Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
48. naik gunung


__ADS_3

"Eh, manjat yuk," celetuk Ari tiba-tiba.


"Manjat? Manjat pohon mangga? Manjat apaan?" timpal Radit asal-asalan.


"Ya manjat gunung lah, Dit! "


"Iya tuh, ide bagus. Lama juga aku nggak naik gunung," sahut Danu.


"Sekalian refreshing gitu, gaes." Ari terus saja mempengaruhi kami untuk menyetujui idenya.


Dia ini memang ikut MAPALA di sekolah, jadi dia memang paling sering naik gunung di antara kami.


"Terserah deh. Aku mah ngikut aja," kata Doni santai.


"Oke.. Besok ya, kan weekend tuh.


Jangan lupa, bawa perbekalan yg cukup. Kita nginep soalnya."


"Eh,nginep?" tanya mbak Alya yg kini ikut angkat bicara.


"Iya dong, Al.. Masa nggak nginep. Nggak asik tau."


Mba Alya melirik kak Arden yg duduk di sampingnya. "Nggak apa-apa kok. Kan ada aku."


"Cie ... Ehem..." sorak sorai kami kompak meledek mereka berdua, yang kini tengah memerah mukanya karena malu. Yah, begitulah ide ini berawal. Naik gunung. Jujur, ini pertama kalinya aku melakukan hal ini. Biasanya hanya hiking saja di Bumi perkemahannya, lalu pulang saat siang atau sore hari. Belum pernah sampai naik ke puncak.


Sabtu sore ini kami sudah berkumpul di rumahku. Untuk apa lagi, jika bukan untuk meneruskan rencana kami naik gunung, Eum... Rencana Ari lebih tepatnya. Kami cuma ikut ikutan saja.


Gunung Slamet mempunyai ketinggian 3425 MDPL ini ialah termasuk kedua gunung tertinggi di jawa. Dalam mendaki puncak gunung Slamet tentu para pendaki dapat melewati beberapa jalur di antaranya, jalur guci, jalur bambangan, jalur baturaden, ataupun jalur dukuhliwung.


Kami lewat jalur baturraden.


Ada beberapa kisah horor yang berselimut rapih di balik keindahan alamnya, salah satu kisah yang paling santer terdengar adalah kisah mengenai gerbang kerajaan gaib yang ada di jalur pendakian yang dikenal dengan nama jalur bambangan. Menurut kisah jalur ini punya dua pohon besar yang menjadi gerbang menuju kerajaan jin yang berkuasa di Gunung Slamet.


Masih di jalur bambangan, menurut kisah setelah melewati dua pohon besar maka para pendaki akan berhadapan dengan pos V atau yang akrab disebut pos Samaratu. Menurut kisah pos ini merupakan titik persinggahan paling angker di Gunung Slamet, dan di sini tidak disarankan mendirikan tenda dan menginap.


Setidaknya hal tersebut sudah kerap dibuktikan oleh sejumlah pendaki, konon di pos ini di huni oleh satu sosok jin yang sering memberi nuansa horor seperti suara-suara mistis hingga beberapa kejadian aneh lainnya. Sampai sekarang ini para pendaki belum ada yang berani mendirikan tenda di pos Samaratu.


Dengan naik mobil Radit dan Doni, kami sampai juga di sana.


Untuk memulai pendakian, kami lebih dulu ada di basecamp, Radenpala.


Di sana kami juga mengecek perlengkapan yg akan kami bawa. Jangan sampai ada yg tertinggal di mobil. Setelah semua sudah komplit, kami mulai berjalan menuju pos 1.


Dari basecamp menuju pos 1 kurang lebih ditempuh dengan 1jam perjalanan.


Di sini akan banyak dijumpai hutan pinus. Sampai pos 1 kami istirahat sebentar.


"Masih kuat kan, Al?" tanya kak Arden ke mba Alya.


Mba alya mengangguk diiringi senyuman khasnya. Diantara kami, memang mba Alya yg paling lemah. Sehingga kak Arden sangat memperhatikan nya.


"Ai, kamu masih kuat, kan?" tanya Radit yg tengah meneguk air minum yg dia bawa.


Aku mengangguk menanggapinya.


"Ai? Cie ... Ai ... Panggilan yg disamarkan, biar pada nggak tau," sindir Doni terkekeh geli.


"Emang Ai apaan sih, Beb?" tanya Kiki.


"Ai itu artinya sayang. Bahasa jepang, sweety. "


"Oh gitu ... Ih, so sweet deh,"seru Kiki, "beb,kamu gak manggil aku kaya Radit itu?"


"Lah, ntar ketuker, sweety. Kita udah pakai panggilan bebeb sama sweety. Udah ah, nggak gak usah ganti ganti."


Bebeb dan sweety? Apakah tidak terdengar norak, ya? Ah, sudahlah.


"Ya ampun, pacaran mulu ya. Hadeh." Dedy geleng geleng kepala sambil mendengus sebal.


"Iya. Heran. Kalian berempat pasangan yg suka heboh dan bikin kita keki," runtuk Ari.


"Itulah derita jones," gumam Radit sambil tos dengan Doni lalu diiringi cekikikan tidak jelas.


"Udah. Udah. Yuk lanjut lagi," ajak Danu yg sangat antusias sekali hari ini.


Dari pos 1 ke pos 2 ditempuh dengan 3 jam perjalanan. Trek nya sama dengan sebelumnya.


Dipenuhi hutan pinus di mana mana.


Sejauh ini aku belum merasakan hal hal ganjil. Sebenarnya di sini pasti banyak sekali makhluk astralnya. Bahkan ada mitos yg mengatakan, ada makhluk kerdil yg ada di sini. makhluk kerdil itu dahulunya adalah manusia yang tersesat ketika sedang mendaki gunung Slamet dan akhirnya tidak bisa kembali ke bawah.


Makhluk kerdil tersebut awalnya mencoba bertahan hidup dengan memakan dedaunan seperti hewan, tetapi seiring waktu makhluk kerdil tersebut kehilangan jati diri manusia karena terlalu lama hidup seperti hewan. Makhluk kerdil tersebut suka bersembunyi karena takut jika bertemu pendaki.


POS 2 - POS 3 (2 jam)


Menuju Pos 3 kita akan berjumpa dengan trek berat. Di Pos 3 inilah lokasi favorit untuk mendirikan tenda dan bermalam untuk paginya summit attack atau perjalanan menuju puncak.


Nafas ku mulai tersengal. Sering bahkan sangat sering aku harus berhenti untuk mengatur nafas. Kupulihkan ritme paru-paru agar jantungku tidak terlalu kencang memompa darah.

__ADS_1


Dan akhirnya kami mendirikan tenda dan bermalam di sini. Ada 3 tenda yg kami dirikan. Lalu kami juga membuat api unggun.


semua Ari yg mengerjakan karena dia lebih paham. Kami hanya membantunya saja, dan semua instruksi dari Ari.


Aku, mba Alya dan Kiki satu tenda.


Radit, Doni, Danu dan Dion di tenda sebelah kanan kami.


Kak Arden, Dedy, dan Ari di tenda sebelah kiri kami.


Hari semakin gelap.


"Mba Al, baru pertama kali ya naik gunung?" tanyaku saat kami ngobrol di dalam tenda.


"Iya, Tha. Pertama kali. Dulu pernah cuma hiking aja, itu pun gak terlalu jauh, cuma di sekitaran bumper."


*bumper: bumi perkemahan


"Sama dong. Aku juga."


"Capek banget ya," gumam Kiki sambil tiduran di dalam kantung tidurnya.


"Tidur? Yakin, Ki? Nggak pengen menikmati suasana alam di gunung?" tanyaku.


"Hm ... Gampang deh. Paling aku merem bentaran aja, Tha."


Dan dia pun memejamkan matanya. Entah tidur beneran atau hanya tidur tiduran saja.


Samar samar dari arah belakang kiki tidur, aku tertegun melihat bayangan yg melintas. Bentuknya tinggi besar.


Aku sempat bengong sebentar dan terpaku menatap ke arah bayangan itu lewat.


Mba Alya sampai melambai lambaikan tangan nya di depan wajahku, "Tha... Aretha? Kamu kenapa sih?"


Aku tersadar lalu menatap mba Alya diiringi senyum tipis.


'Siapa ya?'


"Aku keluar bentar ya mba," pamitku.


Karena penasaran aku mengecek kondisi di luar. Saat di luar, teman teman yg lain sedang membuat makanan dengan api unggun.


Aku tengak tengok, mencari bayangan yg tadi ada di sekitar tendaku. Namun, tidak kutemui siapa pun di luar.


Akhirnya aku ikut bergabung bersama mereka. Hitung hitung sekalian menghangatkan badan, karena makin lama suhu udara terasa makin dingin.


Aku duduk di samping kak arden. Namun aku masih sesekali menoleh ke belakang. kak Arden yg menyadari kegelisahan ku lalu ikut menoleh sepertiku.


"Kenapa?"


"Yakin?"


Aku menoleh ke kak Arden,"hmm.. Tadi ada yg lewat di deket tenda ku, Kak."


Kak Arden ini memang sangat mengerti aku. Jadi kalau ada yg aku pikirkan, pasti kak Arden tau.


"Gitu ya... Udah nggak papa. Asal gak usil aja."


Akhirnya apa yg dimasak oleh para pria ini matang juga.


Ah-- bodo amat deh, enak apa enggak. Habis lapar.


Mba Alya juga dipanggil, namun Kiki malah tidur pulas. Akhirnya dia kubiarkan saja lah.


Pukul 22.00


Beberapa dari kami sudah mulai mengantuk. Ku ajak mba Alya masuk tenda untuk tidur. Agar besok perjalanan kami lebih lancar. Karena pasti akan lebih berat.


Baru saja aku mulai memasuki alam mimpi, tiba tiba seseorang menggoyang goyangkan tubuhku.


"Tha... Aretha.. Bangun," rengek seseorang. Kalau dari suaranya, ini pasti kiki.


Kupaksakan untuk membuka mataku.


"Ta.. Lapeeeeer..."


"Ya ampun.. Salah sendiri dari tadi tidur mulu," Gerutuku, sebal.


"Habisnya ngantuk, Tha," rengeknya, "ayok.. Temenin keluar. Masih ada makanan apa nggak."


Aku mendengus sebal,"ya udah ,yuk ah."


Akhirnya aku menemaninya untuk mencari makanan di dekat api unggun tadi.


Di luar masih ada Radit dan Doni yg asik ngobrol.


"Lho kok belum tidur,Ai?" tanya Radit padaku.


"Ini.. Ada orang kelaperan," jawabku sambil melirik Kiki.

__ADS_1


"Kamu sih tidur mulu deh sayang," timpal Doni.


"Orang ngantuk, mau gimana lagi coba, Beb," bela nya.


Kiki ini kalo udah tidur, beuhhh kaya orang mati deh. Ada gempa aja dia gak berasa. Parah banget.


"Tapi udah gak ada makanan. Paling tuh... Kacang rebus," sahut Radit sambil menunjuk kacang rebus yg sedang mereka makan.


"Yah, dikit bgt. Kurang dong, Dit.." rengek Kiki.


"Salah sendiri," gumam Radit sebal.


"Ya udah.. Aku cari ubi di deket sini deh ya.. Nanti kita bakar lagi. Lumayan kan, buat ganjel perut kamu," seru Doni.


"Tunggu, Don!!" aku melirik ke sana ke mari.


"Kenapa?"


"Kamu jangan sendirian deh. Aku temenin yuk," kataku.


Bahaya juga kalau dia pergi sendirian, takut nyasar. Sebenarnya bukan itu alasan utama nya, aku hanya takut dia diganggu makhluk halus penghuni gunung ini.


"Eh... eh... eh... Aku juga ikut ah.." Radit malah ikut ikutan.


Akhirnya kami berempat pergi bersama sama mencari ubi. Memang di sekitar kami ada beberapa tananam ubi.


Berbekal senter kami mulai menelusuri semak belukar.


Dengan langkah yg hati hati sekali, kami mencari ubi untuk Kiki.


Takut ada binatang buas, seperti ular contohnya. Karena pasti masih banyak hewan buas di sini.


"Duh, ubi nya kecil," Gumam Doni saat dia mencabut tanaman ubi yg dia temukan.


"Yah, nggak cukup dong."rengek Kiki. Selain suka tidur, dia suka makan juga.


Kebanyakan tanaman ubi nya masih pendek pendek otomatis ubinya juga masih kecil kecil.


"Terus gImana dong?" tanya Kiki yg mulai gak sabaran.


"Eh... kalian denger gak?" seru Radit sambil bergaya menajamkan pendengaran nya.


"Apaan sih?"


"Dengerin deh," suruh Radit lagi


Aku pun ikut menajamkan pendengaran ku. Dia ini denger apaan sih?


"Di sana gaes, teriak Kiki girang dan Langsung berlari kecil ke arah suara itu.


Kami terperanjat melihat apa yg ada di hadapan kami.


Ada pasar!


Kiki langsung masuk ke kerumunan orang di sana.


Sedangkan kami bertiga masih bengong tidak percaya.


"Aneh gak sih? Ada pasar di tengah hutan gini?" tanya Radit.


"Aneh banget lah," Sahut Doni.


"Bawa Kiki balik!!!" perintahku.


Doni langsung menarik Kiki keluar dari kerumunan orang orang di sana.


Namun kiki seolah tidak mendengar Doni. Akhirnya aku dan Radit ikut menarik Kiki.


Beberapa kali aku menabrak orang orang di sana.


Namun saat ku perhatikan, mereka aneh.


Ekspresi mereka datar dan dingin. Wajah mereka juga pucat.


"Thaaa!!!" seru Radit sambil menarik tanganku.


"Apa??"


"Lihat itu," bisik nya.


Saat kulihat dagangan yg mereka perjual belikan, aku bergidik ngeri. di sana ada beberapa tangan dan organ tubuh manusia.


Aku mual dan hampir muntah. Namun kutahan sebisaku. Radit membantu Doni membawa Kiki pergi .


Dengan susah payah, kami berhasil keluar dari pasar itu.


Pasti itu adalah pasar gaib yg sering ku dengar di sini.


Untung tadi kiki belum sempat membeli apa pun di sana. Bisa gak bakal balik lagi deh kalo sampai makan makanan di sana.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2