Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
24. leak


__ADS_3

'Aku seperti berada di suatu tempat yang asing. Lho? Bukannya ini di Uluwatu?


Tapi kenapa sepi? Dan ini sudah malam. Aku sendirian di sini.


Mana teman temanku.


Dan tidak ada orang lain lagi di sini. Ini aneh. Apakah ini mimpi?


Dalam kebingungan, terdengar suara orang berdeham.


Aku menoleh ke arah sumber suara yang ternyata ada di belakangku.


Pria itu!


Dia ada di sini.


Aku mulai mundur karena sedikit takut.


Dia memiringkan kepalanya dan menyeringai.


"Kenapa? Takut?" tanyanya lalu maju perlahan mendekatiku.


"Siapa kamu? mau apa!" tanyaku dengan suara lantang.


"Aku? Itu tidak penting. Ada yg lebih penting lagi. Eum, ada yg mencari kamu.. Di sana!!"ucapnya sambil menunjuk ke arah belakangku.


Aku menoleh dan di sana ada sebuah gua. Samar samar aku melihat makhluk aneh yg mengerikan.


Degg!!


Leak??!


Kembali aku melihat pria ini.


"Maksudnya apa sih? Mau kalian apa?" tanyaku agak panik.


"Aku tidak ada urusan denganmu, tapi dia. hahahaha." tawanya menggelegar dan membuatku takut.


Kutengok ke makhluk tadi, dia terbang ke arahku.


Yah, dia leak. Bentuknya seperti yg pernah ku baca di sebuah artikel.


Sepertinya dia Rangda.


Rangda digambarkan sebagai seorang wanita dengan rambut panjang yang acak-acakan serta memiliki kuku-kuku panjang, lidah yang menjulur panjang, dan payudara yang panjang. Wajahnya menakutkan dan memiliki taring-taring yang panjang dan tajam.


Dia terbang ke arahku dan langsung mencakar lenganku hingga robek dan berdarah.


Aku berteriak sambil memegang lenganku. Sakit sekali rasanya. pedih.


Aku berlari menjauhi nya. Dia justru terus saja berusaha melawanku.


Hingga aku terperosok ke dalam jurang yang dalam. Aku kembali menjerit.


"Reta! Arethaa! Dek!!!"


Aku tersentak kaget lalu spontan membuka mata. Di hadapanku sudah ada Kak Arden, Radit, om Wayan, Doni dan yg lainnya. Mereka melihatku khawatir.


"Kamu kenapa?nightmare??" tanya kak Arden sambil terus menatap manik mataku.


Aku mengangguk sambil menenangkan diriku sendiri atas apa yang kualami barusan.


Rasanya seperti bukan mimpi, sangat nyata.


Dan,"aw!" pekik ku.


Lenganku... Lenganku benar benar berdarah.


"Masya Allah!!!" kak Arden kaget melihat lenganku.


Mereka tidak sadar kalau aku terluka. Bahkan aku juga begitu

__ADS_1


"Kok bisa gini, Tha?" tanya Radit.


Aku masih diam. Aku bingung. Benarkah ini nyata?


Mba Alya mendekat padaku dengan membawa baskom berisi air dan handuk kecil.


"Aku obatin dulu. Takut infeksi. Harus cepet dibersihin," katanya.


Dirobeknya bajuku yang sudah tercabik lalu perlahan darah ku di bersihkan nya.


"Kalian habis ketemu siapa??" tanya om Wayan serius


Kami saling pandang.


"Siapa ya?" tanya Doni sambil menatap semua bergantian.


"Ya ampun! Laki laki itu!" teriakku.


"Laki laki? laki laki yg mana?"tanya kak Arden.


"Aku udah cerita belum sih kak? Tadi aku lihat laki laki aneh, pas di Tanah Lot sama Uluwatu?" tanyaku.


Kak Arden menggeleng.


"Kamu ceritanya sama aku, Tha. Bukan Arden," sahut Radit.


"Laki laki siapa sih??" tanya kak Arden cemas.


"Si Aretha lihat cowok tadi, Den, katanya aneh gitu," jelas Radit.


"Dan dia ada di mimpiku tadi. Dia bilang, rangda ... Eum rangda ya om. Bener nggak sih leak yg bentuknya cewek?" tanyaku ke om Wayan.


Om Wayan mengangguk sambil menyilang kan kedua tangannya di depan dada dan terus memperhatikanku.


"Nah, dia Rangda itu yg nyerang aku. Tapi kenapa ya?bsalah ku apa sih??" tanyaku bingung sambil menatap satu persatu wajah mereka.


Beberapa ada yg angkat bahu, ada yg menggeleng samar juga. Yabg jelas mereka juga bingung kenapa aku sampai diserang rangda.


"Dia gak bisa nyerang kamu secara langsung. Makanya dia masuk ke mimpi kamu," jelas om Wayan.


Om Wayan menarik nafas panjang.


"Kamu jangan takut. Ada om. Om pasti bantu kamu." om Wayan lalu mendekat dan melihat luka di lenganku.


"Sebentar, ya. "Om Wayan lalu keluar dari kamarku.


Dan tak lama kembali dengan membawa semangkuk air dengan banyak bunga.


Om Wayan menggumam sesuatu, lalu menempelkan bunga kenanga yg sudah direndam air itu ke lenganku yg terluka.


"Tahan ya, Tha. Bakal sakit," kata om Wayan memperingatkan ku.


Aku mengangguk.


Aku berteriak kesakitan, tanganku yg satunya meremas lengan kak Arden yg duduk di sampingku.


Kak Arden memelukku erat.


Rasanya benar benar sakit bahkan sampai ke tulang. Badanku lemas. Namun pedih akibat luka cakaran itu berangsur reda..m


"Al, balut luka nya ya," Perintah om Wayan ke mba Alya.


Mba Alya mengangguk. Kiki lalu keluar kamar dan kembali lagi dengan perban. Mungkin dia mengambil di kotak obat yang ada di ruang tengah.


"Ya ampun, Tha. Sakit banget ya??" tanya Kiki memandangku iba.


Aku mengangguk sambil menahan air mata yg hampir jatuh. Memang benar benar sakit.


"Ya udah, yg lain bantuin om yuk di luar," perintah om Wayan lalu keluar dari kamarku diikuti Doni, Dedi, Danu, Dion.


Radit mendekatiku, mbak Alya lalu agak menjauh agar kami lebih leluasa ngobrol.

__ADS_1


"Tha, aku ambillin minum dulu ya buat kamu "mba Alya pamit.


"Kamu gak papa kan? sakit bgt ya tadi?" tanyanya sambil melihat lenganku yg sudah diperban.


"Iya, Dit, sakit," rengekku.


"Dittt! Ayok!! Bantuin di depan..biar Reta istirahat di sini. Ada alya sama Kiki inih.."perintah kak Arden.


"Iya sana.. Aku udah gak papa kok,"ucapku agar dia tidak terus cemas.


"Ya udah, aku keluar ya.. Kalo ada apa apa kasih tau aku," pintanya.


"Iya Radit.." kusunggingkan senyum kepadanya. Dia lalu keluar bersama kak Arden.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


POV ARDEN


Aku benar benar tidak habis pikir, bagaimana bisa Aretha terluka seperti itu karena serangan leak. Tidak akan kubiarkan Aretha terluka lagi. Lagi pula apa salahnya, sampai harus dilukai sedemikian rupa. Padahal kami baru pertama kali menginjakkan kaki ke tanah Dewata ini.


Sampai di halaman depan, om Wayan dan yg lainnya sudah berkumpul di sana. Mereka sedang berdiskusi.


"Jadi, om yakin dia akan datang ke sini untuk menuntaskan apa yg dia lakukan ke Aretha. Kita harus memagari rumah, agar dia tidak bisa masuk dan melukai Aretha ataupun kalian," ucap om Wayan serius.


"Arden siap bantu om!!"kataku.


Om Wayan menatapku serius.


"Kamu lindungi semua temen temen kamu, Den. Jangan biarkan leak itu masuk ke rumah. Biar om yg tangani di luar.." kata om Wayan lagi.


Om wayan mulai menaburkan sedikit garam, bawang, dan abu dapur (dapur yg masih memakai kayu bakar) bisa juga dengan serbuk beras katanya, dan ditebar nanti sekitar jam 12 malam kurang sedikit di pinggiran pekarangan rumah utamanya di pintu masuk rumah.


kami pun membantu om Wayan. Om Wayan yang menginstruksikan apa saja yg dibutuhkan, lalu kami mencari barang itu.


Pada malam jam 11, aku membakar cabai, biji merica hitam, bawang merah di halaman rumah hingga jam 12 lebih sedikitlah dan jangan biarkan api keras menyala, yg kami cari asap pembakaran yang mengepul.


Sedangkan Radit pergi ke pantai bersama Doni dan Dedi. Mereka mencari pasir pantai yg terendam air laut dan air lautnya. Lalu setelah mereka mendapatkan nya langsung ditaburkan juga di pekarangan rumah.


Kata Om Wayan beberapa hal itu mampu menangkal leak agar tidak masuk ke dalam rumah.


Kami lalu duduk di teras bersama sama. Tujuan kami ya menunggu leak itu datang. Karena om Wayan sangat yakin, pasti leak itu akan datang malam ini.


"Om, kenapa Aretha bisa digituin sama leak?" tanya Radit.


Dia ini kalo panik bahasa nya aneh banget. Digituin? Ambigu sekali.


"Menurut analisa om, dia rangda nya leak yang dulu om bunuh waktu di rumah kalian." om Wayan menunjuk ku.


"Hah? kapan om? kok Arden gak tau kalo om Wayan pernah ke rumah?" tanyaku heran.


"Iya, itu udah lama banget. Waktu om masih kecil. Kalau gak salah waktu om masih SD dulu. Jadi, dulu waktu bunda sama ayah mu lagi honeymoon ke Bali, bunda mu di ganggu leak. cuma gak sampai melukai, karena leak itu suka sama bunda mu," terang om Wayan.


"Wah, Den, masa elu gak tau??"tanya Dedi.


"Enggak. bunda gak pernah cerita apa apa soal itu," ucapku benar benar bingung.


"Terus gimana om nasib leak itu?" tanya Doni.


"Mati, dan yang sekarang ini istrinya dia. mungkin mau balas dendam," jelas om Wayan.


"Wuih, om Wayan pernah nge bunuh leak pas masih SD? Keren banget. Gue SD ngebunuh semut aja ga tega,"puji dedi.


Om wayan hanya menaikkan sebelah bibirnya sambil geleng geleng kepala.


Angin datang berhembus cukup kencang.


Kami langsung mengedarkan pandangan ke segala arah.


Pasti leak itu datang, melihat gerak gerik Om Wayan.


Om Wayan berdiri, lalu diam sambil menatap jauh ke depan.

__ADS_1


"Kalian masuk ke rumah sekarang! Dia datang!!" perintahnya.


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2