Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 8 gangguan


__ADS_3

"Dan, sepertinya itu yang namanya ... Ummu Sibyan."


Danu menoleh padaku, kedua netra kami bertemu. Ada gurat ketakutan sekaligus rasa penasaran atas makhluk di depan kami ini. Memang aku baru pertama kali bertemu makhluk seperti ini. Jika benar dia adalah Ummu Sibyan seperti yang kudengar di desa ini, maka bentuknya memang mengerikan, terlepas dari hobinya yang suka mengganggu anak kecil atau ibu hamil. Dia bukan kolong wewe seperti yang pernah kutemui sebelumnya. Sangat berbeda walau konsepnya hampir sama. Bedanya kolong wewe atau sebagian orang yang menyebutnya wewe gombel adalah jelmaan seorang wanita yang rohnya gentayangan, biasanya di sebabkan mati bunuh diri. Dulu ada sebuah mitos yang menyatakan demikian, roh wanita yang bunuh diri itu gantung diri di sebuah pohon, di kawasan bukit gombel. Sebelum bunuh diri perempuan itu memergoki suaminya tengah tidur dengan wanita lain, karena dia tidak bisa memiliki anak.


Sementara Ummu Sibyan adalah kaum jin wanita yang suka muncul saat suasana magrib, mereka akan mengganggu anak kecil dan ibu hamil. Salah satu alasan kenapa harus mengazankan bayi baru lahir, adalah kekhawatiran jika jin ini mengganggu bayi tersebut. Walau pemahaman ini bukan atas dasar al-Quran dan hadis. Memang saat magrib, di beberapa tempat melarang warganya berkeliaran. Dan aku tidak menyangka jika di desa ini benar-benar kental akan adat tersebut. Bahkan jin itu benar-benar muncul di depanku sekarang.


Danu makin menempel padaku, walau sikapnya sudah siap akan bahaya dan kemungkinan yang akan terjadi, tapi aku yakin jauh dalam lubuk hatinya ada ketakutan besar berhadapan dengan makhluk tersebut. "Rencana kita apa, Tha?" bisik Danu dengan pertanyaan yang sedang aku pikirkan jawabannya sejak tadi.


"Terus berdoa aja, Dan. Aku juga nggak tau harus bagaimana. Mungkin kita buat dia keluar dari rumah ini." Aku ikut berbisik. Jin wanita itu masih merayap di tembok, terus memperhatikan pergerakan kami. Seolah mengawasi dan bersiap jika salah satu di antara kami akan melakukan penyerangan. Karena sejak tadi dia tidak berbuat apa pun. Walau sebenarnya hanya melihat di merayap ke sana ke mari saja sudah menjadikan beban mental untuk kami. Seringnya bertemu makhluk halus, bukan berarti aku sudah kebal akan ketakutan yang mereka timbulkan. Karena hal pertama yang tidak bisa kuhilangkan sejak dulu adalah rasa takut. Di saat seperti ini aku berharap ada Kak Arden, jadi kami akan dengan mudah mengusirnya. Aku mulai berdzikir lirih. Danu juga sudah mulai menggumamkan ayat-ayat suci Al-Quran.


Jin wanita itu memiringkan kepalanya, bibirnya melebar menampilkan gigi-gigi yang jarang namun terlihat sangat runcing. Rambutnya ikal walau tidak sepanjang kuntilanak, tapi tetap khas, acak-acakan. Kulitnya, bahkan sekujur tubuhnya sedikit gelap. Aku bahkan tidak tau apakah itu karena warna kulit yang memang gelap, atau bekas terbakar. Karena beberapa bagian tubuhnya terlihat melepuh dan mengelupas. Menjijikkan.


Jeritan dari dalam rumah terdengar sangat jelas. Aku dan Danu saling tatap, dahi kami mengerut seolah memiliki pertanyaan yang sama. "Siapa yang jerit itu?!" tanyanya. Pertanyaan itu juga sama seperti yang hendak aku lontarkan tadi. Aku lantas menggeleng pelan. Kami mulai bingung, karena ada ancaman besar yang ada di hadapan kami sekarang. Tapi kami juga penasaran pada suara dari dalam tadi. Satu yang dapat aku pastikan, tidak mungkin itu suara Nenek. Lantas suara siapa tadi. Kini aku malah mencemaskan Nenek. Aku takut terjadi sesuatu pada beliau.


"Dan, kamu pilih, mau di sini mengawasi jin perempuan itu, atau ke dalam. Periksa Nek Siti. Aku takut terjadi sesuatu."


"Hm, nggak ada pilihan yang enak sih, Tha. Tapi gue lebih pilih di sini, ini setan masih diem saja di situ. Kayaknya dia nggak bakal macam-macam. Sementara di dalam ... entah ada apa. Serius, gue lebih takut sama yang di dalam. Elu aja gih," suruh Danu, dengan alasan yang masuk akal.


Aku menarik nafas panjang, lalu mengangguk dan setuju atas pilihan Danu. Kami mulai berjalan memutar agar lebih dekat ke koridor ruang tengah. Saat kami bergerak, Ummu Sibyan itu juga ikut bergerak, seolah - olah dia juga menghindar untuk berdekatan dengan kami. "Biar gue cari cara ngusir dia, Tha. Elu cek Nek Siti!"


Aku mengangguk, "Kamu hati-hati, Dan!" Begitu sampai di koridor pintu penghubung ruang tamu dengan ruang tengah, aku langsung pergi masuk ke dalam.

__ADS_1


Suasana ruang tengah terasa sunyi, bahkan aku merasakan sensasi panas dan dingin yang bercampur menjadi satu. Cermin di dekat bufet, mengembun, tapi aku berkeringat sekarang. Rasanya sangat pengap di dalam rumah ini.


Ruang tengah sudah berhasil kulewati. Tidak ada tanda - tanda adanya orang lain atau makhluk kasat mata di sini. Tujuanku memang kamar Nek Siti yang dekat dengan dapur. Langkah semakin aku percepat, rasa cemas sudah sangat membuncah dan berharap pikiran buruk yang sejak tadi terlintas di kepala tidak pernah terjadi.


"Nek ... Nenek!" panggilku begitu sudah sampai dapur. Aku terus berjalan menuju kamar Nenek. Saat aku membuka pintu, tak terasa mulutku menganga, jendela kamar Nek Siti yang masih terbuka lebar kini muncul sosok mengerikan. Seorang pria dengan kondisi tubuh mengerikan, kepalanya berlumuran darah, bahkan ada sebuah kapak yang masih menempel di tengah kepalanya. Sekujur tubuhnya seperti dicambuk, karena meninggalkan bekas luka yang bernanah dengan bekas darah yang masih basah, juga sebagian yang sudah mengering. Tapi yang membuat aku melongo adalah tubuh Nek Siti yang sedang terangkat cukup tinggi dan berada di tangan makhluk mengerikan itu. Nek Siti tidak bergerak, tapi matanya yang melotot menandakan dia sedang kesulitan bernafas.


"Nenek!" jeritku, saat aku akan berlari mendekat, menolongnya, tiba - tiba tubuhku justru terlempar menghantam meja makan yang berada di belakangku. Aku mengerang kesakitan. Rasa linu di punggung sempat membuat kekuatanku berkurang drastis, jangankan untuk berlari menolong Nek Siti, untuk bangun saja aku tidak sanggup. Tubuh Nek Siti yang tak berdaya di sana, membuatku berusaha untuk bangkit. Rasa sakit ini berusaha untuk tidak aku rasakan. Kedua tangan mulai menjadi tumpuan tubuhku untuk berdiri. Aku juga meraih kursi untuk membantuku berdiri. Entah kenapa kakiku seolah tidak mampu menopang tubuhku sendiri. Dengan terseok aku berusaha mendekat dan masuk kembali ke kamar Nenek. Dzikir terus aku panjatkan di tiap langkah yang kubuat, aku minta di berikan kekuatan untuk bisa menolong Nenek.


Pintu kamar itu berhasil kuraih. Gumaman dzikir tadi mulai kuperjelas, bahkan aku menaikkan suaraku sambil membacakan doa-doa. Tapi tiba - tiba lidahku kelu, doa yang sedang aku baca mendadak hilang dari pikiranku, semua terasa blank dan tidak masuk akal. Al Fatihah yang sedang aku baca tidak lagi bisa kuteruskan kalimatnya. Aku seperti lupa akan bacaan tadi. Jalan satu - satunya adalah membawa Nenek pergi dari sini. Dengan susah payah aku memeluk tubuh Nenek, berusaha menarik Nek Siti dari tangan makhluk mengerikan itu. Hanya kalimat basmallah yang mampu terucap dari mulutku. Dengan sekuat tenaga aku berhasil merebut Nenek dari tangan makhluk itu, kami terjatuh dengan posisi Nenek berada di atas tubuhku.


"Aretha!" jerit Danu yang kini muncul di depan pintu. Dia lantas membantu Nenek dan membawa Nek Siti ke kursi roda. Aku menatap jendela gelap di sana. Makhluk itu lenyap, hanya meninggalkan jejak hitam di atas meja. Korden berkibar tertiup angin, dan aku hanya duduk di tempatku jatuh tadi, menatap dengan tatapan kosong ke jendela. Hingga Danu berada di hadapanku dan membantuku berdiri. Dia terlihat sangat cemas sekali.


"Nggak apa - apa, Dan."


Satu tarikan nafas Danu tadi terlihat sangat jelas sekali, dan itu menunjukkan kelegaan dalam dirinya setelah mendengar jawabanku tadi. "Nenek gimana?" tanyaku dan kini mencari keberadaan Nek Siti yang ternyata masih duduk diam di kursi roda miliknya.


"Aman, Tha. Tapi kayaknya kita harus bawa Nenek ke dokter deh."


"Kenapa, Dan?"


Kami berdua lantas mendekat ke Nek Siti. Danu membungkuk, memperhatikan bagian leher Nenek. Aku mengikuti apa yang dia lakukan, menyipitkan mata agar apa yang dimaksud Danu juga dapat ku tangkap.

__ADS_1


"Lihat nih! Lehernya Nek Siti," tunjuk Danu ke bagian bawah kepala. Aku makin mendekatkan kepalaku dan melihat apa yang dimaksud Danu tadi.


"Ya Allah! Jangan - jangan karena cekikan tadi!" ujar ku berasumsi.


"Cekikan?" Danu menoleh padaku, meminta penjelasan lebih.


"Kamu nggak lihat setan laki - laku tadi?" tanyaku balik.


"Di mana? Setan apaan?" Danu menoleh ke sekitar, mencari sesuatu.


"Tadi Nenek dicekik setan, laki - laki dan ... Mengerikan."


"Tha, selama ini mana ada sih, setan yang nggak mengerikan?! Jadi itu alasan leher Nenek jadi begini? Astaga kasihan sekali. Pasti sakit banget itu, Tha."


"Kita bawa ke dokter Daniel!" kataku antusias. Danu mengangguk dan setuju pada ide ku baru san.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setelah meraih jaket di kamar masing - masing, kami mulai berjalan keluar rumah. Nenek sudah memakai sweeter milikku, karena aku yakin udara malam cukup dingin.


"Pintunya kunci dulu, Tha!" kata Danu begitu kami sampai di teras.


"Iya, bawel!" aku memutar kunci dan memastikan kalau rumah ini sudah tertutup rapat.

__ADS_1


__ADS_2