Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
41 bayangan


__ADS_3

POV ARDEN


Semalaman aku mengalami demam dan terkadang meracau tidak jelas.


Itu pun kata Radit, karena aku sama sekali tidak merasakan apa pun, atau bahkan mengingatnya.


Namun pagi ini aku merasa tubuhku sangat ringan. Radit sedang mandi, dan aku masih tiduran saja di atas kasur. Bayangan kejadian semalam masih teringat jelas di memory otakku.


Kuraba dadaku yg sakit.


Masih ada sedikit lebam di sana, namun sepertinya tidak separah kemarin.


"Den... Mandi kagak?" tanya Radit yg sedang mengeringkan kepalanya dengan handuk.


"Enggak ah. Nanti aja, agak siangan."


"Eh, si Alya udah dikabarin kamu sakit?" tanya Radit lalu duduk di tepi ranjang sampingku.


Ku tatap layar ponselku yg sengaja kumatikan dari semalam.


"Gak usah ah, Dit. Nanti dia malah kepikiran."


"Hm. Kasihan kali, Den. Pasti di nungguin kabar kamu. Hape pakai dimatiin pula. Nggak ngerti sih, cewek kayak apa," omelnya.


"Emang cewek kayak apa sih?" tanyaku yg memang tidak paham maksud perkataan nya.


"Ya gitu deh, Den. Kalau kita gak ada kabar sejam aja. Beuh, ngomel nya..." Dia malah curhat.


"Emang Aretha gitu ya?"


"Dih, nggak usah ditanya deh. Masa dia pernah chat aku gini, Den. 'Radit??kamu di mana? Mati ya?' tau nggak, gara-gara nya apa?" tanya Radit serius.


Tapi, melihat wajah Radit sekarang justru malah membuatku ingin tertawa. Aku menggeleng pelan, menunggu kisah nya dengan Aretha.


"Aku ketiduran, pas aku janji mau jemput dia mau nonton."


"Terus? Ngambek Aretha??"


"Ya iyalah, pakai ditanya lagi. Bayangin aja, Den, baru sejam aku gak ada kabarnya. Reaksinya Aretha gitu. Gimana kalau sehari coba?kayaknya aku bakal dimutilasi deh."


"Tapi Alya gak gitu deh kayanya. Lagian aku sama dia juga gak pacaran," belaku.


"Heh!! Elu pikir, gue sama Aretha ada kata pacaran? Kagak."


Bener juga sih kata Radit, mereka memang tidak pernah ada kata pacaran seperti Doni dan Kiki.


Aretha pernah bilang padaku,


asal dia tau Radit sayang sama dia, dan Radit tau Aretha sayang sama Radit, itu sudah lebih dari cukup. Sekalipun mereka tidak ada kata pacaran, mereka tetap saling menjaga perasaan satu sama lain.


Dan, apakah Alya juga sama?


Apakah dia juga punya perasaan yg sama sepertiku?


Dan, apakah dia juga sedang menunggu kabar dariku?


Tapi, sudahlah. Biarkan saja.


Nanti saja aku hubungi dia.


Pintu dibuka, muncul wajah Adikku satu-satunya yang baru saja kami bicarakan. "Kak!"


"Apaan," jawabku malas malasan sambil masuk kembali ke dalam selimut.


"Dicariin tuh. Hape pakai dimatiin segala lagi! Bikin orang cemas aja. Rasain tuh, didatengin," gerutunya.


"Kamu ngomong apaan sih dek?" tanyaku cuek dan makin menenggelamkan wajahku di balik selimut. Pagi ini memang terasa lebih dingin dari biasanya. Apakah memang cuaca nya yg begini atau aku nya yg kurang sehat ya.


Saat aku menoleh kembali ke pintu, muncul lah wanita lain yg baru saja kubicarakan dengan Radit.


Radit ikut melongo lalu menyenggol ku, tak lama dia berdiri dan pindah ke dekat pintu bersama Aretha seperti mengisyaratkan Alya untuk mendekat padaku.


Alya!!


Dia masuk kamarku dengan raut wajah yg tidak bisa ku tebak.

__ADS_1


Dia terus diam dan mendekat padaku. Aku yg awalnya ingin tidur kembali, kini membetulkan posisi duduk ku.


Alya duduk di tepi ranjang sampingku sambil terus menatapku.


"Kamu kok ke sini. Al?" tanyaku basa basi.


Dia masih terdiam, namun tiba tiba dia menangis.


"Lho, kamu kenapa? Kok nangis? Kamu ada masalah? Ada apa? Cerita sama aku," pintaku agak panik.


Namun Alya malah memelukku erat. Melihat itu, Radit dan Aretha keluar dari kamarku diam-diam dengan wajah yang menyebalkan. Pasti mereka sengaja memberikan privacy untukku dan Alya.


"Kamu gak papa kan, Den? Aku khawatir banget tadi. Waktu aku telepon Aretha, dia bilang kamu habis kena musibah. Ya ampun, Den. Muka kamu kok gini.. Kamu kenapa sih?kamu berantem? Sama siapa kok sampai gini bentuk nya??" tanya Alya beruntun sambil terus mengamati wajahku.


"Aku gak papa kok, Al. Beneran."


"Ceritain deh kamu kenapa!" paksanya.


Akhirnya kuceritakan saja apa yg terjadi kemarin padanya. Percuma juga kalau bohong, karena aku tidak bisa bohong dari dia.


Dan rasa nyaman saat bersamanya itulah, yg membuatku selalu ingin menceritakan semua hal yg kualami. Aku ingin dia tau kegiatanku, bagaimana aku menjalani hariku, dan aku juga ingin dia tau, kalau dia adalah prioritasku.


"Udah sarapan belom?" tanya Alya menyelidik.


Aku makin masuk ke dalam selimut sambil tersenyum.


"Ya belom lah, Al. Baru juga melek tadi. Habis salat subuh masuk lagi ke selimut. Dingin."


Dia menatap tajam padaku yg cengengesan. Aku senang, dia ada di sini sekarang.


"Ya udah, tunggu bentar. aku liat dulu ke dapur. Bunda mu udah masak belum." lalu dia berdiri dan keluar dari kamarku.


Tak lama dia kembali lagi dengan sepiring roti bakar dan segelas susu hangat.


"Makan dulu deh. Kata nya kamu biasa sarapan ginian ya?" tanyanya sambil menyodorkan segelas susu hangat padaku.


"Iya, kalau bangun tidur ya ini sarapanku. Cuma kalau udah siangan dikit, ya tetep aja nyari nasi. hehe"


Alya geleng geleng kepala sambil senyum senyum.


Dan seharian ini, Alya ada di rumahku bersama Radit juga Aretha.


"Diit," panggilku saat kami sedang menonton film horor di DVD player yg ada di kamarku.


Walau aku sudah baik baik saja, tapi aku belum boleh banyak bergerak dulu kata bunda.


Dan sejak pagi tadi, aku sudah minum banyak air doa dari pak de Yusuf.


"Hm?" sahutnya masih fokus nonton film di depan sambil memeluk boneka beruang milik Aretha.


"Kamu nggak pulang?" tanyaku.


"Eh eh eh... Ngusir nih ceritanya?" gerutunya.


"Ya bukan gitu. Ganti baju kek sana, pakein baju ku terus. Udah gitu milih nya yg bagus bagus lagi."


"Pelit amat deh, Den? Kan gak tiap hari inih. Lagian pak de yg nyuruh aku nginep sini kan?"


"Ih, berisik. Diem napa. Aku gak konsen nonton nya," protes Aretha.


"Kalian sukanya berantem terus ya." sahut Alya.


"Enggak kok ,Al.. Kita ini cinta damai kok," kata Radit.


"Eeh, aku lupa. Si Dion nyuruh kita nginep sana besok," kata Aretha tiba tiba.


"Tumben? Kenapa?" tanyaku heran.


"Katanya rumahnya agak gimana gitu kak.. "


"Ortunya juga pergi keluar kota kayanya deh, kemaren dia cerita. Jadi dia sendirian. Ah, paling dia takut tuh sendirian di rumah," ejek r


radit.


"Kayak sendirinya gak gitu," timpal ku .

__ADS_1


"Eh, enggak dong. Aku kan nginep disuruh pak de."


"Bisa aja jawabnya."


"Terus gimana kak? Tapi kak Arden masih sakit gini.. Nggak usah aja ya.."


"Iya, Den, kamu tuh harus banyak istirahat. Nggak boleh kelayapan dulu. Bentar lagi kita sekolah lho," larang Alya.


"Ya udah deh.. Gak usah aja. Besok aja kalau aku udah sembuh," kataku agar mereka diam.


Sebenarnya aku khawatir dengan Dion. Pasti memang terjadi sesuatu di rumahnya.


Dia ini bukan penakut.


Kecuali hal itu sangat mengerikan untuk nya, baru dia ketakutan.


Pintu kamar kembali dibuka, dan orang yg kami bicarakan muncul di kamarku.


"Buset. pada couple gini ya. Wah, salah kamar gue," katanya cekikikan.


"Ganggu aja lu!" Radit menjitak kepala Dion yg kini duduk di sampingnya sambil menyambar cemilan di depan nya.


"Eh, Yon. Kok bawa tas?" tanya Aretha.


"Iya, gue mau ikut nginep sini ya," jawabnya cuek.


"Elu pikir penginapan!! Hu!" Radit mulai berisik.


"Lah, elu juga nginep sini kan..huu... Sama aja juga." alhasil mereka akhirnya adu mulut, yg bakal bikin Aretha murka.


Benar saja, tak lama bantal pun melayang menimpa wajah mereka berdua.


"Berisik!! Aku gak denger itu ngomong apaan," gerutu Aretha sambil menunjuk film yg sedari tadi fokus dia tonton.


Dia ini maniak film horor, jadi jangan heran kalau reaksinya seperti ini.


Makanya kalau dia lagi nonton film horor, mending aku gak deket deket deh. Soalnya dia bakal lebih horor dari film nya.


"Maaf sayang. Dion tuh yg mulai "bujuk Radit.


"Sama aja juga," gerutu Aretha sambil memajukan bibirnya.


Akhirnya, berakhir dengan drama romantis mereka berdua.


"Heh! Pacaran mulu." kali ini Dion yang kesal.


"Salah sendiri jomlo," ucap Aretha, dan disambut dengan riuh tawa Radit.


"Yon," panggil Alya.


"Eh, ya kenapa, Al?"


Alya memperhatikan Dion secara seksama. Kadang sampai mengernyitkan kening sambil berfikir.


"Kenapa sih? Ngeliatin nya gitu amat. Awas, Arden cemburu," gurau Dion.


Namun Alya tak bergeming, dia terus menatap Dion dengan tatapan aneh.


Kusentuh bahunya pelan, karena dia duduk di sampingku," Al... Kenapa?" tanyaku.


Dia menoleh padaku dengan wajah aneh lalu menunjuk Dion.


"Itu apaan, Den?" tanyanya membuat kami bingung.


"Itu apa? Mana?" tanyaku.


Aretha dan Radit juga ikut heran melihat alya.


"Di belakang Dion, kayak ada bayangan. Ku pikir bayangan dia. Tapi kok gak ilang ilang ya," kata Alya heran.


Dan baru kusadari memang ada bayangan hitam yg mengikuti Dion. Aretha menoleh padaku.


Dion yg mendengar itu jadi ngeri lalu menekan tengkuknya sambil tengak tengok.


"Duh, kok di ikutin sampai sini juga sih. Den, Tha. Gimana dong," rengek Dion ketakutan.

__ADS_1


Sebenarnya ada apa sih di rumah Dion, dan kenapa sampai dia terus diikuti, bahkan sampai ke sini.


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2