
Aku mulai berjalan ke balai desa bersama Indra dan Ferli. Kami harus memulai kegiatan hari ini di tempat itu.
"Nis, kamu kenapa sih, sensi amat pagi ini?" tanya Ferli.
"Biasa. Si Acong reseh. Masa tadi dia sengaja nyenggol aku pas di dapur, ampe teh yang kubawa buat Indra tumpah."
"Terus ?" tanya Indra.
"Ya udah pasti dilabrak Nisa lah, Ndra. Kayak kamu gak tau Nisa aja. Hahahaha."
Aku hanya menaikkan sudut bibirku, menanggapi reaksi Ferli yang menyudutkan ku.
"Emang Acong suka sama kamu dari kapan?" tanya Indra menyelidik.
"Cie ... cie ... Ada yang kepo nih," ledek Ferli. Mulutnya memang nyinyir.
"Apa sih kamu, Fer. Persis cowok kamu deh, sukanya ngeledekin aku," kata Indra sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ih ... ngambek," ledek Ferli lagi.
"Au ah ... Gelap." Ferli makin bahagia melihat Indra yang kesal.
"Ferli, ih! Kamu nih," cetusku.
"Cie ... Dibelain."
Kubungkam mulutnya agar dia diam. kumat ni anak rese nya.
"Oke. Oke. Aku diem. Janji," kata Ferli setelah dia berhenti tertawa.
"Eh, Nis. Tapi si Acong kayaknya cinta banget deh sama kamu," kata Ferli sambil melirik Indra.
"Terus? Aku harus gimana?" tanyaku santai.
"Kenapa sih, kamu gak mau sama dia? Dia kan udah lama banget ngejar kamu?" tanya Ferli, penasaran.
"Entahlah. Dia ... Ngingetin aku sama seseorang," kataku sambil mendesah dengan nafas yang berat.
"Maksud kamu?" tanya Indra.
"Nggak penting, Ndra. Yang jelas aku gak suka sama Acong. Sekarang dan untuk selamanya. titik," ucapku lalu membuat Indra tersenyum penuh arti.
Sampailah kami di balai desa.
Indra menunggu di luar,sementara aku dan Ferli masuk untuk bertemu Pak Kades.
Setelah urusan selesai.
Kami menemui Nindi dan Indah yang stand by di balai desa.
"Hai. Serius banget, Ndah," sapaku sambil mengagetkan Indah dari belakang.
"Ih. Nisa! Ngagetin aja!" Dia hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus ke layar komputer di hadapannya.
"Eh, kalian udah denger kabar belum?" tanya Nindi yang ada di samping Indah.
"Kabar apa?" tanya Ferli penasaran.
"Katanya ada anak kecil yang masuk ke Desa Kramat itu lho. Terus belum balik sampai sekarang."
"Masa? Mok bisa masuk sana sih?" tanyaku heran.
"Katanya dia kan lagi main sama temen - temen nya, main petak umpet gitu. Terus ada yang liat itu anak masuk ke desa itu, kayak ada yang ngajakin gitu lho, Nis," tutur Nindi.
"Udah dicari belum?" tanyaku lagi.
"Udah, tapi ya belum ketemu. Hilang gitu aja," ucap Nindi sambil bergidik ngeri.
Kok bisa ya? Kalau benar seperti itu, kasihan banget anak itu.
"Eh, udah yuk. Malah ngerumpi. Kita kan mesti PROKER juga, Nis," ajak Ferli.
"Oh iya, ya udah. Balik dulu, ya. Kalian hati-hati," ucapku lalu kami pergi keluar.
Kulihat indra sedang duduk di kursi depan balai desa sambil melamun. Perlahan kudekati dia.
"Hayo. Ngelamunin apa ya," sindirku dan berhasil membuat dia kaget.
"Nisa! Ngagetin aja. Eh,udah tah?" tanyanya.
"Udah, yuk. Kita mau PROKER dulu, Ndra, ke balai warga. Kamu gak apa - apa nungguin? Lama lho?''
"Nggak apa apa kok, Nis. Aku rela nunggu kamu,walau seumur hidup aku," rayunya, dan berhasil membuatku tersipu malu.
"Gombal," ucapku sambil mencubit perutnya.
Dia hanya senyum dan tidak melepaskan pandangannya dariku.
"Jiah, berasa obat nyamuk nih," kata Ferli, membuang muka.
"Itu yang aku rasain kalo kamu lagi berduaan sama Feri! Enak, kan?" Ferli hanya manyun, lalu kugandeng dia berjalan ke tempat PROKER kami.
Indra mengikuti dari belakang.
Sampai di balai pertemuan warga, di sana sudah ramai ibu-ibu yang akan ikut penyuluhan kami.
Tanpa menunggu lagi, aku dan Frrli masuk dan segera memberikan penyuluhan ke para ibu di sini.
Warganya sungguh ramah dan sangat antusias.
Bahkan setelah acara selesai pun, masih banyak yang mengajak kami ngobrol.
Saat aku melihat ke arah depanku, aku melihat anak kecil yang waktu itu aku temui di sungai.
Dia sama seperti kemarin, diam dan hanya melihat ku.
__ADS_1
Aku mulai mendekatinya, namun kali ini dia tidak lari saat aku mulai mendekat.
"Dek, Nama kamu siapa?" tanyaku sambil jongkok di hadapannya.
"...."
"Rumahnya mana?" tanyaku lagi.
Dia masih diam, lalu menunjuk ke arah belakangnya. Dan tiba- tiba dia menarik tanganku, sepertinya dia ingin aku ikut.
Entah dapat keberanian dari mana, aku malah menurut saja ditarik oleh nya.
Sampai ke depan desa kramat, dia berhenti lalu menunjuk ke dalam desa itu.
Aku yang belum mengerti maksudnya masih bingung sambil berfikir.
Lalu tiba- tiba dia melepaskan tanganku dan berlari masuk ke desa itu.
"Dek! Adek. Mau kemana?!" jeritku.
Namun dia tetap masuk ke sana dan lama kelamaan tidak terlihat lagi.
Saat aku akan maju,tiba- tiba ada tangan yang menyentuh bahuku, dan membuatku kaget setengah mati.
"Ya Allah!" pekikku.
"Nis, kamu ngapain sih di sini? aku panggil dari tadi diem aja." Indra terlihat cemas melihatku, terlihat sekali dari sorot matanya. Lalu tak lama Ferli datang dengan lari tergopoh- gopoh.
"Kalian larinya cepet banget sih!" gerutunya dengan nafas tersengal sengal.
"Lari? aku jalan kok," ucapku.
"Kamu lari, Nis. Larimu cepet banget," kata Indra masih menatap ku heran.
"Masa sih, Ndra? Aku tadi ketemu anak kecil yang waktu itu di sungai, yang itu lho Fer. Terus dia bawa aku ke sini. Katanya rumahnya dia ada di ... si... ni...." aku langsung terbelalak.
"Kenapa, Nis?" tanya Indra.
"Rumah nya di sini? Jadi dia?"
"Setan! Duh ... Nisa. Masa kamu gak bisa bedain mana setan mana orang sih?!" omel Ferli mulai ketakutan.
"Aku gak tau beneran, "Ucapku masih bingung dengan apa yang kualami tadi.
Ku amati desa di hadapanku, dan anak kecil itu memang ada di sana. Namun kali ini dia tidak sendirian. Ada seorang pria yang sama, yang ku lihat di sungai kemarin. Dia menyeret anak itu menjauh pergi. Masih dengan tangan yang memegang celurit.
"Ya Allah. Dek... Adek! Heiii lepasin anak itu!!" teriakku yang hendak masuk ke dalam desa itu.
Namun Indra menahan ku, bahkan dia memelukku khawatir.
"Kamu liat apa sih, Nis? Nggak ada siapa- siapa di sana. Udah, yuk balik aja ke posko," kata Indra dengan posisi masih memelukku.
"Itu , Ndra. Anak tadi di sana, dia sama ... Astaga. Ada apa sih di sini?" mataku mulai berkaca - kaca.
Apa benar, mereka makhluk astral? karena hanya aku yang melihatnya. Ferli dan Indra tidak melihat.
"Nisa? Hei. Lihat aku, Nis. Kita balik ke posko ya," kata Indra lembut sambil menyentuh pipiku.
Aku mengangguk, Indra menggandengku menjauh. Sesekali aku masih menengok ke belakang.
Dan anak itu tidak terlihat lagi
"Nis, udah deh. Jangan diliat lagi," kata Ferli yang berjalan di sampingku.
Dalam perjalanan, Indra terus menggandeng tanganku.
Yah, rasanya aku akan cepat tenang jika Indra ada di sisiku.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Sampai di posko, semua sudah ada di rumah. Mereka terlihat cemas, entah ada masalah apa.
"Kalian kenapa?" tanyaku begitu sampai ke dalam rumah.
Mereka tidak langsung menjawab, hanya memandangku dengan raut wajah yang ketakutan.
"Ada apa sih?" kali ini aku menaikan nada bicaraku naik satu oktaf.
"Yola, Nis," ucap Nadia.
"Kenapa sama Yola? Kesurupan lagi?"
"Dia hilang," ucap Nadia.
"Apa? kok bisa?!" ku pandangi mereka satu persatu, meminta penjelasan.
"Aku nggak tau, Nis. Tadi waktu lagi kegiatan sama aku, tau-tau dia ilang gitu aja," jelas Nadia dengan mata berkaca - kaca .
Kutekan kepalaku, sambil mondar mandir. Pantas semua orang terlihat cemas.
" Nis, duduk dulu ya," pinta Indra.
Aku lalu menuruti Indra dengan duduk di samping Indah.
Indra lalu pergi ke belakang.
Dan keluar dengan membawa segelas coklat hangat yang seperti nya sengaja dia bawa ke sini.
"Minum dulu ya, Nis. Biar kamu lebih tenang," kata Indra menyodorkan cangkir itu padaku. Perlahan kuminum coklat hangat buatan nya. Sambil melihatnya tersenyum ia membelai kepalaku lembut karena posisi duduk kami yang bersebelahan. Ia benar-benar menunjukkan perhatiannya padaku
Kulihat Acong menatap kami sinis.
"Makasih ya, Ndra. Untung ada kamu di sini," ucapku, sengaja agar Acong makin kesal.
Indra melirik ke Acong dan paham maksudku.
__ADS_1
"Apa pun aku lakuin buat kamu," katanya penuh penekanan dalam kalimatnya, dan tentu menambah Acong kesal. Acong pergi ke teras bergabung bersama Lukman dan Agus yang sejak tadi memang ada di sana.
Feri kemudian mengulurkan telapak tangannya ke Indra, kemudian mereka tos. Karena berhasil membuat Acong kesal.
Aku hanya menaikkan sudut bibirku dan geleng- geleng kepala melihat mereka, Indra malah mengedipkan sebelah matanya.
Dalam sehari ada 2 orang yang hilang. Yola dan salah 1 anak di desa ini.
Ke mana mereka? Bagaimana bisa Yola menghilang begitu saja? Berbagai pikiran negatif, memenuhi kepalaku, sambil menikmati secangkir cokelat hangat rasa cinta di tanganku. Setidaknya ada hal lain yang membuatku lebih tenang sekarang.
Setelah makan malam bersama, aku duduk di teras bersama Indra. Sementara teman yang lain ada di dalam dengan kegiatan masing- masing.
"Mau aku bikinin teh, Nis?" tawar Indra kepadaku.
"Mm ... Aku aja sini yang bikin.Masa kamu terus," kataku tak enak.
"Nggak apa apa. Teh doang kok. Bentar ya, aku juga sekalian pengen ke belakang." indra segera berdiri dan kembali masuk ke dalam.
Suasana desa ini sungguh sunyi. Hanya ada suara jangkrik dan hewan malam lainnya. Jarang ada penduduk yang keluyuran malam-malam begini. Jika malam tiba, maka desa ini mirip desa tak berpenghuni.
"Nis," sapa Wicak yang sudah keluar membawa secangkir kopi, duduk di sampingku.
"Hai."
"Hm ... Soal Yola gimana ya, Nis? Gimana pun, dia tanggung jawabku. Aku ketua di sini."
"Besok kita cari, Cak. Aku pasti bantuin," kataku sambil menepuk bahu Wicak.
"Thanks ya, Nis. Oh iya, Nis. Mm ... nggak jadi deh," kata Wicak ragu.
"Ada apa sih? ayo bilang, jangan bikin aku penasaran," kataku memaksa.
"Aku bingung harus cerita atau enggak sama kamu. Tapi mungkin lebih baik kamu tau. Biar kamu waspada aja." Wicak terlihat hati- hati sekali dalam memilih tiap kalimat. Seolah apa yang akan ia sampaikan adalah hal penting dan rahasia.
"Oke. Sekarang kasih tau aku. Apa yang bikin aku harus waspada," kataku sambil duduk menghadap Wicak.
Wicak menarik nafas dalam untuk mengisi paru parunya.
"Aku denger kabar, kalau
Burhan ... Kuliah di kampus kita juga," kata nya pelan, menatapku nanar.
"Apa? Serius? Kamu kata siapa?" tanyaku.
"Beberapa hari sebelum KKN, aku ketemu Sigit. Kamu inget, kan Sigit yang sering manjat pohon mangga rumah mu?"
"Iya, aku inget. Terus?"
"Ya kami ngobrol banyak. Tiba- tiba dia bilang kalau Burhan kuliah juga di kampus kita. Mungkin dia kakak tingkat kita sekarang. Cuma aku coba cari di beberapa fakultas, sama sekali gak nemuin Burhan. Bahkan aku juga nanya ke beberapa senior yang pergaulannya luas, mereka juga gak pernah denger ada mahasiswa yang namanya Burhan. Entah lah, apa Sigit bener atau enggak. Aku cuma kasih tau aja," kata Wicak serius.
"Mungkin Sigit salah info, Cak?"
"Hm... Mungkin aja sih. Ya udah gak usah di bahas deh. Maaf ya, aku jadi ngingetin kamu sama Burhan," ucap Wicak lalu matanya terbelalak menatap ke belakangku. Aku baru sadar kalau ada orang lain yang mendengar pembicaraan ini.
"Eh, Indra. ya udah, aku masuk dulu ya. Capek banget, mau istirahat," kata wicak gugup.
Indra diam sejenak. Setelah Wicak masuk dia mendekat.
"Teh nya, Nis. Oh iya, aku juga ambilin sweeter kamu. Dingin, kan di luar. Nanti kamu bersin- bersin," katanya Indra sambil senyum.
"Makasih, Ndra." kupakai sweeterku.
Kami diam beberapa saat.
"Nis ...."
"Ndra ...."
Panggil kami bersamaan. Sadar dengan kekompakan kami, lalu kami tertawa.
"Kamu dulu deh, Nis."
"Kamu aja, Ndra. Kamu mau bilang apa?" tanyaku.
"Ladies first," kata Indra sambil memandangku.
"Oke. Aku dulu nih," kataku.
Indra mengangguk
"Kamu kok bisa ke sini, Ndra? Kan nggak perlu repot, jauh, terus capek juga pasti. Di sini pun kamu bukannya santai, malah ikutan aku ke mana-mana?" tanyaku. Indra malah tertawa mendengar pertanyaan ku.
"Kok ketawa?" tanyaku kesal.
"Sorry. Aku kangen sama kamu. Jadi aku susul ke sini," katanya sambil terus menatap manik cokelatku.
Wajahku menjadi hangat,dan pasti muka ku merona karena malu.
"Oh gitu. "
"Kok cuma.'oh gitu'. Kamu sendiri kangen gak sama aku?" tanyanya dengan menampilkan ekspresi puppy eyes.
"Kasih tau gak ya."
Dia malah mencubit pipiku gemas.
"Kebiasaan kalo ditanya malah ngeledek," ujarnya.
"Biarin. " Aku mengusap pipiku bekas cubitan Indra sambil manyun.
Saat aku melihat ke depan rumah, aku melihat sekelebat bayangan berbaju putih terbang di kebun seberang jalan. Aku menelan ludah lalu menarik tangan Indra agar masuk ke dalam.
"Kenapa?" tanya Indra lalu menoleh ke luar, di mana aku ketakutan tadi.
"Jangan diliat," kataku lalu segera menutup pintu depan beserta korden nya juga.
__ADS_1