
"Jadi Pak Kades udah setuju soal rencana 2 proker kelompok kita?" tanya Dollmen.
"Iya, setuju. Pak Kades justru merasa senang dengan rencana kita. Katanya listrik di desa ini hanya ada di depan Balai Desa saja. Karena waktu ada aliran listrik dari PLN, warga desa banyak yang gak mampu untuk ikut pasang listrik juga. Nah karena kita akan memfasilitasi pemasangan listrik dengan gratis Pak Kades tentu merasa sangat senang," ucap Arman.
"Terus rencana kita gimana nih sekarang? Kita harus pergi ke kantor PLN juga dong, buat rencana ini?" tanya Fendi.
"Iyalah. Rencananya hari ini juga saya mau ke kota, ngurus pemasangan listrik. Sekalian saya mau pesan bahan material bangunan untuk membuat sumur dan pemandian umum. Ada yang mau menemani saya pergi ke kota?" tanya Daniel menatap teman-temannya satu persatu.
"Hm? Ke kota? Naik apa, Nil?" tanya Cendol.
"Ya naik bus. Kita hanya perlu jalan keluar dari Desa ini, nanti di jalan besar kita menunggu bus yang lewat. Gimana?" Daniel masih menunggu jawaban dari teman-temannya yang tampaknya tidak antusias dengan ajakannya itu.
"Duh, kaki gue masih pegel pas datang ke sini kemarin. Jalan dari balai desa ke rumah aja lumayan gitu, eh ini mau jalan kaki ke jalan besar? Itu mah jauh banget!" tukas Fendi.
"Jadi nggak ada yang mau ikut saya?" tanya Daniel. Daniel memang terkenal sebagai pribadi yang sopan. Dia sangat berhati-hati dalam berbicara dengan orang lain. Sekalipun mereka seumuran dengannya.
"Ya udah gue aja, Nil," ucap Arman.
"Eh, jangan, Man. Kamu harus di sini untuk mengawasi teman teman. Karena saya rencananya akan menginap semalam. Saya harus pulang ke kampus untuk membahas mengenai rencana ini."
"Loh maksudnya gimana? Apa proker ini terlalu beresiko? Jadi harus di diskusikan dulu sama dosen kita?"
"Bukan begitu. Saya pikir, untuk proyek sebesar ini bukan hal yang mudah. Jadi saya tetap harus membahas hal ini dengan dosen kita. Siapa tahu kita bisa mendapatkan sponsor. "
"Nanti kalau dosen nggak acc gimana, Nil?" tanya Dollmen.
"InsyaAllah di acc. Saya rasa ide ini adalah yang terbaik, cuma karena butuh dana yang besar kita harus diskusi dulu. Kalian mengerti, kan, maksud saya? Ayolah, jangan membuat saya pusing bahkan sebelum saya pergi ke kota."
"Nginep ya, Nil? Kalau gitu gue ikut deh. Sekalian pulang ke rumah bentar. Ada barang yang ketinggalan," tutur Fendi.
"Apaan? Ah, paling karena belum pamitan sama Si Sri!" ejek Cendol.
"Sri yang mana, Cen? Ngawur aja!" elak Fendi.
"Heleh. Dipikir gue nggak tahu, kalau lo lagi deketin dia." Reaksi Cendol tampak benar benar mengejek Fendi saat ini.
"Sri yang mana sih, Cen?" tanya Khusnul.
"Itu, Maba! Yang waktu itu di kerjain sama Fendi disuruh lari keliling lapangan 7 kali."
"Weh, kau ternyata masih buaya! Diah di ke manain?! Ku laporkan nanti kau ke Diah, ya!" ancam Khusnul.
"Nul, jangan gitu ah. Orang nggak ada apa apa kok. Bohong si Cendol nih! Sengaja bikin kisruh!" omel Fendi.
__ADS_1
"Nil, aku ikut deh. Badan ku rasanya panas dingin. Lupa nggak beli obat obatan. Ketinggalan di rumah," kata Sule
"Lah ini kenapa jadi pada seneng banget karena mau pulang?" tanya Arman.
"Ini beneran, Man. Badanku nggak enak. Harus pakai obat yang di rumah nih."
"Ya sudah. Fendi sama Sule ikut saya nanti, ya. Tapi ingat, kita cuma semalam saja. Besok kita harus sudah balik ke sini lagi," jelas Daniel.
"Iya, paham!"
Dari jauh terdengar suara cekikikan dari wanita. Padahal hari masih sore. Dery tiba tiba merapatkan tubuh ke Ike yang duduk di kursi atasnya. Dery memang sejak tadi memilih duduk di lantai bersama beberapa teman yang lain. Ubin lantai rumah itu memang terasa dingin sehingga sangat nyaman diduduki saat cuaca panas seperti sekarang.
"Ke, suara setan, ya?" tanya Dery.
"Setan apaan! Ih, lo malah mepet mepet gue! Itu suara temen temen yang lain! Tuh, mereka baru balik!" kata Ike menunjuk ke luar rumah di mana Indy, Mey, dan Rahma muncul sambil tertawa cekikikan. Di leher mereka tersampir handuk dan ember kecil di tangan kiri masing masing.
"Dari mana kalian?" tanya Sule menatap heran pada tiga gadis itu.
"Mandi. Ih, seger banget sungainya!" pekik Indy dengan semangat.
"Dingin nggak airnya?" tanya Ike.
"Enggak. Malah seger tahu! Buruan kalian berdua mandi sana," tukas Mey.
"Ih seru loh di sungai," tambah Rahma.
"Eh, ikut!" timpal Dery.
"Dih, gatel!"
***
Daniel, Sule, dan Fendi akhirnya pergi meninggalkan desa dengan berjalan kaki. Sekalipun rindu rumah mulai dirasakan oleh mereka semua, tetapi hanya beberapa gelintir saja yang berniat pulang dengan menempuh perjalanan panjang itu. Sebagian lainnya lebih memilih tinggal di desa dengan segala kesederhanaan nya.
Kini tersisa Arman, Cendol, Dollmen, Dery, Ike, Khusnul, Indy, Mey, dan Rahma saja di rumah. Seperti biasa, Rahma memasak menu makan malam hari ini. Dia berhasil membeli ikan di warung saat berkeliling desa. Sehingga menu makan malam kali ini cukup istimewa. Gulai ikan nila. Semua orang tampak semangat makan. Bahkan sampai sampai ada yang menambah makan hingga dua piring.
Setelah makan malam, semuanya masih duduk-duduk di teras rumah yang sebenarnya cukup nyaman dijadikan tempat tongkrongan. Namun yang mereka lakukan bukan bersenang-senang seperti layaknya anak muda pada umumnya. Mereka justru sibuk dengan lembaran-lembaran tugas dan rencana proker yang akan mereka lakukan.
"Kalian semua sudah menentukan proker masing-masing?" tanya Arman.
"Belum."
"Udah."
__ADS_1
"Hampir."
"Masih pilih pilih, Man."
"Eh, kalian tahu nggak di desa ini masih banyak sesajen?" tanya Cendol tiba tiba.
"Eh, masa sih? Di mana?" tanya Rahma terkejut.
"Di sekitar hutan, kebun kebun, sungai juga ada."
"Di sungai? Kok kita nggak lihat tadi, ya?" tanya Indy.
"Iya, nggak ada ah!" tambah Mey.
"Ada kok. Tadi kita lihat, ya kan, Nul?" tanya Ike meminta persetujuan Khusnul karena mereka tadi pergi berdua ke sungai.
"Iya ada. Emangnya kalian lewat mana Kok bisa nggak lihat ada sesajen di sana?" tanya Khusnul.
"Lewat yang ada tangganya itu."
"Oh, pasti kalian nggak melihat ke samping. Di samping tangga sebelah kanan ada sesajen. Orang bau dupanya aja tercium menyengat banget!"
"Duh, kok serem sih. Ada sesajen itu artinya ... Ada setan!" pekik Mey.
"Ah, itu sih hal biasa. Soalnya Di beberapa desa yang gue temui mereka masih melakukan hal yang sama. Malah Biasanya nih dulu waktu gue masih SMA, kan gue pergi ke rumah kakek nenek gue yang ada di desa. Nah di sana ada tuh sesajen di pinggir jalan. Ada buah buahan, ayam ungkep, terus nasi. Karena waktu itu gue laper akhirnya gue makan tuh sesajen," tutur Cendol.
"Ih ngawur!" pekik Mey.
"Lo pengen di ikuti setan, ya!" tambah Indi
"Loh nggak apa apa. Toh gue masih hidup sampai sekarang!" kata Cendol dengan penuh percaya diri.
"Prend! Itu rumah yang bekas bunuh diri ternyata kelihatan dari sini, ya?" tanya Dollmen menatap ke arah rumah tersebut.
"Eh eh, jangan bahas gituan deh! Itu ada bayangan lewat tadi di rumah itu!" pekik Dery.
"Jangan bercanda deh, Der! Nggak lucu!" timpal Ike.
"Serius, Ke! Gue lihat! Lo lihat juga, kan, Men?"
"Enggak."
"Bohong, kan!"
__ADS_1
"Ih serius! Ada! Coba kalian lihat dengan teliti!"
Sekalipun mereka tidak percaya dengan perkataan Dery, tapi mereka tetap menurut dan menatap rumah itu dengan tenang. Hingga akhirnya, Dollmen lari masuk ke dalam rumah, diikuti teman teman yang lainnya. "Setaaaaaan!" jerit mereka.