Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 31 keanehan Citra


__ADS_3

"Eh, Nabila pernah cerita. Kalau ada kuntilanak yang bisa berubah menjadi manusia kalau ubun - ubunnya ditancapkan paku khusus."


"Terus? Maksud lo, Citra itu kuntilanak?"


"Bukan! Tapi mungkin nggak sih, kalau Kak Citra itu anak kuntilanak merah tersebut?"


"Anak kuntilanak? Wow, gila!"


"Yakin, anak kuntilanak?"


"Eh, kalian coba pikir aja. Kalau memang Kak Citra itu kuntilanak, kenapa malah ada kemunculan dua makhluk itu? Terus, sikap dia yang tertutup, bahkan hilang kemarin bisa jadi salah satu faktor, kan? Ke mana dia pergi? Kita udah cari sampai tiap sudut loh! Nggak ketemu! Malah dia udah balik sendiri! Itu aneh, gaes!"


"Iya, bener! Masuk akal sih kalau Kak Citra anak kuntilanak. *****, rupanya bener - bener ada, ya?"


Anak kuntilanak? Aku baru pernah mendengarnya. Apakah  teori ini masuk akal? Walau rasanya ini tidak masuk logika, tapi aku tetap harus menimbang berbagai kemungkinan.


"Sst," desis Bintang sambil melirik ke pintu. Kami serempak menoleh dan mendapati Citra ada di sana bersama Ari. Mereka sudah memakai baju olahraga, dan mengambil sepeda yang memang sudah dipersiapkan jauh - jauh hari.


"Ari aman nggak, ya, kira - kira?" tanyaku berbisik pada mereka. Yah, keselamatan Ari tentu patut dipertanyakan, karena jika benar Citra anak kuntilanak, maka ada kemungkinan besar dia memiliki niat terselubung pada Ari, atau bahkan pada kami.


"Kita awasi saja mereka, terutama Citra."


Pagi ini kami mulai melakukan aktivitas, rencana hari ini kami akan pulang, guna mengurangi tingkat kecemasan dalam diri masing - masing, karena kejadian kemarin yang cukup membuat semua orang terkejut dan ketakutan.


Siang nanti kami semua berencana akan pulang, karena suasana di tempat ini sebenarnya sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Kami ingin menghabiskan waktu di sini sebentar. Apalagi cuaca sangat cerah pagi ini. Semua orang berpencar dengan kesibukan masing - masing. Aku memperhatikan mereka, dan semua apa yang hendak mereka lakukan. Oliie terlihat jauh lebih baik pagi ini, dia sudah bercengkerama kembali dengan teman - temannya yang lain. Kebanyakan dari mereka memutuskan mengelilingi hutan di sekitar, entah dengan menggunakan sepeda, atau motor trail yang sudah mereka persiapkan. Ada jalur khusus untuk kendaraan tersebut, dan memang kegiatan inilah yang menjadikan ciri khas tempat ini.


Hanya ada dua orang yang ada di vila tempat Rayi menginap, Rayi sendiri dan Bintang. Teman - temannya kini sedang melakukan penjelajahan di hutan sekitar. Sementara di vila yang aku tempati ada aku, Radit, dan Danu. Mereka sedang memeriksa mobil karena memastikan kalau kendaraan yang akan kami naiki aman untuk perjalanan pulang nanti.


Aku yang sejak tadi duduk di teras, sambil mengetik, kini mulai lelah dan jenuh. Aku merentangkan kedua tangan ke atas, menghirup kembali udara sekitar yang terasa masih sejuk, walau matahari sudah muncul.

__ADS_1


"'Dit, aku ke sana, ya," tunjukku ke sisi tebing. Radit mendongak lalu menatap tempat yang aku tunjuk tersebut, dia lantas mengangguk dengan tangan yang sudah belepotan oli, bersama Danu.


Semilir angin laut terasa kencang berembus. Menabrak tubuhku yang tengah berjalan mendekati hamparan lautan lepas di bawah sana. Kini aku sudah berada di sisi tebing yang memang diberi pagar pembatas. Di bawah sana ada pantai dengan banyak batu karang di bawahnya, tidak ada pantai yang berpasir dan cocok untuk bermain, atau sekedar membuat istana pasir dan bola voli. Batu karang di sana besar - besar. Tapi justru sangat indah dilihat. Sepertinya tempat itu juga cocok untuk mengabadikan foto sebagai kenang - kenangan.


Aku mulai merapatkan jaket. Laut tidak akan pernah membosankan untuk aku pandang. Tenang dan misterius, namun indah jika dilihat dari tempat ku berdiri sekarang.


"Argh! Gila! Nggak mungkin terulang lagi, kan sekarang?!" jerit Danu yang berteriak kesal. Aku menoleh dan mendapati mereka berdua mulai kesal. Akhirnya aku mengakhiri menikmati laut, dan kembali pada mereka. Sepetinya ada yang tidak beres dengan mobil kami. Matahari makin terik menunjukkan sebentar lagi saat nya azan dzuhur.


"Kenapa?" tanyaku yang ikut melongok ke mesin mobil yang sedang mereka berdua pandangi sejak tadi.


"Aneh banget, Tha! Sumpah. Nggak ngerti gue!" pekik Danu masih terlihat kesal sambil menatap mesin mobil.


"Apanya?! Jangan bilang kalau mobilnya rusak lagi?"


"...." RAdit hanya diam sambil terus berusaha mengutak - atik mesin tersebut.


"Dit? Dan?!" panggilku agar mereka berdua menjawab pertanyaan, yang membuatku makin gelisah sekarang. Radit menarik nafas dalam, ia lantas menatapku dengan raut wajah putus asa.


Aku diam, menatap benda di depanku ini. Mulai yakin jika memang ada hal aneh, aku mengalihkan pandangan ke sekitar. Sampai pada akhirnya suara motor terdengar dari kejauhan, teman - teman mulai berdatangan dari hutan.


"Bang Ari jatuh!" jerit Roger yang datang memakai motor trail.


Pernyataannya tentu membuat kami terkejut, apalagi Roger datang seorang diri. Dia lantas berhenti dan memarkirkan motornya.


"Maksudnya apa? Ari jatuh di mana?" tanya Radit sambil membersihkan kedua tangannya yang hitam.


"Itu, Bang. Jatuh ke jurang!" jelas Roger menunjuk ke suatu tempat.


"Kok bisa?" tanya Danu. Kami mengerubungi Roger dan bertanya banyak hal.

__ADS_1


"Aku suruh ambil tali!"


Danu segera masuk ke dalam, mencari tali yang dimaksud oleh Roger. Sambil menunggu, dia lantas menceritakan kejadian tiap detailnya pada kami.


"Sayang, kamu sini aja, ya? Aku sama Danu coba tolong Ari, siapa tau mereka butuh bantuan kami." Radit menatapku sedikit ragu dengan keputusannya itu.


"Biar Kak Aretha sama kami saja," ucap Rayi, yakin.


"Bagaimana?" Radit kembali bertanya padaku. Akhirnya aku mengangguk setuju.


Danu keluar dengan gulungan tali yang sepertinya cukup panjang. Mereka lantas segera pergi menyusul yang lain. Kiki dan Doni kembali dengan berjalan kaki, dan bingung melihat kepergian mereka yang terkesan tiba - tiba.


"Kenapa sih?" tanya Doni padaku.


"Ari ... jatuh ke jurang!"


"Hah?! Serius lu?"


"Citra mana?" tanyaku ke mereka berdua.


"Perasaan dia udah balik. Tadi katanya dia capek," jelas Kiki.


"Yakin, mana? Nggak ada!" cetusku sambil menunjuk vila yang memang kosong.


"Kak ...," gumam Rayi menatap dengan tajam ke arah pintu vila. Kami menoleh dan mendapati Citra sedang mengeringkan rambut, seperti habis mandi.


"Sejak kapan dia masuk ke dalam? Padahal dari tadi aku sama sekali ngga lihat ada orang masuk loh," cetusku yakin.


"Sama. Kami juga nggak lihat ada orang masuk vila kakak. Kalau ada, pasti kami lihat, iya kan, Yi?" tanya Bintang, dan diakhiri anggukan Rayi.

__ADS_1


"Teman lu, makhluk apa sih, Ki!" sindirku mulai jengah.


"Hah?! Makhluk apa?! Maksud lo?!" Kiki sedikit menjerit dan bingung pada pertanyaanku.


__ADS_2