
Di tempat lain, rumah posko kkn tepatnya. Empat orang pria dewasa sedang duduk di teras ditemani kopi dan aneka gorengan. Untungnya stok singkong serta ubi masih ada di dapur. Sehingga mereka bisa menyuguhkan pada tamu istimewa mereka pagi ini.
"Katanya ada sungai di dekat sini?" tanya Syarif.
"Iya, Daniel bilang mereka mandi di sana. Ternyata desa ini masih kekurangan fasilitas rumah sehat, ya," sahut Pandu
"Maka dari itu, tugas Daniel serta teman temannya adalah memajukan daerah ini agar bisa mendapatkan banyak kemajuan," cetus Kyai.
"Benar, Kyai. Ngomong ngomong saya jadi ingin mandi," cetus Pandu.
"Ya sudah. Mandi sana. Syarif juga mandi. Pak Muh mau mandi juga?" tanya Kyai.
"Wah, saya tidak membawa pakaian ganti, Kyai. Saya pikir cuma semalam saja di sini, ternyata lebih lama."
"Kalau bapak mau, pakai baju saya saja. Saya bawa beberapa baju ganti kok," ucap Syarif.
"Wah, yang benar, Mas. Apa tidak apa apa?"
"Nggak apa apa kok, Pak. Pakai saja."
"Ya sudah kita mandi sekarang saja."
Mereka berempat pun mandi ke sungai. Sebelumnya Daniel sudah menjelaskan bagaimana letak desa ini dengan semua fasilitas yang ada. Bahkan informasi mengenai tempat di mana ada sesajen juga sudah diberitahukan sebelumnya.
"Sepertinya ke sini jalannya," kata Pandu saat mereka menemukan jalan setapak dengan suara gemericik air.
"Sepertinya benar. Kata Mas Armand juga letak sungai tidak terlalu jauh dari rumah," sahut Pak Muh.
Mereka mengikuti jalur tersebut, hingga akhirnya mereka benar benar menemukan sungai yang dimaksud. Rupanya kondisi sungai pagi ini agak ramai. Ada sekitar 3 orang yang sedang mandi di sungai itu dengan jarak yang berjauhan.
"Kyai, saya buatkan penutup dulu, ya. Supaya Kyai bisa mandi dengan tenang," ucap Pandu.
"Ah, tidak perlu. Saya mandi seperti kalian saja. Ayo, jangan membuang waktu," timpal Kyai lalu berjalan lebih dulu ke sungai yang hanya berjarak 5 meter dari mereka.
Mereka pun akhirnya mandi dengan jarak yang berdekatan satu sama lain. Tetap berusaha menjaga aurat, mereka mandi dengan celana pendek saja. Kyai yang merupakan orang yang istimewa bagi mereka, tidak tampak canggung mandi di tempat terbuka seperti ini. Sekalipun matahari belum keluar sepenuhnya tetapi suasana di desa tidak terlalu dingin. Alhasil mereka bisa mandi dengan tenang.
Hanya butuh waktu sekitar 30 menit saja, mereka akhirnya sudah selesai mandi dan kini tubuh pun segar.
"Aneh," gumam Pak Muh sambil memperhatikan sekitar.
"Apanya yang aneh, Pak?" tanya Pandu.
"Itu, orang orang itu. Kenapa mereka nggak selesai juga, ya. Padahal mereka hanya mandi."
Otomatis semua orang ikut menoleh ke sekitar, di mana orang orang tadi masih berdiri di tempatnya. Akhirnya mereka pun menyadari kalau ada keanehan yang terjadi pada orang-orang tersebut. Sejak mereka datang ke sungai tiga orang tadi melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Jika seseorang mandi tentu hanya akan melakukan kegiatan itu selama satu kali dan selesai begitu saja, tetapi yang terjadi pada 3 orang di sekitar mereka, justru seperti terus mengulangi kegiatan yang sedang mereka lakukan. Mereka tidak berhenti melakukan itu dan terus mengulanginya. Menyeramkan air ke kepala, membasuh wajah, memberikan sabun ke sekujur tubuh, lalu membilasnya. Semua itu dilakukan berulang kali sehingga mereka tidak juga selesai dalam kegiatan mandi kali ini.
"Kyai... Mereka kenapa?" tanya Pandu.
"Mereka bukan manusia," ucap Syarif.
"Ah, sudah kuduga. Kelakuan mereka memang aneh sejak awal," tambah Pandu.
"Duh, kalau gitu sebaiknya kita segera pergi saja dari sini," kata Pak Muh mulai ketakutan.
"Mari, kita pulang saja," ajak Kyai.
"Tapi mereka bagaimana, Kyai?" tanya Pandu.
" Biarkan saja dulu. Mereka tidak akan berani mendekat."
Akhirnya tanpa melakukan apapun mereka berempat sekarang meninggalkan sungai dan kembali ke rumah. Dalam perjalanan pulang, langkah mereka tampaknya salah. Karena arah yang mereka pilih Bukannya ke rumah posko KKN melainkan ke arah pemakaman.
"Ini, kok beda sama yang tadi, ya?" tanya Pak Muh.
"Wah, bener. Sepertinya kita tersesat," sahut Syarif.
"Tapi di sana ada rumah. Sebaiknya kita tanyakan ke orang di sana, arah jalan pulang," kata Ustad.
__ADS_1
Kebetulan pagi itu istri pak Sobri sedang menyapu halaman depan rumah. Itulah alasan kenapa Kyai mengajak mereka untuk bertanya lebih dulu. Karena mereka bertemu dengan manusia. Melihat ada sekelompok orang yang mendekat, istri Pak Sobri lantas memperhatikan orang orang itu. Sambil memperbaiki sapu lidinya dia terus menatap 4 pria yang kini berjalan ke arahnya.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Permisi Bu. Saya mau tanya, kalau ke arah rumah posko KKN mahasiswa ke arah mana ya?" tanya Pandu berusaha bersikap sopan dan ramah.
"Oh, tempat tinggal mahasiswa itu? Masnya Silakan lewat ke arah sana, nanti lurus aja. Nah udah dekat kok sebenarnya," jelas wanita paruh baya itu sambil menunjuk ke arah belakang mereka.
"Oh ke sana, ya? Semalam kami menginap di sana Lalu pagi ini berencana untuk mandi ke sungai. Tapi tiba-tiba kami malah tersesat," sahut Kyai.
"Bu, siapa?" Tanya seseorang yang berasal dari dalam rumah.
"Ini Pak ada tamu. Mereka semalam menginap di rumah mahasiswa itu Terus tadi pagi mereka tersesat setelah pergi ke sungai."
Pemilik rumah justru masih tetap berada di ruang tamu bersembunyi di belakang gorden. Dia sama sekali tidak ingin keluar bahkan untuk sekedar basa-basi belaka. Sikapnya sangat berbeda sekali dengan para mahasiswa kkn itu.
"Maaf, Apakah Bapak yang bernama Pak Sobri?" tanya Kyai.
Setelah mandi Kyai memang hanya mengenakan kaos lengan pendek ditambah dengan celana pendek selutut saja. Apalagi ditambah dengan handuk kecil yang tersampir di lehernya. Bahkan orang lain pasti tidak akan mengira Kalau pria itu adalah seorang Kyai.
Istri Pak Sobri hanya berdiri di tengah-tengah mereka. Sesekali ia menoleh ke belakang berharap suaminya bisa keluar dari rumah dan menyambut tamu-tamu tersebut seperti biasanya.
"Pak, ini ditanya kok diam aja," kata wanita tersebut.
Setelah menunggu beberapa detik akhirnya Pak Sobri pun keluar dari rumah dengan tampang serius.
"Kalian mau apa ke sini?" tanyanya ketus.
Mendengar pertanyaan itu Pak Kyai lantas tersenyum. Dia melangkah satu langkah ke depan agar jaraknya dengan pemilik Rumah itu bisa lebih dekat.
"Kami hanya tersesat. Tidak tahu jalan pulang dan tiba-tiba kami sudah sampai di rumah bapak. Oh iya, murid saya sering bercerita banyak Mengenai bapak. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan Bapak selama ini."
"Tidak apa-apa, tidak usah sungkan. Saya hanya menjalankan yang seharusnya saya kerjakan."
"Ada tamu kok malah dibiarin aja sih. Mari masuk dulu mas mas semuanya," ajak Istri Pak Sobri.
Mereka berempat tentu merasa sungkan apalagi melihat ekspresi wajah Pak Sobri yang tidak suka dengan kehadiran mereka ke rumahnya.
"Tidak apa apa, Pak. Silakan duduk," ajak Istri Pak Sobri sedikit memaksa.
"Rupanya Desa ini sangat ramai, ya?" tanya Kyai.
Pandu dan Syarif hanya saling tatap dengan penuh arti. Mereka berdua tidak berani menjawab ataupun bertanya kepada Pak Sobri.
" ramai seperti apa yang kau maksudkan?"
" makhlukNya."
"Selalu Maksudmu apa mengatakan hal seperti itu. Aku tahu kalau kalian itu adalah tamu anak-anak mahasiswa itu. Jadi sebaiknya Kalian tidak usah mencampuri urusan Desa ini jika tidak ingin mendapatkan masalah di kemudian hari seperti mereka," ancam pak Sobri.
"Kalau begitu saya datang ke orang yang tepat. Mendengar Perkataanmu tadi artinya kau mengerti dan memahami apa yang sebenarnya terjadi di Desa ini kan?"
"Iya, karena aku pun kerap memberikan bantuan kepada mereka."
"Bantuan seperti apa yang kamu maksud. Bukannya semua ini adalah ulahmu?" tanya Pandu yang semakin lama semakin emosi saja.
"Pak Sobri, Saya yakin anda mengetahui banyak hal yang terjadi di Desa ini. Jadi tidak ada salahnya jika Bapak mau menceritakan kehidupan di sini," kata Pandu.
"apa yang ingin kalian tahu? Aku peringatkan sekali lagi sebaiknya kalian segera pergi dari tempat ini sebelum terjadi hal-hal yang lebih buruk lagi."
" Apakah benar kalau bapak bersekutu dengan iblis?" tanya Syarif.
"Heh! Apa apaan itu! Tuduhan mu tidak berarti. Saya tidak melakukan apa yang kalian pikirkan."
" Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Kalau memang Bapak tidak ingin bersekutu dengan iblis, lebih baik Bapak ceritakan saja apa yang Bapak ketahui. Karena informasi apapun sangat berarti bagi kami sekarang."
Pak Sobri diam beberapa saat. Dia akhirnya menarik nafas panjang bersamaan dengan itu teh hangat yang baru saja dibuat oleh Bu Sobri kini sudah datang.
" saya tahu kalau nama saya sudah sangat jelek di mata kalian terutama para mahasiswa itu. Saya juga tahu kalau kalian menganggap saya ini pengabdi setan, yang telah menjadi kaki tangan makhluk itu selama ini. Benar, kan?"
__ADS_1
"Yah, benar."
"Jadi sebenarnya cerita yang sesuai dengan kenyataannya Bagaimana Pak?"
"Bukan saya yang melakukan perjanjian dengan iblis atau menjadi kaki tangan iblis itu. Kalian semua Salah besar. Justru selama ini Saya berusaha untuk melindungi semua orang yang berada di desa ini. Saya tahu kalau Mas Arman mengikuti saya masuk ke dalam Goa yang ada di seberang sungai. Sayangnya Mas Arman tidak melihat apa yang terjadi di sana. Sehingga dia menyimpulkan sendiri melalui persepsinya."
" Memangnya Apa yang sedang Bapak lakukan di gua itu? Ya wajar saja kalau Arman berpikir yang tidak-tidak. Karena bapak sendiri melakukan hal-hal yang aneh."
" makhluk itu memang sudah berada di sini Selama ratusan tahun yang lalu. Dan keluarga saya sudah secara turun-temurun berusaha untuk melindungi Desa ini dari pengaruh buruk makhluk tersebut. Dia adalah merihim. Salah satu iblis yang pintar memanipulasi."
"Jadi namanya merihim?"
"Yah, merihim selalu berusaha memakan jiwa manusia di desa. Dia menebarkan teror di mana mana agar warga takut. Setiap malam jumat dia akan berkeliling desa untuk mencari mangsanya. Jika dia tidak mendapatkan mangsa, maka dia akan marah dan membuat kekacauan di desa. Dulu, ladang kami sering gagal panen. Itu karena kami tidak menuruti permintaan merihim. Karena saya tidak ingin banyak korban jiwa yang berjatuhan, maka saya bernegosiasi dengan makhluk itu untuk menukar persembahan dengan binatang ternak."
Merihim adalah nama iblis mengerikan yang dikenal banyak orang sebagai "Kematian Merah", serta menjadi roh penyakit sampar dan Pangeran Neraka. Dia juga dinyatakan sebagai Red Death yang penuh teka-teki.
Merihem diyakini pernah menjadi malaikat cantik yang merupakan bagian dari garnisun malaikat penghancur di Surga, yang melibatkan dia dikirim oleh Tuhan bersama para pengikutnya untuk menghancurkan musuh Tuhan dengan prasangka ekstrim. Namun, tidak seperti kebanyakan Malaikat Penghancur lainnya, Merihem tercatat sebagai yang paling kejam dan kejam dari kelompok itu. Mengalami gelombang euforia dan ekstasi setiap kali dia mandi darah bidat dan kafir.
Tetapi Tuhan tidak menyukai kebiasaannya mandi darah musuh-musuhnya itu. Sehingga merihim pun diusir dari surga. Masuk akal memang jika makhluk itu memiliki kekuatan yang sangat besar mengingat Bagaimana sejarahnya dulu.
"Tukar mangsa?"
"Betul, Mas. Setiap malam jumat tiba, saya akan membawa hewan ternak untuk makanan makhluk itu. Saya tahu, kalau sikap saya sangat salah. Saya yakin kalian pasti akan menyalahkan saya karena mengikuti keinginan iblis itu. Silakan. Tapi saya melakukan ini untuk kepentingan bersama. Diam-diam saya memberikan persembahan lain agar makhluk hidup tidak memangsa kami. Tapi tidak semua usaha saya membuahkan hasil. Karena beberapa kali saya juga gagal untuk melakukan negosiasi, sehingga menyebabkan terbunuhnya beberapa orang yang tinggal di desa ini."
Mendengar Penjelasan itu mereka berempat sedikit ragu untuk terus memberikan tuduhan kepada Pak Sobri. Apalagi raut wajah hanya menunjukkan ekspresi yang sangat serius. Pandu, Syarif, dan Pak Muh saling tatap. Tatapan mereka berakhir kepada Kyai.
" Kenapa anda tidak meminta bantuan? Saya yakin di luar sana masih banyak orang yang akan dan bersedia membantu jika dimintai bantuan."
" saya tidak bisa ke mana-mana. Saya tidak bisa pergi dari Desa ini. Jika saya nekat meninggalkan Desa ini maka saya akan langsung mati. Saya memang menukar jiwa saya untuk keselamatan warga desa di sini. Dengan syarat saya tidak akan pergi meninggalkan tempat ini, maka merihim tidak akan mengganggu warga desa."
" maksud bapak bagaimana? Bapak bilang kalau bapak bukan anak buah iblis itu tapi kenapa sekarang berbeda pengakuannya?"
" sebenarnya kaki tangan iblis itu bukan hanya saya saja. Ada orang lain yang Justru lebih tamak daripada saya karena dia mendapatkan keinginannya setelah menjalankan kewajibannya."
"Maksud Bapak? Siapa?"
" seseorang yang memiliki pengaruh besar di Desa ini. Dia adalah kaki tangan merihim yang sebenarnya. Dia juga yang membawa kalian datang ke desa ini. Sebentar saya tidak mendapatkan apapun dan memang tidak meminta apapun pada merihim. Yang saya minta hanyalah ketenangan di desa ini dan agar dia bisa berhenti mengambil nyawa manusia. Kalian tahu sendiri kan Seberapa luas area pemakaman di desa ini dan banyaknya batu nisan itu menunjukkan kalau dulu di tempat ini sangat ramai. Sampai akhirnya merihim mulai mengambil nyawa manusia satu persatu."
" Jadi maksudnya Bapak mengganti nyawa manusia itu dengan hewan ternak untuk persembahan kepada merihim?"
"Betul, Mas. Tapi sepertinya dia sudah mulai bosan dengan hewan ternak yang saya berikan. Karena mini dia justru mengincar para mahasiswa itu."
" jadi goa yang sering bapak datangi itu adalah markasnya?" tanya Pandu.
"Iya, maksudnya tempat itu memiliki segala macam barang milik merihim. Saya pernah mendengar dari ayah saya dulu kalau Merihim memiliki kelemahan yang ia letakkan di dalam gua itu. Selama ini saya sudah berusaha untuk mencari kelemahannya bisa memusnahkan makhluk hidup tapi sampai sekarang saya belum menemukannya juga. "
" kelemahan? Jadi Merihim memiliki kelemahan?"
"Benar. Selama puluhan tahun Saya berusaha untuk mencari kelemahan Merihim di gua itu, tetapi saya tidak bisa menemukan apapun."
"Tunggu, Pak. Maksud Bapak orang lain yang menjadi kaki tangan Merihim adalah orang yang sangat berpengaruh di desa ini?" tanya Pandu.
" Apa mungkin itu adalah Pak Kades?" tanya Syarif.
Namun Pak Sobri justru Diam tidak menanggapi apapun, seakan-akan dia tidak ingin orang lain mengetahui rahasia tersebut. Padahal dia sudah memberikan contekannya.
"Sebaiknya kalian segera pulang karena sebentar lagi pasti mahasiswa itu sudah kembali ke rumah. Kasihan kalau nanti mereka kebingungan mencari kalian."
Akhirnya mereka berempat pun segera pergi dari rumah Pak Sobri dan berjalan pulang. Tanpa terasa Azan zuhur terdengar berkumandang dari kejauhan.
"Alhamdulillah. Kita salat jamaah lagi saja ya."
"Iya, Kyai. "
***
"Man, kamu serius kita datang ke tempat ini berdua aja?" tanya Daniel.
__ADS_1
Mereka kini sudah sampai di area pemakaman. Seperti biasa tempat itu sangat sepi. Bahkan Arman penuh menyadari kalau banyak sekali Batu Nisan yang tidak pernah mendapatkan kunjungan dari keluarga. Rumput rumput liar mulai tumbuh dengan sekitar makam-makam tersebut.
Mereka berdua kini sudah sampai di hadapan patung batu itu. Arman langsung mengambil palu yang ia letakkan di belakang tubuhnya dan memukulkannya ke patung batu tersebut.