Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 23 Terjebak di dunia lain


__ADS_3

"Hati - hati, sayang. Nanti aku jemput." Radit mengecup keningku, berhenti di depan lobi kantor.


"Iya, kamu juga hati - hati, ya." Pria itu segera kembali masuk ke dalam mobil, sedikit aneh dengan sikap Radit yang kelewat romantis. Dia tidak pernah melakukan hal ini di depan umum, namun sejak aku bekerja di sini, Radit terlihat lebih agresif.


"Tha!" Aron dan Mike baru saja turun dari mobil yang parkir di parking area depan kantor. Pagi ini terasa sedikit lebih dingin dari biasanya. Bahkan aku merasa kalau kabut pagi masih saja turun, padahal matahari juga sudah mulai tampak.


"Bagaimana soal Giska?" tanyaku pada mereka yang berlari tergopoh - gopoh ke arahku.


Aron mengangkat bahunya, wajahnya terlihat frustrasi. Begitu juga pada wajah Mike walau tidak ia perlihatkan dengan baik. "Belum ada kabar lagi, Tha. Kita juga bingung nih. Gimana, ya," desah Aron.


Kami lantas masuk ke dalam, melewati lobi kantor yang sudah cukup ramai dengan lalu lalang karyawannya. Dua pria ini terus membicarakan tentang Giska, semua kebiasaannya hingga kekasihnya Toni tersebut. Sampai di lift yang cukup penuh, kami terus merangsek agar dapat ikut masuk dan segera naik ke lantai lima, sebentar lagi akan meeting harian seperti biasanya. Jadi kami tidak boleh terlambat. Aku yang terus terdorong hingga ke belakang lantas baru menyadari kalau Rick ada di sudut lift. Memainkan ponselnya, lalu tersenyum padaku. Aku balas senyum juga. Ingin rasanya aku menanyakan perihal makan malam kemarin, kenapa dia justru pergi, bukannya ikut bergabung dengan kami, namun aku ragu untuk mengutarakannya di tengah ramainya orang - orang di dalam lift.


Lift pun terbuka di tiap lantai, hingga saat lantai lima kami juga keluar dari sana. Terus berjalan ke ruang meeting, Aron dan Mike berjalan di depanku, sementara aku dan Rick di belakang mereka. Pintu dibuka, saat aku hendak masuk, aku langsung merasakan pusing yang teramat sangat. Bahkan aku sampai berpegangan pada daun pintu di samping. Rick terlihat cemas dan terus bertanya apakah aku baik - baik saja.


"Aku nggak apa - apa kok. Aku ke toilet dulu, ya. Cuci muka," sahutku.


"Oke." Akhirnya aku tidak jadi masuk ke ruang meeting dan memilih pergi ke toilet terlebih dahulu. sejak bangun tidur tadi, aku merasa tubuhku tidak begitu sehat. Lemas dan sering merasakan pusing mendadak. Toilet ada di tiap lantai, dan biasanya akan berdekatan dengan pantry. Aku terus berjalan sambil memegangi kening, kepala terasa berat untuk waktu yang cukup lama. Berharap tidak jatuh dan dapat membaik setelah aku membasuh wajah.


Aku berjalan melewati pantry, namun langkah aku hentikan saat merasa ada yang aneh di pantry sana. Aku kembali mundur satu langkah dan melihat ke dalam pantry, yang kebetulan setengah pintu pantry terbuat dari kaca tebal, jadi aktivitas di dalamnya dapat aku lihat dengan jelas dari luar sini.


Ada seorang wanita, memakai pakaian OB tengah berdiri di depan kompor tanpa melakukan apa pun. Ada sebuah pisau di tangannya, hal ini membuatku cemas. Takut jika dia hendak melakukan hal buruk di dalam sana. Aku mengetuk pintu, untuk menarik perhatiannya. Dia tetap diam, hingga membuatku makin penasaran. Akhirnya aku nekat membuka pintu pantry ini. Naasnya pintu sepertinya dikunci dari dalam. Semakin aku berusaha ingin membuka, dia justru makin mendekatkan diri untuk mengambil pisau itu. Aku memukul pintu agar dia mau menoleh padaku, atau setidaknya menghentikan apa yang hendak dia lakukan. Pikiranku sudah menerawang jauh dengan pikiran buruk yang membuat aku ingin berusaha masuk ke dalam dengan cepat.


"Mba! Mba! Stop, Mba. Jangan, Mba!" jeritku makin panik. Dia mengambil pisau lalu menancapkan dengan cepat ke telapak tangannya yang berada di atas kompor. Aku terperanjat, diam dengan mata melotot. Tiba - tiba menoleh padaku, mengambil pisau itu dan melepaskannya dari tangan kirinya, tanpa rasa sakit sedikit pun. Sadar kalau apa yang ada di dalam sana pasti bukan lah manusia, aku mundur, tidak langsung berlari atau pergi, aku terus diam menatapnya seolah penasaran atas apa yang akan dia lakukan lagi.


Wajahnya mengerikan, urat nadinya terlihat jelas menonjol keluar. Hitam dengan kulit wajah yang juga kotor dan kusam. Dia menyeringai lalu berlari cepat ke arah pintu. Aku menjerit sambil memejamkan mata, namun setelah ditunggu lama, aku tidak merasakan ada yang membuka pintu atau mendekat padaku. Akhirnya aku putuskan membuka mata, dan melihat ada di mana wanita tadi. Office girl tadi tidak ada di mana pun. Aku mendekat kembali ke pintu pantry, melihat ke dalam dari kaca pintu dan tidak menemukan seorang pun di sana. Gagang pintu aku putar, dan ajaibnya sangat mudah dibuka. Sepertinya aku sedang halusinasi sekarang.


Derit pintu terdengar nyaring di tengah kosongnya pantry pagi ini. "Ke mana OB yang lain, ya," batinku. Tak lagi ingin mengurusi hal ini, aku kembali menutup pintu dan melanjutkan tujuan semula. Toilet hanya dua meter saja jaraknya dari pantry, dan memang letaknya ada di ujung koridor utara lantai lima. Belum sampai ke pintu toilet, aku kembali berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Sunyi. Tidak ada seorang pun, padahal aku yakin keadaan di lorong ini seperti banyak aktivitas manusia lain. Suara langkah kaki terdengar samar, bahkan benturan sepatu high hells dan lantai di bawah terdengar nyaring di telinga. Tapi kenapa di sepanjang lorong justru tidak tampak ada orang lain selain aku.


Aku menarik nafas panjang dan dalam, lalu berusaha kembali tidak menggubris apa yang terjadi di depanku. Kembali pada niatan awal, untuk ke toilet. Pintu toilet adalah tipe dua pintu yang bisa di dorong dan ditarik, tidak ada kunci atau apa pun di sana. Konsepnya hanya sebuah papan pintu yang di tempel di tengah, dengan bagian bawah dan atas terekspose jelas, hanya menutupi setengah pintu saja. Tapi jika pintu tertutup maka orang dari luar tidak bisa melihat keadaan di dalam begitu juga sebaliknya, kecuali pintu di buka. Sekalipun berjinjit tidak akan terlihat, kecuali jongkok, maka bagian bawah sangat mudah dipandang.


Aku mendorong pintu dan malah ragu untuk masuk ke dalam. Toilet terlihat gelap, dan sepi. Trauma akan tempat bernama toilet masih terrekam jelas diingatan. Rasanya aku tidak ingin mengulang kejadian aneh di toilet lagi sekarang. Aku putuskan untuk kembali ke ruang meeting saja.


"Tha!" panggil sebuah suara dengan berbisik. Suara itu terasa seperti suara Rick, namun saat menoleh aku tidak melihat keberadaannya di mana pun. Apalagi di tempat ini tidak ada lagi ruangan lain. Hanya ada tembok saja. Makin terasa aneh, akhirnya aku kembali ke ruang meeting sambil sesekali menoleh ke belakang.

__ADS_1


Sampai di depan ruang meeting, aku kembali tengak tengok, koridor lantai lima yang terasa sepi sangat kontras dengan saat awal aku datang ke tempat ini kemarin. Bahkan di meja resepsionis juga kosong. Ah, mungkin dia ada urusan di tempat lain. Berusaha berpikir positif aku segera membuka pintu ruang meeting. Di dalam terasa penuh sesak, semua orang terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Aron menarik tanganku agar segera duduk di salah satu kursi. Anehnya aku tidak melihat Bu Cleo dan Kak Mecca.


"Bos ke mana?" tanyaku berbisik ke Aron.


"Nggak datang. Cuma kita." Kepalaku masih terasa berat, bahkan makin sakit rasanya.


'Tha, kenapa?" tanya Aron. "Aretha!" panggilannya justru makin membuatku pusing. Bahkan dia terus menggoncang - goncangkan tubuhku. Penglihatanku memburam, bayangan Mike yang mendekat terasa membuat nafasku makin berat. Sampai akhirnya pintu ruang meeting dibuka kasar. Rick datang dari luar, menyapu pandang sekitar lalu segera menghampiriku. Dia menarik tanganku.


"Ayo pergi, Aretha! Tempat kamu bukan di sini!" katanya menarik tanganku kasar. Tubuhku lunglai, dan hanya mampu mengikuti gerakannya. Dia terus membawaku keluar ruangan ini, dan tiba - tiba tubuhku seakan tersentak. Aku menghirup udara sebanyak - banyaknya, seperti hampir tenggelam dalam kubangan air, bahkan aku sampai batuk - batuk.


"Minum dulu, Tha!" kata Kak Mecca sambil menyodorkan segelas air putih. Aku segera menerima dan meneguknya agak banyakan. "Tarik nafas pelan, Tha. Akhirnya kamu sadar juga." suara itu sangat jelas berasal dari mulut Kak Mecca. Aku menekan kepala sambil mencoba melihat sekitar. Rick berdiri di samping Bu Cleo. Kak Mecca duduk di dekatnya dengan wajah khawatir.


"Apa yang dirasa, Aretha? Udah mendingan, kan?" tanya Bu Cleo ikut cemas. Aku mengangguk, masih dalam keadaan bingung. "Kok aku di sini? Sshh ... Kepalaku sakit banget," erangku sambil menekan kepala.


Pintu dibuka, muncul Radit dengan tergesa - gesa bersama mba Alya. "Tha? Kamu kenapa? Astaga! Aku cemas banget." Radit segera mendekat dan memelukku.


"Sshh. Dit, pelan. Jangan melakukan gerakan tiba - tiba, kepalaku masih sakit."


"Eh, maaf, sayang. Terus bagaimana? Mau minum obat?"


"Iya pasti lapar lah, Tha. Kamu pingsan hampir enam jam," kata Rick yang masih berdiri sambil melipat kedua tangan di depan.


"Aron sama Mike mana?" tanyaku sambil mencari keberadaan mereka di sekitar ruangan ini. Kak Mecca justru memundurkan tubuhnya lalu menoleh ke Rick dan Bu Cleo. "Kenapa?" tanyaku yang melihat reaksi mereka seperti sangat terkejut itu.


"Kenapa kamu bisa tau nama itu?" tanya Kak Mecca. Radit yang sedang jongkok di sampingku seprtinya ikut bingung melihat situasi ini.


"Loh kak Mecca gimana sih? Kan aku sudah ketemu tadi, mereka teman kerja kita, kan? Sama Giska juga. Astaga, Dit, Giska belum ketemu. Dia hilang ke mana, ya?"


"Apa? Giska? Giska itu siapa, Sayang?" tanya Radit dan kali ini aku yang terkejut.


"Loh kok siapa, Giska teman kerja aku. Kemarin malam kan kita makan bareng, kamu juga yang jemput aku di resto, kenalan juga sama Giska, Aron, dan Mike. Masa lup?!"


"Sayang ... kamu baru hari ini kerja di sini," jelas Radit pelan. "Mba Alya saja baru sampai kantor terus nelpon aku, nyuruh anterin ke sini lagi."

__ADS_1


"Apa? Nggak mungkin! Jelas - jelas aku ... mereka ...." Kepalaku makin pusing, aku menutup wajahku dan mulai mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Aku bahkan masih ragu ada di mana sekarang. Aku tidak bisa membedakan mana khayalan dan imajinasi, atau mana manusia, mana hantu.


"Tha, sejak kapan kamu melihat Aron, Mike dan Giska?" tanya Rick serius.


Aku diam, mencoba mengingat kembali peristiwa tersebut. Hingga akhirnya aku menceritakan saat pertama kali datang ke sini dan melihat Rick serta Aron di lift. Mereka terlihat berbicara satu sama lain. Lalu masuk ke ruang kerja dan berkenalan dengan Giska dan Mike. Sampai saat kami makan di resto setelah pulang kerja.


Rick berdeham. "Gini, kamu terjebak di dimensi lain, dunia mereka. Aku yakin, kamu bukan orang sembarangan karena bisa sampai sejauh ini berinteraksi dengan mereka. Karena biasanya mereka hanya sepintas saja menampakkan diri. "


"Maksudnya, mereka ... hantu?" tanyaku memelankan suara. Rick mengangguk. Tubuhku terasa lemas, seolah tidak percaya pada apa yang Rick katakan. Pantas saja semua terasa janggal, semua. Bahkan sampai Radit yang bersikap sangat manis tadi. Radit memang romantis, tapi jika saat berdua denganku saja. Dia paling anti mempertontonkan hubungan kami ke publik. Bahkan hanya untuk mencium keningku saja, dia tidak berani di depan umum sekarang.


"Tapi mereka ...."


"Mereka memang pegawai di kantor ini, Tha, itu sudah lama. Tapi ada satu peristiwa yang membuat mereka meninggal bersama - sama. Memang hal ini kerap terjadi, tapi semua hanya sekilas saja melihat keberadaan mereka. Jarang ada yang sampai berinteraksi selama dan sejauh ini selain kamu."


"Memangnya apa yang terjadi sama mereka?" tanya Radit ikut penasaran.


"Mereka kecelakaan saat pulang kerja. Kejadiannya memang baru 2 tahun lalu, tapi mereka masih suka berkeliaran di sini."


"Dan yang kamu lihat saat di lift itu, memang aku, Tha, tapi bukan bersama Aron tapi sama Haikal. Dia anak lantai atas yang memang ada proyek yang harus dikerjakan sama aku. Tapi aku yang kamu lihat di dunia itu memang aku yang asli. Jujur, sulit sekali buat memperingatkan kamu tentang mereka. Tiap aku mendekat ke kamu, mereka selalu mengancamku. Jadi aku harus mencari waktu yang tepat untuk menarik kamu kembali ke sini, karena berbahaya juga kalau sampai kamu terlalu lama di sana. Takutnya kamu nggak bisa kembali lagi," jelas Rick.


"Ya sudah. Sekarang kamu udah tau yang sebenarnya, jadi mulai sekarang harus lebih hati - hati, ya." Radit mengelus punggungnya lembut.


"Astaga! Maaf, ya," ucapku sambil menutup wajah, entah karena malu, bingung, dan kesal.


"Sudah nggak apa - apa. Yang penting kamu udah sadar, Tha."


'Mungkin kita harus mengadakan pengajian lagi atau gimana nih, Rick?" tanya Bu Cleo meminta pendapat.


"Yah, sepertinya begitu, Bu."


"Ya sudah, kalian atur aja. Sudah waktunya kita pulang, saya permisi dulu." Bu Cleo pamit dan keluar ruangan ini. Kak Mecca mengelus tanganku dan mengangguk. " Kamu juga pulang aja, ya. Istirahat."


"Iya, Kak."

__ADS_1


Mba Alya menatapku iba, lalu memelukku. Kami akhirnya pulang, karena ternyata hari sudah hampir gelap, dan aku seharian hanya pingsan saja.


______________________


__ADS_2