Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
46. Aretha Pulang


__ADS_3

Mereka berusaha melepaskan diri dari jeratan akar pohon. Namun, semakin mereka bergerak, akar itu membelit dengan semakin kuat. Mereka tampak kesulitan. Tetapi mereka tidak menyerah begitu saja. Mulut mereka masih mengumamkan dzikir dengan suara yang lantang. Angin yang berhembus pun juga semakin kuat. Bahkan tubuh mereka sampai-sampai melayang seperti hendak terbawa angin. Untungnya mereka masih berusaha bertahan dengan berpegangan pada benda yang ada di sekitar. Seperti pohon, dahan, akar tanaman yang menjulang, bahkan rumput rumput yang tumbuh subur di sekitar.


Merihim terus tertawa dengan sangat puas. Dia merasa sangat yakin akan memenangkan pertarungan ini. Kekuatannya memang cukup besar apalagi karena dia adalah makhluk yang sudah hidup selama ribuan tahun lamanya. Dia sudah menyerap berbagai macam energi dan jiwa manusia yang ada di sekitar tempat itu. Dan itulah makanan utama Merihim yang membuatnya menjadi sangat kuat. Apalagi saat Merihim pernah dianggap sebagai leluhur. Di saat itulah dia paling banyak menyerap energi dan jiwa manusia. Itu terjadi saat ayah Yusuf datang ke tempat itu sebagai mahasiswa kkn.


Yusuf yang mulai kesulitan bernafas, lantas berusaha meraih tas yang ada di punggungnya. Tangannya bergetar, karena tubuhnya seakan akan ditahan oleh sesuatu yang tak kasat mata. Perlahan dia berhasil melepaskan tas itu dan benda tersebut beralih ke samping. Namun saat tangan Yusuf hendak membuka resleting tas ransel itu, tiba tiba Merihim terbang mendekatinya. Dengan mudah makhluk itu mencekik leher Yusuf dan mengangkat tubuh Yusuf tinggi tinggi. Kaki Yusuf meronta ronta mencari pijakan. Tangannya yang sebenarnya sudah dekat dengan tas ransel, akhirnya semakin menjauh lagi.


"Ya Allah, Tolong hamba," gumam Yusuf dalam hati.


Mendadak orang orang yang awalnya menunggu di luar, masuk ke dalam. Teman-teman Yusuf datang menolong. Membuat angin ribut yang membuat tubuh 6 orang tadi terangkat ke atas, tiba tiba jatuh kembali ke bawah. Walau angin itu masih berembus kencang di sekitar goa itu. Hamdan, Imran, Lukman, Rasyad dan Zulham menolong teman temannya yang lain. Mereka serempak berdzikir dengan kalimat yang sama. Suara yang awalnya pelan, akhirnya makin kencang. Yusuf yang jatuh ke tanah juga, dengan sudah payah merangkak menuju tas ranselnya. Merihim yang mulai terganggu dengan dzikir mereka, lantas menutup telinga. Dzikir yang dikumandangkan memang tidak langsung memberikan pengaruh pada makhluk itu, tetapi kekuatannya melemah. Dan itu merupakan waktu yang tepat untuk mencari celah, menyerang balik.


Rasyad berlari mendekati Yusuf yang cukup kesulitan bergerak. "Suf, Suf! Kamu baik baik saja, kan?" tanya Rasyad sambil membantu memegangi kedua tangan Yusuf.


"Syad, ambilkan tas ransel ku, to—tolong," pintar Yusuf terbatas bata.


Rasyad mengangguk lalu bergegas mengambil tas ransel Yusuf yang memang tidak berada jauh dari mereka. Dia kembali, dan memberikan benda itu pada kawannya.


"Ini, Suf!"


Dengan sedikit kesulitan, Yusuf membuka tas itu dan mencari sesuatu di dalamnya. Namun pencarian itu tidak membutuhkan waktu lama, karena hanya dalam hitungan detik, Yusuf langsung mengeluarkan sebuah benda yang berbentuk seperti ... Boneka Jailangkung.


"Suf? Ini apa?" tanya Rasyad sedikit terkejut melihat benda yang dibawa oleh Yusuf.


"Boneka ini adalah kelemahan makhluk itu. Dia menyerap semua jiwa manusia melalui perantara boneka ini."


"Kamu dapat itu darimana?"


"Dari ayahku. Ayahku yang menyimpannya selama ini. Kata Ayah, boneka ini sengaja dijauhkan dari tempat ini dan makhluk itu agar kekuatan Merihim tidak bertambah kuat. Karena jika Merihim memiliki boneka ini, maka dia bisa pergi dari desa ini, dan mencari tempat baru untuk melanjutkan apa yang ia lakukan dulu," jelas Yusuf.


"Lalu bagaimana caranya?"


"Dia harus masuk ke boneka ini lalu di saat itulah kita bakar benda ini," jelasnya.


"Oke. Kalau begitu, ayo kita bertindak sekarang juga. Sebelum dia melakukan hal yang lebih buruk lagi," kata Rasyad.


Rasyad lantas mendekat ke teman temannya yang lain dan membisikkan apa yang Yusuf katakan tadi. Mereka paham apa yang harus dilakukan. Doa doa yang mereka baca berubah, tapi apa yang mereka ucapkan merupakan doa yang sama satu sama lain. Mereka bersebelas berjalan memutari Merihim yang kini berdiri sambil menjerit dan menutupi telinganya.


Hal ini memudahkan mereka untuk menyerang makhluk itu. Yusuf lantas mengangkat boneka jailangkung itu tinggi tinggi. Doa yang mereka ucapkan semakin membuat Merihim meronta. Hingga saat dia melihat benda yang ada di tangan Yusuf, tanpa pikir panjang Merihim langsung terbang menembus boneka itu dan masuk ke dalamnya untuk mendapatkan perlindungan.


Dahulu boneka jailangkung itu diletakkan di tengah hutan terlarang. Hutan terlarang adalah tempat satu-satunya yang tidak pernah didatangi oleh warga desa Kalimati. Mereka dilarang berkeliaran di tempat itu karena berbagai alasan. Terutama karena di hutan itu tempat Merihim berada. Warga desa menjadikan Merihim sebagai leluhur yang disembah dan selalu memberikan sesajen setiap hari hari tertentu. Hanya orang orang yang tertentu juga yang boleh memberikan sesajen itu. Biasanya yang melakukan ritual itu adalah dukun yang sudah ada di sana sejak dulu. Yah, Sukarta. Dia adalah salah satu pengikutnya. Sukarta juga sudah mengambil banyak keuntungan dari Merihim. Tetapi tentu saja itu adalah simbiosis mutualisme. Merihim memberikan apa yang Sukarta mau, apapun, dan Sukarta akan melakukan apapun yang Merihim perintahkan. Tak terkecuali menghabisi nyawa seseorang.


Merihim akan mendiami boneka itu dan biasanya dia akan berkeliaran dengan terbang menggunakan benda itu mengelilingi desa.


Boneka Jailangkung yang awalnya terasa ringan, mendadak menjadi berat. Bahkan tangan Yusuf seakan akan tidak kuat menahan beban dari boneka tersebut. Alhasil, Ghafar dan Zulham membantunya agar boneka itu tidak terlepas dari tangan Yusuf.


"Cepat! Lakukan!" jerit Ahsan pada teman temannya yang lain.


Mereka menunjuk ke tengah lingkaran yang mereka buat. Lalu tiba tiba ada percikan api di sana. Melihat hal itu, Yusuf, Ghafar, dan Zulham melemparkan boneka itu ke dalam percikan api. Boneka itu langsung terbakar. Seakan akan sudah disiram bensin agar nyala api yang di hasilkan menjadi besar. Dalam kobaran api, Boneka itu bergerak gerak. Tapi, mereka semua terus menggumamkan doa doa. Perlahan boneka itu hangus, meninggalkan bekas jelaga hitam di tanah. Seketika api pun padam setelah membakar habis benda itu beberapa saat yang lalu.


Angin kencang tadi pun mendadak hilang. Situasi sekitar menjadi lebih tenang. Mereka yang baru saja menyelesaikan misi, akhirnya bisa bernafas lega. Sebagian langsung merebahkan tubuh begitu saja di tanah karena rasa lelah yang timbul akibat pertempuran tadi. Ada yang memutuskan duduk duduk saja sambil menghirup udara lebih banyak untuk mengisi paru paru yang sempat kehabisan oksigen beberapa saat lalu.


"Gimana? Sudah berakhir, kan?" tanya Amirul sambil terus memperhatikan bekas kebakaran di tengah tengah mereka.


"Yah, aku berharap demikian," sahut Fajri.


"Tapi sepertinya dia sudah lenyap. Iya, kan, Suf?" tanya Fatan.


"Insya Allah. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Jadi untuk saat ini, kita serahkan saja pada Allah."


"Semoga saja hal buruk di tempat ini sudah berakhir," tukas Hamdan.


"Ya sudah. Sebaiknya kita pergi saja dari sini. Sepertinya keponakanmu sudah menunggu kita di luar, Suf," cetus Zulham.


"Iya, kau benar. Ayo, kita pergi."


Mereka pun sepakat meninggalkan tempat tersebut. Tidak ada korban jiwa, dan mereka justru memenangkan pertempuran tadi. Arden, Aretha, dan bersama teman teman yang menunggu di luar terkejut saat melihat Yusuf dan teman temannya keluar dari rumah itu.


"Pakde? Gimana? Apa yang terjadi?" tanya Aretha yang sangat penasaran. Walau sebenarnya yang lain juga penasaran pada apa yang terjadi, tapi mereka tidak ada yang berani bertanya langsung. Mereka masih cukup segan dengan Yusuf, yang selama ini dikenal sebagai sosok yang berwibawa dan ber karismatik. Tapi mereka semua kagum pada sosok Yusuf yang selalu datang di saat genting. Terutama saat mereka sedang mengalami kesulitan karena makhluk halus.


"Sudah selesai. Semua sudah berakhir, Aretha."


"Selesai? Jadi... Makhluk itu sudah dimusnahkan? Begitu, kah?" tanya Aretha meminta penjelasan lebih.

__ADS_1


Yusuf mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya. "insya Allah."


Aretha menoleh ke Radit yang berada di belakangnya. Dia memeluk suaminya dengan perasaan senang yang bercampur aduk. Sampai sampai kedua bola mata Aretha berkaca kaca setelah mengetahui apa yang terjadi di dalam.


"Kita pindah dulu ke sana, ada yang harus kita bahas bersama," pinta Yusuf menunjuk ke jalan desa yang berada di depan rumah ini.


Mereka semua berjalan kembali ke jalan utama. Jalanan yang belum diaspal dan hanya ditandai dengan batu batu Kerikil yang ditata rapi. Mereka kembali duduk di sana tanpa alas apapun. Sambil menikmati bekal yang sudah dibawa sebelumnya, berada kembali membahas mengenai apa yang terjadi dan apa yang akan mereka lakukan setelahnya.


"Insya Allah makhluk itu sudah lenyap. Semoga dia benar benar hilang dan tidak lagi mengusik tempat ini. Sebenarnya, semua ini berkat kakek. Karena ternyata jauh sebelum kalian ada di tempat ini, kakek Armand dulu pernah kkn di sini. Kakek pun mengalami hal hal aneh di luar nalar manusia, bahkan hampir merenggut nyawa teman teman kakek Armand, bahkan nyawa kakek Armand sendiri. Singkat cerita, Kakek berhasil menemukan kelemahan makhluk itu, dan benda tersebut sengaja kakek bawa pulang. Agar makhluk itu terpenjara di sini selamanya. Jadi tadi, Pakde membawanya ke sini lalu memenjarakan makhluk di dalamnya. Dengan demikian kita berhasil memusnahkan nya." Yusuf menjelaskan dengan detil apa yang terjadi di dalam rumah itu.


Aretha, dan teman temannya hanya diam sambil mendengarkan. Sesekali mereka geleng geleng kepala dan menunjukkan reaksi terkejut dan khawatir.


"Ya sudah. Sebaiknya kita pulang dulu. Besok Pakde kembali lagi ke sini bersama orang orang untuk merayakan bangunan di sini."


"Semua bangunan, Pakde?" tanya Danu.


"Iya semua. Sebaiknya semua rumah dan segala macam bangunan yang berdiri di desa ini, diruntuhkan. Oh, iya, Syad, bagaimana? Kamu bisa mengurusnya?" tanya Yusuf beralih ke kawannya.


"Insya Allah, bisa, Suf. Aku sudah menghubungi pihak terkait. Tapi perlu proses, dan aku harus ke sana untuk menjelaskan maksud dan tujuan kita."


"Oke. Aku ikut dengan mu, Syad."


"Baiklah."


"Kenapa, Pakde?" tanya Arden.


"Kalian tentu ingat, berita bahwa tempat ini akan dijadikan fasilitas umum oleh pemerintah daerah setempat?" tanya Yusuf.


Mereka hanya mengangguk mengiyakan pernyataan tersebut.


"Rasyad punya kenalan pegawai pemerintahan di daerah ini. Jadi kami akan mendatangi beliau untuk meminta agar program pembangunan di tempat ini Segera dilaksanakan. Sepertinya kami ingin membangun pondok pesantren di tempat ini. Pakde sudah membahasnya dengan beberapa teman Pakde yang lain. Dan mereka setuju untuk membantu Pak de membangun tempat ini menjadi pondok pesantren cabang. Dan jika Pemerintah daerah setempat menyetujui hal tersebut maka kami akan mengawasi pembangunan tempat ini dengan lebih teliti. Agar halal buruk yang mungkin akan terjadi lagi di sini bisa ditindaklanjuti."


"Syukurlah kalau begitu. Lega banget rasanya dengar itu," ucap Kiki.


"Iya, bener. Sepertinya itu ide yang bagus. Daripada dibangun tempat hiburan takutnya masih ada efek-efek buruk dari tempat ini yang bisa berbahaya bagi pengunjung yang hendak mengunjungi tempat ini nantinya," tambah Dedi


"Yah, itulah alasannya. Kebetulan pondok pesantren tempat Pakde menimba ilmu dulu, memang sedang membuka cabang baru. Karena jumlahnya peserta didik yang hendak masuk ke pondok meningkat maka pembangunan pondok pesantren cabang akan segera diresmikan."


"Akhirnya. Tapi memang ini tempat cocok banget buat dibangun pondok pesantren. Kalian situasi di sekitarnya yang sangat menunjang sekali untuk proses belajar anak-anak."


"Hehehe. Baik, Om. Nanti kami pasti hubungin Om kalau ada informasi itu," sahut Dedi.


Hari sudah beranjak sore. Sudah waktunya mereka meninggalkan tempat itu. Mereka pun berjalan keluar Desa Kalimati karena mobil di parkir di depan gerbang desa. Begitu sampai di depan gerbang Desa beberapa warga desa tetangga justru sedang berada di sana menunggu mereka keluar dari desa tersebut. Mereka tampak cemas saat mengetahui kalau ada insiden lain yang terjadi di tempat itu. Yusuf dan teman-temannya pun akhirnya memberikan klarifikasi atas apa yang terjadi dengan singkat. Dan untuk menenangkan warga desa setempat Mereka pun memberitahukan kalau teror Dusun Kalimati sudah berakhir dan sebentar lagi tempat tersebut akan dibangun menjadi pondok pesantren. Warga desa sekitar tampak antusias mendengar kabar tersebut. Warga desa Alas Purwo dan desa Alas Ketonggo tampaknya bisa tidur dengan nyenyak mulai hari ini. Karena teror dari makhluk yang menghuni dusun Kalimati sudah berakhir.


***


Karena hari sudah hampir malam maka sebagian dari mereka memutuskan untuk menginap di rumah Areta. Sudah teman-temannya memutuskan untuk kembali ke kota karena tugas mereka masih belum selesai dan PR mereka masih sangat banyak.


"Wah, gede juga rumahnya. Tapi horor juga sih rasanya. Pantas aja lo cerita kalau tempat ini angker, Tha!" cetus Dion.


"Kenapa emangnya?"


"Kelihatan dari luar. Hawanya agak ngeri ngeri sedap."


"Tapi, Tha, makam yang lo ceritain ada di belakang rumah ini gimana? Jadi dipindahin nggak?" tanya Doni.


"Jadi kok. Makam-makam itu dipindahkan. Polisi akhirnya menetapkan Bu Jum sebagai tersangka dan dalang dibalik kematian mereka berdua. Keisha dan Pak Purno. Akhirnya makam Keisha dan Pak Purno pun dipindahkan ke pemakaman umum yang ada di desa ini."


"Wah, pasti heboh banget ya. Setelah kasus ini terbongkar?" tanya Ari.


"Pastilah. Bahkan rumah ini pun sering didatangi warga desa yang ingin melihat langsung lokasi makam itu," kata Radit.


"Tapi soal penampakan di rumah ini gimana? Apa kalian sudah pernah bertemu dengan penampakan lain setelah kasus ini terbongkar?" tanya Danu.


"Belum, Dan. Mungkin karena kami fokus sama dusun Kalimati kemarin kali ya," pungkas Aretha


"Sudah nggak ada kok. Tempat ini sudah bersih, Dek."


"Yang bener, Den? Beneran kan ini?" tanya Radit.


"Lo itu aneh. Bukannya lo sendiri bisa lihat makhluk makhluk itu? Kenapa sih nggak lo periksa sendiri, Dit?" tanya Arden kesal.

__ADS_1


"Bukannya nggak mau, Den. Gue sekarang udah nggak bisa kayak gitu lagi. Nggak tahu kenapa. Yah, memang kadang bisa melihat hal hal seperti itu, tapi nggak bisa sedetil itu. Bahkan di kantor gue aja, yang ramai penampakan makhluk halus beberapa minggu terakhir ini, gue sendiri nggak pernah lihat seperti apa wujudnya!"


"Ya udah sih, Sayang. Justru bagus. Kamu jadi nggak terganggu sama hal hal seperti itu," cetus Aretha.


"Tapi kenapa bisa gitu, Tha? Aneh aja. Padahal aku pun perlu bisa menyadari keberadaan mereka. Jadi aku bisa melindungi kamu, nggak seperti kemarin. Rasanya aku seperti pecundang. Selama ini kamu selalu diganggu, tapi aku nggak bisa berbuat apa apa."


Tampaknya Radit benar benar frustrasi karena kemampuannya sedikit memudar.


"Mungkin karena lo kecapekan, Dit. Lagipula kerjaan lo banyak. Pasti lo sekarang lebih fokus sama kerjaan, jadi kemampuan lo sedikit berkurang. Bukan berarti hilang loh ya."


"Jadi kemungkinan bisa balik lagi, ya?"


"Iya. Karena gue lihat aura tubuh lo emang ganti ganti sih, tapi aura biru keunguan kadang masih kelihatan."


"Udah udah. Stop bahas soal setan! Mumpung di sini, sebaiknya kita menikmati liburan ini dengan bahagia!" pekik Danu.


***


Lima bulan kemudian.


"Mas Radit dan Mbak Aretha, sehat sehat ya di sana. Kalau ada waktu main ke sini. Sayang sekali, padahal saya sudah senang Mbak sama Mas ada di sini," harap Pak Slamet.


"Iya, Pak. Insya Allah, kalau kami ada waktu, nanti kami main lagi ke sini. Bapak sehat sehat terus, ya. Jangan terlalu banyak kerja kasar. Biar nggak gampang sakit," ujar Aretha.


"Baik, Mbak. Lagipula sudah ada Kinanti dan Ridho. Justru sekarang mereka melarang saya ke ladang. Tapi saya yang ngeyel. Hehee."


"Iya, benar itu, Mbak. Bapak nggak mau diam di rumah. Katanya kalau diam saja nanti badannya sakit sakit," tambah Ridho. Dia justru mengadukan apa yang terjadi pada keluarga mereka ke Aretha dan Radit.


"Boleh gerak, hitung hitung olahraga, Pak. Tapi jangan mencangkul lagi di ladang, ya. Lebih baik jalan santai saja tiap pagi. Biar sehat," celetuk Radit.


"Tenang saja, Mas. Nanti saya yang pantau Pak Slamet," ucap Ratno penuh semangat.


Hari ini Radit dan Aretha pindah dari rumah tersebut. Pekerjaan Radit di daerah itu sudah selesai dan kini dia akan kembali ke kantor pusat yang otomatis mereka akan kembali pulang ke rumah. Hampir 1 Tahun Lamanya Radit dan Aretha tinggal di tempat itu, sehingga ada perasaan berat saat mengetahui kalau mereka sudah tidak akan lagi tinggal di lingkungan itu. Terlebih lagi mereka berdua sudah akrab dengan sebagian besar warga desa dan mereka pun sudah berbaur dengan sangat baik selama ini. Tapi mereka pun tetap harus pergi dan kembali ke rumah seperti sebelumnya.


Tidak banyak yang dibawa oleh mereka berdua karena saat pindah Dulu pun mereka hanya membawa beberapa potong pakaian dan perlengkapan dapur saja. Sehingga kepindahan kali ini pun tidak membutuhkan kendaraan besar untuk mengangkut perabotan atau barang-barang mereka. Rasanya nggak ada sesuatu yang hilang saat mereka naik mobil meninggalkan tempat itu bersama Radit. Ada banyak sekali kenangan yang sudah mereka alami di sana bersama dengan warga desa dan juga makhluk tak kasat mata.


***


"Bunda nyuruh kita ke rumah Kakek," ucap Aretha saat Radit baru saja selesai mandi.


"Tumben?"


"Iya, katanya mau merayakan kepulangan kita."


"Wah, ya sudah kita siap siap sekarang."


Sejak Areta menikah dia memang sudah sangat jarang sekali pergi ke rumah kakeknya. Bahkan ke rumah orang tuanya sendiri saja bisa dihitung dengan jari. Tapi kali ini dia sangat bersemangat setelah tahu diundang oleh kakeknya untuk datang ke rumah. Mereka berdua pun bergegas untuk segera sampai ke rumah kakek Arman. Areta teringat dengan informasi yang baru ia ketahui dari Yusuf, tentang kenyataan kalau ternyata kakeknya justru pernah diteror oleh Merihim saat muda dulu. Areta penasaran dengan kisah tersebut, maka dia berniat akan menanyakan ke kakeknya nanti.


Rumah besar itu tampak ramai, karena seluruh keluarga berkumpul malam itu. Nisa, Adam, Yusuf dan anak anak mereka datang memenuhi undangan kakek nenek mereka. Tawa dan canda mengiringi suasana malam itu. Hingga saat suasana mulai tenang dan santai, Aretha mendekati kakeknya yang kini sedang duduk di teras rumah dengan ditemani kopi hitam andalannya.


"Eh, Cucu Kakek yang paling bikin anak kakek jantungan," ucap Armand bermaksud mencandai Aretha.


Areta hanya tersenyum Mendengar hal itu. Baginya perkataan kakeknya itu memang benar, dan dia tidak perlu tersinggung karena Aretha memang kerap membuat Nisa jantungan karena sering melakukan tindakan berbahaya.


"Kek, Retha penasaran deh soal kisah kakek yang kkn di dusun kalimati."


"Hm? Penasaran apanya? Sepertinya Pakde mu sudah menceritakan semua ke kamu?" tanya Armand.


"Iya, tapi Reta ingin Dengar langsung dari kakek. Ayolah, Kek, ceritakan!" rengeknya pada pria yang umurnya sudah lebih dari setengah abad itu.


Hermawan, Yang biasa dipanggil Armand itu hanya tersenyum. Dia paham betul bagaimana karakter cucunya Aretha itu. Karena setiap kali dia melihat Areta,Hermawan teringat pada Putri semata wayangnya, Nisa, yang tidak lain adalah Ibunda Aretha sendiri.


" Jadi kamu mau mendengar kisah itu?"


"Iya, Kek!"


"Hm? Mulai dari mana, ya? Kakek bingung."


"Dari awal. Dari pas kakek masih di kampus. Siapa teman teman kakek, terus kenapa kok memilih tempat itu, dan apa saja yang terjadi di sana?"


"Heh! Kamu ini sudah mirip wartawan saja!"

__ADS_1


"Hehehe. Sebenarnya itu cita cita terpendam Retha, Kek!"


"Ada ada saja!" kata Armand tertawa.


__ADS_2