
Pagi ini suasana posko agak ramai karena teman teman Indra.
Kulihat di teras Ferli , Indah , Nindi dan Nadia sedang memandangi teman teman Indra yang sedang berolah raga diluar.
Kalian pernah nonton film korea D.O.T.S ? Nah persis seperti itu , saat Dr. Kang dan para perawatnya bengong dan terkesima melihat para tentara yang selalu olahraga setiap pagi dengan bertelanjang dada, menampilkan tubuh ideal dan atletis nya.
Itu pemandangan yang sama seperti yang kulihat sekarang.
" Lagi pada ngapain sih??" tanyaku heran . Karena tumben sekali mereka bangun sepagi ini. Biasanya aja malah kalah sama ayam.
" Nis ... Liat deh. Hmm. Pemandangan yang jarang jarang kita liat pagi pagi nih," ucap Ferli tanpa melepas pandangannya dari para polisi di depan.
"Lebay ah. Gitu aja pakai melotot segala. Malu- maluin," sahutku cuek. Aku putuskan masuk lagi ke dalam, meninggalkan para betina ini melongo. Tetapi Indah memanggilku.
" Eh, lihat tuh.. Indra juga ada di sana . kamu gak mau melototin juga? " kata Indah.
Seketika langkahku terhenti. aku berbalik dan memang aku melihat Indra ada di sana. Dan kini aku berada di tempat para betina ini. Damn!
Mereka melirik ke arahku yang bagai menjilat ludah sendiri.
" Katanya lebay. Dirinya ikut melotot juga liatin si Indra. Dasar ababil!! " gerutu Indah.
Aku cuma tersenyum tanpa melepaskan pandanganku dari Indra. Indra terlihat keren. Dengan keringat yang terlihat mengkilap di sekujur tubuhnya.
" Nis, Gimana rasanya bibir Indra? " tanya Indah berbisik. Otomatis aku langsung melotot ke arahnya.
" Apa sih ? maksudnya apaan ?" tanyaku pura pura tidak tau.
Jangan jangan kemaren Feri sama Ferli liat pas aku dicium Indra.
Huuuaaaaaaaa...
" Halah , dikira kita gak tau, Indra kemaren cium kamu kan? Hayo ngaku!" kata Indah makin gencar menyudutkan ku.
" Kata siapa ? ngarang!! " aku masih saja mengelak.
" Tuh, saksi mata . Masih hidup.. Berani dia disumpah pocong juga!! " kata Indah menunjuk Ferli.
" Ndah , kamu... Ih ...m. Tau ah " kataku malu.
" Ciee malu nih ye. Asik! Ihir! " Indah malah makin keras meledekku, tak lagi dengan berbisik. Dia mirip toa masjid.
" Kenapa sih , Ndah ? Nis?" tanya Ferli yang belum tau obrolan kami barusan.
" Fer, bener kan kemaren yang kamu bilang.. si Indra udah...cup cup Nisa. hahahahaha "
" Iya Ndah! Wuiiihhhh sumpah. kalau kamu liat, mupeng beneran!! Hahaha."
"Setan!" umpatku lalu mengejar mereka. Kami mirip tom and jerry yang selalu bermusuhan. Namun , mereka malah berlari ke kerumunan teman teman Indra dan bersembunyi di belakang Indra.
Indra heran melihat tingkah kami.
" Kenapa sih ini ? " tanyanya sambil menatapku.
" Mereka tuh!! Nyebelin!!" rengekku manja.
" Ada yang malu, Ndra. Liat tuh muka Nisa merah. Hahahaha," ucap Indah makin menjadi.
" Emangnya kenapa ? " tanya Indra
" Jiaah, si bapak. Ya gara- gara elu lah.. Lu apain coba tuh anak orang kemaren. habis kamu pergi , Nisa jadi senyum senyum sendiri tau!! "
Indra yg sudah paham situasinya ikut mengulum bibir. Menunduk sambil melirik padaku.
" Setan! Awas ya kalian! " kataku jengkel lalu kutinggakan mereka begitu saja.
" Nis!! Nisaaa!! Yah, ngambek !! Becanda kali, Nis!!! " teriak Indah namun tak kupedulikan. Aku terlanjur malu karena ulah mereka.
Kuputuskan mandi dulu.
Saat mandi pun aku masih teringat olokan mereka karena tau bahwa Indra dan aku berciuman kemarin.
Duh , taruh di mana muka ku. Malu banget sumpah!
Tok..tok..tok..
"Nis !! Udah belom? gantian napa!! " teriak Lukman di luar.
" Iya, bentar. udah nih," kataku lalu saat kubuka pintu ,kulihat Lukman sudah berdiri di depan kamar mandi.
" Mau mandi? " tanya ku.
" Ya iyalah ,pakai nanya lagi . Gue ada PROKER nih pagi pagi. cepetan! awas."
Aku menyingkir, sambil geleng geleng kepala, mengeringkan rambutku yang basah dengan handuk.
Sekalian aku mau membuat kopi, mumpung masih ada di dapur.
Sambil menggumam menirukan sebuah lagu berjudul terpukau milik Astrid, aku masih asik membuat kopi dengan santai nya.
Sampai tiba tiba ada yang berdeham. Aku yang sedang mengaduk cangkir kopi paham, suara siapa di belakangku. Aku yakin itu Indra.
"Kamu lagi bikin kopi?" tanyanya.
Aku hanya menoleh sebentar lalu ku jawab dengan anggukan.
" Aku buatin dong," pintanya.
Badan ku gemetaran, jantungku berdegup lebih kencang, rasanya panas dingin tidak karuan.
__ADS_1
" Ini ... ini aja, Ndra. Aku lupa kalau belum sarapan. Nanti perutku sakit," kataku sambil menyodorkan kopi buatan ku tadi. Saat hendak pergi kembali ke kamar, Indra menahan tanganku, dan rasanya seperti badanku tersengat aliran listrik.
Nggak normal nih aku. Ada yang gak beres pasti nih.
"Nis...."
Aku diam, hanya menunduk malu. aku yakin dia pasti akan membahas masalah tadi.
"Maaf ya soal kemarin. Aku terbawa suasana," katanya masih menatapku dalam. Aku sangat mampu menangkapnya walau aku tidak menatapnya.
"Iya nggak apa apa," kataku masih menunduk menghindari tatapan matanya.
"Kamu gak marah kan?" tanyanya sambil berusaha menangkap tatapan mataku. namun aku terus menghindar.
" Enggak kok."
" Nis! Di tungguin Ferli tuh. katanya mau PROKER." Tiba tiba Nindi masuk ke dapur mengagetkan kami.
" Oh Iya. Ya udah, Ndra. Aku pergi dulu," pamitku.
lndra melonggarkan pegangannya dan menatapku yang berjalan menjauh darinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Proker kali ini cukup menguras tenaga ku dan Ferli. Sehingga kami pun baru selesai sore hari. Tidak seperti biasanya yang semua akan selesai sebelum azan ashar berkumandang.
"Nis, Indra belum juga nembak?" tanyanya saat kami berjalan pulang kembali ke posko.
" Belom. kalau udah, aku pasti bilang kali, Fer. Ngapain nanyain itu mulu ah," cetusku, sebal.
"Ya kali aja udah jadian tapi gak bilang bilang, ampe kalian ciuman kemaren, kan . Kupikir dia juga nembak sekalian, Nis?" tanyanya heran.
Jangankan kamu, aku aja heran. Dia udah berani cium cium aku tapi gak pernah bilang apa apa.
Apa aku nya yang bego ya?
Aku menarik nafas panjang.
Sambil memandangi pemandangan sekitarku.
" Mbak," panggil seseorang.
Kami berhenti dan menoleh ke belakang.
Itu Bu Kus, terlihat sedikit berlari dengan kepayahan.
" Ibu? Ada apa, bu?" tanyaku heran.
" Nanti malem dateng ke rumah ya mbak. Habis maghrib.. ditunggu suami saya," katanya membuatku senang sekali.
" Oh gitu. Iya bu. Nanti saya ke rumah habis maghrib. Terima kasih, ya, bu," kataku.
Bu kus pamit pulang,aku dan ferli pun juga kembali meneruskan perjalanan ke posko.
\=\=\=\=\=\=
Aku ingin semua misteri ini terselesaikan, sebelum kami menyelesaikan KKN kami di sini.
Kasihan juga warga desa ini, jika sampai ancam Pak Slamet benar benar akan dilakukannya.
" Nis. Udah balik? " suara Herman membuyarkan lamunanku.
Kubetulkan posisi duduk, lalu ia duduk di sampingku.
" Udah, Man. Kalian habis dari mana? kok baru keliatan?" tanyaku.
"Ya nyari tulang nya Pak Slamet lah," katanya sambil mengatur nafasnya. Kulihat ia kelelahan.
" Hus! Tulang! Tulang! Emangnya ayam!!" kataku sambil memukul lengannya. Dia senyum, sambil mengucap maaf.
" Eh, Indra mana? " tanyaku karena sedari tadi tidak melihat keberadaannya.
"Kenapa? Kangen, ya?"
Kupukul bahunya lagi. "Kan ke mana mana sama kamu. Tumben kalian pisah," kataku menutupi kegugupan.
Tak lama orang yang kami bicarakan pun muncul. Dia senyum melihatku, ku balas senyum juga.
"Ndra... Nih dicariin," kata Herman sambil menunjukku.
"Kamu nyariin aku? Ada apa?" tanya Indra sambil duduk di kursi depanku.
"Enggak kok. Ngaco si Herman," elakku tersipu.
"Alah, lah yang barusan nanya 'Indra ke mana, Man?' tuh siapa?!" kata Herman sambil melirikku.
"Au ah.. eh, ndra.. Nanti temenin ke rumah Pak Kus, ya, habis maghrib. katanya kita udah ditunggu," pintaku.
"Siap, tuan putri."
\=\=\=\=\=\=\=\=
Sekitar pukul 18.30, aku, Indra, Herman dan Indah pergi ke rumah Pak Kus. Jujur, ini pertama kalinya kami pergi malam malam begini.
Suara jangkrik di dalam hutan dan beberapa serangga malam mengiringi langkah kami. Desir dedaunan yang tertiup angin memecah kesunyian malam.
Aku dan Indah berjalan paling depan. Indra dan Herman di belakang kami.
"Nis, kenapa sih, pakai malem- malem gini perginya?" tanya Indah sambil tengak tengok ke segala arah. Diantara teman teman yang lain, hanya Indah lah yang paling berani menurutku. Jadi lebih baik aku ajak dia aja.
__ADS_1
" Ya amanatnya gitu. Ya udah, mau gimana lagi, Ndah." aku fokus berjalan melihat depan, dan lebih sering menunduk. Karena beberapa pasang mata yang tidak kulihat tubuhnya sedang mengawasi kami.
" Eh, pak ustaz kapan balik nya sih ? lama benar. Kalau ada beliau kan mending, bisa bantuin kita, ya, kan Nis? " tanya Indah.
"Emang pak ustaz ke mana? " tanya Herman.
"Ke kota. Ada urusan, udah seminggu ini," jawab Indah.
Pak ustaz emang jarang ada di rumah, karena sering diminta mengisi ceramah ke desa desa lain.
"Nis, kamu gak papa kan? " tanya Indra yang berjalan di belakangku.
" Enggak, kita jalan aja terus, biar cepat sampai," kataku masih menunduk.
Tak lama kami sampai di rumah pak Kus.
Herman mengetuk pintu rumah pak Kus lalu muncul lah istri pak Kus dan langsung mempersilahkan kami masuk.
Kami duduk di ruang tamu, sambil menunggu pak Kus keluar. Tak lama muncul lah seorang pria yang sepertinya sudah cukup berumur
Lalu tersenyum kepada kami.
" Maaf, saya menyuruh mas sama mba nya ke sini malam malam. karena kalau siang saya ada di sawah," kata pak Kus.
" Nggak papa kok, pak," jawab Indra.
Pak Kus diam sambil melihat keluar halaman rumahnya lalu tersenyum tipis.
" Mbak nya yang didampingi macan putih di luar, ya?" tanyanya sambil menatapku.
Wah, ini orang tau dari mana?
Kami otomatis menoleh ke halaman . namun, kami, bahkan aku pribadi tidak bisa melihat apa yang dimaksud pak Kus.
"Hehehe. Kayaknya sih gitu pak. soalnya saya gak liat." sambil ku garuk tengkuk ku yang tidak gatal.
"Jadi kami ke sini mau minta tolong bapak..." Indra kali ini mulai berbicara inti permasalahan kami.
" Iya, saya tau," ucap pak Kus seolah bisa membaca pikiran kami.
"Terus gimana ya, pak? bapak bisa bantu kami?" tanyaku.
Pak Kus tidak langsung menjawabnya, beliau menerawang melihat ke atas seperti berfikir.
" Jujur , saya tidak tau ada di mana jenazah Slamet. Kejadian itu terjadi saat saya ada di luar kota. Saya juga kaget mendengar Slamet meninggal dengan cara seperti itu. Saat saya kembali, saya pun berusaha mencari jenazah nya, namun hasilnya nihil," kata pak Kus membuat kami kecewa.
" Terus gimana dong, pak. soalnya pak Slamet ngancam mau balas dendam juga ke warga desa sini. " Indah mulai cemas.
"Nanti saya akan coba panggil Slamet dan bicarakan ini baik baik. Semoga dia menarik kembali ucapannya pada kalian," kata pak Kus.
Manggil pak Slamet? pak Kus hebat juga.
"Oh iya pak, soal anak kecil yang sering saya liat itu siapa, ya?" tanyaku.
" Anak kecil? dia punya tanda lahir di pipinya?" tanya pak Kus.
"Tanda lahir? ohh iya, ada pak. Kecil sih, tapi iya bener, ada! "kataku semangat.
Karena aku akan tau siapa anak kecil itu dan dia sering sekali muncul di depanku sesaat sebelum pak Slamet datang.
"Dia anaknya Sentot."
" Hah? lho kok."
"Pembantaian itu dilakukan oleh Sentot karena dirasuki Slamet. Dan orang pertama yang di bunuh adalah anaknya Sentot. Kasihan. Dia anak baik, tidak seperti bapaknya. Tapi dia yg harus menanggung semua perbuatan ayahnya," jelas pak Kus.
" Jadi maksudnya, anak itu ditawan pak sama pak Slamet?" tanya Herman yang penasaran.
Pak Kus mengangguk dengan menarik nafas panjang. Kami diam sambil saling lempar pandangan.
"Ya sudah kalau begitu, terima kasih ya pak. Kami permisi dulu," kata Indra.
"Oh iya. Hati hati, nak. "
Saat kami berjalan menjauh, Pak Kus kembali berbicara padaku.
"Mbak.. Saya yakin, mba bisa menemukan di mana jenazah Slamet," kata pak Kus padaku.
Aku hanya senyum lalu melenggang pergi dari rumah pak Kus.
Dalam perjalanan pulang, kami banyak diam. Sibuk dengan pikiran masing masing.
Bunyi ranting yang terinjak, otomatis kami menoleh mencari tau asal suara itu. Kuedarkan pandanganku, dan kini sosok yang sedari kami berangkat bersembunyi dibalik pohon, malah mulai menunjukan jati dirinya.
"Jalannya agak cepet," kataku ke mereka. Kami terus berjalan cepat agar segera sampai posko.
Kali ini bunyi benda tajam yang cukup keras mengusik. Saat kami menoleh ke belakang, di sana berdiri pak Slamet membawa golok yang selalu dia bawa. Semua melihatnya.
"Lari!!" kata Indra.
Pak Slamet berjalan mengikuti kami
" Wah, jalan nya cepet banget tuh setan. Sialan!!" gerutu Herman sambil terus berlari.
Beruntung kami sudah tidak begitu jauh dari posko.
Sampai di dekat posko kami makin lari kencang. Dan segera masuk ke dalam lalu mengunci pintu, menutup semua korden. Semua orang di dalam menatap heran kepada kami.
"Kalian kenapa? Habis dikejar setan?" tanya Feri cuek.
__ADS_1
"Iya, hati hati. Takut dia masuk. Jagain, ya, aku mau tidur," kataku lalu masuk ke kamar.
" Serius ?"