Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
26. kencan


__ADS_3

POV NISA


"Nda ... Jalan - jalan, yuk," ajak indra saat kami sedang nonton TV berdua di ruang tengah.


"Ke mana, Ayah?" tanyaku yang masih bergelayut manja di lengannya.


"Hm ... Udah ah, yang penting kita jalan dulu. Soal tujuan sambil dipikirkan di jalan aja nanti, yuk," paksanya lalu menarik tanganku ke kamar untuk ganti baju.


Yah, beginilah kegiatan kami jika anak - anak sedang tidak di rumah.


Indra sering mengajakku pergi keluar rumah. Entah hanya jalan jalan ke mall, makan di cafe atau nonton bioskop. Sebuah kebiasaan yang dulu sering kami lakukan saat masih berpacaran dan saat masih pengantin baru. Semenjak kami memiliki anak, kegiatan tersebut sudah jarang kami lakukan. Tetapi setelah anak-anak beranjak remaja dan memiliki segudang aktifitas, kami mulai sering jalan berdua lagi. Kali ini anak anak sedang ada di Bali untuk mengisi liburan mereka.


Yah, Bali... Tempat yang paling tidak ingin aku datangi.


Walau kejadian ini sudah cukup lama, namun aku sulit untuk melupakannya.


Melihat Indra pertama kalinya terluka karena berusaha menolongku, dan kejadian itu membuatku tidak ingin menginjakkan kakiku lagi di sana.


Semoga anak-anak baik-baik saja di sana. Aku lebih tenang karena ada Wayan. Aku yakin, Wayan bisa menjaga mereka selama di Bali. Kemampuannya cukup hebat, bahkan mungkin hampir setara dengan Kak Yusuf.


Indra membuka lemari pakaian lalu memilihkan baju untukku.


Dia memang sering melakukan hal ini. Suka mengatur? Iya, memang. Tetapi aku suka cara dia mengatur hidupku.


"Mau pakai yang ini atau ini, Nda?" tanyanya sambil menunjukan 2 dress kaftan warna putih dan pink padaku.


"Mm ... Pink aja deh," ucapku sambil menunjuk dress di tangan kanannya.


"Udah kutebak, kamu pasti pilih ini. Warna kesukaan kamu." Senyum mengembang di wajahnya lalu dia memberikan dress itu padaku.


Aku segera ganti baju dan berdandan dengan make up minimalis.


Indra memakai setelan kemeja warna abu abu dan jas yang sepadan dengan kemejanya lalu celana kain hitam.


Aku tidak aneh melihat penampilannya yang seperti itu. Karena aku memang sering melihat nya memakai setelan itu saat kami ada acara di luar. Entah makan malam bersama sahabat-sahabat kami atau keluarga besar kami.


"Siap, Nda?" tanyanya.


Kupatutkan diriku di cermin untuk memeriksa apakah ada hal yg kurang pada riasan ku atau tidak


"Udah cantik kok," ucapnya sambil tersenyum di ujung pintu.


Aku hanya meliriknya sekilas lalu menaikan sudut bibirku.


"Yuk." Segera bergegas menggandeng tangannya keluar rumah menuju mobil yang sudah terparkir rapi di halaman.


Seperti biasa Indra membukakan pintu mobil untukku.


Dia tidak pernah berubah sejak pertama kali kami menikah hingga sekarang. Bahkan sebelum kami berpacaran juga dia selalu bersikap manis padaku.


Indra mengemudi dengan pelan menembus jalanan yang ramai karena ini weekend, dan cuaca juga sedang bagus untuk jalan jalan keluar.


Semoga malam ini tidak hujan.


Sekitar 30 menit kemudian Indra memarkirkan mobilnya di restoran kami.


"Lho? Kita ke restoran?" tanyaku heran.


Karena kupikir dia akan membawaku ke tempat lain.


"Iya, tenang aja, Bu. Saya bayar kok tagihannya,"guraunya.


Aku tertawa lalu mencubitnya karena selalu saja iseng.


Segera saja kami keluar dari mobil lalu masuk dengan bergandengan tangan ke dalam


Saat sampai di dalam, Fitri, salah satu karyawan ku menghampiri kami.


"Selamat malam Pak, Bu. Mari saya antar ke meja nya," ucapnya ramah.


"Makasih ya, Fit."

__ADS_1


Kami pun mengikutinya hingga ke bagian belakang resto.


Resto ku ini memang bagian belakangnya bertema kan outdoor dengan taman bunga dan kolam kolam kecil yg sudah didesign dengan cukup baik dan mampu memberikan rasa nyaman karena pemandangan ini tentunya.


"Resto gimana, Fit?" tanyaku saat kami berjalan bersama.


"Semua aman terkendali kok, Bu," jawabnya.


"Pesanan saya udah siap semua kan, Fit?" tanya Indra.


"Sudah kok, Pak."


"Pesanan? Kamu udah pesan duluan,  Yah?" tanyaku heran.


Dia hanya senyum padaku tak menjawab sepatah katapun.


Sampai di bagian belakang resto, aku melihat banyak lilin di sepanjang jalan dan membentuk lambang hati di tengah tengah nya.


Tidak hanya itu saja, di tengah lambang hati yang besar itu, sudah ada meja dan 2 kursi dengan hiasan lilin dan lampion lampion di sekitarnya.


Aku menoleh ke Indra.


Dia hanya tersenyum lalu menggandengku ke sana.


Dia lantas menarik kursi untukku.


Aku tersenyum senang, akhir akhir ini dia memang agak sibuk. Bahkan aku bertemu dengan nya itu hanya saat aku membuka mata dan menutup mata saja. Setelah anak-anak pergi ke Bali, suasana rumah makin sunyi. Indra juga sibuk kerja. Alhasil aku sendirian di rumah


"Gimana? Suka nggak?" tanyanya sambil menatap ke sekeliling kami.


"Suka. Suka banget. Kamu selalu pinter kasih surprise," pujiku.


"Maaf ya, sayang, akhir akhir ini aku sibuk banget. Jarang ada waktu buat kamu. Jadi kamu ke mana mana sendiri," jelasnya.


"Iya, nggak apa-apa. Aku ngerti kok. Kerjaan kamu lagi banyak banget, kan, akhir akhir ini."


"Makasih ya, sayang. Kalau kamu kesepian, kamu nginep aja di rumah Papah, selagi anak anak belum pulang. Kayaknya besok aku bakal lembur deh," katanya lagi.


Kami makan malam di resto dengan cahaya bulan dan lampion serta lilin yang banyak. Diiringi alunan musik romantis juga. Rupanya umur tidak menyurutkan sisi romantis Indra. Mungkin inilah yang membuat pernikahan kami awet sampai sekarang.


\=\=\=\=\=


Setelah makan malam selesai. Indra kembali mengajakku entah ke mana.


Karena dia tidak memberitahukan padaku tujuan kami selanjutnya.


Ternyata dia mengajakku ke bukit bintang.


"Kita ke sini?" tanyaku saat Indra memberhentikan mobilnya di tempat parkir dengan tulisan nama tersebut.


"Iya, gara gara Aretha ini, Nda. Dia cerita main ke sini sama Radit. Ayah jadi ingat kalo kita lama banget nggak ke sini, kan?" tanyanya dengan senyum genit


Benar juga, kami sudah lama tidak ke mari. Indra segera menggandeng tanganku. Kami berjalan masuk. Walau sudah malam, tapi suasana di tempat ini justru ramai saat malam hari.


Sampai di dalam kami langsung mencari tempat untuk duduk.


Cuaca cukup cerah malam ini, sehingga bintang bintang pun jelas sekali terlihat.


Indra melepas jas nya dan memakaikan padaku.


Aku bersandar pada bahunya sementara tangan nya ada di belakangku, memelukku dengan penuh cinta.


Kami terdiam beberapa saat sambil terus menatap ratusan bintang di langit, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kadang aku sering berfikir, seseorang yang tidak ada hubungan darah dengan ku, tiba-tiba sekarang berjuang untuk ku. Mencari nafkah, dan selalu berusaha membahagiakan ku.


Yah... dialah suamiku.


Pria yang saat ini tengah ada di sampingku. Yang selalu ada untukku, dan selalu berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anak kami.


Cinta kami adalah cinta yang terbaik, karena dia membuat imanku bangkit, dia terus membimbingku lebih dekat ke Allah. Dia selalu membantuku selama  ini, dia selalu mengajariku untuk melawan rasa takutku sendiri.


karena alasan itulah aku ingin bertemu dengannya lagi di Jannah!

__ADS_1


Tercium wangi bunga yang cukup kuat di sekitar kami. Semilir angin pun makin kencang kurasakan, membuatku makin merapatkan tubuhku ke Indra. Dia pun makin memelukku erat.


Bulu kudukku meremang. Aku membetulkan posisi dudukku dan menatap sekitar.


"Kenapa sayang?" tanya Indra heran.


Ku lepaskan diriku agak menjauh dari Indra agar dapat melihat siapa yg menampakan diri di sini.


Di hadapan kami, ada sepasang muda mudi yg sedang duduk berdua namun di samping pemuda itu, ada sosok wanita yg memandangnya sedih.


Hmm, mungkin cinta segitiga?


Entahlah.


Kembali ku peluk Indra, dan sosok itu hilang.


"Eh, Nda. Kita camping yuk," ajaknya tiba-tiba.


"Apa? sekarang? Nggak salah, Yah?" tanyaku kaget.


"Iya, ke Trenggulasih aja. Kan ada penyewaan tenda. Kayaknya asik lihat sunrise di sana. Gimana?" tanyanya dengan antusias sekali.


Aku diam sejenak dan melihat pakaianku.


"Jangan khawatir. Di mobil kan ada bed cover yang kemarin baru kamu beli. Belum dibuka tuh. Bantal juga ada," jelasnya.


Aku memang agak sulit tidur. Tempat tidur harus nyaman dengan bantal dan selimut. Apalagi di sini akan sangat dingin jika malam hari. Maklum lah, kami ada di kaki gunung.


"Ya udah deh kalo gitu.yuk." aku pun setuju dengan idenya.


Ide yang gila, tanpa rencana dan persiapan matang, kami akan camping.


Kami lalu pergi dari bukit bintang lalu segera ke bukit Trenggulasih untuk melancarkan rencana dadakan Indra.


\=\=\=\=\=\=


Sampai di sana, Indra menyewa tenda.


Lalu dia memasang nya segera.


Segala bantal dan bedcover pun sudah kami angkut dari mobil. Setelah tenda berdiri, dia mempersiapkan tempat agar aku nyaman saat tidur nanti.


Jam menunjukan pukul 23.45


Kami masih duduk di depan tenda sambil menikmati secangkir kopi panas berdua.


"Nda... Menurut kamu gimana Aretha sama Radit?" tanya Indra sambil menyecap kopinya. Aku tau maksud dari pertanyaan itu. Perbedaan di antara mereka cukup besar. Keluarga besar kamu juga pasti tidak akan 100% setuju jika Aretha sampai menikah dengan Radit dengan keadaannya yang demikian. Bukan karena kami rasis atau semacamnya. Tapi ini adalah prinsip. Karena agama itu nomor satu.


Kutarik nafas dalam.


"Hm.. Jalani dulu aja ayah. Allah tau kok yg terbaik untuk hambanya. Lagian mereka masih muda, jalan nya masih panjang. Ayah sendiri gimana?penilaian ayah tentang Radit?" tanyaku balik.


"Radit ya. Sejauh ini ayah lihat dia laki laki yang baik dan bertanggung jawab. ayah suka sama dia. Ya,walau ayah masih ragu karena ... yah bunda tau sendiri kan, dia berbeda, dan ayah yakin Kak Yusuf yg paling menentang hubungan mereka."


Yah, kak Yusuf sangat menjunjung tinggi norma agama.


Aku juga sependapat dengan Indra.


"Huft..  Ya udah lah, biarin aja dulu. Jodoh ditangan Allah kan. Pasti ada jalan nya," sahutku.


"Iya. Terus Alya gimana, Nda? Kayanya dia cocok sama Arden ya. Anaknya lemah lembut banget, ramah dan sopan," kata Indra sambil senyum senyum sendiri.


"Iya sih, bunda juga setuju."


kupeluk  Indra erat.


Kami menginap di sini.


Agar dapat melihat sunrise yg jarang kami temui jika di rumah karena tertutup gedung gedung tinggi.


...Menikahlah dengan pria yang takut akan Allah, maka dia akan memperlakukanmu dengan baik karena rasa takutnya terhadap Allah....

__ADS_1


__ADS_2