Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
29. Misteri Kematian Keisha


__ADS_3

"Wah, seharian ini hujan terus, ya, Pak," ucap Aretha.


Pukul 19.30 selepas salat isya, Aretha, Pak Slamet, dan Bu Jum duduk di ruang tengah sambil menonton acara TV di layar datar tersebut.


Aretha baru saja selesai membuat klappertaart untuk teman minum teh malam ini bersama Pak Slamet dan Bu Jum. Malam ini, adalah pertama kalinya Aretha jauh dari Radit. Walau demikian masih ada Bu Jum dan Pak Slamet yang menemaninya. Bagi Aretha itu sudah lebih dari cukup. Pasangan tersebut akan tidur di kamar belakang yang ada di dekat dapur. Kamar itu memang dipakai untuk asisten rumah tangga, dan Bu Jum juga dulu kerap memakai nya untuk beristirahat saat bekerja dengan Pak Ibrahim.


"Mbak Aretha pintar masak, ya. Ini enak. Namanya apa tadi, mbak?" tanya Pak Slamet yang sudah menyantap dua cup klappertaart buatan Aretha.


"Ah, nggak juga, Pak. Kebetulan saya sering melihat Ibu saya masak dan ini salah satu makanan kesukaan saya. Jadi ini percobaan ke seratus sekian, sampai akhirnya enak," tukas Aretha.


"Sepertinya saya perlu belajar dari Mbak Aretha. Soalnya saya cuma bisa bikin combro, onde onde, klepon, Yah, makanan kampung semua," ujar Bu Jum.


"Saya juga Sepertinya harus banyak belajar dari Bu Jum soal makanan tradisional."


Obrolan mereka bertiga terasa hangat dan menyenangkan. Sambil menikmati teh hangat dan juga camilan Mereka menonton acara televisi yang hanya menampilkan berita-berita dalam negeri. Tiba-tiba pintu di kamar utama lantai 2 terbuka lalu menutup dengan kencang. Semua orang diam membeku. Tidak hanya itu saja tetapi kini kamar lain yakni kamar Keisha juga terlihat terbuka lalu kembali menutup. Begitupun dengan dua kamar lainnya yang disinyalir adalah kamar anak-anak Pak Ibrahim. Sepertinya ada makhluk yang sengaja membuka dan menutup pintu kamar secara bergantian.


Bu Jul langsung meletakkan cangkir yang sejak tadi ia genggam. Dia lantas beralih menggenggam lengan suaminya yang sedang memperhatikan ke lantai 2 yang berada tepat di atas mereka. Areta pun demikian. Sambil memegang cangkir teh yang ada di tangannya dia terus memperhatikan di seluruh koridor lantai 2. Areta penasaran siapa sosok yang sedang bermain-main di atas sana. Lalu Tak lama kemudian sosok Anak kecil keluar dari kamar Keisha, yang sudah pasti jelas dia adalah pemilik kamar tersebut. Keisha Tengah berlari keluar dari kamarnya lalu masuk ke dalam kamar utama. Tapi ternyata dia tidak sendiri karena ada sosok lain yang mengikutinya.


Sosok itu baru saja keluar dari kamar Keisha berjalan dengan pelan dan mengikuti ke mana anak itu pergi. Dari tempat Areta duduk dia dapat melihat wujud dari sosok itu adalah seorang pria. Pakaiannya lusuh dengan kemeja kotak-kotak yang sudah berwarna pudar ditambah dengan celana kain panjang berwarna hitam. Pria itu berjalan pelan masuk ke dalam kamar utama. Ada tak terkejut karena ini adalah pertama kalinya dia melihat adanya sosok laki-laki tersebut di rumah ini.


' jangan-jangan sosok itulah yang ada di dalam kamar utama,' gumam Areta.


"Pak, gimana ini? Kok jadi begini, ya?" tanya Bu Jum ketakutan. Dia terus bersembunyi di balik tubuh suaminya. Sementara Pak Slamet tampak berusaha Tegar dan menyembunyikan rasa takutnya sendiri. Karena samar-samar tubuh pria paruh baya itu juga bergetar.


"Biar saya periksa!" kata Areta lalu beranjak dari tempat duduk.


"Mbak, Jangan! Biarkan saja!" cegah Pak Slamet.


"Nggak apa apa, Pak. Saya ingin tahu siapa sebenarnya dia dan apa yang sedang dia lakukan di atas sana. Karena saya lihat dia sedang mengejar-ngejar Keisha!" kata Aretha.


Bu Jum tampak terkejut lalu menoleh ke arah Areta dan terus memperhatikan majikannya itu.


"Dia? Dia siapa, Mbak?" tanya Pak Slamet.


" Pak Slamet dan bujung nggak lihat kalau ada sosok laki-laki yang tadi lewat di sana?" tanya Aretha sambil menunjuk ke lantai 2.


Pak Slamet hanya menggeleng pelan karena dia memang benar-benar tidak melihat siapapun yang berada di atas sana. Apalagi Bu Jum karena sejak tadi dia justru Sembunyi di balik tubuh suaminya. Mereka berdua hanya bisa mendengar dan melihat bagaimana pintu kah pintu kamar terbuka dan tertutup tanpa ada angin tanpa ada orang yang menggerakkannya.


" Ya sudah biar saya cek dulu ke atas."


"Tapi, Mbak," cegah Pak Slamet lagi. " mungkin berbahaya kalau mbak Arita naik ke atas sana sebaiknya kita di sini saja," tambah Pak Slamet.


" Nggak apa-apa kok, Pak. Saya bisa menjaga diri saya sendiri. Pak Slamet dan Bu Jum di sini saja. Tapi nanti kalau dalam 30 menit saya nggak turun ke sini tolong segera hubungi suami saya," pintar Aretha.


"Ba—baik, Mbak. Hati hati, Mbak Aretha!" kata Pak Slamet.


Sementara itu lucu justru tampak hukum sambil kembali bersembunyi di balik tubuh suaminya tetapi sesekali dia juga melirik dan mengintip ke koridor lantai 2. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita tersebut. Apalagi saat Areta menyebutkan Ada sosok pria yang sedang mengejar Keisha di lantai 2.


Dengan langkah yang mantap Areta pun berjalan menaiki tangga sambil terus berpikir di dalam hati. Dia sebenarnya ketakutan Tetapi dia juga penasaran dan ingin sekali segera mengakhiri misteri yang ada di rumah tersebut. Areta yakin kalau pernah terjadi sesuatu di rumah itu yang membuat arwah Keisha masih berada di rumah itu Apalagi ditambah dengan kehadiran sosok pria yang baru saja dia lihat tadi. Semua itu seakan-akan saling terhubung satu sama lain dan Areta benar-benar penasaran Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua.


Kini Areta sudah berdiri di depan pintu kamar utama. Kondisi pintu itu tertutup rapat Dia tidak langsung membuka pintu itu tetapi justru memperhatikan sekitar. Saat berada di lantai 2 suasana justru kembali tenang seakan-akan keributan tadi tidak pernah ada. Areta menarik nafas panjang sebelum dia melanjutkan niatannya. Tangannya gini sudah berada di gagang pintu sambil memejamkan mata dia pun melantunkan doa-doa di dalam hati.


Derit pintu itu terdengar nyaring saat Aretha membuka pintu kamar itu. Dia mengernyitkan kening.


"Bukannya pintu ini udah dibenerin, ya?" tanyanya sambil memperhatikan pintu tersebut. Setelah engsel pintu itu diperbaiki oleh Pak Slamet, Aretha sudah tidak pernah lagi mendengar suara derit pintu tersebut. Tapi tiba tiba saja sekarang suara itu kembali terdengar. Hal ini tentu cukup aneh.


Saat pintu sudah dibuka, Aretha hanya melihat suasana gelap di kamar tersebut. Ia pun membuka pintu itu lebar lebar. Tapi anehnya pintu balkon di kamar itu justru terbuka lebar. Sehingga udara malam masuk ke kamar itu dan bahkan menerpa wajah serta tubuh Aretha.


Dingin.


Dia bahkan sampai memeluk lengannya sendiri. Apalagi saat hujan deras masih terus menguyur desa itu sejam tadi pagi.

__ADS_1


Aretha mulai melangkah masuk ke dalam. Dia memperhatikan kamar tersebut yang sebenarnya tidak banyak berubah. Perasaan Areta mulai tidak nyaman seperti ada sesuatu yang berbeda padahal hawa kamar ini.


Dia pun memejamkan mata dan berkonsentrasi. Areta yakin ada sesuatu yang tersembunyi dan dia ingin mengetahuinya sekarang juga.


Tubuhnya terasa terseret dalam sebuah lingkaran hitam hingga dia pun merasakan lemas di sekujur tubuhnya. Areta kembali mendengar suara pintu yang dibuka dengan cukup keras. Suara tersebut membuatnya membuka mata. Tapi saat dia membuka matanya lebar-lebar, ada sesuatu yang lain pada kamar tersebut.


Suasana kamar itu tidak lagi seperti terakhir kali dia melihatnya. Apalagi saat dia melihat ke arah balkon rupanya sekarang bukan malam hari. Ini adalah suasana pagi hari dengan hujan yang masih turun deras di luar. Areta masih berdiri di dekat pintu dan di balkon Ada sosok anak kecil yang sedang bermain-main dengan mainannya. Yah itu adalah Keisha. Gadis kecil itu tampak ceria dengan rambut kuncir kudanya. Beberapa boneka ada di hadapannya dan dia tengah asik bermain seorang diri. Tapi dari arah pintu kamar ada seseorang yang tiba-tiba masuk begitu saja dan mengejutkan Keisha. Orang itu adalah sesosok pria yang tadi ia lihat di koridor lantai 2.


"Oh tunggu! Ini ... retrokognisi!" pekiknya.


Retrokognisi adalah persepsi akan kejadian pada masa lalu, atau kemampuan untuk melihat kejadian di masa lalu.


Kejadian yang terjadi di tempat tersebut seolah-olah diputar kembali dan disaksikan oleh Areta saat ini. Sosok pria itu mendekati Keisha. Sementara gadis kecil itu hanya diam sambil menatap pria itu. Tidak ada pembicaraan apapun di antara keduanya. Yang mengejutkan Areta justru sosok pria itu yang awalnya berjalan pelan mendekati Keisha lantas bergerak dengan cepat mendekati gadis itu. Dia membekap mulut serta hidung Keisha dengan sebuah kain. Gadis kecil itu meronta kesulitan bernafas. Tapi pria itu tidak perduli dan malah terus menekan tangannya agar Keisha semakin tidak bisa bernafas. Perlahan tubuh gadis itu mulai lemah, sampai akhirnya dia benar benar tidak bergerak lagi. Pria itu lantas memeriksa denyut jadi dan jantung Keisha. Dia lantas menyeringai begitu tahu kalau gadis kecil itu sudah tidak bernyawa. Ia lalu mengangkat tubuh Keisha dan melemparnya ke bawah tanpa rasa bersalah.


Aretha berteriak lalu berlari ke balkon. Dia ingin mencegah hal itu terjadi, walau sebenarnya dia tahu kalau itu hanyalah bayangan masa lalu yang sedang ditunjukkan padanya. Apapun yang ia perbuat tidak akan mengubah takdir Keisha.


Aretha hanya bisa melihat tubuh Keisha yang tergeletak di bawah. Yang mengejutkan lagi, rupanya ada Bu Jum yang sedang menyapu teras dan melihat kejadian itu. Tetapi dia justru diam saja, seakan akan tidak melihat kejadian tersebut. Aretha kesal, sangat kesal. Dia menoleh ke samping saat sosok pria tadi mulai berjalan meninggalkan kamar itu.


"Hei! Apa yang kau lakukan! Kau gila? Anak kecil itu punya salah apa? Biadab! Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau melakukan ini! Hei!" jerit Aretha sambil terus mengikuti pria tadi dan terus memakinya dengan penuh emosi.


Begitu sampai di teras, pria itu dan Bu Jum saling tatap dan tersenyum. Bu Jum mengangguk. Dan tiba tiba ada suara motor yang terdengar di jalan raya. Pria tadi agak panik, lalu dia berlari ke halaman belakang rumah ini. Rupanya Pak Slamet datang dan berteriak saat melihat tubuh Keisha terbaring di teras. Bu Jum pun tiba tiba langsung menangis histeris. Sikapnya berubah 180 derajat begitu suaminya muncul.


"Bu? Ini kenapa? Keisha kenapa?" tanya Pak Slamet sambil memeluk tubuh gadis kecil itu erat erat.


"Ibu juga nggak tahu, Pak. Tadi ibu lagi nyapu, nggak tahu kenapa tiba tiba Neng Keisha jatuh. Padahal tadi dia lagi mainan di balkon. Ya ampun, gimana ini, Pak." Bu Jum terlihat sangat panik dan histeris.


Hanya saja Areta tidak mempercayai lagi ekspresi yang ditunjukkan oleh wanita paruh baya tersebut. Karena dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana reaksi Ibu Jum saat mengetahui kalau Keisha jatuh dari balkon. Areta yakin kalau ini adalah sebuah kesengajaan.


Pak Slamet tampak panik lalu menggendong tubuh Keisha sambil berteriak minta tolong ke sekitar. Padahal dia pasti tahu kalau apa yang dilakukannya tidak akan membawakan hasil apa-apa karena posisi rumah itu sangat jauh dari rumah-rumah warga yang lain. Tetapi Pak Slamet tidak habis akal. Dia membawa masuk tubuh Keisha dan meletakkannya di sofa yang ada di ruang tamu. Lalu dia kembali lagi ke depan untuk menemui istrinya.


"Bu, kamu jagain Neng Keisha dulu biar aku cari bantuan ke sekitar. Siapa tahu kita bisa menemukan kendaraan untuk membawa Neng Keisha ke rumah sakit!" kata Pak Slamet tergesa-gesa.


"Iya, Pak. Jangan kelamaan ya pak Kasihan yang Geisha Takut nggak bisa terselamatkan!" sahut Bu Jum.


Pak selamat lantas pergi dari rumah bahkan tanpa memikirkan dirinya Yang kini kehujanan. Dia terus berlari mencari pertolongan sambil berteriak minta tolong sepanjang jalan. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Bu Jum yang kini Hanya duduk di sofa dekat Keisha terbaring lemas. Wanita paruh baya itu justru mengangkat kakinya ke meja sambil mengusap air mata yang tadi dia keluarkan. Bu Jum lantas tersenyum sambil melihat tubuh Keisha yang sudah lemas. Namun dia segera kembali memeriksa gadis kecil itu untuk memastikan kalau anak majikannya itu sudah benar-benar tewas. Dan benar saja kalau tidak ada lagi denyut nadi dan jantung Keisha bahkan nafasnya pun sudah tidak ada lagi.


"Bu Jum? Kok ibu tega sih melakukan hal itu ke Keisha? Apa salah anak kecil itu, Bu? Ya Allah! Saya benar-benar enggak sangka kalau Bu Jum bisa setega itu melakukan hal buruk itu ke Keisha."


Tiba-tiba tubuh Areta kembali tersedot ke lingkaran gelap dan pandangannya pun mulai kabur dan hilang. Saat dia membuka mata Rupanya dia masih berada di kamar utama lantai 2 dalam kondisi yang gelap gulita. Dia sudah kembali ke kehidupan nyata. Tubuhnya tiba-tiba lemas kakinya pun seakan-akan tidak bisa digerakkan. Areta pun jatuh terduduk di lantai. Air matanya mulai menetes deras karena dia merasakan nyeri di hatinya saat melihat kejadian tadi.


Tanpa sadar kini di depan Areta ada sepasang kaki telanjang yang berwarna pucat. Saat Areta menatap ke pemilik kaki tersebut, Rupanya dia adalah Keisha yang kini sedang berdiri di hadapan Areta sambil mengelus kepala Aretha. Seakan-akan Keisha sedang menghibur Areta yang sedang sedih menangisi kematiannya sendiri.


"Kenapa bisa seperti ini? Bagaimana bisa Bu Jum setega itu sama kamu, Keisha. Lalu siapa pria itu siapa pria yang sudah membunuh kamu?" tanya Aretha pada sosok di hadapannya. Hanya saja Keisha tidak menjawab apapun bahkan menggeleng atau mengangguk pun dia tidak melakukannya. Yang dilakukannya hanya menatap Areta dengan tatapan nanar.


"astaghfirullahaladzim! Mbak Aretha kenapa?" pekik Pak Slamet yang ternyata menyusulnya ke atas.


Dengan dibantu Pak Slamet Areta pun akhirnya kembali berdiri. Bu Jum yang juga ikut menyusul lantas membantu Areta dan memapah majikannya itu.


"Ya Ampun Mbak? Kenapa? Mbak jatuh? Ada yang sakit? Luka?" tanya Bu Jum panik.


Tapi tiba-tiba Areta justru menepis tangan Bu Jum saat wanita paruh baya itu berusaha untuk memeriksa tubuhnya. Areta lantas menjauhkan diri dari Bu Jum dan menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan benci. Hal ini membuat Bu Jum kebingungan.


"Mbak? Mbak Areta kenapa kok ngeliatin saya seperti itu? Apa saya ada salah?" Tanya Bu Jum kepada Areta.


Mereka berdua gini berhenti tepat di depan tangga. Pak Slamet yang berjalan di belakang hanya bisa memperhatikan dua wanita di hadapannya yang tampak aneh terutama Areta. Karena dia yakin kalau sebelumnya beberapa menit yang lalu sikap Areta masih tampak baik-baik saja kepada istrinya. Tapi mendadak dalam hitungan menit kereta berubah dingin kepada bu Jum.


" Enggak kok saya cuma capek aja. Ya sudah saya mau balik ke kamar dan tidur," kata Aretha pamit lalu berjalan lebih dulu menuruni tangga.


Pak Slamet dan Bu Jum Saling pandang lalu menatap Areta yang kini sudah masuk ke dalam kamar. Bahkan saat arena menutup pintu itu bukan sebuah tindakan yang santai. Dia membanting pintu itu keras. Pasangan suami istri itu pun kebingungan dengan sikap Areta yang tiba-tiba berubah.


" Mbak Areta kenapa ya, Pak? Apa jangan-jangan Mbak Areta kesambet?" tanya Bu Jum.

__ADS_1


"Hust! Jangan sembarangan kalau ngomong. Nggak mungkin Mbak Areta kesambet. Kamu tadi dengar sendiri kan kalau mbak Areta itu lagi kecapekan. Kita Biarkan saja Mbak Areta istirahat dulu. Lagi pula ini juga sudah malam. Jadi sebaiknya kita juga tidur," kata Pak Slamet.


Malam itu berakhir dengan banyak sekali tanda tanya di benak Areta Bu Jum dan Pak Slamet. Areta sebenarnya sangat marah kepada bu Jum Tetapi dia tidak mungkin memaki-maki bujung dengan apa yang sudah ia lihat tadi. Apalagi Areta pun sebenarnya belum mengetahui kisah sebenarnya dibalik peristiwa yang ia saksikan. Sosok pria yang membunuh Keisha masih menjadi misteri bagi Areta. Dan keterlibatan Bu Jum juga menjadikan PR tersendiri bagi Areta. Dia ingin mengungkap kebenaran dari peristiwa tersebut. Jadi dia bertekad akan menyelidikinya diam-diam.


***


Adzan subuh berkumandang. Hujan sudah berhenti saat semua orang sudah tertidur lelap. Alarm di ponsel Areta terus bergetar dan terpaksa dia pun segera bangun untuk menunaikan kewajibannya. Padahal matanya masih sangat berat dan kepalanya pun mulai terasa pusing. Sejak ia masuk kamar semalam Areta tidak langsung tidur dia justru tidak bisa tidur setelah mengetahui hal tersebut. Bahkan dia baru tidur kira-kira 2 jam sebelum kembali terbangun untuk menunaikan salat subuh.


Bu Jum sudah menyiapkan sarapan dan menatanya di meja makan. Dia pun juga sudah mengetuk kamar Areta untuk mempersilahkan majikannya menyantap sarapan yang sudah ia sajikan tetapi Areta terus diam di kamarnya tidak menyahut sama sekali saat Bu Jum memanggilnya.


Sebenarnya Areta tidak tidur walaupun Bu Jum menganggapnya majikannya masih tidur. Areta hanya diam duduk di pinggir jendela sambil menatap suasana di luar kamarnya. Hingga sebuah mobil mulai masuk ke halaman rumah dan membuat senyum Areta mengembang sempurna. Radit sudah pulang. Sesuai dengan janjinya kemarin kalau dia akan pulang saat pagi hari. Melihat suaminya sudah pulang Areta pun akhirnya keluar dari kamar dan segera menyambut Radit di depan rumah.


"Pagi, Sayang. Gimana? Tidur kamu nyenyak?" hanya Radit sambil mengecup kening Aretha.


Pak Slamet sudah bekerja di halaman rumah, membersihkan teras dari sisa genangan air hujan yang masuk ke dalam. Pria paruh baya itu hanya menunduk saat mengetahui kalau majikannya sedang melepas Rindu. Dia paham kalau hal itu biasa terjadi pada pasangan muda.


"Eum, nggak juga. Aku pikir kamu nggak jadi pulang pagi," cetus Aretha.


"Jadi dong, Sayang. Sebenarnya kerjaannya udah selesai dari tengah malam tadi, tapi aku udah capek banget jadi aku putuskan untuk tidur dulu di hotel. Hendra aja aku tinggal di hotel nih karena aku pulang duluan."


"Ya udah, masuk dulu, yuk. Banyak yang pengen aku ceritain ke kamu," kata Aretha.


"Hem? Apa? Wah, baru semalam langsung banyak cerita baru nih."


"Iya, Sayang. Aku yakin kamu pasti kaget dengarnya," kata Aretha sambil berjalan masuk ke dalam bergandengan dengan Radit.


Pak Slamet yang mendengar itu sedikit bingung dan juga penasaran sebenarnya Apa yang hendak diceritakan oleh Areta kepada suaminya. Karena Pak Slamet sendiri sebenarnya merasa kalau sikap Areta aneh sejak semalam. Apalagi setelah Areta masuk ke dalam kamar utama di lantai 2. Tapi pria paruh baya itu tidak berani menanyakan lebih banyak lagi kepada Areta dia merasa tidak berani untuk menanyakan lebih jauh sekalipun dirinya juga sangat penasaran pada apa yang sebenarnya terjadi pada Areta saat masuk ke kamar tersebut. Pak Slamet yakin terjadi sesuatu di dalam kamar sesaat sebelum dirinya menemukan Areta jatuh di lantai.


Sampai di ruang tengah Bu Jum menyambut kedatangan Radit.


"Wah, Mas Radit sudah pulang. Kebetulan sekali saya sudah masak sarapan jadi Mas Radit dan Mbak Areta bisa langsung sarapan sekarang," kata Bu Jum ramah.


"Terima kasih banyak, Bu Jum. Kebetulan sekali saya sudah lapar," kata Radit.


"Bu Jum kalau sudah selesai bikin sarapan boleh pulang sekarang kok, lagi pula hari ini Radit libur. Jadi Bu Jum sama Pak Slamet nggak perlu kerja sampai sore. Kami berdua mau pergi hari ini," kata Aretha sedikit ketus.


"Eum, oh begitu ya, Mbak. Baiklah kalau begitu. Saya pamit sekarang."


Sesuai dengan perintah Areta bujung lantas pamit dan segera meninggalkan rumah tersebut bersama suaminya. Walaupun dia yakin ada sesuatu yang tidak beres pada Areta. Karena sikap mereka benar-benar aneh.


"Sayang, Kamu kenapa kok tiba-tiba ketus begitu ke Bu Jum? Ada masalah semalam?" tanya Radit saat Bu Jum sudah pergi.


"Iya. Kamu tahu nggak semalam tuh aku diperlihatkan sesuatu yang sebenarnya terjadi di rumah ini. Kejadian di mana


Keisha meninggal dunia," tutur Aretha.


"Oh ya? Terus apa hubungannya sama Bu Jum. Kok kayaknya kamu sebel banget sama Bu Jum nggak kayak biasanya."


"Ya karena dia terlibat atas kematian Keisha, Dit."


"Eh, maksudnya terlibat, apa sayang?"


Areta pun akhirnya menceritakan apa yang sudah dia lihat semalam kejadian demi kejadian dari awal hingga akhir dia menceritakan semuanya kepada Radit tanpa ada yang dikurangi ataupun ditambahkan.


"Waw, kenapa bisa begitu ya? Aneh," kata Radit.


" masalahnya pembunuh Keisha juga sudah meninggal. Jadi kita sepertinya nggak bisa mencari tahu alasan kenapa orang itu membunuh Keisha."


" Mungkin aja laki-laki itu saudaranya Bu Jum?" ucap Radit dengan sebuah pertanyaan yang terdengar masuk akal.


" tapi gimana cara kita cari tahu ya , Dit. karena aku sama sekali nggak tahu nama dari laki-laki itu. Bahkan wajahnya juga samar-samar."

__ADS_1


"Iya kak sedikit susah sih memang tapi mungkin nanti pelan-pelan kita bakalan tahu siapa pria itu dan bagaimana dia meninggal Lalu kenapa dia membunuh Keisha."


__ADS_2