Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
36. Penemuan mengejutkan


__ADS_3

"Pak Karjo sama Bu Heni!" pekik Aretha.


"Wah, mereka kenapa?" tanya Hendra.


"Udah jelas. Mereka nggak akan membiarkan kita masuk ke tempat ini!" cetus Radit.


"Ayo, masuk!" ajak Aretha sambil terus menoleh ke belakang.


Pintu tersebut berhasil dibuka, dan akhirnya mereka bertiga pun masuk ke rumah tersebut. Areta langsung teringat kejadian di mana dia juga pernah mendatangi rumah itu sebelumnya. Kalau kejadian itu sudah lama berlalu Tetapi dia masih mengingatnya dengan jelas. Tiba-tiba dia menjadi teringat dengan teman-temannya dulu. Saat Areta terjebak di desa ini bersama dengan Danu teman-teman mereka justru memutuskan untuk ikut terlibat dalam masalah itu. Mereka bahkan mau meninggalkan rutinitas sehari-hari mereka dan terus berada di samping Areta dan dan saat itu. Kini hanya tinggal Radit dan Untung saja pada Hendra yang menemani Karena sekarang. Dia tetap bersyukur karena dia tidak sendirian menghadapi masalah seperti ini.


"Hen, jangan kaget, ya, sama apa yang bakal lo lihat nanti," ujar Radit.


"Eh? Ada apaan? Apa yang bikin gue harus kaget? Heh, Aretha! Radit! Jawab ih!" omel Hendra terus menerus memberondong mereka berdua dengan pertanyaan itu.


Radit dan Aretha terus berjalan masuk ke dalam rumah, Hendra pun terus mengekor mereka berdua dengan tingkah berisik nya. Hingga akhirnya mereka benar benar melihat hal itu. Kondisi rumah yang berubah drastis saat mereka memasukinya.


"Wow! Hutan!? Di dalam rumah? Serius? Kok bisa?" tanya Hendra. Dia lantas menoleh ke belakang, dan di belakang mereka memang terlihat bangunan rumah yang sebelumnya terlihat di depan tadi.


"Yah, beginilah kenyataannya. Jadi rumah tadi cuma sebuah kamuflase. Karena tempat persembunyian makhluk itu sebenarnya ada di sini. Di hutan ini."


"Ummu Sibyan?" tanya Hendra.


"No, lebih dari itu. Aku malah ragu-ragu kalau tindakan Ummu sibyan yang meneror Desa Alas Purwo itu hanya dilakukan oleh dia sendirian."


"Maksud kamu, ada campur tangan mah online selain Ungu sibyan Seperti yang pernah kita hadapi dulu, begitu, kan, Tha?" tanya Radit.


"Iya, Dit. Masuk akal, kan, kalau kita flashback ke peristiwa yang pernah kita alami di tempat ini dulu. Ummu sibyan yang di sinyalir sebagai pelaku teror desa justru hanya anak buah dari sosok Iblis jahat yang bernama Merihim."


"Oke. Sebaiknya kalian berdua Jelaskan ke gue dulu sebelum kita melanjutkan petualangan mencari setan sekarang. Kalian berdua belum pernah menceritakan secara detail Apa yang sebenarnya terjadi sama kalian waktu terjebak di desa ini. Jadi gue nggak tahu apa-apa," hardik Hendra.


"Oke, singkat aja gue jelasin ke lu ya Hen. Biar lo juga paham tentang apa yang sedang kita hadapi sekarang. Seandainya memang Kejadian ini sama seperti apa yang kami alami dulu di tempat ini maka bisa disimpulkan kalau teror yang selama ini dikenal pelakunya adalah Ummu Sibyan, Sebenarnya dia tidak bertindak sendiri."


"Oke. Terus? Mereka punya kelompok yang sengaja meneror Desa ini, gitu?" tanya Hendra.


"Iya. Jadi dulu di desa ini pernah ada suatu kejadian pembunuhan. Tepatnya ada di rumah ini, eh eum, rumah itu yang di belakang kita," tunjuk Radit ke bagian depan rumah Pak Yodi.


"Terus?"


" kepala keluarga yang namanya Pak Yodi itu membunuh seluruh keluarganya. Setelah peristiwa itu terjadi Desa ini menjadi sedikit mencekam karena warga desa berpikiran kematian keluarga tersebut akan memberikan dampak buruk bagi warga desa. Disaat itulah ada satu sosok iblis yang bernama Merihim, yang membuat keadaan itu menjadi lebih mengerikan dengan merekrut Ummu Sibyan dan beberapa hantu lain seperti kuntilanak untuk meneror warga desa ini. Warga desa akhirnya kena wabah penyakit. Satu-satunya dokter yang seharusnya mengobati mereka justru melakukan tindakan gila dengan menyuntikkan semua warga dengan racun yang ia temukan sendiri. Alhasil semua warga meninggal dunia. Tapi kejadian itu justru tidak berhenti sampai di situ saja. Semua warga desa yang meninggal dunia akan kembali seperti semula dalam artian mereka akan seperti manusia normal pada umumnya, dan melakukan aktifitas mereka sebelumnya. Mereka hidup dan menjalani kehidupan seperti biasanya pada siang hari saat matahari terbit. Tapi setelah matahari terbenam, mereka akan kembali menjadi setan dan makhluk mengerikan."


"Oh, pantas aja. Lo terkecoh dan bisa tinggal di sini bareng mereka, ya, Tha?"


"Yah, begitulah."

__ADS_1


"Oke, jadi menurut kalian, ada makhluk lain yang mengatur semua rentetan peristiwa ini? Yang kalian sebut Merihim itu? Terus... Dia tinggal di sini?"


"Bisa jadi. Karena waktu itu pun kami menemukannya ada di sini bersama makhluk makhluk itu!" jelas Aretha.


"Makhluk makhluk itu? Hem, jujur aja, gue takut sih bayangin nya, Tha. Satu makhluk aja bikin gue ketakutan, ini lo bilang makhluk-makhluk itu, yang artinya ada lebih dari satu makhluk! Tuhan, mimpi apa gue semalam. Perasaan setan di kantor nggak se menyeramkan ini deh rasanya," gumam Hendra.


"Oh ya, Dit. Sepertinya Kita juga harus memeriksa ke gua yang dulu kamu sama Kak Arden masuki!" kata Aretha.


"Iya. Kita lagi ke arah gua itu kok, Sayang."


"Ada gua juga di sini? Kok gue bayangin nya kita lagi syuting film Narnia, ya?" tanya Hendra.


"Yah, anggap aja ini Narnia versi Lite," sahut Radit.


"Astaga. Versi lite dia bilang, ya, Tuhan?" tanya Hendra seolah olah berbicara sendiri.


Arena justru terkekeh mendengar obrolan suami dan teman kerjanya itu. Rasanya situasi ini tidak akan menjadi lebih mudah dan menyenangkan jika Hendra tidak ikut bersama dengan mereka saat ini.


Tiba-tiba angin berhembus cukup kencang. Langkah mereka menjadi terhenti dan menatap ke sekitar.


"Ini angin dari mana, ya? Kok tiba-tiba ada angin kencang gini?" tanya Hendra.


"Waspada. Sepertinya mereka datang," sahut Radit.


Dia menggenggam tangan Areta dan berusaha untuk melindungi istrinya dari terpaan angin yang tiba-tiba saja muncul di sekitar mereka. Kini di depan mereka jelas terlihat ada penampakan sosok yang mengerikan. Itu adalah Ummu Sibyan. Sosok Jin yang selama ini sering meneror warga desa Alas Purwo dan menculik beberapa warga yang ada di sana. Hingga membuat Areta dan Radit serta Hendra kini terjebak di Dusun Kalimati.


Makhluk itu lantas mengibaskan tangannya dan tiba-tiba Radit terlempar jauh ke arah lain dan berpisah dengan Areta serta Hendra.


"Radit!" jerit Aretha.


Saat Areta hendak mendekat tubuhnya seakan akan membeku. Dia bahkan tidak bisa bergerak sama sekali. Sekuat apapun dirinya menggerakkan tubuh untuk berlari ke arah Radit, Itu semua hanya menjadi sesuatu yang sia-sia saja.


Tapi rupanya itu tidak berlaku untuk Radit saja, karena Hendra yang sejak tadi berdiri di belakang Areta ikut terlempar jauh sama seperti Radit.


Hanya tinggal Areta saja yang masih berdiri tegak di tempatnya. Dia tahu hal seperti ini pasti akan terjadi. Dengan sekuat tenaga mereka melantunkan ayat-ayat suci Alquran yang biasa iya ucapkan di saat situasi sedang penting seperti sekarang ini. Suratan-suratan yang ia baca adalah doa-doa yang sudah pernah diajarkan oleh Yusuf, kakak dari Ibu nya. Doa-doa yang ia bacakan dengan pelan awalnya, ini menjadi lebih keras dan kencang, terlebih saat ancaman dari makhluk itu mulai membuat nyalinya sedikit menciut.


"Allahu Akbar!" jerit Aretha, sambil berusaha menggerakkan tangannya ke segala arah seperti sedang membuka ikatannya membelenggu tubuhnya.


Yah, mereka merasa kalau tubuhnya seperti sedang diikat oleh sesuatu yang tidak kasat mata sehingga membuat gerakannya menjadi terbatas. Tapi semua tekanan dan ancaman dari makhluk yang ia kenal dengan nama Ummu sibyan, membuat Areta semakin kesal terutama saat makhluk itu membuat suaminya terkapar setelah menghantam sebuah pohon besar yang ada di sekitar mereka. Aretha tidak bisa terima saat melihat Radit terluka. Ketakutannya selama ini, perlahan menjadi hilang dan kini berubah menjadi sebuah keberanian yang tiba-tiba muncul dari benaknya.


Kaki Areta lantas melangkah maju mendekati makhluk itu. Mulutnya tidak berhenti menggumamkan doa. Gelang yang ada di tangan kanannya adalah sebuah manik-manik yang terbuat dari batu alam. Benda itu sengaja diberikan oleh Yusuf sebagai perantaranya untuk mempertahankan diri dari serangan makhluk gaib.


Yusuf yang sudah hafal bagaimana keponakannya itu tidak mungkin melepaskan Areta tanpa sesuatu yang bisa melindungi wanita itu. Sehingga Yusuf sengaja memberikan gelang tersebut yang sebenarnya adalah gelang miliknya sendiri yang selama ini dipakai untuk berdoa dan berdzikir.

__ADS_1


Areta melepaskan gelang tersebut dari pergelangan tangannya. Dia terus berdzikir dengan gelang tersebut sambil menatap makhluk di hadapannya itu tanpa rasa takut. Ummu Sibyan mengulurkan tangannya ke depan seolah-olah dia hendak melakukan sesuatu kepada Areta. Tapi hal itu tidak berpengaruh apapun bagi Areta. Areta justru terus berjalan mendekatinya.


Kini mereka berdua sudah berdiri berhadapan. Tidak ada jarak sama sekali di antara mereka berdua. Aretha terus menatap tajam ke makhluk yang kini menyeringai di depannya. Tiba-tiba kereta langsung menempelkan gelang yang ada di tangan kanannya tepat di dahi makhluk tersebut.


Ummu Sibyan memekik. Dia seperti sedang kesakitan dan terus-menerus meronta saat Areta tidak melepaskan tangannya dari dahi makhluk itu. Kening makhluk mengerikan itu mengeluarkan asap. Bahkan aroma terbakar mulai tercium di sekitar. Tapi Areta tidak menghentikan Apa yang dia lakukan. Dia justru terus menekan dengan kencang tasbih itu ke kepala Ummu sibyan.


Perlahan asap yang keluar dari tangan Areta berubah menjadi percikan api. Bahkan saat percikan api itu berubah membesar Areta sama sekali tidak melepaskan tangannya. Mulutnya terus komat-kamit sambil melantunkan doa. Tangannya terus bergerak menekan kepala makhluk itu tanpa kenal belas kasihan. Hingga tiba-tiba kepala makhluk itu pecah menjadi abu dan menguar ke udara. Tubuh Ummu Sibyan  ikut hancur saat kepalanya sudah tidak lagi utuh.


Kini makhluk itu benar-benar sudah lenyap dari hadapan Areta. Angin yang awalnya berhembus kencang, mendadak hening dan tidak lagi membuat suasana mencekam seperti sebelumnya. Aretha bergegas mendekati ke suaminya. Radit berusaha bangun dibantu Aretha sambil memegangi dadanya.


"Kamu nggak apa apa, kan, Dit?" tanya nya panik.


"Nggak apa apa kok. Sakit dikit aja. Tapi... Dia ke mana? Apa dia benar-benar sudah lenyap?" Tanya Radit sambil memperhatikan ke sekitar.


"Yah, aku rasa begitu. Sebaiknya kita bergegas pergi dari sini setelah mencari Liya," kata Aretha yang sama sekali tidak melupakan tujuannya datang ke desa tersebut.


Mereka Lantas pergi menuju ke gua yang pernah didatangi oleh Radit sebelumnya.  Sekalipun kejadian itu sudah berlangsung cukup lama tetapi Radit masih belum melupakan tempat itu. Bahkan setiap detik dari tempat itu dan jalan menuju ke sana masih sangat mudah Radit hafal.


Tak jauh dari tempat itu mereka pun menemukan keberadaan gua yang disinyalir sebagai tempat persembunyian makhluk jahat itu.


" kalian berdua yakin ini tempatnya?" tanya Hendra ragu ragu.


"sebaiknya kita coba saja. Karena dulu di tempat ini gue menemukan keberadaan makhluk jahat itu juga!" tandas Radit.


Gua itu sama seperti gua gua pada umumnya. Gelap dan mengerikan. Mereka lantas menyalakan lampu flash dari ponsel masing-masing untuk bisa melihat jalan. Saking heningnya mereka bahkan bisa mendengar suara nafas masing-masing. Tiba tiba Hendra terjatuh karena tersandung sesuatu. Saat lampu flash dari ponsel yang menyorot ke bawah, tiba tiba dia melihat sebuah kaki. Setelah ditelusuri rumahnya itu adalah sosok wanita yang sedang memejamkan mata sambil duduk bersandar pada dinding gua.


"Hah! Astaga! Mayat!" jerit Hendra.


Radit dan Areta antas mendekat dan ikut memeriksa apa yang ditemukan oleh Hendra.


"Ngaco lo! Ini bukan mayat karena dia masih hidup!" pekik Radit.


"Hah? Serius? Masa sih?" Hendra tampak tidak yakin dengan perkataan Radit, tapi akhirnya dia pun memeriksa sendiri kondisi wanita yang baru saja mereka temukan itu. "Eh iya, masih hidup!" pekik Hendra.


"Sayang, coba kamu periksa tempat lain Siapa tahu kita bisa menemukan yang lain lagi di sekitar sini!" pekik Radit.


Arena mengangguk lantas memeriksa sekitar tempat tersebut. Tidak disangka ternyata benar dugaan mereka Kalau warga desa yang diculik oleh Ummu sibyan justru disembunyikan di gua ini. Mereka semua dalam kondisi hidup walau masih tampak memejamkan mata dan seperti sedang tidak sadarkan diri.


" sebaiknya kita keluarkan Dulu mereka semua dari sini," kata Hendra.


Akhirnya Radit dan Hendra pun mengeluarkan semua orang yang berada di gua itu satu persatu. Sementara itu arena berusaha untuk menyadarkan mereka semua karena semua orang yang ditemukan justru masih dalam keadaan hidup dan baik-baik saja.


Walau cukup sulit tapi akhirnya mereka semua pun bisa terbangun. Hal pertama yang mereka tanyakan kepada tiga orang penyelamat itu hanyalah, "Saya di mana?"

__ADS_1


Mereka Semua terlihat seperti tidak sadar atas apa yang sudah terjadi.


"Liya!" jerit Aretha saat Radit membawa sebuah tubuh terakhir dari goa.


__ADS_2