
POV ARETHA
Hari senin.
Hari pertama di sekolah setelah liburan seminggu kemarin.
Selama beberapa bulan terakhir ini, tidak banyak kejadian aneh yg kami alami di sekolah.
Semua berjalan lancar tanpa gangguan berarti seperti sebelumnya.
Sosok yg mencari cari tangan, kini telah berhasil menemukan tangan nya.
Yah- walau dia tidak lantas berhenti gentayangan di sekitar sekolah. Namun, intensitasnya sudah tidak terlalu sering.
\=\=\=\=\=\=
Kami akhirnya berhasil naik ke kelas 2, dan kali ini kelas pun diacak lagi.
Atas izin dari pak Feri, alias om Feri, kami akhirnya dapat menempati 1 kelas bersama sama. Lebih tepatnya kelompok kamu bisa satu kelas sekarang.
Hal yg sangat langka terjadi, terlebih padaku dan kak Arden.
Kembali aku sebangku dengan Kiki, kami duduk di bangku paling depan, pojok, dekat pintu kelas. Meja samping ku ditempati kak Arden dan Dedi. Sedangkan belakang kami persis ada Doni dan Radit.
Danu dan dion ada di belakang kak Arden dan Dedi, sedangkan Ari duduk di meja samping kak Arden, bersama Viktor.
Kami memang lebih suka ada di barisan depan, karena jika ada di bangku belakang, akan tidak konsentrasi dengan pelajaran.
Terlebih kami ada di kelas IPA yg pelajaran nya super duper susah.
Tidak ada waktu untuk main main.
\=\=\=\=\=\=\=
Ini hari pertama MOS anak anak kls 1.
dan kak Arden, Danu, Dion menjadi pengurus untuk MOS karena mereka anggota OSIS. Alhasil, mereka sering keluar kelas.
Selama MOS pun, kami masih santai santai, alias tidak ada pelajaran yg menguras emosi dan jiwa.
"Eh, kantin yuk," ajak Doni.
Aku dan Kiki mengangguk.
Sepertinya tidak masalah juga jika harus ke kantin, daripada bengong di kelas. Malah mengantuk.
Akhirnya kami ke kantin bersama sama. Tanpa tiga orang tadi
Setelah duduk di meja langganan kami, lantas segera memesan makanan dan minuman.
Terlihat dari ujung sekolah, banyak anak anak kelas 1 yg sedang melaksanakan kegiatan mereka sebagai anak baru yg sedang ikut MOS.
"Wuih... banyak cewek cakep nya ya," celetuk Ari sambil cengengesan.
"Bener tuh, Ri. Kali aja kalian pada bisa dapet satu-satu deh," gurau Doni.
"Nah, itu tuh, Ri Cakep tuh," tunjuk Radit juga antusias pada gerombolan anak anak kls 1 tak jauh dari kami.
"Yg mana sih, Dit?" tanya Ari yg seperti nya belum menemukan apa yg ditunjuk Radit.
"Ya ampun, itu yang rambutnya panjang dikepang. Manis banget deh," kata Radit tanpa dosa.
Aku meliriknya tajam. Doni yg melihat reaksiku lalu menyenggol Radit dan mengisyaratkan agar melihat ke arahku.
Sangat jelas sekali dia menelan ludah dan wajahnya berubah pucat saat menoleh padaku.
Kunaikan sebelah alisku dan menatap tajam Radit, bagai elang yg akan memangsa buruan nya.
Dia tersenyum, sambil garuk garuk kepala.
"Sayang, kamu kok cantik banget sih hari ini," rayu nya.
Aku diam dan masih terus menatapnya dingin.
"Mampus lu, Dit.." Doni tertawa ngakak. Ari dan Kiki tertawa bersama sama.
Radit terus berusaha membujukku agar aku tidak ngambek lagi.
Dan, tak lama kak Arden, Danu dan Dion malah ikut bergabung dengan kami.
Terlihat mereka kelelahan.
"Kak, capek banget?" tanyaku sambil terus menatap wajah kak Arden.
"Lumayan. " Dia meraih milk max milikku.
"Den, ajak mereka aja gimana?" tanya Danu.
"Mau ke mana?" Doni penasaran.
"Biasa, Don. MAKRAB besok malam." sahut Danu santai.
"Waaahh. seru nih," kata Ari semangat.
__ADS_1
"Iya, kalian ikut ya. Kita kekurangan pengurus, banyak yang nggak bisa datang, sakit," pinta kak Arden.
"Emang boleh, kak?"
"Ya boleh lah."
Mereka asik ngobrol ngalor ngidul, terutama soal MOS dan acara MAKRAB besok malam.
Sebenarnya acaranya itu lebih khusus ke PRAMUKA, pelantikan tamu ambalan, lebih tepatnya. Yang memang biasa diadakan jika siswa baru masuk.
Perhatianku teralihkan, saat ada seorang siswa baru yg lewat di depanku. Beberapa pasang mata juga sama, melihat nya dengan terkesima. Terutama kaum hawa.
Dia memang terlihat tampan dan memiliki wajah yg lumayan.
Tapi, bukan itu yg membuatku terus menatap nya.
Namun, sosok di sampingnya.
Sepertinya dia mempunyai jin pendamping.
Gila banget, masih kelas 1 udah punya jin pendamping gitu.
Buat apa sih?
"Ehem..." Radit berdeham yg sepertinya sengaja melakukan itu karena aku yg terus melihat anak itu.
"Kenapa??" tanyaku ketus.
"Segitunya ngeliatin dia," gerutu nya.
"Siapa?"
"Kamu lah.."
"Aku? Ngeliatin siapa??"
Dia mendengus sebal.
"Itu anak kelas 1, Aretha." Radit menunjuk anak itu dan terlihat makin kesal.
Aku sontak tertawa kencang.
"Heh! Malah ketawa. Apa yg lucu!!'
"Kamu pikir aku ngeliatain dia?!"
Radit mengangguk pelan.
"aku bukan lihat dia. Tapi yg di sampingnya," bisikku pelan.
"Serius, Tha?
"Yang mana sih?"
"Di sebelahnya? Maksudnya apa, Tha?"
"Khodam!"
"Wah, keren."
Dan jadilah dia menjadi bahan gosip kami siang ini. Usut punya usut dia bernama, Leo.
Dari sumber yg dapat kami percaya, Leo ini playboy.
Kelas kakap lah intinya. Dia terkenal suka gonta ganti cewek dalam waktu singkat.
Dan info ini kami dapat dari Ari, dia memang bagai infotainment.
Segala macam gosip dapat kami dengar dari nya.
"Kamu jangan deket deket dia lho, Tha!!" ancam Radit serius.
Aku malah tertawa melihatnya cemberut seperti itu.
Aku pamit ke toilet ke mereka.
Awalnya Radit ngotot mau ikut aku, tapi ku omelin saja dia.
Masa iya, sampai toilet juga dia ngintilin aku terus?
Saat masuk ke toilet, rasanya bulu kudukku meremang.
Suasana sangat sepi.
Aku masuk dan segera memilih bilik toilet yg biasa ku pakai selama ini.
Di sini ada 5 bilik toilet yg disekat sekat.
Saat aku di dalam bilik toilet, aku mendengar ada yg masuk ke dalam bilik sampingku.
Kudengar toilet di flush dan terdengar air mengalir dari sana.
Ah, setidaknya aku tidak sendirian di toilet. Nggak asik banget kan.
__ADS_1
Kudengar kembali toilet di flush.
Bahkan sepertinya dia melakukan nya beberapa kali.
Aneh banget sih? Iseng gitu.
Saat aku keluar dan mencuci tanganku di wastafel, aku sedikit mengernyitkan kening karena di cermin depanku, semua bilik toilet dalam keadaan terbuka.
Perasaanku tidak enak.
Karena penasaran, aku dekati satu persatu bilik toilet di sini, siapa tau, ada yg ngumpet dan sengaja ngerjain aku. Biar aku takut.
Kriiieeet
Kosong.
Kembali aku berjalan lagi
Kriiieeert.
Lagi lagi kosong.
Kriiieeettt...
Degg!!
Kali ini sosok itu terlihat jelas di depanku.
Seorang siswa yg masih memakai seragam sekolah, sedang jongkok di atas kloset sambil memainkan tombol flush berkali kali.
Aku mundur, dia yg awalnya memunggungi ku, kini perlahan menoleh dan menatap ku diam. Dia menyeringai dengan seringai yg menakutkan.
Badanku seperti terhipnotis, dan sulit untuk digerakkan.
Bahkan untuk mengedipkan mata saja, aku tidak bisa.
Sosok itu turun perlahan dari kloset, dan kini aku dapat dengan jelas melihat nya.
Lehernya seperti hampir putus dan terdapat luka robek yg menganga lebar. Saat dia berjalan, kepalanya seperti akan jatuh ke lantai.
Aku ngeri melihatnya.
Kubaca doa dalam hati, dan perlahan badanku bisa bergerak, walau pelan.
Karena terlalu memaksakan, untuk berjalan, aku sampai terjatuh dan menabrak tempat sampah yg dekat denganku.
Aku terus menarik tubuhku di lantai. Untung lantainya bersih.
Tiba tiba ada yg masuk ke dalam, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, saat aku mendongak kan kepalaku, ternyata dia adalah anak kelas 1 tadi, Leo.
Leo masuk lalu jongkok di depanku.
"Kamu gak papa?" tanyanya cemas.
Namun aku hanya diam tidak menjawab pertanyaan nya. Lidahku terasa kelu.
Leo kemudian berdiri dan berdiri di depan pintu bilik toilet tadi.
Dia terdiam dengan tatapan mata yg dingin dan tajam, sambil menggumam sesuatu, dia melakukan gerakan yg aneh, dan jin pendamping yg tadi kulihat, kini muncul lagi.
Seperti nya mereka sedang menghadapi sosok mengerikan tadi.
Tak berapa lama, Leo menghampiriku lagi dengan sigap langsung membopongku keluar toilet.
Kami terus berjalan di sepanjang koridor sekolah dengan tatapan macam macam dari teman teman, maupun adik kelas yg lain.
Aneh nya, aku pasrah saja dibopong begini sama dia.
"Heh!! Apa apaan nih!! Turunin dia!!" tiba tiba Radit muncul dengan wajah yg penuh amarah.
"Kenapa sih? Orang aku cuma mau nolongin dia kok?" tanya Leo santai.
Radit makin kesal bahkan kini mencengkram kerah baju Leo.
Akhirnya Leo menurunkan ku dari gendongan nya.
Dan sepertinya mereka benar benar akan berkelahi.
Waduh, gawat deh.
"Dit. Udah, Dit. Udah. Dia bener kok. Tadi dia cuma nolongin aku aja. Nggak lebih. Udah ya, Dit," bujukku pada Radit sambil berdiri di hadapan nya agar dia tidak terus terusan menatap Leo dengan tatapan dingin seperti ini.
"Ada apa sih ini?" tiba tiba kak Arden sudah ada di antara kami, lalu menatap Radit, Leo dan aku bergantian.
Banyak juga yg ikut mengerubungi kami sekarang.
Namanya ribut di sekolah itu, bakal jadi tontonan gratis yg sangat menarik untuk banyak orang.
Karena merasa keadaan tidak cukup nyaman, kami pindah ke tempat yg lebih privasi lagi.
Kini kami ada di ruang OSIS, dan akhirnya kuceritakan apa yg terjadi tadi. Mendengar itu, Radit jadi cemas, dan terus menanyaiku dengan pertanyaan beruntun.
Pada akhirnya, Radit meminta maaf pada Leo karena kesalahpahaman tadi.
__ADS_1
Namun, saat Leo menatapku, aku merasa aneh. Entah bagaimana aku menjelaskan nya.
\=\=\=\=\=\=