
Kami semua menoleh ke belakang, karena suara itu berasal dari belakang rumah.
Kami yang seperti terpojok lalu saling mendekat satu sama lain.
"Apaan tuh?"
"Siapa yang di belakang?"
"Jangan jangan mereka bisa masuk ke dalam."
"Aku takut. Gimana dong."
"Biar ku lihat," ucap Indra datar.
Aku menahan tangannya, menatap matanya lalu menggeleng pelan.
"Gak apa-apa, Nis. Sebentar aja ya," katanya sambil membelai kepalaku.
"Tapi, Ndra. ... " Indra malah langsung mencium keningku dan berjalan ke belakang.
"Aku ikut, Ndra," kata Wicak.
Mereka berdua ke belakang untuk mengecek. Namun, belum sampai langkah mereka menjauh dari kami, di belakang sana, terlihat jelas ada seseorang berdiri diam sambil menatap kami dingin. Dan yang lebih mengejutkan, di tangannya terdapat sebuah golok panjang cukup tajam.
"Mampus! Siapa dia!" pekik Agus.
"Indra! Wicak! Mundur!" perintahku.
Mereka lalu mundur perlahan, hingga kami kembali berkumpul seperti tadi.
Indra berdiri di hadapanku bermaksud menutupiku dari sosok di hadapan kami.
Bahkan aku tidak tau, dia itu manusia atau makhluk astral.
"Gimana nih? Bisa mati kita kalo diem aja," rengek Ferli ketakutan.
"Masuk kamar!" perintah Indra.
Segera kami berlari beramai ramai masuk ke kamar. Semua berpencar masuk ke dua kamar yang bersebelahan. Kamarku dan kamar Nadia. Karena jika semua jadi satu ruangan takutnya terlalu penuh sesak. Dan hanya kamar ini yang terdekat.
"Tutup! Kunci!" pekik Ferli panik.
Pintu lalu dikunci oleh Feri. Indra juga menyeret kursi dan menaruh nya di belakang handle pintu. Setidaknya ini bisa membuat pintu tidak mudah dibuka.
Pintu dipukul pukul cukup keras dari luar, kami lalu mundur menjauh.
"Tenang aja. Dia gak akan bisa buka pintu," Kata Indra yakin.
Dia lalu menoleh ke arahku yang berdiri di belakangnya.
"Duduk dulu, Nis. Kamu pasti capek," ajak Indra lalu menarik tangan ku ke ranjang milikku.
Aku duduk bersama Indah.
Di kamar ku ini, ada aku, Indra, Indah, Feri, Ferli, Nindi dan Faizal.
Entah sudah berapa lama kami diam. Rasanya kami malas sekali untuk mengucapkan sepatah kata pun.
Ketukan lain terdengar nyaring berasal dari jendela.
Kami semua menoleh ke arah jendela. Indra lalu mendekat dan mengintip sedikit dengan membuka korden.
Ditutupnya lagi oleh Indra. Dia diam dengan wajah pucat. Feri dan Faizal yang melihat reaksi Indra kemudian ikut mendekat.
"Kenapa, Ndra?" tanya Faizal.
"Lihat aja sendiri," ucap Indra dengan wajah pucat.
Mereka berdua yang sudah dilanda penasaran lalu mengintip seperti Indra barusan. Reaksi mereka pun hampir sama seperti Indra.
Aku juga menjadi penasaran, akhirnya berdiri bermaksud ingin melihat juga. Namun Indra menahan tanganku. Lalu menggeleng pelan.
"Ada apa sih? Aku pengen liat," kataku memaksa.
Indra langsung berdiri di hadapanku berusaha untuk menghalangiku.
"Jangan. Lebih baik kamu nggak usah liat ya, please," pintanya memelas.
Karena Indra sudah berkata demikian, aku mengurungkan niatku untuk melihat keluar.
Braaaakkk!!!
Terdengar suara keributan dari kamar sebelah. Kami yang ada di kamar ini melotot satu sama lain. Banyak sekali bayangan yang terlintas di pikiranku tentang apa yang terjadi di luar.
Bagaimana nasib teman teman kami yang lain?
" Lukman!" jerit mereka.
"Kenapa sama Lukman?" tanya Indah menatap kami satu persatu. Kami yang ada di kamar ini tidak tau menahu. Dan hanya diam sambil menunggu waktu yang tepat
"Kayaknya kita harus keluar. Kita harus liat di luar. Mereka kenapa," kataku panik.
"Bener juga. Gimana pun kita di sini bersama sama, kita harus hadapi semua bareng bareng juga!"
kata Feri sependapat denganku.
"Oke. Ayo kita keluar," kata Indra.
Indra menarik kembali kursi menjauh dari pintu. Lalu dibuka lah pintu kamar pelan.
__ADS_1
Pintu berderit, Indra keluar diikuti kami di belakangnya. Suasana tampak sepi. Ke mana mereka?
Saat kami melihat ke pintu depan, kami agak terkejut, karena mendapati pintu rumah itu sudah terbuka lebar.
Faizal mengecek ke kamar Nadia dan ternyata kosong.
Tidak ada siapa pun di sana.
"Apa mereka keluar?" tanya Indah.
"Ayo kita liat," ajak Indra memimpin di depan.
Kami mengekor di belakang Indra, aku berjalan di belakangnya persis, bahkan memegang ujung bajunya. Jujur, ini kejadian paling menyeramkan yang ku alami seumur hidupku.
Aku tidak tau siapa lawan ku kini.
Apakah manusia atau makhluk astral. Sosok yang tadi di belakang sangat mengerikan.
Sampai di luar, kami terusĀ berjalan untuk mencari keberadaan teman teman kami yang lain.
Kami terus berjalan mencari di mana keberadaan mereka.
"Kira kira mereka ke mana ya?" tanya Indah disela sela keheningan kami.
"Mungkin ke desa sebelah?" tanyaku ke mereka.
Yah, kupikir hanya di sana lah satu satu nya tempat yang angker di desa ini. Sumber masalah dan keanehan yang selama ini kami alami.
Dan aku yakin mereka ke sana. Namun bagaimana bisa mereka semua pergi meninggalkan rumah.
"Ya udah, kita cek ke sana," kata Indra tegas.
"Gila! kita ke sana malam malam begini?" tanya Faizal ngeri.
"Mau gimana lagi, Zal. Kita harus cari temen temen yang lain, kan?" ucap Ferli.
"Biar aja mereka hilang. Ngapain pakai dicari segala sih?" Tiba tiba Nindi yang sedari tadi diam mengatakan hal demikian yang lantas membuat ku menoleh kepadanya.
Aku sedikit kesal, kenapa Nindi bisa berkata hal itu. Dia seperti tidak punya perasaan. Dengan membiarkan teman teman kami hilang dan terkesan masa bodoh dengan apa yang mereka alami.
Tetapi Nindi agak lain. Dia terus menunduk sambil berjalan. Terkadang dia seperti tersenyum licik.
Aku berjalan mensejajari Indra. Lalu kuraih tangannya. Dia menoleh sambil menatap ku dengan menampilkan kerutan di dahinya.
"Nindi," bisikku.
Perlahan Indra menoleh ke belakang tempat Nindi berada.
Dia juga sepertinya merasakan keanehan dalam diri Nindi.
"Nin, Kamu kenapa senyum senyum gitu?" tanyaku.
"Ya gak tepat aja waktunya, Nin," ucap Indra.
Kami terus melirik ke arahnya.
Tiba tiba Nindi berhenti, dia masih menunduk ke bawah lalu menggeram sambil menyeringai.
Melihat keanehan itu, kami mundur menjauhi Nindi.
" wah, Kenapa lagi nih anak?!" tanya Feri bingung.
"Ua udah jelas, dia kesurupan," cetus Faizal yang langsung paham kondisi Nindi.
"Duh, ada ada aja sih!" rengek Ferli yang sedang bersembunyi dibalik tubuh Feri.
"Siapa kamu?" tanyaku lantang.
" siapa aku? Itu tidak penting! Kalian pengganggu. Kalian pantas mati!" ucap Nindi dengan suara berat.
"kami menganggu? Mengganggu siapa? Justru kalian yang terus meneror kami!" kata Faizal ikut bicara lantang. Wah, berani juga nih Faizal.
Nindi menggeram lebih keras sampai membuat bulu kuduk ku meremang karena takut.
"Ihh ... Serem." Faizal malah mundur dan bersembunyi di balik tubuh Ferli.
"Ya elah, Zal. Kirain mah kamu berani. Eh malah ngumpet juga!"cibir Ferli.
"Heh! Jangan deket deket cewek gue!! Jauhan napa! Pakai pegang pegang lagi lu!" Feri kesal.
Nindi lalu mendesis seperti ular.
Kami ngeri dan berusaha menjauh.
"Mending kita lari aja deh," saran Indah.
"Setuju."
Tanpa basa basi lagi, kami langsung lari. Nindi menyeringai lalu ikut berlari mengejar kami. Suara jeritan tercipta dari mulut kami semua.
Aku tersandung akar pohon yang menyembul keluar sehingga aku terjatuh ke tanah.
Indra yang mengetahui hal itu berhenti lalu kembali untuk menolongku. Dia menarik tanganku agar aku dapat berdiri, namun ternyata kaki ku terkilir akibat terjatuh tadi.
"Aw ... Sakit, Ndra. Aku keseleo kayaknya," kataku sambil melihat ke bawah.
"Ayok. Aku papah," kata Indra.
"Gak usah. Kamu pergi aja. Biar aku di sini buat menghambat Nindi."
__ADS_1
"Enggak! Kamu gila?! Aku gak akan ninggalin kamu di sini!" teriaknya keras.
Namun, Nindi sudah ada di depan kami dengan senyum kemenangan.
Aku dan Indra sudah tidak punya kesempatan untuk lari.
Aku terus mundur dengan posisi masih duduk di tanah.
Ya Allah ... Tolong.
Tiba tiba, suara raungan terdengar jelas di dekatku. Ada seekor macan putih melompat dari atas ku dan menghadang Nindi. Nindi kaget dan mundur satu langkah.
Dari mana macan itu? Macan ini sepertinya ingin melindungi kami. Lalu hewan itu maju menerkam Nindi.
Aku menjerit sambil menyembunyikan wajahku di dada Indra. Indra memeluk ku untuk memberikan ketenangan.
"Nis, kamu harus liat," pinta Indra.
Aku menoleh ke depan. Yang kulihat justru sebaliknya, Nindi pingsan tanpa ada sedikit pun darah yg keluar dari tubuhnya. Bahkan tubuhnya masih utuh. Tidak berkurang sedikit pun.
Macan itu hanya berputar putar di sekitar nindi.
Teman temanku yang lain lalu mendekat kepadaku dan Indra.
Mereka sama terkejutnya seperti kami.
"Macan nya nembus Nindi!" kata Feri kagum.
"Macan jadi jadian tuh kayanya," ucap Faizal.
Macan tadi mendekati kami. Kami malah mundur mundur. Tapi tidak dengan ku.
Bukan karena kaki ku sakit, namun aku merasa dia tidak jahat.
'Hati hati, nduk. Teman teman mu ada di desa itu. Kalian jangan ke sana sendirian. Panggil warga desa yang lain. Eyang pamit,' kata macan itu.
"Hah?! Macan nya bisa ngomong!" Ferli kaget. Aku pun sama kagetnya. Berarti tidak hanya aku yang mendengar itu.
"Siapa kamu?" tanyaku penasaran. Karena dia tadi berbicara kepadaku, berarti dia mengenalku.
'Eyang sastro.'
Macan putih itu hilang seperti asap.
"Kamu kenal, Nis?" tanya Indra sambil menatap mataku dalam.
"Eyang Sastro? Eyang uyutku? Masa iya sih?" kataku masih tidak percaya.
"Mungkin aja kali. Orang jaman dulu kan pasti mempelajari ilmu ilmu tertentu. Kali aja bener itu eyang kamu," kata Faizal.
"Kamu punya eyang namanya eyang sastro, Nis?" tanya Indra.
"Iya. Aku sering denger papah ku sama saudara papah yang lain cerita soal eyang Sastro. Cuma aku gak pernah ketemu. Soalnya eyangku udah lama meninggal."
"Ya udah, terus gimana nih? Mungkin sepertinya kita harus minta tolong warga. kita gak mungkin masuk ke desa itu sendirian," kata Indah.
"Ya udah, kita balik ke posko aja gimana? Terus aku lapor pak Kades minta bantuan buat cari temen temen yg lain," Indra memberikan ide.
"Setuju."
"Zal, Kamu bopong Nindi, ya," pinta Indra.
"Elu aja napa, Ndra? Biar gue bopong Nisa. Nindi berat banget pasti tuh," kata Faizal menolak.
Indra melotot ke arahnya dan membuat Faizal akhirnya menyerah .
"Kita pulang," ajak Indra lalu ikut membopongku seperti Faizal dan nindi.
Kulingkarkan tanganku di leher Indra dan kubenamkan wajahku dekat ke leher nya. Deru nafas hangat Indra mengenai tanganku.
Selama perjalanan, kami tidak berbicara apa pun. Rasanya aku sudah cukup lelah menghadapi kejadian malam ini.
Tak lama kami sampai di posko.
Indra lalu langsung membawaku ke kamar dan meletakan ku di ranjang milikku.
Dia duduk di dekatku sambil menatapku dengan senyuman nya.
Aku masih meringis kesakitan karena kakiku yang nyeri.
"Aku ambil balsem dulu ya. Biar aku urut dulu kaki kamu," ucap Indra dan segera bergegas keluar dari kamarku. Lalu tak lama kembali lagi dengan membawa balsem di tangannya.
Dia lalu duduk di samping ranjangku dan melepas sepatuku lalu mulai memijit kakiku.
"Kamu sering banget keseleo gini ya," guraunya.
Aku mengulum bibir menahan sakit dan tawa ku.
"Kalau mau ketawa, ketawa aja lagi. Jangan ditahan gitu. Sebelum ketawa dilarang." Dia makin gencar meledekku.
Kucubit perutnya bertubi tubi.
"Hehehe. Kebiasaan," Kataku sambil tersenyum lebar.
"Aku seneng kalo liat kamu senyum gini," kata Indra tanpa melepaskan pandangan matanya kepadaku.
Wajahku menjadi hangat dan pasti merah merona saat ini.
"Ih.. Kamu malu, ya? Muka kamu merah lho," tunjuk Indra ke wajahku.
__ADS_1
Suara ketukan pintu terdengar. Feri masuk dan mengajak Indra ke rumah Pak Kades. Masalah ini harus segera di selesaikan.