
"Sayang, aku hari ini harus pergi ke luar kota. Mungkin nginap semalam. Kamu gimana? Apa kamu aku antar pulang ke rumah kita aja? Atau mau ke rumah Bunda? " tanya Radit saat sedang menyantap sarapan bersama.
"Soal proyek yang kemarin kamu bilang itu, ya?" tanya Aretha sambil meneguk susu hangat yang baru saja dia dapatkan di peternakan sapi tak jauh dari rumah.
"Iya, Tha. Gimana? Aku kira bakal pergi minggu depan, tapi malah hari ini. Barusan Pak Sena kirim email."
Radit tampak gelisah begitu tahu harus meninggalkan sang istri di rumah sendirian. Setelah banyaknya kejadian aneh di rumah tersebut, tentu dia tidak akan tenang jika tahu kalau Aretha ada di rumah itu tanpanya. Maka dari itu Radit memberikan pilihan lain, agar sementara Aretha mengungsi di rumah orang tuanya. Keselamatan Aretha tentu adalah hal yang paling penting sekarang.
"Ya udah, kamu berangkat aja nggak apa apa kok. Aku di rumah aja. Lagian kalau harus ke rumah Bunda atau pulang, aku malas, Dit. Jauh. Terus rasanya capek deh kalau cuma sebentar ke sana."
"Tapi, aku nggak bisa ninggalin kamu sendirian di rumah, Sayang. Atau... Kamu nginap di hotel aja. Di kota ada hotel yang lumayan kok. Sementara aja sampai aku balik lagi ke sini."
"Kalau Mbak Aretha mengizinkan, biar malam ini saya temani di rumah," timpal Bu Jum yang sedang membereskan dapur. Rupanya sejak tadi wanita paruh baya itu mendengarkan obrolan majikannya.
"Nah, tuh. Bu Jum mau temenin aku malah. Jadi aku nggak perlu ke mana mana, kan?" tanya Aretha meyakinkan Radit.
Radit menatap istrinya lekat-lekat. Walaupun dia tidak begitu yakin dengan keputusan itu tapi Radit tidak bisa berbuat apapun. Lagi pula dia juga perlu mempercayai Areta dalam mengambil keputusan. Jika memang Areta berkehendak untuk tinggal di rumah berarti itu adalah memang keinginan Areta sendiri.
" Memangnya Bu Jum nggak papa kalau nginep di rumah ini semalam?" tanya Radit memastikan lagi.
" Nggak papa kok, Mas Radit. Lagi pula Saya di rumah juga nggak punya anak kecil jadi nggak ada yang nangisin kalau saya nggak tidur di rumah," tukas Bu Jum.
"Hem, ya sudah. Tapi lebih baik Pak Slamet juga ikut tidur di sini saja Soalnya biar saya lebih tenang meninggalkan istri saya di rumah. Kalau ada laki-laki di rumah Ini kan setidaknya bisa membantu jika terjadi sesuatu."
"Oh, baik. Nanti saya bilang suami saya. Mas Radit tidak perlu khawatir kami akan menemani Mbak Areta dan menjaganya."
"Terima kasih banyak, Bu Jum."
Radit hanya membawa sebuah koper kecil yang berisi perlengkapan pribadinya. Walau hanya menginap semalam Tetapi dia tetap membawa beberapa pakaian ganti karena dia juga ada beberapa pekerjaan yang mengharuskannya memakai pakaian yang rapi dan sopan.
"Aku berangkat dulu, ya, Sayang. Kamu baik baik di rumah. Kalau ada apa apa langsung kabarin aku, apapun itu," pinta Radit.
Mereka sedang saling berpamitan di teras rumah. Radit seakan-akan berat untuk meninggalkan Areta di rumah sendirian sekalipun Bu Jum dan Pak Slamet berencana akan menginap di rumah tersebut. Tetapi berkali-kali pula Areta meyakinkan suaminya agar bisa pergi dengan tenang karena dia akan baik-baik saja di rumah.
"Ya sudah, aku berangkat dulu, ya."
Radit mengecup kening Aretha, membelai pipi istrinya dengan tatapan teduh dan menenangkan.
"Iya, kamu hati hati di jalan. Jangan ngelamun. Pokoknya jangan terlalu mikirin aku di rumah, ya. Aku baik baik aja," kata Aretha lagi sebelum Radit benar benar pergi.
"Hem, iya, Sayang. Ya sudah, aku pergi, ya. Aku pasti cepat pulang kok," katanya lagi.
"Iya, Sayang. Aku tunggu di rumah."
Mobil Radit melakukan meninggalkan halaman rumah. Areta masih berdiri di depan teras sambil melepas kepergian suaminya. Pagi ini suasana memang sedikit mendung. Membuat udara menjadi lebih dingin dari biasanya karena matahari belum juga nampak sejak tadi.
Aretha memutuskan pergi ke warung untuk berbelanja kebutuhan sehari hari. Biasanya dia akan menyuruh Bu Jum yang pergi, tapi pagi ini dia justru ingin berangkat sendiri ke warung Bu Darsi. Rasanya sudah lama dia tidak berjalan jalan di sekitar rumah.
Aretha memakai jaket yang agak tebal dengan hoodie yang dapat menutupi kepalanya. Dia terus melangkah menuju ke warung Bu Darsih dengan rute yang biasanya ia lewati sebelumnya. Beberapa kali dia berpapasan dengan anak-anak kecil yang bermain di sekitar. Hingga salah satu anak kecil tidak sengaja menabraknya walau tidak sampai terjatuh.
"Eh, hati hati, ya," kata Aretha.
"Maaf, Tante," ucap anak itu sambil menundukkan kepala.
"Iya, nggak apa apa kok. Kalian nggak sekolah?" tanya Aretha sambil menatap anak kecil di sekitarnya. Mereka sedang bermain lompat tali dan beberapa bermain kelereng.
"Libur, Tante."
"Libur? Ini kan hari ... Sabtu?"
"Iya, Sabtu minggu sekolah libur."
"Oh iya ya. Astaga. Lupa."
Areta lupa kalau dia tidak hidup lagi di zamannya dulu. Di mana sekolah akan berlangsung selama 6 hari dalam sepekan, dan libur hanya setiap hari minggu dan hari besar dengan tanggalan berwarna merah.
Mereka masih ingin berinteraksi dengan anak-anak itu hanya saja Dia pun harus bergegas pergi ke warung Bu Darsih karena jika terlalu siang sampai di warung maka dia tidak akan mendapatkan lauk pauk yang diinginkan.
Tiba-tiba anak tersebut menoleh ke arah belakang Areta dengan Tatapan yang aneh. Kereta yang menyadari tatapan anak itu lantas ikut menoleh ke belakang. Rupanya tidak jauh di belakang Areta berada ada sosok anak kecil yang sejak tadi mengikutinya terus. Kali ini Areta bisa melihat wujudnya dan sepertinya anak di hadapannya juga bisa melihat sosok Keisha yang berdiri beberapa meter darinya.
"Kenapa?" tanya Aretha ke anak kecil itu.
Anak itu menarik tangan Areta agar bisa sejajar dengan dirinya. Dia lantas berbisik, " wajahnya seram, Tan."
Aretha tersenyum. Karena dia yakin benar kalau anak ini benar benar bisa melihat Keisha, dan mungkin dia juga bisa melihat makhluk lain. Karena saat dilihat dengan seksama, ada cahaya biru keunguan yang muncul di tubuhnya. Walau samar, tapi cahaya itu selalu ada dan terkadang ditambah warna lain sesuai dengan kondisi anak tersebut.
__ADS_1
Warna aura merupakan penampakan eksternal dari keadaan mental seseorang. Warna aura yang terpancar dari tubuh manusia juga bisa menjadi gambaran kepribadiannya. Warna aura terbentuk akibat aktivitas dalam kehidupan sehari-hari yang membutuhkan energi. Setiap energi yang keluar dari tubuh akan berhubungan dengan arus listrik hingga memancarkan bidang elektromagnetik yang menghasilkan warna aura berbeda.
Secara umum, aura manusia terdiri dari tujuh warna dasar, yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu tua, dan ungu.
S
alah satu dari tujuh warna dasar aura yang dapat terpancar dari manusia adalah ungu. Aura ungu artinya perhatian yang mendalam terhadap hal-hal spiritual. Orang yang memancarkan aura ini biasanya memiliki hubungan dekat dengan Tuhannya.
Orang yang mempunyai aura warna ungu sangat tertarik dengan hal-hal kerohanian. Mereka juga berhubungan baik dengan Tuhannya. Salah satunya adalah Aretha. Karena dia pun memiliki aura dengan warna ungu.
"Nggak apa apa kok. Jangan takut, ya," bisik Aretha ke anak kecil itu.
Aretha tersenyum lalu mengelus kepala anak tersebut dan beranjak. Dia berniat untuk melanjutkan perjalanan menuju ke warung Bu Darsi. Tidak lupa dia melambaikan tangan kepada anak itu sebagai ucapan selamat tinggal.
Dia mulai masuk ke pemukiman padat penduduk, di mana rumah-rumah warga mulai banyak terlihat di samping kanan dan kirinya. Beberapa warga desa tampak ada di depan rumah dan Aretha pun menyapa mereka, berusaha untuk bersikap ramah. Sikapnya itu mendapat tanggapan yang positif dari warga desa yang lain. Sebagian besar orang sudah mengetahui siapa Areta.
"Ke mana, Neng?" sapa seorang wanita paruh baya yang sedang menjemur pakaian.
"Ke warung, Bu," sahut Aretha.
"Oh iya."
Areta merasakan kalau di belakangnya ada seseorang yang sedang mengikutinya terus sejak tadi. Apalagi dia bisa merasakan dan melihatnya dari ujung ekor mata. Rupanya itu adalah Keisha. Sosok Keisha ternyata sejak tadi terus mengikuti ke manapun Aretha pergi.
Di sebuah tempat yang sedikit sepi Areta pun berhenti berjalan. Dia menoleh ke belakang dan masih mendapati sosok Keisha yang ada di belakangnya. Aretha heran karena dia mulai sering melihat keberadaan Keisha di sekitarnya sekarang.
" Kenapa kamu terus mengikuti ku?" tanya Aretha.
Namun Keisha hanya diam sambil terus menatap Areta. Merasa pertanyaan itu percuma, akhirnya Areta pun tidak terlalu memedulikan sosok anak kecil itu. Dia lantas kembali berjalan menuju ke warung Bu Darsih yang letaknya sudah tidak jauh lagi. Rupanya saat sudah ada di warung tempat tersebut masih penuh dengan ibu-ibu yang sedang berbelanja. Kebiasaan ibu-ibu di desa ini adalah berbelanja sambil bergosip.
"Eh, Mbak, belanja? Tumben. Biasanya Mbok Jum yang ke sini," sapa seorang wanita yang berdiri di dekatnya.
"Iya, Bu. Kebetulan saya lagi pengen jalan-jalan jadi sekalian saja saya belanja ke sini," sahut Aretha sambil memilih sayuran hijau di meja.
"Gimana? Betah di sini, kan?" tanya ibu lainnya.
"Alhamdulillah, Bu. Betah." Areta terus berusaha menunjukkan ekspresi senang, tenang dan bahagia.
Walaupun Jika ditanya dengan benar Areta tentu betah tinggal di rumah itu. Sekalipun banyak sekali gangguan sejak dia datang ke desa ini, tetapi Aretha tampaknya cukup menikmati kehidupan nya di desa itu. Bahkan di saat Radit tidak ada di rumah, dan memberikan tawaran untuk pulang ke rumah mereka, Aretha justru menolaknya.
Hujan baru saja turun saat Aretha pulang dari berbelanja tadi. Ini adalah pertama kalinya dia merasakan hujan di desa itu. Suasana menjadi semakin dingin.
"Bu, kayaknya makan kolak enak deh. Apalagi suasananya Hujan kayak gini," kata Aretha.
" Mbak Areta sudah beli bahannya, kan? nanti saya akan masakan buat Mbak."
"Sudah semua kok, Bu. Oh iya, Pak Slamet sama Mas Ratno masih di atas?"
"Masih, Mbak. Kalau nggak salah Ratno lagi ngecat tembok."
"Berarti tinggal sebentar lagi selesai ya, Bu."
"Betul, Mbak. Alhamdulillah sudah selesai."
"Ngomong-ngomong lantai atas itu dulu kamarnya Pak Ibrahim ya?"
"Iya, Mbak. Kamar utama memang ditempati oleh Pak Ibrahim."
"Kalau Keisha?"
"Kalau Keisha di kamar ujung sana. Dekat dengan kamar utama," tunjuk Bu Jum.
" terus kamar yang saya tempati itu dulu Kamar siapa Bu?"
"Wah kalau Kamar bawah itu sih kamar kamu jadi memang jarang ditempati kecuali ada saudara dari Pak Ibrahim yang datang berkunjung. Memangnya kenapa, Mbak?"
" Oh gitu. Nggak apa-apa kok, Bu. Cuma tanya aja. Oh iya, Pak Ibrahim punya berapa anak?"
"Anak pak Ibrahim itu 3. Yang dua itu sudah besar kalau nggak salah nomor 2 sudah kuliah di salah satu universitas negeri di Jakarta kalau anak sulung Pak Ibrahim justru sudah kerja. Jadi Keisha itu anak bontot."
" Wah padahal jaraknya cukup jauh ya Bu antara anak kedua ke anak ke 3. Sepertinya Keisha itu bonus untuk keluarga Pak Ibrahim," tukas Aretha bergurau.
"Iya, memang nggak direncanakan katanya sih. Tapi Bapak dan Ibu sayang sekali dengan Keisha."
"Pastilah, Bu. Namanya anak. Apalagi jarak kelahiran yang agak jauh, pasti dengan kehadiran Keisha membuat warna baru di keluarga Pak Ibrahim."
__ADS_1
"Mbak Aretha dan Mas Radit sudah berapa lama menikah?"
Pertanyaan Bu Jum membuat Aretha tidak langsung menyahut. Dia sepertinya paham ke arah mana obrolan ini akan berakhir.
"Kami hampir 5 tahun menikah, Bu. Tapi sepertinya Allah belum kasih rezeki anak ke kami. Mungkin masih disuruh menikmati hidup berdua dulu," cetus Aretha.
"Nggak apa apa, Mbak. Nanti pasti dikasih kepercayaan sama Allah. Saya saja dulu waktu hamil anak pertama agak lama nunggunya. Hampir 8 tahun pernikahan. Terus orang tua saya ajak saya dan Pak Slamet ke tukang urut. Namanya ikhtiar, ya, Mbak. Jadi kami jalani saja. Tapi baru 3 bulan setelah rutin pijat itu, saya pun hamil. Kebetulan tukang urut nya orang kampung ini juga. Kalau Mbak Aretha berminat nanti saya antarkan ke sana," kata Bu Jum bersemangat.
"Oh gitu ya, Bu. Iya nanti gampang deh bu kalau saya memang tertarik nanti saya tanya sama Bu Jum lagi. Soalnya saya sama Radit belum ada obrolan ke arah situ."
Langkah kaki beberapa orang menarik perhatian Areta dan Bu Jum. Rupanya Ratno dan Pak Slamet baru saja turun dari tangga dengan membawa beberapa perlengkapan yang tadinya mereka bawa ke lantai atas.
"Loh, Udah selesai Mas Ratno ngecat nya?" Tanya Areta saat Ratno sedang mengusung rol yang biasa digunakan untuk mengecat tembok.
"sudah selesai, mbak Reta. Semuanya sudah selesai dikerjakan. Silakan kalau mbak Areta mau melihat ke atas untuk menilai pekerjaan kamu siapa tahu ada yang kurang," tutur Ratno.
"Ah, pasti kerjaan Mas Ratno dan Pak Slamet bagus. Saya percaya sama kalian berdua. Oh ya ngopi dulu tadi udah bikin kopi belum. Jangan pulang dulu soalnya masih hujan. Tunggu Bu Jum selesai bikin kolak nanti kita makan sama-sama."
"Terima kasih, Mbak Aretha. Saya ke depan dulu, mau habiskan kopi. Ayo, Pak," ajak Ratno.
"Oh iya, Pak Slamet nanti malam tidur di sini, ya, sama Bu Jum. Temani saya di rumah."
"Baik, Mbak Aretha. Bu Jum sudah cerita sama saya tadi. Kami siap kok."
"Alhamdulilah."
Sambil menunggu kolak matang, Aretha justru ikut duduk di teras rumah bersama Pak Slamet dan Ratno. Sebenarnya Aretha termasuk orang yang mudah bergaul, apalagi jika menemukan teman yang satu frekuensi. Dia suka berbincang dengan Ratno karena beberapa topik yang mereka bicarakan selalu berkesinambungan. Aretha suka mendengar pengalaman Ratno yang beberapa kali bertemu dengan hal mistis seperti dirinya.
Ditemani secangkir kopi dan gorengan, mereka asyik mengobrol di teras rumah sambil melihat hujan yang masih turun dengan deras.
"Wah, itu seram sekali sih, Mbak. Terus gimana, setelah teman teman Mbak makan dari warung gaib itu, mereka baik baik aja, kan?" tanya Ratno.
Walau kejadian itu sudah berlangsung beberapa hari lalu, tapi Aretha rupanya belum bisa melupakannya dengan mudah. Dia pun membagi kisah itu dengan Pak Slamet dan Ratno yang memang paling sering berinteraksi dengannya selama tinggal di rumah itu.
"Kayaknya sih mereka baik baik aja, Mas. Soalnya saya nggak pernah dengar hal aneh lainnya. Ya semoga efeknya nggak akan terus berlanjut."
"Tapi kalau kejadian seperti itu rasanya memang sering terjadi, Mbak. Saya juga beberapa kali pernah mendengar kisah yang sama dari teman-teman saya dulu. Memang alasan itu salah satu tempat yang sering terjadi hal-hal mistis," tambah Pak Slamet.
"Jangan-jangan justru mobil Mbak Areta yang mogok itu sebenarnya ulah dari para makhluk itu. Tapi untung Mbak Areta sama temen-temennya baik-baik saja ya. Soalnya saya juga pernah denger ada orang yang terjebak di warung gaib seperti itu Dan agak lama diketemukan lagi. Hampir hilang satu minggu lamanya. Tapi pas ketemu ternyata dia justru lagi tiduran di pinggir jalan. Pas ditanya katanya dia lagi makan di warung. Cuma katanya Setelah dia pulang dia masih sering mengalami hal-hal aneh setelah kejadian itu, Mbak."
"Hih, serem banget. Alhamdulillah kalau saya sih nggak pernah mengalami kejadian aneh setelah tersesat di warung gaib itu. Duh, rumah ini aja udah serem masa ketambahan setan lain lagi sih," gumam Aretha.
" Mbak Areta Memangnya sering diganggu di rumah ini ya?" tanya Ratno.
" Iya beberapa kali sih Mas walaupun gak terlalu sering. Saya sih sudah mulai Hafal sama sosok anak kecil itu bahkan tadi waktu saya ke warung juga dia terus mengikuti saya."
"Keisha?" tanya Pak Slamet.
"Iya, Pak. Saya heran kenapa Keisha sering banget mengikuti saya kalau saya lagi keluar rumah."
" Memangnya Mbak Areta nggak tanya sama Keisha Mungkin dia memang memerlukan sesuatu atau punya maksud tertentu?"
"Sudah, Mas. Tapi dia terus aja diam seperti nggak mau ngomong atau malah dia nggak bisa ngomong ya?"
" mungkin keduanya Mbak. Atau bisa saja memang Keisha sengaja mengikuti Mbak Areta. Karena dia bosan di rumah. Soalnya dulu aku masih hidup Keisha memang suka sekali pergi bermain tapi sama Pak Ibrahim dia memang nggak diperbolehkan main jauh-jauh palingan cuma di sekitar halaman aja."
"Oh ya? Kenapa?"
"Karena sakitnya. Keisha itu nggak bisa terlalu capek karena nanti kalau dia kecapean dia bisa tiba-tiba sesak nafas," jelas Pak Slamet.
"Oh gitu. Eh tapi Pak Slamet sama Mas Ratno juga pernah nggak sih, ngeliat sosok di rumah ini selain Keisha?" tanya Areta penasaran.
" maksud Mbak Areta sosok Kinanti?" tanya Ratno.
"bukan Kinanti, Mas. kalau Kinanti sih dia Justru lebih sering muncul di kebun teh depan sana. Tapi sosok ini justru ada di kamar utama lantai 2. Waktu itu saya ingat betul kalau ada sesuatu di kamar itu dan saya pun coba pergi untuk memeriksanya. Tiba-tiba Keisha ada di samping saya. Nah, pas pintu kamar itu sedikit terbuka Keysa yang melihat ke dalam kamar tiba-tiba seperti merasa ketakutan. Entah kenapa saya jadi berpikir kalau di ruangan itu ada sosok lain yang menghuni yang bikin Keisha ketakutan."
"Hem, siapa, ya?" gumam Ratno sambil berpikir keras.
" Maaf kalau saya bertanya agak aneh. Tapi orang yang meninggal di rumah ini itu cuman Keisha saja kan ya? Nggak ada orang lain lagi? Tapi ini di luar Kinanti ya. Kalau Kinanti itu selalu muncul di luar rumah yang sedang saya tanyakan ini adalah sosok yang ada di dalam rumah selain Keisha."
"Wah, Mbak. Jujur saja saya selama kerja di sini belum pernah melihat penampakan apapun. Mungkin Pak Slamet Pak?"
"Apalagi saya. Mana pernah, Mbak."
"Hem, ya sudah. Mungkin cuma perasaan saya saja. "
__ADS_1