
Karena suruhan kak Arden, alhasil aku dan yg lainnya ikut juga acara hari ini.
Penerimaan tamu ambalan.
Ini memang kegiatan pramuka, dan kebetulan kak Arden juga seorang bantara.
Kak Arden emang aktif di organisasi. Berbeda denganku yang sama sekali tidak tertarik dengan kegiatan sekolah seperti ini.
Dan sabtu sore ini, kami sudah berkumpul di halaman sekolah.
Dengan memakai seragam pramuka juga pastinya, karena kami akan membantu acara untuk kali ini, berhubung ada beberapa pengurus pramuka yg tidak bisa datang. Jadi mereka kekurangan tenaga.
Setelah upacara pembukaan, acara pun dimulai.
Pertama, ISOMA. Karena ini sudah masuk waktu salat ashar.
Bagi yg muslim pun, dibolehkan salat dulu dan istirahat sebelum mengikuti acara inti nanti malam.
"Tha, lihat tuh. Si playboy," tunjuk Kiki ke sudut sekolah.
Kupincingkan mataku untuk melihat siapa yg dimaksud Kiki.
Leo?
Dia sedang mengobrol dengan Wina, salah satu bantara kelas 2.
Wah, memang pantas julukan playboy itu dia sandang.
Siapa aja dia deketin. Parah banget.
Dan anehnya semua selalu bertekuk lutut sama Leo.
Sosok yg mendampingi nya pun selalu ada di dekatnya. Mengerikan.
Setelah ISOMA,waktu nya untuk pembekalan dari kakak pembina pramuka. Lalu dilanjutkan game game seru lain nya.
Hingga suara azan maghrib berkumandangan, semua menghentikan aktifitasnya lalu bersiap untuk salat.
"Tha, aku pergi dulu ya," kata Radit yg tiba tiba menghadang ku setelah selesai salat.
"Mau ke mana?"
"Ambil konsumsi nih. Jam segini belum dianter," gerutunya sambil melihat jam di pergelangan tangan nya.
"Kamu sendirian?"
"Enggak. Sama Doni juga. Banyak soal nya, Tha."
"Ya udah, hati-hati ya."
"Harus nya aku yg bilang gitu, sayang," sahutnya sambil terus melihat ke belakangku.
"Hah? Apaan? Orang kamu yg mau pergi. Kok aku yg suruh hati-hati?" tanyaku heran.
"Hati-hati sama itu tuh." Dia menunjuk seseorang dengan mengangkat dagunya.
Saat aku menoleh, ternyata Leo sedang berdiri tak jauh dari kami, sambil memasukan tangan nya ke saku celana.
Dia terlihat sedang memperhatikan kami yg sedang ngobrol.
"Ck. Udah ah, ngapain sih ngurusin dia? Udah sana buruan berangkat. Keburu kita kelaparan," bujukku sambil mendorong Radit pelan.
"Iya iya..m Tapi, kamu beneran hati-hati ya, Tha. Jangan deket-deket dia." Kembali dia pasang muka serius.
"Iya, Raditya. Aku nggak deket deket dia kok. Udah ya, kamu jangan khawatir gitu. "
Akhirnya Radit pun pergi bersama Doni untuk mengambil konsumsi.
\=\=\=\=\=\=\=
Pukul 19.30
Malam ini kami semua berkumpul di lapangan, karena ada pengisian dari kakak pembina pramuka dari luar sekolah.
Pimpinan KWARTIT RANTING pun didatangkan juga untuk ikut mengawasi acara ini.
Setelah pengisian ini itu, dilanjutkan acara selanjutnya.
Dengan berbekal buku SKU pramuka, para tamu ambalan atau siswa baru kini sedang mulai sibuk mencari kami,kakak bantara. Tentu ada sesi ujian agar buku SKU pramuka nya terisi penuh.
__ADS_1
Mulai dari hafalan dasa darma, tri satya, semaphore dan masih banyak lagi.
Nanti malam acara yg selalu menjadi agenda wajib tiap persami dan acara yang paling ku hindari dilaksanakan.
Jurit malam
Memang diantara sekian banyak acara, hanya acara ini yang paling aku benci. Masih teringat jelas, saat aku jurit malam dulu.
Aku dan Dion dikerjai, oleh makhluk penghuni sekolah ini.
Semoga nanti malam aman terkendali. Aku males jerit jeritan di acara jurit malam nanti.
Pukul 22.30
Jurit malam pun akan dimulai, dan agenda nya sama seperti tahun tahun yg sudah sudah.
Tiap kelompok yg diisi beberapa orang, mulai berjalan dari pos 1 hingga pos terakhir untuk mengambil bendera semaphore.
Namun kali ini, satu kelompok tidak hanya 2 orang saja, tapi 3 orang.
Duh, kenapa 3 ya? Ganjil gitu..
Namun, ini sudah keputusan dari kakak pembina. Jadi sudah tidak bisa diubah lagi.
Akan ada 10 pos yg harus didatangi.
"Kak, kok perasaanku nggak enak ya." sambil ku tekan dadaku karena rasa yg entah apa yg kini kurasakan.
Yang jelas aku tidak nyaman dengan keadaan kali ini. Seperti akan terjadi sesuatu.
Huft, semoga hanya perasanku saja.
"Kakak juga takut ada sesuatu, Tha. Gini, kita keliling buat patroli. Jagain mereka, biar acara ini lancar sampai selesai nanti," saran kak Arden.
"Iya kak, setuju."
Memang bukan termasuk ide cemerlang, tetapi kami tidak mungkin membiarkan keadaan kacau malam ini.
Kami mulai berkeliling dengan berpencar, dan kami bagi kelompok menjadi 3 orang tiap kelompoknya.
Aku, Radit dan Danu pergi ke sisi kanan.
Dan Dion dan Ari ke sisi tengah.
Kiki menunggu di depan, dan terus mengawasi keadaan dari sana.
Sebelumnya kami membawa walky talkie kami. Sejak kapan kami memakai benda ini?
Sejak hari ini.
Entah kenapa, kak Arden menyuruh kami memakai ini.
Aku, Radit dan Danu mulai menyusuri lorong sekolah yg temaram. Karena beberapa lampu memang sengaja dimatikan.
Kami memeriksa tiap ruang kelas.
Memastikan bahwa semua aman, dan tidak ada yg sembunyi di dalam kemas juga.
Brakk!!
Brraaak!!
Brraaakk!!
Tiba tiba terdengar derap langkah beberapa orang. Seperti sedang berbaris. Kami berhenti, lalu saling tatap bingung. Semua menoleh kesana-kemari mencari sumber suara itu.
"Apaan tuh, Tha?" tanya Danu sambil berbisik.
"Sstt.. " Kuedarkan pandanganku ke sekitar kami.
Samar samar di ujung depan kami, aku melihat beberapa orang bergerombol membentuk barisan yg rapi. Dengan pakaian tentara yg aneh.
"Mampus!!!" Aku melotot lalu menarik mereka berdua masuk ke salah 1 ruang kelas.
"Apaan sih, Tha?" tanya Radit bingung.
"Ada tentara. Setan tentara," ucapku lalu bersembunyi bersama mereka.
"Hah? Setan tentara?" tanya Danu bingung.
__ADS_1
Aku mengangguk yakin.
Tak lama suara itu makin terdengar jelas. Mereka berdua ikut melotot dan makin menunduk, takut ketahuan.
Suara derap langkah kaki nya sungguh keras.
Namun, tiba tiba mereka berhenti. Persis di depan kelas yg kami pakai untuk bersembunyi.
Dan kudengar salah 1 dari mereka berteriak dengan bahasa belanda. Yang aku tidak mengerti maksud perkataan nya.
"Google translate, Dit," pintaku.
Radit dan Danu melotot padaku.
"Kenapa?" tanyaku heran.
Mereka berdua mendengus sebal.
Salah ku apa ya? Ada yang tau gak?
Dan setelah mengatakan itu, pintu kelas terbuka dengan kasar.
Braaakkk!!
Kami makin sembunyi di balik kursi di depan kami.
Namun kami masih bisa melihat sosok itu dari kolong meja.
Terlihat, kaki nya saja yg ngambang. Dia hanya berdiri mematung seperti mencari sesuatu. Namun tak lama dia pergi.
Terdengar lagi teriakan yg keras, lalu mereka sepertinya pergi meninggalkan kelas ini. Danu mengintip dari jendela samping kami.
Radit pun ikut penasaran.
"Aman," bisik mereka bersamaan.
Fyuuuhhhh
Akhirnya kami bisa bernafas lega.
"Ya udah yuk lanjut," ajakku ke mereka.
Kami kembali berjalan di koridor kelas. Kali ini kami bertemu mba tanpa tangan yg sedang duduk di ruang kelas dengan tangan yg dia letakan di meja. Seolah olah dia sedang mengikuti pelajaran di kelas.
Aku lewat dan bergidik ngeri melihatnya.
Moga aja nggak ngikutin deh.
Brak brak brak.
Ada seseorang berlari.
"Heh! Sapa tuh???" tanya Danu sambil menunjuk orang tadi.
"Orang apa setan, Tha?" tanya Radit.
"Orang," sahutku.
"Ngapain dia ke sana?"tanya danu.
"Kejar!!!" lalu aku berlari ke arah orang tadi menghilang.
Walky talkie ku berbunyi,
"Dek... kalian lihat Friska nggak? Anak IPA , yg rambutnya panjang, dikepang."
"Enggak kak. kenapa sih?"
"Dia ngilang dari kelompoknya. Kata Kiki barusan."
"Apa? Jangan jangan yg tadi"
"Yg tadi? Mana??"
"Tadi kita lihat ada yg lari ke belakang sekolah. Ini mau ku kejar.."
"Oke, Tha... Kalian susulin dulu. Nanti kakak nyusul!!"
Wah mulai gak beres nih.
__ADS_1