
Mereka berempat berjalan menyusuri hutan. Yang namanya hutan tentu tempat nya luas. Mereka bahkan tidak tahu seluas apa hutan hutan di sekitar desa. Karena mereka belum pernah masuk lebih dalam ke hutan hutan tersebut. Paling hanya berjalan di sekitar jalur yang biasa dipakai warga untuk jalan pintas menuju pemakaman. Apalagi jalur tersebut sudah berbentuk seperti jalur-jalur pendakian. Jadi kemungkinan tersesat sangat kecil kalau tetap pada jalur tersebut.
"Eh, lihat ini!" tunjuk Armand.
"Jejak kaki! Masih baru?" tanya Sule.
"Sepertinya masih baru. Lihat jejak kaki lain di sekitarnya, sudah agak pudar, kan? Sementara yang ini masih jelas sekali!" tukas Daniel.
Mereka jongkok untuk bisa mengamati jejak kaki itu dengan lebih jelas. Apalagi saat ini suasana sekitar pun terasa temaram. Walau dengan bantuan senter, tetap saja terasa berbeda.
"Sepertinya ini mengarah ke pemakaman. Lihat, kan? Jejak ini terus berjalan lurus ke sana. Nggak ada arah ke kiri ataupun ke kanan?" tanya Cendol.
"Iya, benar sekali. Kalau begitu sebaiknya kita segera ke sana. Lebih cepat lebih baik!" kata Daniel.
Baru kali ini wajah Daniel tampak cemas dan cukup tegang. Biasanya dia selalu tenang dalam menghadapi masalah apa pun, tetapi kali ini sungguh berbeda. Mereka pun berkata pergi ke arah pemakaman. Sambil menatap sekitar mereka tetap waspada dengan apapun yang mungkin saja sedang mengintai mereka sekarang.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di area pemakaman. Begitu masuk ke dalam pemakaman tersebut mereka Langsung melihat keberadaan Fendi yang kini sedang dalam posisi bersujud di depan mata air. Tentu saja hal ini sungguh aneh bagi mereka semua. Sekalipun mereka tahu kalau Fendi saat ini sedang kerasukan setan, tetapi tindakan yang dilakukan terasa janggal dan tidak seperti manusia lain.
"Fen —!" Saat Cendol hendak Memanggil nama Fendy, tiba tiba Armand menahannya. Mereka yang awalnya bersemangat mendekat ke tempat Fendi, mendadak berhenti berjalan.
"Ssst. Lihat sekitar!" tukas Armand dengan berbisik.
Dia menyuruh teman-temannya untuk memperhatikan apa yang ada di sekitar mereka. Tanpa mereka sadari sebelumnya ternyata area pemakaman ini menjadi sangat ramai dengan berbagai macam makhluk halus dengan beraneka ragam bentuk dan jenisnya. Ada kuntilanak merah hitam, putih, lalu beberapa pocong yang tersebar di sekitar, ditambah makhluk berwarna hijau yang berbadan besar. Tidak lupa ada beberapa anak kecil atau sebenarnya adalah manusia kerdil yang berlarian di sekitar area pemakaman. Armand dan teman temannya seolah-olah seperti membeku. Mereka tidak berani bergerak sedikit pun. Sambil memperhatikan sekitar, untuk mengetahui Bagaimana reaksi makhluk-makhluk itu saat mereka datang.
"Gimana ini? Kita harus apa sekarang?" tanya Daniel berbisik.
"Yang jelas kita tetap harus membawa Fendi pergi dari sini. Apapun yang terjadi!" tutur Sule.
"Gimana caranya?" tanya Cendol.
Mereka semua terdiam, sambil berpikir keras mengenai rencana yang hendak dilakukan untuk membawa pergi teman mereka yang saat ini sedang dalam pengaruh makhluk halus.
Fendi yang sejak tadi bersujud mirip sekali dengan patung batu yang berada di tengah mata air.
"Tunggu! Kenapa kita nggak minta bantuan Pak Sobri saja? Bukannya rumah beliau tidak jauh dari sini?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Iya, bener itu!" tambah Cendol.
" tetap saja kita harus melewati Fendi untuk bisa sampai ke rumah pak Sobri. Jadi sebaiknya kita langsung saja bawa Fendi pergi dari sini. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Apalagi makhluk-makhluk di sekitar sudah menyadari keberadaan kita sekarang!" bisik Armand.
"Langsung kita bawa aja?" tanya Sule.
"Iya! Ayo!" ajak Armand.
Mereka berempat pun berjalan mengikuti Arman yang tampak tidak takut sama sekali. Begitu sudah sampai di dekat Fendi mereka berusaha menyadarkan teman mereka itu.
"Fen! Lagi ngapain sih lo? Ayo, pergi dari sini!" ajak Armand.
"Iya, Fen! Ayo, pulang. Jangan di sini! Serem!" tambah Cendol.
"Fen, kita nggak mau jadi santapan setan setan di sini, ya! Ayo, sadar!" tambah Sule
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat mulus yang di pipi Fendi. Rupanya Sule tidak segan segan memakai kekerasan untuk menyadarkan temannya. Ajaibnya, Fendi bergerak. Dia seakan akan telah bangun dari tidur, dan terkejut saat melihat ke sekitar.
"Loh, kok kita di sini?" tanyanya sambil menatap teman temannya di sekitar.
Dia lantas membantu Fendi berdiri bersama yang lain. Tapi ternyata perjuangan mereka untuk bisa keluar dari tempat tersebut tidak semulus perkiraan. Karena kini mendadak kaki Fendi lemas bagai tak bertulang. Di saat genting seperti sekarang, ditambah situasi Fendi yang aneh, membuat malam itu menjadi sedikit dramatis. Karena mengetahui kalau Fendi tidak bisa berjalan mereka berempat pun ber inisiatif untuk mengangkat tubuh Fendi.
"Gila! Berat banget! As—ta—ga!" ucap Sule dengan wajah merah padam karena berusaha mengangkat tubuh Fendi yang terasa sangat berat.
"Sum—pah! Lo itu manusia apa batu sih, Fen!" tambah Cendol.
Ekspresi mereka berempat tampak sama. Sama sama kesulitan mengangkat Fendi yang sebenarnya memiliki tubuh yang tidak terlalu besar karena dia pun sebenarnya tidak terlalu tinggi. Jadi untuk ukuran tubuh seperti Vini rasanya akan sangat mudah diangkat hanya dengan 1 orang saja. Tapi anehnya saat ini diangkat 4 orang sekalipun, tubuh Fendi tidak bisa bergerak sedikitpun dari tempatnya. Mereka bahkan sudah berkeringat. Padahal udara dingin sekali pada malam ini. Namun tampaknya tidak berpengaruh banyak pada mereka sekarang.
"Ini nggak bisa begini! Kita harus pakai cara lain!" kata Daniel.
"Sepertinya Fendi masih dalam pengaruh makhluk halus," tukas Armand.
"Astagfirullah! Kita kenapa nggak berdoa dulu!" pekik Daniel.
__ADS_1
"Doa apa, Nil?" tanya Cendol.
"Apa saja! Kalian itu muslim, kan? Al-fatihah, ayat kursi, al falaq, atau apapun yang kalian bisa. Kita harus membacanya sambil mengangkat tubuh Fendi!"
"Apa akan berhasil?" tanya Sule.
"Hei! Minta bantuan sama Allah! Jangan seperti manusia yang tidak punya Tuhan!" Berkali kali Daniel beristigfar. Dia tampak kesal saat teman temannya justru tampak seperti orang bodoh yang harus diberitahu doa apa yang seharusnya diucapkan di situasi seperti sekarang.
Daniel mulai membaca doa dengan suara lantang dan cukup keras. Hal ini memicu teman-temannya juga melakukan hal yang sama. Rupanya Mereka pun sebenarnya menghafal beberapa ayat-ayat suci. Karena doa-doa tersebut Terdengar sangat fasih terucap dari mulut mereka. Tanpa mereka sadari makhluk-makhluk di sekitar merasa terganggu. Makhluk-makhluk itu pun jadi menatap mereka berlima dengan tatapan tajam dan dingin. Perlahan kaki Fendi mulai bisa diangkat. Setidaknya ada perubahan walau belum sepenuhnya membuat mereka semua lega. Sambil berdoa mereka juga berusaha menarik tubuh Fendi agar bisa pergi dari tempat tersebut.
Tapi sosok sosok anak kecil yang awalnya berkeliaran di sekitar pemakaman kini justru mulai mendekati mereka berlima. Mereka kini berlarian di sekitar Armand dan teman temannya. Tapi tentu saja mereka berusaha untuk tidak terkecoh, dan tetap tidak tergoda untuk takut atau menanggapi makhluk makhluk itu.
Tawa anak anak kecil itu mulai mengganggu konsentrasi mereka. Bahkan kini Armand menjerit dengan wajah penuh emosi. Dia merasa seperti sedang diledek oleh makhluk makhluk itu. Tidak hanya sosok sosok anak kecil, kini Kuntilanak mulai terbang mendekat. Mereka melintas di atas mereka berlima. Bolak balik hingga gaun mereka mengenai wajah mereka berlima.
"Setan sialan! Berhenti kalian semua!" jerit Armand. Dia terus menyerocos dengan kalimat umpatan dan makian kepada seluruh makhluk yang kini ada di sekitar. Walau Cendol dan Sule beberapa kali menyuruhnya diam, tetapi Armand seakan akan tidak perduli dengan semua itu. Sementara Daniel masih saja berdoa tanpa putus. Dia bahkan kini membaca surat al Baqarah yang jarang sekali dihapal oleh kebanyakan orang. Cendol dan Sule masih berusaha menarik tubuh Fendi. Mereka berhasil. Salah satu kali Fendi mulai bisa melangkah. Tinggal kaki satunya.
"Ayo, Fen! Lo bisa? Terus tarik!" kata Cendol.
Malam semakin larut, tenaga mereka mulai terkuras. Pantas saja Armand yang sudah tidak tahan lagi, berlaku brutal. Kini dia tidak segan segan menantang semua makhluk di sana.
"Lepaskan temanku! Kalian jangan beraninya keroyokan, ya! Apa mau kalian sebenarnya? Kami tidak mengganggu! Tapi kenapa kalian yang mengganggu kami?"
Tentunya tidak ada tanggapan apapun dari makhluk di sekitar. Mereka hanya menatap Armand tanpa ekspresi.
"Memangnya salah kami, kalau kalian bisa terlihat oleh kami? Harusnya kalian yang jaga diri, agar kalian tidak muncul di sekitar kami dengan seenaknya sendiri! Hidup berdampingan apanya! Hah! Tai kucing!" omel Armand terus tanpa henti.
Satu sosok kuntilanak yang memakai baju hitam terbang mendekati Armand. Dia berdiri di depan Armand hanya berjarak tiga meter saja.
"Kenapa? Lo mau nantangin gue? Iya! Siapa lo? Kuntilanak? Kuntilanak baju item? Iya? Terus lo pikir gue takut sama lo!" jerit Armand sambil menunjuk makhluk di hadapannya itu.
"Ada apa ini?" tanya seseorang.
Begitu mereka menoleh ternyata ada Pak Sobri dan beberapa warga desa. Mereka datang dengan membawa obor dan berdiri di depan pintu area pemakaman.
"Ini, Pak! Dia—," kata Armand sambil menunjuk depannya. Tapi saat dia menoleh ke arah depan, ternyata sosok tadi sudah menghilang.
__ADS_1
Bahkan kini Fendi sudah bisa bergerak, walau dengan tubuh lemah, tapi dia bisa dibawa oleh teman temannya menjauhi area mata air.
"Ke mana mereka? Sialan! Kenapa sekarang mereka justru hilang?" tanya Armand bergumam sendiri.