Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
27. Akhir merihim


__ADS_3

"Tetapi jika terjadi sesuatu dengan boneka ini, maka makhluk itu juga akan terluka. Saya yakin, saat orang itu membakar kain penutup boneka ini, makhluk itu langsung mematikan apinya. Karena hanya cukup membuka segel nya sedikit saja, Merihim akan bebas."


"Jadi apa yang akan kita lakukan, Kyai? Waktu kita sempit," Ucap Armand.


"Gue nggak nyangka kalau mereka benar benar mau membunuh kita. Jangan jangan apa yang terjadi sama mahasiswa yang dulu bisa aja karena dibunuh mereka, kan?" Tanya Derry.


"Bukan mungkin, tapi sudah pasti."


"Oh jadi kalian sudah tahu tentang mahasiswa sebelum kalian?" Tanya Pak Sobri.


"Sudah, Pak. Bapak tahu apa yang terjadi pada mereka?" Tanya Daniel.


"Apa yang terjadi kurang lebihnya sama seperti kalian. Mereka sering diganggu, tapi saat mereka meninggal saya tidak tahu persisnya. Karena saya pun kaget saat mengetahui mereka semua ditemukan gantung diri di bawah pohon. Padahal malam itu, saya tidak merasakan apapun. Saya tidak mendengar apapun."


"Begini saja, saya punya rencana," Kata Pandu.


Mereka semua merapat dan mendengarkan penjelasan Pandu. Beberapa mengangguk, sebagian mengerutkan dahi, tapi mereka tampak antusias dalam diskusi ini. Apalagi ini menyangkut hidup dan mati mereka semua.


***


Malam pun tiba. Selepas menjalankan salat isyap berjamaah, tiba tiba pintu rumah diketuk dan dari balik korden jendela, tampak bayangan beberapa orang di luar.


"Mereka datang," bisik Cendol.


"Temuin sana," Ucap Sule.


Akhirnya cendol pun membuka pintu, dan mendapati ada beberapa warga desa yang berdiri di luar.


"Ada apa ya, Pak?" Tanya Cendol menatap tiga pria di luar serius.


"Begini, Mas. Mbak sama Mas semua diundang Pak Kades ke rumahnya. Ada syukuran malam ini."


"Syukuran? Syukuran apa, ya? Kenapa tadi Pak Kades nggak bilang apa apa?" Tanya Cendol dengan ekspresi datar.

__ADS_1


"Wah, mungkin lupa. Tapi kami diberikan mandat untuk menjemput kalian."


"Oh begitu. Ya sudah, nanti kami ke sana. Kalian duluan saja. Kami akan menyusul. Mau siap siap dulu."


Tapi tiga pria itu tampak ragu dan saling tatap satu sama lain. Mereka seperti enggan pergi dari tempat itu dan dari gerak-geriknya sedikit memaksa agar cendol dan semua teman temannya mau mengikuti perintah tersebut.


"Nanti kami nyusul, Pak. Ini masih ada yang salat, terus lagi makan, jadi belum siap pergi sekarang."


"Apa harus sekarang? Kenapa nggak bisa menunggu?" Tanya Armand yang lantas keluar dari dalam.


"Kalau begitu kami akan menunggu di sini."


Arman dan cendol saling tatap. Rupanya perkataan mereka tidak bisa mengusir 3 orang suruhan Pak Kades itu.


"Ya sudah, terserah kalian. Tapi maaf, pintunya kami tutup. Soalnya rumah berantakan. Kalian tunggu saja di teras."


"Iya, Mas. Kami tunggu di sini saja."


Setelah mengatakan itu pintu pun ditutup dan dikunci dari dalam. Tiga pria tadi sedikit bingung melihat sikap para mahasiswa itu yang terasa berbeda dari biasanya. Tapi mereka tidak menaruh curiga sedikitpun dan sekarang mereka hanya duduk di teras sambil menikmati rokok Kretek di tangan masing-masing.


"Iya! Rencana kita gagal dong?" Tanya Indy.


"Enggak. Kita nurut saja. Ayo, kita keluar sekarang," Ajak Sule.


Setelah mereka siap, Mereka pun segera keluar dari rumah dan menemui tiga ajudan Pak Kades.


"Ayo."


"Loh kok cuma segini?" Tanya salah satu dari orang tadi. Mereka sadar kalau ada beberapa orang yang tidak terlihat.


"Oh iya, Pak Kyai udah pulang. Jadi cuma kami aja."


"Oh begitu. Baiklah."

__ADS_1


Mereka berjalan keluar dari halaman rumah tapi tiba-tiba arah mereka berubah yang seharusnya pergi ke arah timur justru mereka menyuruh para mahasiswa ini pergi ke arah barat.


"Loh, kan rumah Pak Kades di sana, Pak?" Tanya Dolmen protes.


"Kita lewat sana saja. Soalnya di situ agak serem."


"Serem?" Tanya Khusnul sambil menoleh ke belakang.


Rupanya di rumah kosong bekas bunuh diri tampak sosok yang biasa menghuni. Sosok wanita berbaju merah. Mereka tampak takut tapi juga curiga. Karena sudah mengetahui rahasia Pak Kades, membuat mereka selalu curiga terhadap gerak gerik warga di desa ini. Tapi mau bagaimana pun, mereka tetap menurut dan mengikuti tiga orang tadi yang sudah berjalan lebih dulu.


Langkah mereka mulai memasuki area pemakaman. Tiba tiba mereka berhenti saat melihat di tempat itu sudah banyak sekali orang. Mereka membawa obor dan berdiri di sekitar makam. Ada sekitar 10 orang. Lalu ada beberapa orang lain yang berlari ke belakang mereka. Seakan akan hendak menghalangi mereka jika hendak kabur.


"Ada apa ini?" Tanya Armand serius.


"Tangkap mereka!" Perintah Pak Kades.


Otomatis mereka berusaha melawan. Akhirnya terjadilah pertarungan sengit di antara mereka. Para gadis menyingkir sambil harap harap cemas. Saat situasi menjadi tegang, tiba tiba mulai muncul sosok sosok lain yang berdatangan di sekitar. Mey tiba tiba menjerit histeris. Di susul Indy. Rahma dan Ike berusaha menahan mereka berdua, walau pada akhirnya agak kewalahan.


"Armand! Gimana ini!" Jerit Khusnul.


Fokus mereka pun akhirnya terbagi dua. Apalagi saat patung batu yang selama ini mereka lihat hanya duduk diam di tempatnya, kini justru bangkit. Dia bergerak dan mendekat.


Pak Kades dan Pak Rt serta beberapa lainnya langsung bersujud. Mereka benar benar mengagungkan benda itu.


"Kami persembahkan mereka untuk, Nyai. Silakan dinikmati!" pak Kades menunjuk ke arah Armand dan teman temannya.


Patung tadi bergerak dengan gerakan kaku. Tanpa ekspresi dia maju mendekat ke arah para gadis tadi. Khusnul, Rahma dan Ike menjerit ketakutan. Suasana menjadi semakin kisruh. Mereka panik dan takut.


Tapi tak lama kemudian ada suara azan berkumandang. Mereka semua lantas menoleh ke sekitar. Ternyata ada Kyai, Pandu, Syarif dan Pak Sobri. Tidak hanya itu saja, beberapa anak anak dari pondok pesantren mulai muncul sambil melantunkan doa doa.


Melihat situasi menjadi tidak terkendali, warga yang menjadi kaki tangan Pak Kades hendak menyerang anak anak pondok pesantren. Tapi mendadak ada suara tembakan. Kini beberapa pasukan polisi berdatangan. Mereka yang awalnya terlihat percaya diri sekali, kini menjadi loyo saat ditangkap oleh pihak berwajib.


Patung tadi menjadi tontonan orang banyak. Pak Kyai lantas mendekat lalu memegang kening patung tersebut sambil melantunkan doa doa. Pandu mendekat. Sambil membawa boneka jelangkung yang sebelumnya mereka temukan. Tangan kanan Pak Kyai seperti menarik sesuatu dari dalam patung lalu dengan pelan, memindahkannya ke dalam boneka jelangkung tadi. Keringat dingin mulai tampak di kening Pak Kyai. Begitu semua bagian dari merihim dipindahkan ke boneka, Pandu dan Syarif memasukkan kain yang sudah ditulisi ayat ayat doa. Boneka tadi dimasukan ke dalamnya dan diikat.

__ADS_1


Sosok sosok yang tadi muncul, mendadak lenyap. Pak Kades dan Pak Rt ditangkap dengan pasal penistaan agama bersama seluruh orang yang terlibat.


Malam berakhir dengan kemenangan di pihak Armand. Kejadian tadi berakhir. Makhluk yang melakukan teror pada desa itu sudah kembali disegel.


__ADS_2