katanya lagi.
Mataku berkaca kaca. Radit justru tersenyum getir.
"Dit .... "
"Kamu nggak usah khawatirin hubungan kita ke depan gimana, Tha. Kalau kita memang berjodoh.. Kita pasti bakal bersatu. Entah kapan dan satu yang perlu kamu tau. Aku akan terus mencintai kamu sekarang dan selamanya. "
"Kenapa, Dit? Kenapa harus aku?"
"Entah lah, Tha. Aku nggak punya alasan apa pun kenapa harus kamu. Yang aku tau, aku jatuh cinta sama kamu sejak kita pertama kita ketemu. Kamu berbeda. Aku selalu bahagia kalau ada di deket kamu, Tha. Lagipula, cinta nggak butuh alasan, Tha. Karena kalau alasan itu hilang, maka cinta juga pasti akan hilang. "
Kusandarkan kepalaku di bahu Radit sambil menatap sunset di hadapan kami.
Rasanya nyaman. Dan ingin terus seperti ini.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Cinta bukan tentang berapa lama kamu telah mengenal seseorang, tapi tentang seseorang yang buatmu tersenyum sejak kamu mengenalnya.