Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
35. Mencari persembunyian Ummu sibyan


__ADS_3

"Lama sekali nggak mampir ke sini, Mas, Mba? Oh, ya. Kabar Mas Danu gimana? Sehat, kan?" tanya Bu Heni yang entah sedang melakukan apa di dapur. Namun suara gelas dan sendok yang beradu terdengar sampai luar.


"Em — Danu... Danu sehat kok, Bu," sahut Aretha.


Radit masih membeku di tempatnya. Sementara Hendra masih aja penasaran dengan sosok wanita pemilik rumah itu. Dia bingung dengan reaksi Radit dan Aretha yang bak melihat hantu saja.


"Jawab ih! Dia siapa?" bisik Danu dengan pertanyaan yang sama sejak tadi.


"Ceritanya nanti aja. Yang jelas dia bukan manusia," bisikan Radit.


"Hah? Gila! Yang bener aja? Kalau bukan manusia terus siapa dong?" tanya Hendra terkejut.


"Nanti kalau kita berhasil keluar dari sini, gue ceritain semua," sahut Radit agar Hendra diam.


Bu Heni lalu keluar dari dapur sambil membawa nampan yang berisi tiga cangkir teh dan singkong goreng.


"Ayo, duduk dulu. Minum teh sambil menunggu Pak Karjo pulang. Sepertinya dia masih di kebun. Soalnya hari ini katanya mau panen jadi pasti pulangnya lebih terlambat dari biasanya," jelas Bu Heni.


"Oh begitu."


Karena sungkan akhirnya mereka bertiga pun mengikuti Bu Heni menuju ke ruang tamu. Mereka semua duduk menjadi satu berjejeran. Sementara Bu Heni duduk di depan mereka. Mereka bertiga hanya terhalang sebuah meja yang di atasnya sudah ada Tiga cangkir teh hangat serta camilan berupa singkong goreng. Areta tiba-tiba teringat dengan sajian yang pernah Ia konsumsi di rumah dokter Daniel. Sehingga dia pun seakan enggan untuk menyentuh makanan tersebut.


Tapi Hendra justru mengeluarkan tangan dan meraih sepotong singkong goreng dari piring. Radit langsung menyikut lengan Hendra sambil melotot.


"Kenapa? Gue lapar," sahut Hendra.


Radit terus memberikan kode dengan gelengan kepala yang samar-samar, agar Hendra mengerti maksud dari tindakannya. Tapi sepertinya rasa lapar Melupakan segalanya bahkan Hendra mungkin sudah lupa kalau Radit dan Areta tadi baru saja memberitahunya mengenai Bu Heni.


Radit hanya menekan keningnya sampai geleng-geleng kepala sementara Areta juga tidak bisa mengatakan apapun melihat tingkah Hendra.


"Mas ini teman Mbak Aretha dan Mas Radit?"


"Oh iya, Bu. Saya teman kerjanya Radit. Tapi karena kami sering ketemu saya juga kenal kok sama Areta, " sahut Hendra dengan mulut yang penuh dengan singkong goreng.


"Oh begitu, ya. Berarti nggak kenal sama Mas Danu dong ya?"


"Danu? Danu yang mana sih? Gue kenal nggak?" Tanya Hendra kepada Radit yang duduk di sampingnya.


"Enggak. Lo nggak kenal sama Danu. Dia temen sekolah gue sama Aretha dulu."


"Nggak kenal, Bu. Hehe."


Areta benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Hendra di tempat ini. Dia seakan-akan seperti sedang dibutakan oleh sesuatu. Padahal jelas-jelas sebelum mereka datang ke tempat tersebut mereka sedang mengejar Ummu sibyan dan masuk ke dusun Kalimati. Bahkan Hendra juga sudah mengetahui kalau Dusun Kalimati adalah tempat di mana Aretha tak pernah tinggal bersama orang yang sudah mati. Dia seakan-akan tidak menaruh curiga saat kondisi yang awalnya gelap berubah menjadi terang benderang dan ada manusia yang menyapa mereka.


"Eum, Nenek di mana, Bu?" tanya Aretha sambil tengak tengok sekitar.


Iya, Areta memang merindukan Nek Siti. Sosok yang sangat berkesan bagi Areta saat dia tinggal di tempat tersebut beberapa waktu yang lalu. Bahkan saat Areta memasuki Dusun Kalimati dia langsung teringat dengan nenek Siti dan berharap bisa bertemu dengan beliau.


"Mbak Aretha sepertinya belum tahu tentang kabar di tempat ini ya? Nenek kan sudah meninggal sesaat setelah Mbak Areta dan Mas Danu pergi dari tempat ini," jelas Bu Heni.


Aretha mengerutkan kening. Dia memang tidak bisa mempercayai Apapun yang terjadi di tempat ini. Terkadang kenyataan dan apa yang ia lihat justru berbanding terbalik sehingga Areta harus benar-benar berhati-hati. Jangan sampai dia terjebak lagi untuk kedua kalinya.


"Oh ya? Memangnya nenek meninggal Kenapa, Bu?" Tanya Areta penasaran.


"Biasalah sakit tua. Saya sama Pak Karjo pun kaget waktu kami berdua baru pulang dari kebun. Tiba-tiba nenek sudah tergeletak di lantai kamarnya. Waktu dokter Daniel memeriksa nenek ternyata nenek sudah meninggal dunia. Hem, setidaknya nenek sudah tidak akan menderita lagi seperti biasanya. Walau rumah terasa sangat sepi dari sebelumnya," tutur Bu Heni tampak terpukul dengan apa yang ia ceritakan.


Areta sama sekali tidak merasakan sedih justru dia bingung. Padahal jelas-jelas ingatannya terakhir saat dirinya berada di tempat ini bersama teman-temannya tidaklah seperti apa yang sedang terjadi sekarang.


"Duh, ini jam kok rusak sih?" tanya Hendra sambil memukul mukul jam tangan nya. "Bu, maaf, Sekarang jam berapa ya?" tanya Hendra karena saat memperhatikan di seluruh ruangan dia tidak menemukan adanya satupun jam dinding yang menempel di sana.


"Wah, maaf, Mas. Kami memang tidak punya jam. Jadi kalau menentukan waktu ya hanya berdasarkan feeling saja. Memangnya Masnya mau apa?"


"Kami harus kembali ke rumah, Bu. Soalnya kan besok kami harus kerja."


"Kalian ke sini naik apa?" tanya Bu Heni sambil melihat keluar rumah.


"Kami ke sini jalan kaki kebetulan saya dan Radit Ada proyek di dekat sini. Jadi kami tinggal di desa sebelah," tutur Hendra sambil menunjuk ke arah datangnya mereka sebelumnya.


Dalam hal ini hanya Indra yang tampaknya antusias bercerita dengan Bu Henny sementara Radit dan Areta justru tampak tegang dan hanya menjawab pertanyaan sekedarnya saja.


"Oh begitu ternyata. Wah Kebetulan sekali ya. Kalau gitu bisa sering-sering mampir ke sini. Warga desa yang lain juga pasti rindu sama Mbak Areta. Apalagi dokter Daniel. Sejak Mbak Areta dan Mas Danu pergi di sini sudah tidak ada lagi tenaga bantu untuk mengajar anak-anak."


"Oh, lo dulu jadi guru di sini, ya?" tanya Hendra ke Aretha yang duduk di sebelah Radit.


Areta hanya mengangguk. Dia sebenarnya sangat tidak nyaman dengan situasi saat ini hanya saja Hendra seperti tidak bisa menangkap mimik wajah Radit dan Areta. Bahkan sejak tadi Radit hanya diam sesekali dia memperhatikan keluar rumah dengan gelisah.

__ADS_1


" Terus kalau memang nggak ada guru bantu di sini, anak-anak Siapa yang ngajar, Bu?"


"Yang ngajar di sini hanya warga lokal Pemuda desa yang memutuskan untuk tetap tinggal di sini dan mengabdikan dirinya di desa ini. Saya juga heran kenapa sudah tidak ada lagi bantuan dari pemerintah ke desa kami."


Mendengar hal itu Radit melirik ke arah Areta Begitupun sebaliknya.


Tak lama kemudian Seseorang datang dari arah depan memikul beberapa hasil bumi yang sudah ia kemas dengan rapi.


"Nah, itu Pak Karjo pulang," pekik Bu Heni semangat.


Wanita paruh baya itu lantas bergegas keluar rumah untuk menyambut kedatangan suaminya. Pasangan suami istri itu terlibat obrolan di luar yang bisa terdengar dari dalam. Tidak ada kalimat yang terdengar mencurigakan hanya sebuah obrolan basa-basi mengenai apa yang sudah dibawa oleh Pak Karjo dan Bu Heni yang menceritakan kedatangan tamunya hari ini.


"Oalah, ada tamu? Kapan datang Mas Mbak? Wah, lama sekali kita nggak ketemu, ya?" Pak Karjo masuk dan langsung menyapa mereka bertiga. Bahkan mereka pun saling berjabat tangan sambil berbasa basi menanyakan kabar masing-masing.


" Silakan diminum dulu tehnya Saya mau permisi ke belakang mau bersih-bersih," kata Pak Karjo.


"Iya, Mbak, Mas. Di minum dulu. Saya tinggal sebentar, ya," pamit Bu Heni yang kini menyusul suaminya pergi ke belakang rumah.


Setelah merasa kondisi cukup aman, Radit pun segera beranjak dari duduknya sambil menarik tangan Areta. Hal ini membuat Hendra kebingungan Padahal dia baru saja mengambil sepotong singkong goreng yang sudah ia santap beberapa kali.


"Kenapa sih?" tanya Hendra. Radit langsung menepis tangan Hendra hingga singkong tersebut jatuh ke tanah.


Hendra Justru marah-marah karena Radit yang sengaja menjatuhkan makanan itu ke tanah sehingga membuat makanan tersebut menjadi kotor.


"Gimana sih, Dit!" omel Hendra.


"Hen, lo itu kenapa sih? Kenapa lu bersikap seperti orang bodoh? Kan gue udah bilang kalau mereka itu bukan manusia! Kenapa lo bersikap biasa aja bahkan Lo makan makanan dari mereka. Memangnya lo nggak takut kalau makanan itu ternyata bukan makanan yang pantas untuk dimakan manusia?" tanya Radit agak kesal.


" Justru karena gue tahu kalau mereka itu bukan manusia, makanya gue bersikap seperti ini. Memangnya kalian nggak takut kalau kita bersikap aneh justru mereka akan mencurigai kita dan bisa saja mereka melakukan hal-hal buruk ke kita."


"Serius karena itu alasannya?" tanya Radit.


"Ya iyalah, Dit. Memangnya apa lagi mau pikir gue sebodoh itu dengan bersikap biasa aja sementara gue tahu kalau orang yang ada di hadapan gue itu bukan manusia!"


"Ya udah. Kami berdua pikir lo itu nggak ngerti sama omongan kami tadi. Ya udah syukur deh kalau udah paham Jadi sekarang kita harus memikirkan Gimana caranya kita keluar dari tempat ini. Ane nggak sih saat kita masuk ke sini bukannya hari itu sudah malam tapi kenapa tiba-tiba semuanya berubah jadi terang."


"Makanya itu, Aretha. Tadi gue tanya sama Bu Heni jam berapa sekarang. Jawabannya juga aneh. Karena walaupun Gue pernah tinggal di daerah terpelosok sekalipun mereka tetap punya jam dinding di rumah masing-masing. Karena mereka membutuhkan penanda waktu bukan berdasarkan feeling."


" Kalau menurut gue, apa mungkin kalau mereka itu sengaja menjebak kita di sini agar kita terus-menerus ada di tempat ini dan melupakan tujuan awal kita masuk ke desa ini?" tanya Radit.


"Iya, Tha. Makanya itu aku bingung. Sepertinya ini memang sebuah jebakan. Kita harus hati-hati dan kita juga harus memikirkan Gimana caranya kita keluar dari rumah ini tanpa membuat keributan dan kecurigaan mereka."


" aku semakin yakin kalau semua ini memang sebuah jebakan saat Bu Heni bilang kalau nenek Siti sudah meninggal. Karena dulu di desa ini cuma nek Siti saja satu-satunya manusia yang hidup sementara yang lainnya bukan manusia. Jadi kalau misalkan di sini nggak ada nenek Siti itu artinya semua orang yang menghuni tempat ini hanyalah penasaran."


"Tempat ini adalah persembunyian Ummu sibyan, kan? Dengan kekuatannya yang cukup besar seperti itu, Aku yakin bukan hal yang sulit untuk menghidupkan atau membuat pasukan yang bisa membantunya melancarkan aksinya tersebut. Jadi kesimpulannya aku yakin kalau ungu sibyan masih ada di desa ini dan Lia juga pasti ada di sini!" tukas Radit.


"Yah, kita bertiga harus secepatnya menemukan Liya. Karena aku yakin ini belum 24 jam dari hilangnya Lia tadi. Jadi kita masih punya waktu untuk menolongnya," sahut Aretha.


" jangan lupa kalau ibunya Lia juga kemungkinan besar diculik sama Ummu sibyan!" tukas Hendra.


" Ya udah sebaiknya kita semua keluar aja dari rumah ini diam-diam. Sebelum Bu Heni dan Pak Karjo keluar," ajak Aretha.


"Iya deh. Ayo, buruan. Serem juga lama lama," sahut Hendra.


Dengan mengendap-ngendap mereka bertiga pun mulai keluar dari rumah tersebut. Langkah mereka memang pelan karena sengaja tidak ingin membuat keributan di tempat tersebut mereka harus berhati-hati dalam bertindak. Jangan sampai tiba-tiba pasukan Ummu shibyan yang tinggal di desa itu Justru malah menghalangi mereka dan membuat jalan mereka menjadi sulit untuk menemukan Liya.


Mereka berhasil sampai di teras dengan selamat namun saat mereka hendak melangkahkan kaki keluar menuju halaman rumah tiba-tiba Pak Karjo muncul dari dalam.


"Mau ke mana kalian?" tanya Pak Karjo dengan menaikkan nada bicaranya.


Sontak ketiganya langsung berhenti berjalan, jantung mereka juga berdegup sangat cepat. Mereka tidak berani menoleh saat Pak Karjo Memanggil nama mereka. Areta bakar menggenggam tangan Radit karena ketakutan. Dalam heningnya situasi saat itu mereka hanya mendengar sebuah suara yakni suara langkah kaki yang diseret yang mereka yakini berasal dari Pak Karjo. Aneh memang. Disaat mereka sudah berada di halaman rumah, mereka justru tidak bisa mendengar apapun di luar Bahkan angin yang berhembus tidak bisa mereka dengar dan rasakan. Padahal jelas-jelas kalau mereka melihat daun-daun sekitar bergerak seperti tertiup angin.


"Loh, mau ke mana, Mas, Mbak?" tanya Pak Karjo.


Suara pria paruh baya itu menjadi semakin jelas yang artinya dia sudah berada di dekat mereka bertiga. Radit menoleh dan berusaha memasang wajah biasa saja untuk menutupi ketegangan dan ketakutannya.


"Ka—kami mau jalan jalan, Pak. Areta bilang ya kangen sama situasi di desa ini sambil mau menyapa warga desa yang lain. Pak Karjo dan Bu Heni istirahat aja di dalam rumah kami nggak apa-apa kok," tutur Radit.


"Betul, Pak. Kami ingin jalan-jalan sebentar di sekitar Desa ini. Apalagi Ini pertama kalinya saya datang ke sini. Saya dengar dari Areta kalau Desa ini termasuk desa yang asri dan indah makanya saya penasaran," tambah Hendra.


"Oh, begitu, ya? Ya sudah kalau begitu silakan. Tapi nanti balik ke sini lagi ya soalnya Bu Heni sedang memasak makanan untuk kalian," ucap Pak Karjo.


"Wah, Pak, nggak usah repot-repot karena kami sudah kenyang. Sebelum ke sini kami sudah makan kok," sahut Radit.


"Eh, nggak boleh menolak rezeki loh. Ya sudah sana kalian jalan-jalan dulu saja nanti kalau makanannya sudah jadi saya akan cari kalian," kata Pak Karjo dengan tatapan mengerikan.

__ADS_1


"Ngg—nggak usah, Pak. Nanti biar kami saja yang pulang ke sini. Pak Karjo tunggu saja di rumah," timpal Aretha.


" Tidak apa-apa kok, Mbak Aretha. Saya ini kan sudah hafal seluk-beluk Desa ini jadi kemanapun Kalian pergi pasti saya akan bisa menemukannya," katanya lagi.


"Baik, Pak. Terima kasih banyak kami jalan dulu ya," tukas Hendra.


Akhirnya mereka bertiga pun berhasil keluar dari interogasi Pak Karjo dan meninggalkan rumah itu dengan tenang dan santai. Namun beberapa kali Hendra dan Radit menoleh ke belakang untuk memastikan kalau mereka aman dan tidak dibuntuti oleh Pak Karjo.


"Kita mau ke mama, Guys?" tanya Hendra mengikuti langkah kereta yang berjalan agak cepat.


"Ke mana aja. Yang jelas Kita harus mencari di mana Liya disembunyikan oleh Ummu Sibyan," sahut Aretha.


"Tapi ke mana, Aretha! Tempat ini kan, luas. Masa kita harus datangi satu persatu rumah di sini?" tanya Hendra.


"Tunggu, tunggu! Kita memang harus punya rencana untuk langkah selanjutnya. Jangan sampai kita buang waktu hanya untuk berkeliling tanpa rencana yang matang," timpal Radit.


Mereka pun akhirnya berhenti berjalan, lalu berdiri dengan melingkar. "Jadi gimana?" tanya Hendra.


"Tha, coba kamu ingat ingat di mana tempat yang memungkinkan Ummu Sibyan tinggal?" tanya Radit.


"Hem, di mana, ya?" tanya Aretha balik.


"Ayo, Aretha, fokus!" sanggah Hendra.


"Kamu singkirkan dulu orang-orang yang menghuni Desa ini. Karena menurutku mereka itu bukanlah Ummu Sibyan, mereka hanya keroco nya saja. Jadi pikirkan tempat yang mencurigakan. Tempat itu adalah tempat persembunyian makhluk itu. Aku yakin dia punya tempat untuk bersembunyi. Tempat itu tidak dihuni oleh warga desa, melainkan sebuah tempat yang sepi dan bahkan mungkin tempat yang tidak pernah dijangkau oleh siapapun."


"Eum, sebentar. Sepertinya aku ingat ada sebuah tempat yang seperti itu."


"Di mana, Tha? Ayo, fokus, Aretha."


"Jangan buru-buru gitu, Hendra. Nanti malah Aretha buyar konsentrasinya!" timpal Radit.


"Oh, gitu, ya? Oke. Gue diem," kata Hendra yang kini malah menatap sekitar.


"Dit, sepertinya cuma ada satu tempat yang seperti itu deh!" kata Aretha dengan mimik wajah yang bersemangat.


"Di mana?" tanya Hendra dan Radit bersamaan.


"Rumah Pak Yudi dan itu letak yang ada di sebelah rumah Pak Karjo dan Bu Heni!" tutur Aretha.


"Lo yakin di situ tempatnya?" tanya Hendra memastikan lagi.


"Yakin. Maksudnya gue yakin kalau misalkan tempat yang kita cari itu sesuai dengan apa yang dikatakan sama Radit, ya cuma di rumah Pak Yodi aja. Waktu gue tinggal di sini, awal gue tinggal di rumah Pak Karjo sama Danu dulu kami berdua langsung menanyakan tentang rumah di sebelah yang nama pemiliknya Pak Yodi. Menurut cerita dari pakarjo dan Bu Heni Pak Yudi dulu tinggal sama istri dan anak-anaknya di sana tapi terjadi sebuah insiden pembunuhan di situ. Jadi istrinya Pak Yudi yang namanya Bu Fani ketahuan selingkuh sehingga Pak Yodi yang gak terima atas penghianatan istrinya langsung membunuh Bu Fani pakai golok. Nggak cuman itu aja karena Pak Yudi juga membunuh anak-anak mereka karena diduga anak-anak itu adalah anak wanita selingkuhannya. Sejak kejadian rumah Pak Yodi kosong selama 10 tahun lebih. Bahkan katanya warga desa nggak ada yang berani Masuk halaman rumahnya. Seakan-akan tempat itu benar-benar mengerikan dan dikeramatkan. Beberapa kali aku juga sering mendengar suara aneh seperti tanda-tanda kedatangan makhluk halus gitu, Dit," jelas Aretha.


"Oke. Kalau kita sebaiknya kita juga harus memeriksa tempat itu. Tapi kamu yakin kalau tempat yang aku maksudkan itu cuman rumah Pak Yodi aja?"


"Iya, Dit. Setahuku cuman rumah itu aja yang kosong dan memiliki sejarah yang mengerikan."


" Ya udah mendingan kita langsung ke sana aja!" pungkas Hendra.


Tanpa berpikir dua kali mereka bertiga akhirnya berbalik badan dan kembali melangkah ke arah sebelumnya. Masih tetap waspada dengan sekitar, mereka terus menatap ke kanan, kiri, dan belakang mereka. Untuk memastikan kalau mereka aman dan tidak sedang diikuti oleh makhluk lain.


Saat sudah dekat dengan rumah Pak Karjo mereka menatap tiap sudut rumah tersebut untuk memastikan Kalau Bu Heni dan Pak Karjo tidak terlihat di depan. Mereka sepertinya ingin sekali menghindari dua orang tersebut.


"Aman!" bisik Hendra.


Mereka mempercepat langkah saat melewati rumah Pak Karjo dan segera masuk ke halaman rumah Pak Yodi yang berada tepat di sebelah rumah tersebut. Kondisi rumah itu tampak tidak terawat sama sekali. Sebenarnya rumah Pak Yodi termasuk rumah yang bagus di antara rumah-rumah yang ada di sekitarnya. Rumah itu bahkan memiliki pintu gerbang yang setinggi dada orang dewasa. Alhasil mereka bertiga tentu harus memanjat gerbang tersebut. Tidak sulit untuk memanjat pintu gerbang rumah Pak Yodi. Karena kini mereka sudah ada di halaman rumah tersebut.


Rumput-rumput yang berada di sekitar tubuh subur dan bahkan sudah tinggi dan rimbun. Aretha takut akan suatu hal yaitu ular atau hewan berbahaya lainnya yang kemungkinan besar bersembunyi di semak semak yang tidak terlihat oleh mereka. Maka dari itu, Aretha terus merapat ke suaminya. Jarak halaman ke rumah Pak Yodi cukup jauh. Ada sekitar 200 meter. Bahkan halaman rumah itu juga luas, tapi gersang.


Akhirnya mereka bertiga berhasil sampai ke teras rumah Pak Yodi. Sesuai dengan apa yang diceritakan oleh Aretha, tempat itu memang tampak mengerikan. Benar benar mirip sebuah rumah kosong berhantu. Mereka yang awalnya sangat bersemangat akhirnya mulai ciut nyalinya.


Teras rumah yang berukuran 2x3 meter itu tampak kotor dan penuh debu. Bahkan sudah banyak rumput serta tumbuhan kering yang memenuhi lantai keramik yang sudah berlubang di beberapa sisinya.


"Yakin nih, kita mau masuk ke dalam?" tanya Hendra yang mulai ragu ragu.


"Yakinlah. Kita nggak boleh buang waktu dong!" sahut Aretha.


"Tapi serem!"


"Terus, lo mau balik ke rumah Pak Karjo?"


"Ya nggak gitu, Dit. Gue ikut kalian aja deh."


Saat Radit memegang gagang pintu, tiba tiba terdengar teriakan dari sekitar mereka.

__ADS_1


"Mau apa kalian?!" Suara itu terdengar keras dan kencang. Mereka menyapu pandang ke sekitar untuk melihat siapa yang datang.


__ADS_2