Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
33. pulang


__ADS_3

POV ARDEN


Setelah 5 hari di Bali dengan banyak pengalaman menegangkan dan menyeramkan, kami akhirnya kembali pulang ke rumah.


Om Wayan dan pak Nyoman mengantarkan kami menuju bandara.


Setelah berpamitan, kami segera naik ke pesawat yang akan membawa kami pulang.


Sebenarnya rasanya enggan meninggalkan tempat ini, aku sangat nyaman ada di sini.


Tapi bagaimana pun juga kami harus pulang.


2 hari lagi kami juga sudah harus masuk sekolah.


Perjalanan pulang kali ini, kami banyak diam. Semua sibuk dengan pikiran masing masing.


Aku duduk di samping Alya, dia lebih suka menatap pemandangan di luar pesawat daripada mengobrol denganku. Aku tau dia cukup lelah atas semua kejadian yang kami alami sejak datang ke Bali.


Kumpulan barisan awan memang mungkin lebih menarik timbang berbicara denganku.


"Al...,"  panggilku pelan.


"Hm... Kenapa, Den?" tanya Alya, lalu menoleh padaku dengan senyuman khasnya.


"Maaf ya, liburan nya kacau," kataku sambil garuk garuk kepala.


Dia malah makin melebarkan senyumnya.


"Enggak ah.. Aku seneng kok bisa liburan sama kamu, sama yg lainnya juga. cuma...." kalimatnya terhenti dengan raut wajah sedih.


"Cuma apa, Al??" tanyaku penasaran.


"Cuma aku agak takut, waktu kemarin aku lihat kamu tergeletak gitu aja di ruang bawah tanah rumah itu. aku pikir, aku gak bakal ketemu kamu lagi, Den." Dia terlihat makin sedih.


Aku terus menatap nya, sementara dia hanya bisa terus menunduk.


"Aku ga papa kok, Al. Kamu jangan cemas gitu."


"Iyah, aku tau.. Tapi, hm... Udah ah, kok jadi melow gini." dia lalu tersenyum getir.


Kenapa ya dia?


Dia sering sekali memberikan isyarat yg aku tidak paham sama sekali.


Kata Radit sih, cewek itu memang suka kasih kode yg susah dimengerti. Karena Aretha jg sering melakukan hal itu ke Radit, yg sering bikin Radit pusing.


\=\=\=\=\=\=


Tak terasa kami sudah sampai di Jogja. Dari Jogja kami naik kereta menuju kota kami.


Akhirnya kami sampai sore hari nya.


"Akhirnya, pulang juga!"teriak Ari sambil merentangkan kedua tangannya.


"Ya udah, gue duluan ya. "Kata Danu pamit, kami memutuskan pulang ke rumah masing masing dengan naik taksi.


"Den.. Elu anter Alya dulu, kan. Biar Retha ama gue," kata Radit.


Aku pun mengangguk, karena memang itu rencanaku.


Retha lalu digandeng Radit mencari taksi dengan bawaan mereka.


"Aku anterin, Al," kataku ke Alya.


Dia hanya tersenyum tak mengucapkan sepatah kata pun.


Setelah mendapat taksi, aku pun membantu membawa barang Alya dan memasukan ke bagasi.


Dia lumayan belanja banyak nih. Aku saja sampai kewalahan menemani dia kemarin, saat kami ada  di pasar Sukowati. Entah berapa kali aku sama Alya mengelilingi pasar itu, dan inilah hasilnya, belanjaan yg seabrek.


Sedangkan bawaan ku sudah dibawa Aretha dan Radit tadi.


Taksi mengantar kami menuju rumah Alya.


"Oh iya, Den. Nih buat kamu," katanya lalu menyodorkan kaus dengan warna dan motif yg sama dengan yg ada di pangkuannya.


"Buat aku?" tanyaku menegaskan.


Dia mengangguk semangat.

__ADS_1


Kuletakan di depan badanku untuk mengepaskan ukurannya.


"Pas, Al.. Makasih ya," ucapku senang.


Rupanya dia membeli ini untukku.


Aku sangat ingat perjuangan nya untuk mendapatkan kaus ini. Dia rela berdesak desakan dan ngotot untuk mengambil kaus ini, yang hampir berebutan dengan orang lain kemarin, dan ternyata ini untukku.


"Iya, Den. sama sama. Kita samaan. kalau hangout bareng dipakai ya. "Pinta nya.


Aku mengangguk.


"Oh iya. " Ku keluarkan sebuah kotak perhiasan, dan kuberikan ke Alya.


"Buat kamu, Al," ucapku.


Dia terdiam dan seperti sedikit kaget.


"Serius, Den? Buat aku?" mata Alya berbinar, dia lalu membuka kotak itu dan langsung tersenyum senang.


"Bagus bgt, Den.. Makasih ya," ucapnya lalu segera memakai gelang mutiara yang kubeli kEmarin di Bali.


Tak terasa, kami sampai juga di rumah Alya.


"Eh, udah sampai nih," ucapku sambil melihat sekitar.


Aku turun dengan Alya lalu kubantu dia menurunkan bawaan nya.


"Pak, sebentar ya," pintaku ke sopir taksi yg mengantar kami barusan.


"Iya mas." beliau pun menunggu di dalam mobil.


Aku membantu Alya membawa barang barang nya masuk ke dalam rumah nya. Ternyata kedua orang tua Alya keluar dan kini ada di teras menyambut kami.


"Lho udah pulang, nduk? "tanya papahnya Alya.


"Udah, Pah. " Alya salim ke orangtuanya aku pun juga sama.


"Dianter Arden ya. Duh, ngerepotin nih. Kalau tadi telepon aja kan bisa dijemput papah, Al," kata mamahnya Alya.


"Enggak papa kok tante. Sekalian tadi. Lagian kami pikir om sama tante belum pulang," sahutku.


"Maaf om, Arden langsung pamit aja deh. Udah ditungguin bunda di rumah pasti nih. Lain kali aja Arden main lagi," tolakku halus


Sebenarnya aku masih ingin berlama lama di sini, hanya saja badanku rasanya lelah sekali.


"Ya udah, Den. kamu balik aja., kamu pasti capek, kan?" tanya Alya padaku.


"Iya, Al. Kamu juga ya, Al. Istirahat.. Nanti atau besok aku main deh ke sini."


"Mm... bener lho ya. Kamu janji main ke sini?" tanyanya dengan nada sedikit manja.


"Iya Al, janji. Aku main lagi deh ke sini. Besok, ya.. Aku bakal anterin kamu ke mana aja deh kamu mau. Mau belanja berjam jam juga ayok aja deh," ucapku sambil mencubit hidungnya pelan.


Alya tersipu malu.


Papah Alya berdeham dan mamahnya Alya mengulum bibirnya.


Astaga, aku lupa kalau orang tua Alya masih ada di sini.


"Kalau gitu Arden pamit dulu.."


Aku jadi agak sungkan.


"Iya Arden. Terima kasih, ya udah nganterin Alya.. Jangan lupa besok ke sini. Tuh, nanti Alya ngambek kalau nggak jadi." gurau mamah nya Alya padaku.


"Ah, mamah...," rengek Alya sambil memeluk mamahnya.


Setelah pamit, dan segera masuk ke taksi yg tadi membawaku dan Alya. Hari sudah hampir mendekati waktu maghrib, dan cuaca sedang gerimis kali ini.


Taksi melesat menembus rintik gerimis yg kian lama kian deras saja.


Aku sibuk melihat ponselku, saat sedang senyum senyum sendiri melihat foto foto kami saat di Bali kemarin, aku merasakan dingin yg tiba tiba muncul.


"Pak.. Ac nya tolong dikecilin dikit ya," pintaku ke pak  Tono, si supir taksi itu.


"Sudah paling kecil ini, Mas,"sahutnya sambil melirikku dari kaca depan.


Kembali aku tenggelam pada foto foto di ponselku. Aku senyum senyum sendiri jika melihat foto Alya yg diam diam ku ambil kemarin. Wajahnya yg teduh membuatku nyaman jika terus melihat nya.

__ADS_1


Namun tiba tiba, kaca samping kanan kiri ku terbuka, dan air hujan pun masuk ke dalam.


"Pak, kok dibuka kacanya? Nanti kursinya basah lho.."kataku.


"Eh... eum mungkin rusak mas," kata pak Tono sambil sesekali terus melirikku dari kaca depan.


Rusak? masa sih? bisa gitu, kaca mobil turun sendiri karena rusak?


Karena aku makin tidak nyaman, aku memperhatikan sekeliling. Ternyata kami sedang ada di hamparan sawah dan kebun kebun, dan aku mendengar kumandang azan maghrib barusan.


Glek!!


Ada sosok terbalut kain putih kusam dengan mata hitam legam sedang berdiri di pinggir jalan, gayanya khas. Seluruh tubuh ya tertutup kain kafan dan bagian atas kepalanya diikat.


Yah, itu pocong..


Kami melewati pocong itu dan terus melaju menembus hujan.


Namun di belokan selanjutnya, aku melihat nya lagi.


Sial!! Kok jadi diikutin gini sih.


"Pak, nanti mampir mushola dulu ya.."pintaku ke pak Tono.


"Oh ia mas. Saya juga belum salat magrib," sahut pak Tono.


Dan tak lama kami menemukan sebuah mushola.


Lalu kami masuk, beberapa jamaah sudah selesai menjalankan salat maghrib. Namun masih banyak yg berdzikir di sini.


Aku dan pak Tono salat berjamaah, dan pak Tono yg menjadi imamnya.


Setelah salat, saat aku sedang mencoba khusu berdzikir, pak Tono berbalik duduk berhadapan denganku.


"Mas, tadi mas lihat, kan ?" tanyanya membuatku bingung.


"Lihat apa ya pak?" tanyaku mengulangi pertanyaan beliau.


"Itu, pocong yg tadi di jalan," bisik nya sambil melirik ke sana ke mari.


"Mm.. Bapak lihat juga ya?" aku malah balik nanya.


"Sebenarnya dari pas kaca mobil samping mas terbuka, saya udah lihat mas. 'dia' duduk di samping mas nya. Tapi saya gak berani bilang." pernyataan pak Tono membuatku ngeri. Karena aku benar benar  tidak menyadari keberadaan nya tadi.


Setelah beberapa menit kami di mushola dengan ngobrol beberapa saat, kami melanjutkan perjalanan kami menuju rumahku.


\=\=\=\=\=\=\=


"Assalamualaikum,"  ucapku saat masuk ke rumah.


Rupanya ayah, bunda dan Aretha sedang nonton tv di ruang tengah.


"Wa alaikum salam," sahut mereka serempak tanpa melihatku yg datang.


Aku langsung duduk di samping bunda dan menyandarkan kepalaku ke bunda. Bunda memelukku sambil membelai kepalaku lembut.


Namun, tiba tiba bunda berhenti lalu menoleh ke ruang tamu.


"Kak.. Kamu wudhu dulu gih. Habis itu istirahat," perintah bunda.


"Kenapa, Bun?" tanyaku bingung.


Bunda hanya diam sambil menatapku lekat lekat.


"Udah sana," kata bunda lagi.


Aku pun paham alasan bunda. Tanpa bertanya lagi, aku beranjak pergi ke kamar.


"Kenapa sih, Nda? Ada apa?" tanya ayah lalu ikut melihat ke arah yg bunda tatap tadi.


Aretha hanya melongo sambil ngemil.


Bunda  senyum lalu pergi ke dapur.


Pasti bunda mau mengambil garam dapur yg biasa bunda gunakan. Biasanya bunda menggunakan garam kasar sebagai media perlindungan rumah dari makhluk astral.


Dengan dibacakan doa doa, garam itu disebarkan di halaman rumah.


Dan pasti makhluk tadi mengikuti ku sampai rumah.

__ADS_1


Maaf ya, Bun, Arden gak sengaja. Hehehe


__ADS_2