
"Adzan, Nis. Bangun," panggil Ferli sambil menggoyang goyangkan tubuhku.
Aku menggeliat, mulai mengumpulkan nyawaku yang habis jalan jalan ke alam mimpi.
" Alhamdulillah," ucapku pelan.
Kulihat Ferli habis selesai sholat subuh.
Sambil kuregangkan tubuhku, aku perlahan mulai turun dari ranjang dan keluar kamar untuk mengambil air wudhu.
Buugg!!
Aku menabrak seseorang di depan pintu. Untung tidak sampai jatuh karena dia langsung mendekap ku erat.
"Bangun tuh matanya dibuka dulu, Non. Masa jalan sambil merem," guraunya.
Walau aku masih merem, aku tau kalau yang berdiri di hadapanku adalah Indra.
"Kamu udah bangun, Ndra?" tanyaku sambil mengucek mata.
"Udah, buruan ambil wudhu. aku mau lari pagi dulu. "
Lari pagi?
Aku langsung membuka mata dan melihatnya sudah siap dengan celana training dan kaus lengan panjang tidak lupa sepatu nike berwarna hijau sepadan dengan kaus yang dia pakai.
"Kamu mau lari ? " tanyaku.
" Iya. Kayanya udara nya enak nih, seger banget. Ya udah, kamu sholat dulu. aku mau joging," katanya.
"Sebentar, Ndra." kutahan tahan nya saat akan berjalan keluar.
"Hmm? kenapa, Nis? "
"Mmm.. kamu hati hati ya. Nggak usah jauh jauh, terus jangan masuk ke desa sebelah," Pintaku dengan raut wajah khawatir.
" Beres boss. Jangan khawatir," katanya sambil membelai kepalaku lembut.
Dia kemudian berlalu keluar rumah.
" Eheeem.." ada suara batuk yang dibuat buat. Kali ini adalah orang yang paling tidak ingin kutemui terutama di pagi hari ini. Aku lalu meneruskan berjalan ke kamar mandi.
"Seneng yaa. Pujaan hati ada di sini. Selain kkn juga sambil pacaran," katanya sinis.
Sudah bisa ditebak bahwa dia adalah Acong. Aku tidak menghiraukan perkataan nya dan berlalu begitu saja dari hadapannya. Rasanya aku sedang malas untuk ribut pagi pagi buta seperti ini. Aku masuk ke kamar mandi.
Selesai wudhu, Lalu keluar dan sudah ada Faizal dan Nadia yang sedang membuat sarapan.
" Waah. Pagi banget.. Masak apa nih?" tanyaku sambil melihat kegiatan mereka.
" Ada deh. Nanti juga tau," kata Nadia.
" Ya udah, aku ke kamar dulu ya."
Aku lalu meninggalkan mereka di dapur dan segera menjalankan kewajibanku.
Di kamar Ferli sedang mengetik laptopnya.
"Nis, kamu udah gak apa apa kan?" tanya Ferli saat aku melipat mukena ku.
" Gak papa kok. Maaf ya, kemaren malem. Aku ... Agak kacau," ucapku dengan agak menunduk.
Ferli memdekatiku kemudian mengelus punggungku.
"Kalau ada apa- apa, cerita ya, Nis. Aku siap jadi pendengar. Jangan dipendam sendiri." katanya sambil menatapku iba.
__ADS_1
"Iya. Thanks, Fer." kami lalu berpelukan.
\=\=\=\=\=\=\=
Setelah mandi aku segera mengambil sarapan. Indra juga sudah selesai joging dan habis mandi juga, terlihat kepalanya yang masih basah dengan handuk yang dia sampirkan di bahunya.
"Minum dulu nih," Ucapku sambil kusodorkan secangkir kopi untuk nya.
"Makasih, Nis, " Sahutnya sambil memamerkan gigi putihnya.
Kami lalu sarapan di ruang tamu bersama sama. Yola kulihat sudah kembali seperti semula. Namun wajahnya terlihat pucat, dia seperti nya lemas tidak bertenaga. Kuberanikan diri untuk bertanya padanya.
" Yol, kamu kemaren dari mana aja ? kok bisa ampe kesambet gitu?" tanyaku.
Dia menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan berat.
" Gak ke mana mana. Lagi kegiatan biasa. Di sana juga ramai. Terus tau- tau ada yang manggil aku dari kejauhan. Bapak- bapak gitu. Aku deketin kan. Aku tanyain dia kenapa. Habis itu aku gak ingat lagi," tuturnya.
Aneh..
Yola tidak melakukan hal yang aneh atau berbahaya. Namun kenapa dia dirasuki?
"Oh iya. Nanti bahan material bakal dateng. Buat bikin batas desa, dan karena warga yang bantu gak ada, Kita harus kerjain sendiri. Aku sih udah manggil 2 orang tukang dari luar. kita tinggal bantu aja ya," kata Wicak serius.
"Kok warga gak mau bantuin?" tanya Indah.
"Mereka ... Gak mau deket- deket sama desa itu. Tapi proker kita yang lain , warga mau bantu kok. Soal pemasangan lampu jalan, pembuatan gapura di depan desa. mereka mau bantu," tambah Wicak lagi.
"Segitu serem nya ya itu desa sampai deket- deket aja pada kagak mau," ucap Lukman.
"Sebisa mungkin kita jangan masuk ke sana, " pintaku.
"Tenang, aku bantu nanti," sahut Indra santai. Aku menatapnya sambil tersenyum, dia membalasnya.
\=\=\=\=\=\=
Kebetulan proker ku sudah tinggal sedikit lagi, sehingga aku & Ferli ikut melihat ke pembuatan batas desa itu. Kecuali Indah dan Nindi. Mereka masih ada di balai desa meneruskan pekerjaan mereka.
Saat kami sampai di TKP sudah ada sebuah truk yg membawa bahan material. Truk ini lewat jalan yg berbeda dari tempat kami masuk. Jadi ternyata ada jalan lain, yang menghubungkan desa itu dengan jalan besar. Hanya agak jauh.namun hanya itulah akses yg paling mudah dilewati truk.
Aku, Ferli, Yola dan Nadia memilih duduk di bawah pohon yg tidak jauh dari sana. Kami sudah membawa tikar dan beberapa botol minum dan makanan untuk mereka yang mulai bekerja membuat batas desa.
Mereka mulai bekerja.
"Nis, nitip ya," katanya sambil memberikan kemeja panjangnya dan celana panjang dan kini dia hanya memakai celana pendek dan kaus dalam saja.
Aku menerima dan ku simpan di atas pangkuanku.
"Nis, kalian pacaran? " tanya nadia.
"Enggak. temen," sahutku tanpa melepaskan pandangan ku dari Imdra.
" Masa? kok berasa kaya pacaran ya?" tanya Nadia lagi
"Temen rasa pacar," ujarku santai.
"Tau tuh, si Indra masa belom nembak juga. Yang dimari udah nungguin. Hayati lelah bang digantungin. haahaha." Tawa Ferli dan Nadia meledak.
Namun tidak dengan Yola. Dia diam saja sedari tadi, dan terus melihat ke depan, tepat ke dalam desa sebelah.
"Yola!! Jangan ngelamun!!" kataku dengan sedikit mengeraskan suara.
Ferli dan Nadia otomatis menoleh ke Yola. Namun reaksinya justru aneh. dia menggerakkan kepalanya mirip hantu di film ju'on.
Aku mengisyaratkan Ferli dan Nadia mundur. Mereka langsung berlari menjauh. Kudekati Yola, dan kusentuh bahunya pelan.
__ADS_1
" Yola???" panggilku pelan.
Dia tiba- tiba menoleh kepadaku dan spontan mau mencekik leherku. Namun lagi lagi gagal. Karena dia seperti kepanasan saat tangannya menyentuh kalung pemberian Indra.
Walau dengan gerakan Yola tadi mampu membuatku terjatuh dan terbaring di tanah, namun Yola langsung beringsut mundur karena kesakitan di bagian tangannya.
"Indraaaaaaa!!!" Teriak Ferli.
Indra yang sedang menurunkan pasir dari dalam truk, otomatis menoleh dan langsung lompat berlari mendekat kepadaku. Dia langsung membopongku menjauhi Yola.
"Kamu gak papa, Nis?" Tanya nya cemas.
Aku hanya mengangguk.
Kulihat Yola menggeram dan mendesis seperti ular. Kami semua takut dan mundur menjauh.
Yola kemudian melesat masuk ke desa sebelah dan lama kelamaan hilang karena terlalu jauh dia pergi.
"Yolaaaaa!!" Teriak kami semua.
kami bingung harus melakukan apa. mau masuk, jujur kami takut.
Tapi jika tidak masuk kasian Yola.
"Ndra, gimana dong??"
"Kita kumpul sama yang lain dulu," ajaknya.
Kami berkumpul dan membahas tindakan apa yang akan dilakukan untuk membawa Yola kembali.
" Gimana ya?"
" Harus nya tadi Yola di rumah aja. Dia belum sadar tuh sepenuhnya. "
" Nggak mungkin kan kita masuk sana. Horor gitu. "
"Kita harus masuk," kataku mantap.
Mereka menatapku.
"Nis? Duh, Enggak deh," ucap Ferli takut.
"Kita harus masuk!! Karena gak mungkin Yola tau- tau balik sendiri ke rumah. Kita gak tau di dalem ada apa aja? mungkin bahaya. kasian Yola!!" kataku sambil kutatap mata mereka satu persatu.
"Justru karena bahaya!! Wah, gue mah ogah deh. Mending gue balik ke rumah, nggak usah lanjutin kkn ini! " kata lukman.
"Oke. Aku gak maksa kalian ikut!! Tapi aku mau masuk ke sana nyari Yola!! Aku gak mungkin tinggalin dia ditempat itu!!" kataku yakin sambil berdiri dan mengambil tasku.
"Aku ikut!!" kata Indra yang tiba- tiba berdiri di belakangku.
Aku mengangguk, aku memang membutuhkan Indra.
Kami berjalan mendekat ke yang lain, setelah Indra memakai pakaian nya lagi.
"Nis, tapi material udah dateng .kita gak bisa ninggalin. Takut hujan, bisa bisa pasirnya kebawa hujan," kata Faizal.
"Kan aku udah bilang, aku gak maksa kalian ikut. Kalau kalian gak mau ikut, gak papa. Aku sama Indra aja juga cukup. Yang lain silahkan lanjutin kegiatan lagi,"!kataku lalu melenggang masuk ke desa itu.
"Gue ikut, Nis!!" kata Feri lalu mengikutiku dan Indra.
"Gue juga ikut!!" Acong menyeletuk.
"Oke, aku juga ikut. Yang lain tolong lanjutin ya. Kita bagi tugas aja," kata Wicak dan langsung mengikuti kami yg sudah hampir mencapai gerbang desa itu.
Apapun yang ada di dalam sana, aku akan menghadapinya.
__ADS_1
Ada Allah dan Indra di sampingku, jadi tidak ada alasan aku untuk takut.